NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 92. Apa, Kakek Sudah Pikun?


__ADS_3

Perkumpulan pemburu siluman...


Terjadi kehebohan di kelompok pemburu siluman. Sebab, berita tentang Nagadhini yang mendapatkan Peta Alam Semesta ditambah lagi dengan berita tentang segel Aisha yang sudah dilepas dari Peta. Menambah kehebohan disana. Banyak dari anggota kelompok tersebut tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Bagaimana, ini ayah? Masalah sudah sampai seperti ini...dan mengapa nyai Dewi membiarkannya saja."


Ucap Adam.


"Aku pun tidak tahu...mengapa, nyai Dewi membiarkannya saja."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Masalah ini akan semakin rumit...jika, sampai makhluk itu berhasil dibangkitkan...akan ada malapetaka serta marabahaya."


Ucap Adam.


"Ya, kau sangat benar sekali...untuk itu aku akan membicarakan masalah ini dengan nyai Dewi."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Lebih cepat lebih baik, ayah."


Ucap Adam. Dan, tetua Jenggot Putih pun segera bergerak. Ia segera pergi ke rumah Alina untuk bertemu dengan Aisha. Tetapi, sesampainya disana ia tidak bertemu dengan siapa pun. Hanya ada Anna saja disana. Dan, Aisha beserta yang lainnya sedang tidak ada diaana.


"Tidak ada, kakek? Mereka semua belum kembali sejak peristiwa saat itu."


Ucap Anna.


"Memangnya ada peristiwa apa...sampai kakek tidak tahu."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Penculikan ibu Alina dan kemarahan Aisha yang mengacaukan dunia manusia."


Ucap Anna.


"Apa! Ada kejadian sebesar ini...dan, kau tidak mengatakannya kepada kakek?"


Ucap tetua Jenggot Putih kesal.


"Maaf, kakek saat itu kami sedang panik semua...jadi, kami tidak mengatakan apa pun kepada kakek."


Ucap Anna.


"Huh! Dasar, kalian...sudah tidak peduli lagi dengan orang tua ini."


Ucap tetua Jenggot Putih.


Eh? Apa kakek sudah pikun dan sudah tidak ingat lagi dengan kejadian saat itu? Mengapa, sepertinya aku berbicara omong kosong begini dengan kakek.


Ucap Anna dalam hati.


"Kakek? Sungguh, aku tidak bermaksud begitu...saat itu benar-benar kacau...bahkan ibu Alina saja sampai saat ini sedang dirawat di istana."


Ucap Anna.


"Apa! Ibu Alina terluka?"


Ucap tetua Jenggot Putih terkejut.


"Siapa yang melukainya?"


Tanya tetua Jenggot Putih.


"Siapa lagi kalau bukan siluman ganas itu...Nagadhini."


Ucap Anna.


"Siluman itu memang pembawa malapetaka...sudah sepantasnya dia dimusnahkan dari muka bumi...akan tetapi, kakek lihat nyai Dewi hanya diam dan membiarkannya saja."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Kakek, aku yakin dia pasti memiliki rencana lain."


Ucap Anna.


"Si Aisha itu bukanlah siluman sembarangan...dia pasti memiliki rencana dalam pikirannya...itulah sebabnya ia membiarkannya saja...mungkin ia sedang menunggu Nagadhini menjalankan rencananya."


Ucap Anna lagi.

__ADS_1


"Kakek tidak tahu...tetapi, kakek tidak bisa memegang kata-katamu itu...kakek perlu bertemu dengannya."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Kakek? Apa kakek pikir ruangan dimensi itu dapat terbuka sendiri...lagi pula ketika itu yang membuka pintu ruangan dimensi adalah Richard."


Ucap Anna.


"Richard? Sejak kapan dia menjadi begitu hebat...bahkan ia dapat melebihimu."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Kakek? Apa kakek tidak mencium bau siluman pada tubuhnya...dia itu siluman ular juga."


Ucap Anna.


"Oh, iya kakek hampir saja lupa...dia juga merupakan pangeran siluman ular...mungkin dia dan nyai Dewi memiliki hubungan yang erat."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Ya, mungkin saja."


Ucap Anna sambil menghela nafas lelah.


"Mengapa? Kau menarik nafas begitu...apa kau cemburu?"


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Apa! Cemburu? Yang benar saja kakek...untuk apa aku cemburu."


Ucap Anna.


"Secara dia adalah rekanmu...pasti ada sedikit rasa yang tertinggal di hatimu terhadapnya."


Ucap tetua Jenggot Putih. Dan, wajah Anna bersemu merah ketika mendengar kata-kata dari tetua Jenggot Putih.


"Tidak, kakek?"


Ucap Anna.


"Cucuku, kau sama sekali tidak pintar menyenbunyikannya...rona merah itu apa?"


Ucap tetua Jenggot Putih menggoda Anna lagi.


Ucap Anna malu. Tepat saat itu Richard muncul di hadapan mereka. Richard yang siluman ular pun mengubah ukuran kecil tubuhnya dan menjadi manusia.


"Ssshhh."


Tetua Jenggot Putih dan Anna hampir saja melayangkan pukulan kepada Richard yang muncul tiba-tiba di hadapan mereka.


"Oh, kau rupanya."


Ucap Anna.


"Ya, ini aku."


Ucap Richard.


"Pucuk dicinta ulam pun tiba...Richard kami baru saja membicarakanmu...dan, kau segera muncul di hadapan kami."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Tetua...apa kabar?"


Sapa Richard.


"Aku baik-baik saja...tetapi, suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Wah, mengapa bisa begitu tetua?"


Ucap Richard.


"Tentu saja, karena masalah Peta di tangan Nagadhini...membuat seluruh dunia khawatir."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Aku ingin bertemu dengan nyai Dewi...dimana dia."

__ADS_1


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Dia sedang berada di istana, tetua...saat ini sedang merawat ibu Alina serta masih ada utusan dunia bawah datang berkunjung...dia masih belum bisa menerima tamu saat ini."


Ucap Richard menjelaskan.


"Cih, masalah sudah sampai seperti ini...dia masih saja bersikap diam dan santai...bahkan, masih mau menerima kunjungan dari sebangsanya."


Ucap tetua Jenggot Putih kesal.


"Ah, masalah itu tetua...utusan dunia bawah bukan orang biasa...dia utusan ular suci...Eyang Sri Kantil."


Ucap Richard.


"Bukankah dia sang ular naga putih itu? Bukankah dia menawariku untuk berkunjung saat itu?"


Ucap tetua Jenggot Putih.


Haish! Ternyata kakek baru menyadarinya...sedari tadi aku dan dia berbincang dengannya...berharap dia ingat kalau saat kejadian itu dia juga ada disana...ternyata kakek memang sudah pikun.


Ucap Anna dalam hati.


"Benar sekali...apa kakek sudah ingat? Sepertinya, kakek memang sudah lupa."


Ucap Richard.


"Apa iya aku sudah lupa? Mungkin iya juga sebab usiaku semakin renta...jadi, aku sudah mulai pikun."


Ucap tetua Jenggot Putih malu.


"Itu bukan masalah...jika, memang tetua ada keperluan dengannya...aku bisa membawa tetua untuk bertemu dengannya di istana."


Ucap Richard.


"Benarkah bisa? Bukannya tadi kau bilang dia masih ada tamu dan tidak bisa diganggu."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Jika, masalah itu cukup mengganggu tetua...kurasa, dia bisa mengesampingkan urusan lainnya."


Ucap Richard.


"Terima kasih, bisakah kita pergi sekarang?"


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Tentu saja bisa...Anna apakah kau mau ikut?"


Ucap Richard.


"Aku?"


Ucap Anna.


"Iya."


Ucap Richard.


"Jika, aku ikut? Lalu, bagaimana dengan rumah ini?"


Ucap Anna.


"Biarkan saja, tidak akan ada maling yang berani masuk rumah...sebab, tidak ada perhiasan mewah apa pun di rumah itu."


Ucap Richard.


"Baiklah."


Ucap Anna dengan wajah yang berseri-seri.


Hehe...cucuku ini memang sangat pintar sekali bermain kata-kata...dan lihatlah rona merah itu di wajahnya...oh...sepertinya tidak lama lagi aku akan menjadi buyut.


Ucap tetua Jenggot Putih dalam hati.


"Aku sudah tidak sabar lagi.


Ucap tetua Jenggot Putih dalam hati. Lalu, ketiganya pun segera berangkat menembus dimensi alam lain. Menuju istana Dewi Ular untuk membicarakan masalah Peta dan kebangkitan makhluk iblis serta Nagadhini.


Bersambung...

__ADS_1


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR



__ADS_2