
Deviandra tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Aisha. Dan, Aisha mengerti akan hal tersebut serta sekaligus ia memahaminya.
"Jika, kau masih ragu dan tidak ingin mengatakannya kepadaku...juga, tidak ada masalah."
Ucap Aisha.
"Tidak, bukan begitu maksudku."
Ucap Deviandra.
"Sudahlah! Tidak perlu mengatakannya sekarang...lain waktu kita masih dapat membicarakannya."
Ucap Aisha.
"Baiklah."
Ucap Deviandra.
"Sekarang, aku harus kembali...jam istirahat sudah hampir habis."
Ucap Aisha.
"Ya, hari ini aku tidak bisa datang ke sekolah dan belajar bersama kalian."
Ucap Deviandra.
"Tidak apa-apa bolos satu hari, besok kalau sudah datang ke sekolah berikan alasan yang tepat kepada wali kelas...karena, dunia kita sangat berbeda dengan mereka."
Ucap Aisha.
"Ya, kau benar...baiklah, lebih baik aku kembali ke rumah saja."
Ucap Deviandra yang kemudian disambut anggukan kepala Aisha. Kemudian, Deviandra pun segera berlalu dari hadapan Aisha. Dan, Aisha juga segera kembali ke sekolah sebelum lonceng tanda istirahat kembali berbunyi menandakan waktu istirahat sudah selesai.
Sementara, itu di sekolah Richard sedang sibuk mencari Aisha kemana-mana. Anna yang melihat tingkah Richard menjadi pusing tujuh keliling. Karena, Richard tidak pernah berhenti untuk mencari Aisha di lingkungan sekolah.
"Ck, berhentilah Richard!"
Ucap Anna.
"Anna! Dia tidak ada di sekolah...aku tidak tahu dia ada dimana."
Ucap Richard.
"Kau ini seperti anak kemarin sore saja, Richard...apa, kau tidak mengenalnya dengan baik?"
Ucap Anna.
"Justru, karena aku mengenalnya dengan baik...maka, aku takut terjadi apa-apa kepadanya."
Ucap Richard cemas dan khawatir.
"Kau tidak perlu mencemaskan serta mengkhawatirkan dia...dia pasti baik-baik saja."
Ucap Anna.
"Mudah-mudahan saja."
Ucap Richard. Ketika Richard sedang mencemaskan Aisha, dua remaja centil Carla dan Nona datang mendekati Richard. Akan tetapi, sebelum mereka berdua sempat berbicara dengan Richard. Tiba-tiba, Anna memblokir Carla dan Nona.
"Berhenti disana."
Ucap Anna kepada Carla dan Nona.
"Huh! Minggir! Kami berdua ingin berbicara dengan Richard."
Ucap Nona.
"Berbicara? Tidak boleh."
Ucap Anna.
"Tidak boleh?"
Ucap Carla saling pandang dengan Nona.
"Apanya, yang tidak boleh! Sejak tadi kami lihat kau berduaan saja dengannya...masa kami tidak diberi kesempatan."
Ucap Nona.
"Berduaan? Yang benar saja! Richard temanku, memangnya mengapa aku berduaan dengannya...kami ini adalah rekan."
Ucap Anna dengan mata melotot.
__ADS_1
"Rekan?"
Ucap Carla menahan tawa.
"Kalau kalian berdua rekan? Mengapa, kau begitu peduli kepadanya...seakan-akan kalau dia itu adalah seseorang yang sangat istimewa bagimu."
Ucap Nona menuding Anna.
"Apa? Rupanya, mulut kalian ini benar-benar minta dihajar ya?"
Ucap Anna sambil menggulung lengan baju sekolahnya hendak berkelahi dengan Carla dan Nona. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Carla dan Nona menjadi takut dan serta merta langsung kabur dari hadapan Anna serta Richard.
"Haish! Mereka kabur."
Ucap Anna.
"Sudahlah, An...tidak perlu berurusan dengan mereka."
Ucap Richard. Tepat saat itu, Aisha pun tiba di sekolah. Ia muncul di hadapan Richard dan Anna secara tiba-tiba. Anna yang melihat Aisha muncul tiba-tiba menjadi sangat terkejut. Namun, Richard yang melihat kemunculan Aisha seperti itu sudah menjadi pemandangan yang biasa baginya.
"Argh! Kau membuatku terkejut saja, Aisha."
Ucap Anna. Aisha tersenyum.
"Kau terkejut?"
Ucap Aisha.
"Ya, aku sungguh sangat terkejut."
Ucap Anna.
"Kalau begitu, biasakanlah...karena, mulai dari sekarang kau akan melihatku dengan secara tiba-tiba muncul di hadapanmu."
Ucap Aisha.
"Ya, aku akan membiasakan diri."
Ucap Anna dengan kening yang berkerut.
"Kau pergi kemana, Aisha?"
Tanya Richard tiba-tiba.
Balas Aisha.
"Pergi sebentar, kemana?"
Tanya Richard penasaran.
"Aku pergi menyelidiki sesuatu tadi."
Balas Aisha.
"Apa, soal tadi pagi?"
Ucap Richard.
"Iya."
Ucap Aisha.
"Lalu, bagaimana hasilnya...apa yang terjadi?"
Ucap Richard.
"Ternyata mereka adalah anak buah Nagadhini."
Ucap Aisha.
"Apa! Nagadhini!"
Ucap Anna dan Richard bersamaan.
"Ya, mereka ditugaskan oleh Nagadhini demi Deviandra."
Ucap Aisha. Sekali ini ucapan Aisha membuat keduanya semakin terkejut.
"Apa! Jadi, ada hubungannya dengan dia."
Ucap Anna.
"Ya, An...tetapi, sekarang masalahnya sudah selesai."
__ADS_1
Ucap Aisha tidak ingin memperpanjang membahas Deviandra. Sebab, dia tidak ingin Anna dan Richard mengetahui siapa sebenarnya Deviandra. Itu semua ia lakukan demi melindungi Deviandra. Karena, Deviandra adalah putri kandung Nagadhini yang berarti adalah juga keponakannya sendiri.
Jadi, ia tidak mau jika Deviandra terlibat karena ibunya adalah musuh sejatinya sejak dahulu. Dan, ibunya juga merupakan musuh para Ratu Ular yang kemudian akan membuat Deviandra dalam masalah besar. Hal tersebutlah yang tidak diinginkan terjadi kepada Deviandra. Bagaimana pun, caranya Aisha akan melindungi Deviandra.
Aku tidak peduli, bagaimana pun aku harus melindungi Deviandra...karena, dia adalah keponakanku.
Ucap Aisha dalam hati. Dan, lonceng berbunyi tanda masuk kelas. Seluruh siswa dan siswi pun masuk ke dalam ruangan kelas. Termasuk, Aisha, Anna dan Richard. Sekilas, Aisha menangkap sesuatu yang dipikirkan oleh Anna mengenai Deviandra.
Anna menjadi penasaran dan ingin tahu apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Siapa sebenarnya Deviandra dan mengapa bisa terlibat dengan Nagadhini. Yang, ia tahu Nagadhini adalah merupakan musuh yang sangat kuat bagi kaum pemburu siluman.
Sepertinya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh Aisha dari kami...dan dia tidak ingin mengatakannya kepada kami.
Ucap Anna dalam hati.
Sudahlah, suatu saat nanti aku juga akan mengetahuinya.
Ucap Anna dalam hati. Lalu, Anna pun segera memasuki ruang kelas. Karena, sebentar lagi proses belajar akan segera berlangsung.
......................
Dunia siluman...
Nagadhini sedang menerima seorang prajurit yang tersisa dari pertempuran di dunia manusia melawan pasukan milik Aisha. Prajurit tersebut tampak tergopoh-gopoh menemui Nagadhini. Dan, ia pun segera memberi tahu situasi terkini kepada Nagadhini atas tugas yang diberikan oleh Nagadhini saat itu.
"Nyai!"
Panggilnya.
"Ya, ada apa...datang tergopoh begitu...katakan!"
Ucap Nagadhini.
"Nyai, pasukan kita kalah bertempur."
Ucap prajurit tersebut.
"Apa! Apa, maksudmu! Bicara yang benar."
Ucap Nagadhini dengan nada marah.
"I...iya...nyai...kami sudah menemukan putri Deviandra...akan tetapi putri tidak mau pulang...kami memaksa untuk membawanya pulang, nyai."
Ucap prajurit tersebut.
"Lalu?"
Ucap Nagadhini.
"Kami bertempur nyai dengan putri...awalnya putri dapat didesak...akan tetapi kemudian ada sejumlah pasukan datang tidak tahu darimana dan menyerang kami, nyai."
Ucap prajurit tersebut.
"Lalu?"
Ucap Nagadhini lagi.
"pasukan kami kalah, nyai...berhasil dikalahkan oleh pasukan tersebut, nyai."
Ucap prajurit tersebut.
"Apa! Berhasil dikalahkan? Pasukan kita kalah? Kurang ajar!"
Ucap Nagadhini.
"Siapa yang telah berani mengalahkan pasukanku!"
Ucap Nagadhini.
"Itu, hamba tidak tahu nyai."
Ucap prajurit tersebut.
"Apa! Tidak tahu? Kau pantas mati!"
Ucap Nagadhini dan membunuh prajurit tersebut. Ia sangat kesal dan marah karena harus menerima kekalahan serta tidak dapat membawa kembali Deviandra ke istanannya.
Ia sangat takut jika suaminya mengetahui tentang Deviandra yang menghilang. Maka, ia tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk memenuhi ambisi dan cita-citanya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1