NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 59. Masalah Baru


__ADS_3

Rasa sakit akibat tusukan senjata pedang milik Anna semakin membuat langkah Deviandra terseok-seok. Ia tidak menyangka jika Anna sanggup membuatnya menelan kekalahan sekaligus juga merasakan sakit di bagian jantungnya yang terluka.


"Rasanya sakit sekali...aku tidak menyangka manusia tersebut mampu melukaiku."


Ucap Deviandra.


"Ini benar-benar tidak mungkin, mengapa dia sanggup mengalahkanku...apakah karena aku terlalu sombong? Akh, aku harus menyembuhkan diriku...aku masih punya misi."


Ucapnya lagi. Lalu, Deviandra pun segera melakukan penyembuhan luka. Memang, luka yang diberikan Anna tidak terlalu sakit. Namun, luka itu menyebabkan dirinya sedikit sulit untuk bergerak. Oleh sebab itu ia melakukan upaya penyembuhan dirinya sendiri di tengah hutan.


Sedangkan, Anna sudah kembali ke rumah Alina. Tetapi, sebelum ia masuk ke dalam rumah ia beremu dengan Richard di halaman rumah Alina. Sedang, menunggu dirinya. Alina menghela nafas lelah.


"Darimana saja kau, An?"


Tanya Richard.


"Berburu siluman!"


Balasnya ketus.


"Mengapa, kau tidak mengatakannya kepadaku kalau kau berburu siluman."


Protes Richard.


"Owh? Apakah, aku harus mengajakmu? Bukankah, kau bisa melakukan perburuan sendirian? Jadi, mengapa aku harus mengajak dirimu."


Ucap Anna.


"An, kita ini satu regu satu misi dan satu kelompok...kita bukan dua orang asing yang harus selalu mengutamakan ego, An."


Ucap Richard.


"Sudah Richard...tidak perlu kau menjelaskan lagi...aku bukan tipe orang yang lebih mengutamakan ego...tetapi, aku lebih mementingkan keselamatan rekanku...apa yang harus aku katakan kepada ayahku jika kau terluka...kau tidak tahu siluman yang kuhadapi di luar sana sangat berbahaya...dan aku tidak mau kau terluka dan merepotkan diriku."


Ucap Anna.


"Wow, pertengkaran yang seru!"


Ucap Aisha yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua. Anna menatapnya dengan mata terbelalak.


"Ka...kau? Disini? Tadi, kau disana."


Ucapnya gugup.


"Disana mana? Apa yang kau lihat?"


Tanya Aisha.


"Tadi kau disana sedang melihat aku bertarung...lalu setelahnya kau menghilang."


Ucap Anna.


"Ya, tadi aku jalan-jalan...lain kali jika kau berburu siluman kau harus mengajakku dan Richard."


Ucap Aisha.


"Mengajakmu dan Richard...untuk apa?"


Tanya Anna.


"Tentu saja, jika kau kerepotan aku dan Richard dapat menolongmu."


Jawab Aisha.


"Cih! Aku tidak butuh bantuanmu dan Richard...aku bisa menghadapinya sendirian."


Ucap Anna.


"Oh, ya? Siluman yang kau hadapi tadi bukanlah siluman biasa...dia adalah seorang putri siluman ular...untung saja kau tidak kalah darinya...sebab, aku menambahkan sesuatu di pedangmu...lihat warna aura dari pedangmu itu."


Ucap Aisha yang ternyata diam-diam menambahkan sesuatu di pedang milik Anna.


"Apakah, yang katakan itu benar Aisha?"

__ADS_1


Tanya Richard yang sedari tadi diam memperhatikan.


"Tentu saja, benar."


Balas Aisha sambil berlalu dan masuk ke dalam rumah.


"Aisha! Tunggu!"


Panggil Anna. Namun, Aisha tidak mempedulikan panggilan Anna tersebut. Ia terus masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Anna yang memanggilnya tadi.


Richard pun merasa heran dengan Aisha. Dan, ia menganggap kalau kata-kata Aisha itu adalah sebuah teka-teki yang nyata.


Sedangkan, Anna ia merasa heran ketika ia melihat Aisha sedang berada diatas rumah seorang warga desa. Ia berdiri disana dan kemudian ia tersenyum kepada Anna.


Sungguh merupakan senyuman misteri. Ia tidak tahu apa maksud senyuman tersebut. Ia hanya tahu bahwa ia baru saja mengalahkan seekor makhluk siluman ular.


Lalu, Anna pun mengeluarkan pedang miliknya. Ia terkejut ketika ia melihat pedangnya memiliki aura berwarna emas. Richard juga melihatnya dan ia pun juga terkejut. Pedang biasa berubah menjadi pedang yang sangat luar biasa.


"Wow, Anna itu sangat keren...lihat auranya berwarna emas!"


Ucap Richard.


"Hmph!"


Anna mendengus kesal mendengar kata-kata Richard. Lalu, ia pun segera masuk ke dalam rumah bersama dengan Richard yang mengekor di belakangnya.


......................


Malam pekat di sebuah tempat di kaki gunung pukul 3 pagi...


Seorang kakek tua berjalan sendirian di sebuah kaki gunung yang jauh dari rumah penduduk. Kakek tersebut telah menempuh perjalanan jauh dari rumahnya. Ia menatap langit yang berwarna gelap. Serta pergerakan bintang-bintang yang menunjukkan tanda bahwa gerhana bulan akan segera tiba.


Dan, peta Alam Semesta akan muncul. Ia membayangkan betapa kehancuran akan terjadi di dunia manusia. Oleh sebab itu, ia pun bergegas datang untuk menemui seseorang di kaki gunung tersebut.


"Guru, satu pertanda akan muncul...dan dunia sedang gelisah saat ini...bagaimana ini akan dapat diselesaikan dengan mudah, guru?"


Ucap sang kakek yang merupakan tetua perkumpulan pemburu siluman.


Ucap sang Guru tersebut.


"Jadi, bagaimana kita dapat mencegahnya Guru...ini akan membuat dunia kita guncang...sebab, hal ini akan menjadi masalah besar."


Ucap sang tetua.


"Bersabarlah dan yakinlah, selalu ada jalan keluar untuk hal tersebut!"


Ucap sang Guru.


"Maksud, Guru?"


Tanya sang tetua.


"Dibalik bencana sang pencipta telah menyiapkan anti dari masalah tersebut, tetua?"


Balas sang Guru.


"Apa itu, Guru?"


Tanyanya lagi.


"Hanya anak perempuan yang memiliki tanda lahir sisik emas di punggung sebelah kanannya."


Balas sang Guru.


"Bagaimana cara mencarinya, Guru? Bagaimana mungkin mencari anak perempuan dengan tanda sisik emas di punggungnya?"


Ucap sang tetua.


"Kau tidak perlu mencarinya...kelak dia sendiri yang akan datang."


Ucap sang Guru.


"Oh, ternyata begitu...aku merasa sangat lega sekali mendengarnya, Guru."

__ADS_1


Ucap sang tetua.


"Kalau begitu, aku permisi Guru."


Ucap sang tetua kemudian. Sang Guru menganggukkan kepalanya. Lalu, sang tetua pun segera kembali ke rumahnya. Setelah, mendapat petunjuk dari sang Guru tersebut perasaannya menjadi tenang. Dan, ia pun dapat tidur dengan nyenyak.


Namun, ternyata hal tersebut tidak dapat dirasakan oleh Adam. Sebab, ia benar-benar sangat khawatir. Dan, saat ini ia sudah berada dirumah Baba temannya sang pawang ular. Yang masih setia duduk bersamanya dan mendengarkan seluruh ceritanya.


"Acha! Jadi, hal inikah yang membuatmu khawatir."


Ucap Baba.


"Iya, Baba...masalah ini benar-benar sangat membuatku tidak berdaya...nyawa manusia saat ini sedang terancam bahaya...ditambah lagi aku pun tidak dapat mengharapkan bantuan dari Anna dan Richard."


Ucap Adam.


"Mengapa?"


Tanya Baba penasaran.


"Tetua perkumpulan tidak ingin mereka berdua terlibat."


Balas Adam.


"Lalu, bagaimana?"


Tanya Baba lagi.


"Inilah yang tidak kupahami dan tidak kumengerti...aku tidak tahu mengapa tetua bersikeras agar Anna dan Richard tidak terlibat."


Balas Adam.


"Mungkin saja tetua berpikiran begitu, Adam...acha! Masalah ini semakin rumit...andai saja sang Dewi Ular masih hidup...masalah seperti ini akan sangat mudah ditangani."


Ucap Baba mengingat masa lalu.


"Dewi Ular? Siapa dia?"


Tanya Adam.


"Kau ingin tahu?"


Balas Baba. Dan, Adam pun mengangguk.


"Ceritanya sangat panjang sekali...Dewi Ular adalah penguasa seluruh Ratu Ular di seluruh dunia...diantara para Ratu Ular dialah yang paling kuat dan paling sakti...tidak ada satu pun makhluk siluman yang berani mengusiknya...kecuali, ular siluman Nagadhini yang licik sekaligus serakah."


Ucap Baba bercerita tentang Dewi Ular dan Nagadhini. Baba menceritakan segalanya tentang kisah Dewi Ular dari awal sampai akhir kepada Adam. Dan, Adam pun mendengarkan dengan seksama. Sampai diakhirnya Baba berkata...


"Tidak tahu bagaimana kini nasibnya...sebab sejak ular naga misterius tersebut membawanya jasadnya sebelum pupus...sampai kini pun tidak ada kabar beritanya lagi...bahkan kekasihnya Zham pun menghilang entah kemana...tidak ada kabar berita...Ankara juga tidak."


Ucap Baba.


"Haish...masalah ini semakin menemui jalan buntu."


Ucap Adam.


"Tidak perlu khawatir...aku akan mencoba untuk mencari mereka di dunia ular...mungkin saja mereka masih ada di dunia ular."


Ucap Baba memberi dukungan kepada Adam.


"Baiklah, jika memang kau berhasil menemukan mereka dan mendapatkan bantuan mereka...hubungi aku."


Ucap Adam akhirnya. Dan, Baba pun mengangguk tanda setuju. Lalu, akhirnya ia pun segera melangkah pergi dari rumah Baba.


Acha! Masalah baru telah muncul...belum lagi selesai masalah Nagadhini kini timbul masalah baru serta kekhawatiran baru...aku harus bergerak cepat...aku akan mencari mereka semua di alam dunia ular...semoga masih ada waktu.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover


__ADS_1


__ADS_2