
Mayang segera pergi ke istana Dewi Ular. Sambil membawa obat yang diberikan oleh Ular Suci alias Eyang Sri Kantil. Sampai disana, kehadirannya dihadang oleh prajurit istana Dewi Ular.
"Siapa kau! Kau tidak boleh masuk istana!"
Ucap prajurit.
"Namaku, Mayang...utusan Ular Suci...membawa obat untuk manusia yang bernama Alina...ibu Dewi Ular...mohon, izinkan aku masuk."
Ucap Mayang menjelaskan kedatangannya.
"Utusan Ular Suci? Siapa, itu Ular Suci."
Tanya prajurit tersebut.
"Eyang Sri Kantil...tolong, izinkan aku masuk."
Ucap Mayang.
"Hegh! Kamu, tidak tahu siluman dari mana...ingin masuk ke dalam istana...dan tidak tahu apakah, kau akan berbuat onar atau tidak."
Ucap prajurit tersebut sombong.
"Wah, ternyata prajuritnya Dewi Ular suka sekali ya...menilai orang dari kulitnya?"
Ucap Mayang kesal.
"Izinkan aku masuk! Atau, aku akan benar-benar membuat keonaran disini."
Ucap Mayang mengancam.
"Siapa takut! Berhadapan dengan siluman sepertimu."
Ucap prajurit. Saat, akan terjadi pertarungan antara Mayang dan prajurit tiba-tiba saja Ankara datang dan menghentikan mereka.
"Berhenti!"
Cegah Ankara.
"Gusti Pangeran!"
Sapa prajurit sopan.
Pangeran? Wah, dia sangat tampan! Dia juga berwibawa.
Ucap Mayang terpesona dalam hati.
"Ada apa ini?"
Tanya Ankara.
"Jawab Gusti pangeran, siluman ini memaksa masuk."
Balas prajurit.
"Apa? Kau memaksa masuk?"
Tanya Ankara dengan tatapan curiga.
"Tidak, pangeran! Aku utusan Ular Suci...aku ditugaskan oleh Ular Suci untuk memberikan obat kepada manusia yang bernama Alina...ini obatnya."
Balas Mayang menjelaskan.
"Utusan Ular Suci? Siapa dia? Obat?"
Ucap Ankara.
"Ankara! Suruh masuk utusan tersebut."
Perintah Aisha tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Baiklah, kau boleh masuk...ayo, Aisha sudah menunggu di dalam."
Ucap Ankara tanpa berpikir panjang lagi.
"Dan, kalian! Aku akan memberikan, hukuman kepada kalian!"
Ucap Ankara kepada kedua prajurit tersebut. Dan, kedua prajurit tersebut hanya mampu menelan air liur mereka sendiri. Ankara membawa Mayang masuk ke dalam istana. Dimana, sang Aisha sudah menunggu di dalam. Aisha duduk di singgasananya yang agung. Mayang segera memberi hormat kepada Aisha.
"Bangunlah dan duduklah."
Ucap Aisha.
"Nyai, aku utusan dari Ular Suci...aku...
Ucapan Mayang terputus.
"Aku tahu."
Ucap Aisha.
"Jadi, nyai sudah tahu?"
Ucap Mayang.
"Ya, Eyang Sri Kantil yang mengutusmu."
Ucap Aisha tersenyum.
Wah, dia cantik sekali...jika, dia tersenyum.
Ucap Mayang dalam hati.
"Iya, ini adalah obat pemberian beliau nyai."
Ucap Mayang sambil menyerahkan sebotol obat kepada Aisha.
"Terima kasih, kebaikan Ular Suci dunia bawah...akan selalu aku ingat."
Ucap Aisha.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya urusanku sudah selesai disini...hamba mohon pamit, nyai."
Izin Mayang.
"Tidak! Jangan, pergi dahulu...jarang sekali ada tamu dari dunia bawah datang berkunjung...menginaplah disini beberapa hari, bagaimana?"
Usul Aisha.
"Aku sangat senang sekali, nyai...tetapi, tugasku di dunia bawah masih menumpuk...tidak mungkin aku bersenang-senang disini...dan melalaikan tugas serta tanggung jawabku."
Ucap Mayang panjang lebar. Dan, Aisha tersenyum mendengarnya.
"Kau tidak perlu khawatir dengan tugas menumpukmu...aku sudah berbicara dengan Ular Suci...dan, dia sudah memberikan izin."
Ucap Aisha.
"Benarkah? Wah, bagus sekali...aku bisa melihat dunia atas...sekaligus menambah banyak pengalaman."
Ucap Mayang bersorak gembira. Melihat hal itu membuat Ankara yang sejak tadi hanya terdiam memperhatikan jadi tersenyum manis. Aisha melihatnya.
Selama ini aku hanya melihat senyumnya hanya untukku...akan tetapi, mulai sekarang akan berbeda...senyum itu mungkin bukan untukku lagi...ah...mengapa aku merasa kesal padanya.
Ucap Aisha dalam hati.
Apa mungkin aku menyimpan rasa terhadap Ankara? Ah...tidak! Tidak boleh, aku sudah memiiki Richard...tidak mungkin jika aku juga menyukai Ankara.
Ucap Aisha lagi dalam bathin.
Tetapi, tatapan mata tajamnya tidak dapat aku lupakan...bahkan setiap caranya menyayangiku...sangat berbeda dengan Richard...bagaimana ini...mengapa, aku menjadi tidak rela.
Ucap Aisha berkecamuk dalam hati.
"Aisha!"
Sapa Richard menyadarkan Aisha.
"Richard?"
Ucap Aisha terkejut.
"Apa, yang sedang kau pikirkan...sampai wajahmu menjadi merah seperti ini."
Ucap Richard.
Eh? Wajahku memerah? Aku tidak tahu...jika hanya memikirkan Ankara saja...akan menjadi seperti ini.
Ucap Aisha dalam hati.
"Ak...aku tidak memikirkan apa pun? Oh, ya...ini ada obat dari utusan dunia bawah."
Ucap Aisha mengalihkan pembicaraan.
"Oh, obat? Untuk ibu Alina?"
Tanya Richard.
Ucap Aisha.
"Oh, bagaimana kau tahu namaku?"
Tanya Mayang.
"Bagaimana, aku tahu? Itu sangat mudah bagiku."
Balas Aisha.
"Aku ingin tahu...bagaimana, kau mengetahuinya."
Ucap Mayang.
"Baiklah, nanti datanglah ke ruanganku...sekarang, beristirahatlah."
Ucap Aisha. Aisha bertepuk tangan tiga kali. Lalu, para dayang hadir di hadapannya sekejap mata.
"Antarkan tamu kita beristirahat! Berikan, pelayanan terbaik dari istana kita."
Perintah Aisha kepada dayang istana.
"Baik, nyai."
Ucap para dayang istana.
"Nyai, silahkan ikuti kami."
Ucap para dayang sopan kepada Mayang. Mayang pun segera mengikuti langkah kaki para dayang bangsa ular menuju ruangan peristirahatan. Sedangkan, Aisha beserta yang lainnya segera pergi menuju ruangan pengobatan.
Dimana, Alina sedang dirawat saat ini. Aisha menatap wajah pucat Alina. Sejenak, kesedihan menyeruak di dalam dadanya. Ia merasa bersalah kepada ibunya. Sebab, ia telah lalai menjalankan tugasnya sebagai seorang anak.
"Aisha, sudahlah...tidak perlu bersedih."
Ucap Ankara.
"Cepat! Berikan, obatnya Aisha?"
Ucap Richard.
"Baiklah."
Ucap Aisha. Aisha pun memberikan obat tersebut kepada ibunya dengan cara meminumkannya kepada ibunya. Tidak lama, kemudian obat tersebut pun mulai bekerja di dalam tubuh Alina.
Aisha melihatnya dengan mata ular istimewa miliknya. Tatapan, matanya tembus pandang serta dapat menyaksikan hal langka yang terjadi di hadapannya. Dan, ia tersenyum.
"Mengapa, kau tersenyum Aisha?"
Ucap Richard.
"Itu, kau tidak melihatnya?"
Ucap Aisha.
__ADS_1
"Apa, yang perlu dilihat Aisha?"
Ucap Ankara.
"Obat itu bekerja dengan baik...di dalam tubub ibu."
Ucap Aisha.
"Apa! Mana?"
Ucap Ankara dan Richard bersamaan.
"Tidak ada apa pun yang terlihat."
Ucap Ankara.
"Benar! Tidak ada yang terlihat."
Timpal Richard.
"Berarti kalian berdua tidak bisa melihatnya."
Ucap Aisha.
"Haish! Aku lupa aku memiliki mata istimewa...dan, kalian tidak memiikinya."
Ucap Aisha.
"Sebenarnya, hal tersebutlah yang ingin aku katakan."
Ucap Ankara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu, reaksi obat ini begitu cepat...mungkin, ibu akan sadar sebentar lagi."
Ucap Aisha. Benar saja, tidak lama kemudian Alina sadar. Dan, luka dalam yang diakibatkan pukulan Nagadhini sepenuhnya telah sembuh. Aisha merasa sangat senang sekali melihatnya.
"Ugh! Aduh, kepalaku pusing sekali."
Ucap Alina.
"Ibu? Ibu sudah sadar."
Ucap Aisha senang.
"Eh, Aisha? Anak ibu...ibu sangat merindukanmu."
Ucap Alina sambil memeluk Aisha.
"Ibu takut...jika, makhluk tersebut juga menyakiti dirimu...kau baik-baik saja, bukan?"
Ucap Alina.
"Ibu? Aku baik-baik saja...ibu, jangan khawatir."
Ucap Aisha.
"Bagaimana, ibu tidak khawatir...dia sangat ganas serta menakutkan sekali, Aisha?"
Ucap Alina.
Pantas saja ibu takut...jika, Nagadhini muncul dalam bentuk asli...sudah pasti mereka yang baru pertama kali melihatnya...pasti akan lari tunggang langgang.
Ucap Aisha dalam hati.
"Iya, ibu? Dia sangat menakutkan sekali."
Ucap Aisha.
"Untung saja, ibu tidak apa-apa."
Ucap Aisha lagi.
"Ya, dia tidak melakukan apa-apa kepada ibu...dia hanya mengurung ibu di sebuah gua."
Ucap Alina.
"Sebuah gua?"
Ucap Aisha.
"Ya, sebuah gua...gua itu tidak terlalu besar...akan tetapi, banyak sekali ular disana...hiii...ibu geli sekali melihatnya, Aisha?"
Ucap Alina bergidik ngeri. Ankara dan Richard yang mendengarkan kata-kata Alina menjadi saling pandang.
Oh...ibu? Itu hanyalah ular kecil saja...bagaimana, jika ibu melihat wujud asliku...ibu pasti akan shock...mengetahui kalau putrinya siluman ular.
Ucap Aisha dalam hati.
"Sudah, ibu...ibu akan melihatnya lagi...disini aman."
Ucap Aisha menghibur ibunya.
"Ibu istirahat dahulu...nanti, kita berbincang lagi saat makan malam tiba."
Ucap Aisha.
"Kau mau kemana, Aisha? Ibu tidak ingin kau pergi kemana-mana...kemarilah, temani ibu istirahat sambil makan buah-buahan enak ini."
Ucap Alina.
"Baiklah, kalau begitu ibu."
Ucap Aisha. Akhirnya, Aisha memenuhi permintaan ibunya untuk menemaninya disana. Mereka berdua menghabiskan waktu. Sedangkan, Ankara dan Richard segera menyingkir dari ruangan tersebut. Mereka pergi ke lain tempat untuk melihat keadaan sekitar istana.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
__ADS_1