NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 88. Bantuan Eyang Sri Kantil


__ADS_3

Aisha mengamuk dan menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya. Richard bersama dengan yang lainnya pun tidak dapat berbuat apa-apa. Api kemarahan Dewi Ular tidak terbendung lagi. Sehingga, membuat seluruh warga desa yang rumahnya dekat dengan rumah Alina menjadi panik.


Tim pemburu siluman pun tiba disana. Mereka melihat situasi yang tidak dapat dikendalikan lagi. Akhirnya, mereka pun mengevakuasi seluruh warga yang dekat dengan area tersebut. Setelahnya, mereka pun saling berembuk untuk membantu meredakan suasana yang kacau.


"Bagaimana ini? Aisha sang Dewi Ular mengamuk di dunia manusia."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Ya, hal ini tidak baik sebab kekuatannya akan merusak keseimbangan alam."


Ucap Ankara lalu mengalihkan pandangan matanya kepada Richard.


"Kak Richard, kau yang paling dekat dengannya...kau pasti bisa membujuknya dan meredakan amarahnya."


Ucap Ankara.


"Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin memancingnya ke dunia ular...agar kerusakan di dunia manusia ini tidak parah."


Ucap Richard.


"Aku bisa melakukannya."


Ucap Anna tiba-tiba mengajukan diri.


"Anna, ini sangat berbahaya...Aisha, Dewi Ular dalam keadaan tidak stabil...serta dia tidak mengenalimu."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Kakek? Tenang saja! Aku bisa melakukannya...hanya masalah sepele saja...memancingnya ke dunia itu, bukan?"


Ucap Anna percaya diri.


"Anna! Apa, kau yakin kau bisa?"


Ucap Richard. Sementara, pusaran angin kencang serta petir terus menggelegar di atas langit. Burung-burung serta makhluk hidup lainnya pun menjadi panik.


"Apa, tidak yakin Richard?"


Ucap Anna.


"Ah, baiklah...hati-hati dan kami akan mengikutimu dari belakang."


Ucap Richard akhirnya.


"Bagus! Keputusan yang tepat!"


Ucap Anna.


Anak manusia ini memiliki tekad yang kuat...tidak kalah dengan Aisha...dia dapat diandalkan.


Ucap Ankara dalam hati semenjak ia sedari tadi hanya memperhatikan Anna dengan seksama. Lalu, Anna pun memulai aksinya. Ia sengaja memancing kemarahan Aisha yang saat itu sudah tidak mempedulikan apa pun lagi.


"Hei, ular besar! Lihat kemari."


Pancing Anna. Aisha yang dalam keadaan emosi terpancing dengan kata-kata Anna.


"Kurang ajar! Cari mati kau, hah!"


Ucap Aisha dengan mata ularnya yang tajam. Dan, ia siap mencabik-cabik tubuh Anna dengan ekornya.


"Wutt."


Tetapi, Anna menghindar dan ia terus memancing emosi Aisha. Sampai akhirnya ia berhasil memancing Aisha masuk ke dunia ular.


Saat Aisha sampai disana, ia pun semakin marah dan menghancurkan segala apa yang ada disana. Pohon-pohon besar bertumbangan karena kena sabetan ekor besar milik Aisha.


"Wutt."


"Brakk...brakk...brakk."


"Gawat!"


Ucap Anna.


"Ada apa, Anna!"


Ucap yang lainnya khawatir.


"Dia semakin marah...dan, amarahnya tidak terkendali."


Ucap Anna.

__ADS_1


"Ya, kau benar An! Amarah Aisha semakin tidak terkendali...kalau begini terus...dunia ular akan musnah."


Ucap Richard sedih.


"Ankara, apa tidak ada sesuatu yang bisa kita lakukan?"


Tanya Richard. Dan, Ankara pun menggeleng lemah.


"Kau yang paling dekat dengannya, kakak...kau pasti lebih mengetahuinya dibandingkan aku."


Ucap Ankara. Dan, untuk sejenak mereka semua pun terdiam. Dan, hanya mampu melihat Aisha menghancurkan segalanya.


Dan, peristiwa tersebut juga dirasakan oleh para siluman lainnya. Bahkan, Eyang Sri Kantil pun juga dapat merasakannya.


"Aisha mengamuk! Gawat, ini tidak baik."


Ucap Eyang Sri Kantil. Kemudian, Eyang Sri Kantil yang visualisasinya adalah seekor naga putih pun segera melesat dengan kecepatan tinggi. Menuju sebuah tempat dimana Aisha mengamuk sejadinya.


Saat ia tiba disana dalam wujud seekor naga putih. Semua yang ada disana menjadi terkejut. Eyang Sri Kantil mencoba berdialog dengan Aisha.


"Dewi Ular, hentikan aksimu...kau dapat membuat alam ini hancur!"


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Siapa kau! Beraninya kau menghalangiku."


Ucap Aisha dengan sorot mata tajam.


"Aku adalah Sri Kantil...penguasa alam bawah...dulu kita pernah bertarung dan kita sama imbang."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Dahulu aku juga yang menyelamatkan nyawamu."


Ucapnya lagi.


"Bohong! Aku tidak mengenalmu...kau hanya bersilat lidah saja."


Ucap Aisha.


"Mengapa, dengan wujud sempurnamu ini...kau sama sekali tidak mengenalku?"


Ucap Eyang Sri Kantil.


Ucap Eyang Sri Kantil dan kata-kata tersebut sukses membuat semua yang ada disana menjadi terkejut.


"Apa! Jadi, selama ini Intisari Kehidupan ada di tangan naga putih itu?"


Ucap Ankara.


"Hah! Kau hanya membual, siluman naga...aku tidak percaya kepadamu...terimalah seranganku."


Ucap Aisha yang segera menyerang Eyang Sri Kantil. Aisha menyerang Eyang Sri Kantil dengan membabi buta. Tetapi, Eyang Sri Kantil menghadapinya dengan sabar.


Eyang Sri Kantil menahan serangan Aisha hanya dengan satu jarinya saja. Ia menyentuh kening Aisha. Dan, menetralkan api amarah yang membara di hati Aisha. Hanya sekejap saja dan sinar putih yang menyentuh kening Aisha pun memudar.


Bersamaan dengan itu, Aisha pun akhirnya sadar kembali. Dan, ia melihat semuanya ada disana dengan tatapan bingung. Ia juga melihat sekeliing juga hancur berantakan.


"Apa yang sudah terjadi?"


Ucapnya bingung.


"Apa, kau sudah sadar sekarang."


Ucap Eyang Sri Kantil yang sudah berubah bentuk menjadi manusia.


"Kau? Ada disini."


Ucap Aisha bingung.


"Ya...untuk meredakan api amarahmu."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Oh, dan semuanya ini?"


Tanya Aisha.


"Itu adalah hasil perbuatanmu."


Balas Eyang Sri Kantil.

__ADS_1


"Aisha kau sudah sadar?"


Ucap Richard.


"Richard?"


Ucap Aisha.


"Akhirnya, si ular besar sudah sadar kembali."


Ucap Anna.


"Anna? Dan, kalian semuanya...maafkan aku!"


Ucap Aisha.


"Sudahlah, nyai...tidak apa-apa...semuanya sudah berlalu."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Aisha? Api amarahmu begitu besar...kau harus bisa mengontrolnya."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Baiklah."


Ucap Aisha.


"Aku permisi dahulu, Aisha...aku harus kembali ke dunia bawah."


Ucap Eyang Sri kantil.


"Tunggu dulu...kau penguasa dunia bawah."


Ucap Richard dan tetua Jenggot Putih.


"Ya."


Ucap Eyang Sri Kantil sambil tersenyum.


"Terima kasih."


Ucap keduanya.


"Baiklah, jika kalian berdua ada waktu...datangah sesekali ke dunia bawah...aku akan menjamu kalian berdua."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Wah...wah...lihat ini! Kedua orang ini sangat bersemangat sekali."


Ucap Anna.


"Hei, Anna...apa kau berharap undangan juga ke dunia bawah juga?"


Ucap Richard.


"Tentu saja! Masa hanya kalian berdua atau Aisha saja...aku juga ingin sesekali melihat dunia bawah itu seperti apa."


Ucap Anna.


"Anna dunia bawah bukan untuk manusia."


Ucap Richard.


"Kakekku juga manusia."


Ucap Anna.


"Sudahlah, jangan bertengkar! Kau juga dan yang lainnya juga diundang...datanglah, jika kalian ada waktu."


Ucap Eyang Sri Kantil tersenyum.


"Aku permisi dahulu."


Ucapnya kemudian menghilang dalam sekejap mata.


"Sudah pergi!"


Ucap Anna. Dan, yang lainnya hanya menatap langit biru di atas sana. Gemuruh serta angin kencang tadi sudah berdamai. Mereka tidak lagi berkecamuk dan menimbulkan bencana di alam dunia ular. Kini, alam dunia ular sepenuhnya stabil kembali. Dan, Aisha masih memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membersihkan kerusakan yang diakibatkan oleh dirinya.


Bersambung...

__ADS_1


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR



__ADS_2