NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 85. Raja Siluman


__ADS_3

Nagadhini telah kembali ke istana. Setelah, sebelumnya ia pergi ke luar istana untuk menangkap siluman pencuri gulungan Peta Alam Semesta. Ia tertawa terbahak-bahak setelah ia berhasil mendapatkan Peta sekaligus dokumen pembuka segel yang terpasang di Peta.


"Hahaha...tidak kusangka, dibalik musibah mendapat kemujuran...benar-benar luar biasa."


Tawanya senang.


"Saatnya untuk membuka segel si Nagini sialan itu!"


Ucap Nagadhini. Lalu, Nagadhini pun segera mempelajari dokumen pembuka segel milik Nagini. Sedangkan, di satu sisi ayah dari Deviandra sudah selesai bermeditasi dan ia bersiap-siap keluar dari ruangannya bermeditasi.


"Akhirnya selesai juga, aku bermeditasi...sudah saatnya aku keluar dari ruangan ini...dan, bertemu Deviandra serta Nagadhini."


Ucap ayah Deviandra sambil keluar dari sana. Ia menyusuri lorong istananya dan bertemu dengan seorang prajurit istana. Ia bertanya dimana keberadaan Deviandra dan Nagadhini.


"Prajurit!"


Panggil Raja siluman.


"Hamba, gusti...gusti baru saja selesai bermeditasi?"


Ucap prajurit.


"Ya, dimana putriku dan istriku berada...aku ingin menemui mereka."


Tanya Raja siluman.


"Jawab, gusti...nyai Nagadhini sedang berada di kamarnya!"


Balas prajurit.


"Dan, putriku? Dimana dia."


Ucap Raja siluman.


"Tuan Putri? Dia...dia...


Ucap prajurit tergagap.


"Jawab dengan benar! Dimana, putriku!"


Ucap Raja siluman marah. Dibentak begitu jelas saja membuat sang prajurit berkeringat dingin.


"Jawab, gusti...tuan Putri sudah lama tidak berada di istana! Tuan Putri telah lama pergi meninggalkan istana."


Ucap prajurit akhirnya. Mendengar jawaban dari sang prajurit. Seketika, membuat amarah sang Raja siluman pun memuncak.


"Apa!"


Ucap Raja siluman terkejut.


"Mohon, ampun gusti?"


Ucap prajurit tersebut sambil berlutut meminta ampunan dari sang Raja siluman.


"Mohon ampuni kesalahan, hamba yang tidak bisa menjaga tuan Putri."


Ucap prajurit tersebut dengan kepala tertunduk.


"Kau memang patut dihukum! Untuk itu, jelaskan kepadaku! Apa, yang sedang terjadi di istana selama aku bermeditasi."


Ucap Raja siluman. Kemudian, prajurit tersebut pun menjelaskan segala yang terjadi di istana selama sang Raja bermeditasi. Alangkah, terkejutnya ia ketika prajurit menceritakan segalanya kepada sang Raja.


Raja pun menjadi murka setelah ia mengetahui segala yang terjdi. Ia pun segera mencari Nagadhini. Untuk meminta penjelasan kepada Nagadhini. Sebelumnya, prajurit tersebut meminta sesuatu hal kepada sang Raja siluman.


"Hamba, mohon gusti dapat memberikan perlindungan kepada hamba dari amukan, nyai Ratu Nagadhini."


Ucap prajutit.


"Baiklah, aku akan menjamin keselamatanmu...pergilah, ke tempat dimana aku bermeditasi...disana kau akan aman dan Nagadhini tidak akan bisa melukaimu."


Ucap Raja siluman akhirnya.


"Terima kasih, gusti! Semoga, gusti panjang umur!"


Ucap prajurit tersebut segera bangun dan pergi dari hadapan sang Raja siluman.


"Nagadhini! Kau telah berani mengusikku dan putriku...padahal kau tahu dia adalah putri kesayanganku."

__ADS_1


Ucap Raja siluman.


"Sekaligus, putri kandungmu! Begitu tega kau memperlakukannya dengan begitu kejam...aku akan membuat perhitungan denganmu!"


Ucap Raja siluman yang segera pergi menemui Nagadhini di ruangan pribadinya. Sesampainya disana, sang Raja siluman segera menumpahkan segenap kemarahannya kepada Nagadhini.


"Nagadhini!"


Panggilnya keras. Dan, Nagadhini terkejut ketika Raja siluman datang dan segera menghardiknya kasar.


Gawat! Dia sudah selesai bermeditasi...kedatangannya kesini pasti ada hubungannya dengan anak bengal tersebut.


Ucap Nagadhini dalam hati.


"Oh, kakanda? Ternyata, kakanda sudah selesai bermeditasi?"


Ucap Nagadhini.


"Tidak perlu basa basi, Nagadhini! Dimana, putri kesayanganku!"


Ucap Raja siluman.


"Putri kesayangan? Deviandra?"


Ucap Nagadhini.


"Nagadhini! Tidak perlu bertingkah yang tidak perlu dihadapanku...katakan, dimana putriku...jawab!"


Ucap Raja siluman marah.


"Di...dia baik-baik saja...dia...um? Dia ada di sebuah tempat, di dunia manusia."


Ucap Nagadhini.


"Dunia manusia?"


Ucap Raja siluman.


"Ya, didunia manusia...saat itu ia sedang terluka setelah bertarung dengan seekor siluman."


Ucap Nagadhini.


Ucap Raja siluman.


"Nagini alias Aisha."


Ucap Nagadhini mengkambing hitamkan Aisha.


"Aisha? Aku tidak pernah dengar?"


Ucap Raja siluman.


"Dimana aku dapat menemukan siluman tersebut."


Ucap Raja siluman.


"Rumah Alina."


Ucap Nagadhini.


"Baiklah, kau tunggu disini...akan aku hajar siluman yang telah melukai putriku."


Ucap Raja siluman sambil melesat pergi dari istananya menuju sebuah tempat di dunia yang telah ditunjukkan oleh Nagadhini.


Pergilah! Dan, ketika kau kembali...kau sudah tidak akan menemukan aku disini.


Ucap Nagadhini dalam hati.


"Sebaiknya, aku segera pergi meninggalkan istana ini...kedua benda ini sudah ada di tanganku...hanya masalah waktu saja dan semuanya akan berada di dalam genggamanku!"


Ucap Nagadhini kemudian, pergi meninggalkan istana Raja siluman secepat mungkin. Sebab, ia tidak ingin bertarung dan dihajar habis-habisan oleh Raja siluman ketika kembali ke istana dan mendengar cetita sebenarnya dari Deviandra atau pun Aisha.


Dunia manusia...


Sementara itu, Raja siluman sudah sampai di dunia manusia. Ia mencari dimana rumah Alina berada dengan menggunakan kesaktiannya. Tidak lama ia pun mendapatkan penglihatan.


Sebuah tempat atau rumah kecil yang sederhana. Dimana ia meihat ada aura Deviandra serta Aisha. Ia pun terkejut dan menyudahi pencarian.

__ADS_1


"Disana rupanya."


Ucapnya yang sejurus kemudian melesat menuju rumah Alina. Tidak butuh waktu lama, ia pun sampai di depan halaman rumah Alina.


Aisha pun segera keluar dan menemui Raja siluman di halaman rumah. Begitu, Aisha keluar seketika aura membunuh menguar dari tubuh Raja siluman. Aisha hanya memperhatikannya saja.


Aura gadis remaja ini benar-benar menakutkan! Berdiri saja di hadapanku...aku dapat merasakan bahwa dia lawan yang sangat kuat dan tidak mudah untuk dijatuhkan.


Ucap Raja siluman dalam hati.


Hegh! Aura pembunuh siluman tingkat Raja...benar-benar menekan.


Ucap Aisha dalam hati.


"Kau Aisha?"


Tanya Raja siluman.


"Ya, aku Aisha."


Jawab Aisha.


"Terimalah, seraganku."


Ucap Raja siluman langsung menyerang Aisha. Aisha pun dengan lincah menghindari serangan dari Raja siluman.


"Lincah juga kau!"


Ucap Raja siluman.


"Terima kasih!"


Ucap Aisha.


"Serangan kedua kau tidak akan bisa menghindar."


Ucap Raja siluman.


"Coba saja."


Ucap Aisha. Lalu, tidak lama kemudian pertarungan sengit pun terjadi di tempat tersebut. Banyak pasang mata yang menyaksikan pertarungan tersebut. Sehingga, membuat Aisha tidak bisa fokus pada pertarungan tersebut.


Gawat! Disini banyak manusia yang melihat pertarungan ini...aku tidak ingin manusia-manusia ini terluka...sebaiknya aku menjauh dari pemukiman penduduk.


Ucap Aisha dalam hati.


"Hei, mengapa kau tidak bisa fokus?"


Ucap Raja siluman.


"Terlalu banyak manusia...kita pindah dimensi bertarung...ayo ikuti aku!"


Ucap Aisha berterus terang kemudian melesat terbang melintasi ruang dimensi waktu dan masuk ke Dunia Ular. Raja siluman pun mengikutinya.


"Ternyata, kau ingin mati disini ya?"


Ucap Raja siluman sombong.


"Siapa bilang aku ingin mati disini...aku hanya mencari tempat yang lebih tenang untuk menjamu seorang Raja sepertimu!"


Ucap Aisha.


"Oh, kalau begitu kita lanjutkan pertarungan kita."


Ucap Raja siluman.


"Silahkan!"


Ucap Aisha. Dan, akhirnya keduanya pun melanjutkan pertarungan tersebut. Deviandra, putri sang Raja siluman mengetahui bahwa ayahandanya datang untuk dirinya.


Dia pun menyusul keduanya ke tempat mereka bertarung di dimensi dunia mereka. Deviandra ingin mencegah pertarungan ayahandanya dengan Aisha. Sebab, kesaktian ayahandanya dengan Aisha sangat jauh berbeda bagaikan langit dan bumi.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


__ADS_1


__ADS_2