NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 63. Peta Alam Semesta Muncul


__ADS_3

Deviandra sedang menatap langit malam. Ia melihat pergerakan bintang-bintang di langit. Terlukis senyum indah di bibirnya yang merah.


"Posisi bintang sejajar sudah semakin dekat...dan gerhana bulan pun akan mencapai puncaknya...saatnya melanjutkan misi."


Ucap Deviandra. Kemudian, ia pun pergi ke suatu tempat dimana posisi bulan akan membentuk satu titik cahaya di pusat bumi. Deviandra berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkan oleh Nagadhini, ibunya.


Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa ibunya hanya memanfaatkan dirinya saja. Nagadhini tidak akan pernah menghargai kasih sayang. Karena, ia adalah siluman yang serakah yang rela melakukan apa saja termasuk menggunakan anaknya sendiri sebagai alat untuk mencapai tujuannya.


Sementara itu di sisi lain, semua pihak yang menginginkan Peta Alam Semesta sedang berkumpul di area masing-masing. Tidak ada satu pun, yang tidak terlibat termasuk Anna dan Richard yang sebenarnya tidak diizinkan oleh tetua kaum pemburu untuk berpartisipasi dalam usaha penyelamatan Peta Alam Semesta.


Akan tetapi, keduanya memaksa dan tetua tersebut tidak memiiki pilihan lain sebab keduanya memang memiliki keinginan kuat untuk berpartisipasi. Dan, akhirnya sang tetua pun mengizinkannya. Lalu, Aisha beserta para siluman yang masih setia kepadanya pun juga sedang bersiap-siap.


Hari ini di malam Gerhana Bulan akan terjadi pertempuran berdarah di antara banyak pihak yang bersengketa dalam memperebutkan sesuatu yang berbahaya. Dan, Deviandra sudah berada di tempat titik pusat bumi. Sedangkan, pihak yang lain sedang menyusul dirinya menuju ke titik pusat bumi.


Sebab, cahaya bulan yang masih dalam proses menuju gerhana tersebut sudah menunjuk satu titik yaitu titik pusat bumi. Deviandra sadar bahwa banyak pihak yang menginginkan Peta Alam Semesta tersebut.


"Sinar bulan sedang menuju puncaknya...dan Peta Alam Semesta akan segera muncul."


Ucap Deviandra.


"Aku tahu pasti banyak pihak yang menginginkannya...jadi aku pun harus bersiap untuk mendapatkan yang pertama dalam hal ini...jika tidak tentu akan sangat disayangkan...bila Peta tersebut malah jatuh ke pihak lain."


Ucapnya lagi, lalu Deviandra menyiapkan seribu rintangan dan jebakan untuk menjebak serta menghalangi mereka yang mencoba untuk mengadu keberuntungan dengannya. Ia dibantu oleh beberapa siluman ular lainnya.


Setelah, selesai ia pun menunggu gerhana bulan dan posisi bintang yang sejajar. Tidak lama kemudian gerhana bulan penuh pun terjadi. Dan, sinar bulan tersebut berwarna keemasan. Menunjukkan lokasi Peta Alam Semesta berada.


"Zubb...clapp."


Dan, akhirnya Peta Alam Semesta muncul di atas permukaan bumi. Kemunculannya tersebut, ditandai dengan perebutan Peta yang mengakibatkan banyak sekali nyawa melayang. Bukan hanya di kalangan manusia tetapi di kalangan siluman juga. Dan, akhirnya pertarungan dimenangkan oleh Deviandra. Lalu, Deviandra pun memiliki Peta Alam Semesta untuk diberikan untuk Nagadhini.


Namun, ternyata keberhasilan Deviandra harus berakhir karena Deviandra dihadang oleh Cintamani Manikmaya. Cintamani menginginkan Peta Alam Semesta untuk diberikan kepada Aisha alias Dewi Ular.


"Berhenti!"


Ucap Cintamani menghentikan langkah Deviandra.


"Siapa kau! Mengapa, kau menyuruhku berhenti."


Ucap Deviandra.


"Ck, kau tidak perlu tahu siapa namaku...yang penting serahkan Peta itu padaku!"


Ucap Cintamani mendesak.


"Apa! Kau mau Peta ini? Silahkan ambil kalau kau bisa."


Ucap Deviandra mengejek.


"Dasar siluman busuk! Mati kau!"


Ucap Cintamani menyerang Deviandra dengan sekuat tenaga. Deviandra pun meladeni Cintamani. Mereka bertarung satu lawan satu. Perbandingan kekuatan diantara keduanya berbeda jauh. Namun, Deviandra mencoba untuk mengimbagi Cintamani.


Sial! Perbedaan kekuatanku berbeda jauh dengannya...dia bukan siluman biasa...aura yang ia miliki hampir sama dengan yang dimiliki oleh ibu...dia bukan lawan yang bisa dianggap remeh.

__ADS_1


Ucap Deviandra dalam hati.


"Bagaimana, kekuatanmu masih jauh dibawahku...kau pasti kalah!"


Ucap Cintamani.


"Kurang ajar, kau sangat sombong!"


Ucap Deviandra yang sudah berubah menjadi siluman ular separuh manusia dan separuh lagi berbadan ular.


"Terima, kibasan ekorku!"


Ucap Deviandra.


"Whoosh."


Kibasan ekor itu tidak mengenai tubuh Cintamani akan tetapi kibasan ekor tersebut malah menghantam bebatuan.


"Baam."


Bebatuan itu pun hancur. Cintamani pun terkejut melihatnya.


"Wow, kibasan ekor yang luar biasa...dia dapat menghancurkan sekumpulan batu besar."


Ucap Cintamani. Kemudian, Deviandra menyerang Cintamani kembali dan...


"Dhuakk."


"Uhuk!"


Cintamani terluka.


"Hahaha...kau terluka terkena seranganku!"


Ucap Deviandra sombong.


Kurang ajar sekali siluman kecil ini berani sekali ia merendahkanku...aku tidak bisa takluk kepadanya...kalau Dewi Ular yang membuatku takluk itu tidak apa-apa...tetapi siluman kecil ini! Aku tidak bisa terima.


Ucap Cintamani akhirnya, ia pun berubah menjadi seekor ular raksasa dengan wujud sepenuhnya ular. Deviandra terkejut, ia dapat merasakan kekuatan yang sangat besar dari Cintamani.


"Kekuatannya sangat besar sekali...walaupun kami sama-sama bangsa siluman ular tetapi nyatanya dia jauh lebih kuat dariku."


Ucap Deviandra kemudian ia pun menyerang Cintamani kembali. Dan, pertarungan besar pun terjadi. Kali ini Deviandra pun mengubah wujudnya sepenuhnya menjadi siluman ular.


Dan, pertarungan besar pun tidak dapat dihindarkan lagi. Keduanya saling serang dan saling meliitkan ekor. Tampak dua ekor siluman ular itu saling mengeluarkan kekuatan serta racun masing-masing.


Deviandra pun menyemburkan racun ganasnya. Tetapi, tidak mengenai Cintamani. Kini gantian Cintamani yang menyerangnya dengan racun yang sangat mematikan dan langsung mengenai wajah serta kulit tubuh Deviandra yang bersisik.


Deviandra pun menjerit merasakan rasa sakitnya. Serasa wajah dan tubuhnya terbakar hebat. Ia tidak sanggup untuk merasakan rasa sakit tersebut. Begitu panas dan menyiksa dirinya. Sungguh, kejam sekali efek racun yang dikeluarkan oleh Cintamani.


"Argghhh...sakit sekali."


Ucapnya. Dan, sekarang Cintamani tinggal menunggu saja. Detik-detik kematian dari Deviandra. Dan, disaat itulah Aisha muncul dengan aura emasnya yang berkilauan menyilaukan mata.

__ADS_1


Aisha tidak tega sesungguhnya melihat Deviandra kesakitan. Akan tetapi, ia tidak tahan melihat ular siluman kecil itu menderita. Cintamani berusaha untuk mencegahnya tetapi tatapan mata Aisha menghentikannya untuk bicara.


Aisha mendekati Deviandra, perlahan ada sinar yang keluar dari telapak tangan Aisha. Menyelubungi tubuh Deviandra. Cintamani tidak mengerti mengapa Aisha menyelamatkan nyawa Deviandra. Padahal Deviandra adalah musuh mereka dalam perebutan Peta Alam Semesta.


Penyembuhan yang dilakukan oleh Aisha terhadap Deviandra berlangsung sebentar saja. Dan, kini Deviandra sudah pulih kembali karena bantuan Aisha.


"Terima kasih, atas bantuanmu."


Ucap Deviandra.


"Ya, tetapi bantuanku ini tidak gratis."


Ucap Aisha.


"Apa! Tidak gratis?"


Ucap Deviandra.


"Ya, aku menginginkan sesuatu darimu...Peta Alam Semesta...berikan kepadaku."


Ucap Aisha.


"Tetapi, aku sangat membutuhkan Peta tersebut."


Ucap Deviandra.


"Aku sudah menolongmu...jika kau tidak memberikannya maka aku akan menaruh racun itu kembali ke tubuhmu...dan kau tentu tahu bagaimana rasanya racun tersebut menyerang seluruh tubuhmu...bagaimana?"


Ucap Aisha. Dan, Deviandra diam tidak berdaya. Cintamani pun segera mengerti apa maksud dari Aisha menolong Deviandra.


Oh, ternyata nyai Dewi memiliki maksud lain...baguslah dia sangat pintar dan tidak perlu banyak basa basi dengan anak itu.


Ucap Cintamani dalam hati.


"Baiklah, aku akan memberikannya kepadamu."


Ucap Deviandra.


"Ini, ambillah."


Ucap Deviandra, sambil mengeluarkan Peta dari dalam tubuhnya. Dan, Aisha mengambil Peta tersebut dari Deviandra.


"Terima kasih."


Ucap Aisha dan menyimpannya di dalam tubuhnya. Deviandra pun segera pergi dari sana. Begitu juga dengan Aisha dan Cintamani. Akhirnya perburuan Peta Alam Semesta pun berakhir.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover


__ADS_1


__ADS_2