
Pinggiran sungai di dekat sekolah...
Tampak disana dua anak sekolah remaja bersama 4 pemuda tanggung sedang membicarakan sesuatu. Dua anak sekolah remaja tersebut adalah Carla dan Nona. Carla dan Nona menemui 4 pemuda disana di pinggir sungai dekat sekolah mereka.
Dua siswi tersebut sedang membuat rencana untuk menghancurkan masa depan Aisha. Carla dan Nona membayar 4 pemuda tersebut untuk menyakiti Aisha. Mereka berdua benar-benar ingin nasib Aisha tamat.
"Aku tidak peduli berapa bayaran yang kalian minta...yang penting si Aisha itu tamat...dan aku tidak ingin melihat senyumannya yang memuakkan tersebut...
Ucap Carla.
"Baiklah, kalau begitu...kami minta bayaran yang pantas untuk hal tersebut...jumlah kami 4 orang...jadi kalian berikan harga yang pantas untuk menghancurkan gadis remaja yang kalian sebut itu...
Ucap salah seorang dari 4 lelaki tersebut.
"Oke, 20 juta...bagaimana?"
Ucap Nona, ikut bicara. Dan, salah satu dari 4 lelaki tersebut pun meminta pendapat rekan-rekannya yang lain.
"Bagaimana, menurut kalian?"
Tanyanya.
"Kami setuju...
Jawab rekan-rekannya yang lain.
"Baiklah, kami setuju...
Ucap salah satu dari 4 lelaki tersebut.
"Ini uang mukanya 10 juta...kekurangannya akan menyusul setelah kalian selesai melakukan tugas kalian...
Ucap Nona kemudian sambil menyerahkan uang sebanyak 10 juta rupiah kepada 4 pemuda tersebut. Dan, salah satu dari 4 pemuda tersebut pun langsung menerimanya lalu bergegas pergi dari tempat tersebut.
Carla dan Nona yang masih berada disana, tersenyum puas dan bahagia. Di dalam pikiran mereka terbayang bagaimana 4 lelaki tersebut menghancurkan harga diri serta kehormatannya.
Aisha lihat saja...bagaimana kau akan berakhir mengenaskan dan menderita seumur hidupmu...
Ucap Carla dalam hati. Setelahnya, mereka berdua pun segera pergi dari tempat tersebut. Mereka yakin bahwa rencana mereka akan berhasil. Dan, bayangan keberhasilan atas rencana mereka tercetak jelas dalam pikiran mereka.
"Kuharap rencana ini akan berhasil bagi si gadis kampung itu...
Ucap Carla.
"Ya, tentu saja...sebab, aku sudah tidak sabar lagi melihat si Aisha itu menderita!"
Balas Nona.
"Tetapi, ada satu kekhawatiran dalam pikiranku...
Ucap Carla.
"Apa, yang kau khawatirkan?"
__ADS_1
Ucap Nona.
"Bagaimana, jika seandainya ini berhasil...bukankah ada masalah nanti kedepannya?"
Ucap Carla.
"Sudahlah, kau tidak perlu khawatir...sudah kepalang basah ya mandi saja sekalian!"
Ucap Nona yang kemudian membuat Carla menganggukkan kepalanya.
"Ya, kau benar...kau memang temanku...
Ucap Carla lagi. Dan, Nona tersenyum. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya ia sama sekali tidak peduli tentang hal yang akan terjadi di masa depan terhadap Carla. Diam-diam, Nona ingin menusuk temannya ini dari belakang.
Huh! Carla, kau ingin bersaing denganku tentang berebut cinta Richard? Lihat saja, bagaimana aku alan membuatmu terluka...dan kau tidak akan menyangka bahwa akulah sesungguhnya yang telah menjatuhkan dirimu...
Ucap Nona dalam hati. Sedangkan, Carla ia menyangka bahwa Nona murni berteman dengannya. Padahal, Nona mau bekerjasama dengannya hanya sekedar ingin menjadikan Carla sebagai batu loncatan agar dia suatu saat nanti keluar sebagai pemenangnya. Memang benar, kata pepatah musuh dalam selimut itu sangat berbahaya.
...****************...
Jalanan sepi di pinggir desa...
Saat itu pukul 11 malam. Jalanan desa mulai sepi dan tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Dan, di sekitar jalanan desa itu pun gelap tidak terpasang lampu. Hanya ada cahaya rembulan purnama penuh yang menggantung di langit. Ya, malam itu adalah malam bulan purnama.
Malam yang merupakan malam kelahiran Aisha di dunia. Sekaligus, merupakan malam yang menandakan Aisha berusia tepat 17 tahun. Malam yang sangat wingit dan mengandung arti yang dalam. Sebab, malam inilah merupakan malam penentu dan penunjuk tentang siapakah Aisha sebenarnya.
Dan, setelah malam ini Aisha akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Karena, saat ini ada 4 lelaki remaja yang sedang mengikuti dirinya. Aisha tidak mengetahuinya sebab ia sedang asyik dengan pemandangan malam yang ada di hadapannya.
"Pemandangan malam hari benar-benar indah....
Ucapnya sambil tersenyum. Sedang, asyiknya ia tiba-tiba saja 4 pemuda menghentikan langkahnya sambil tertawa lebar.
"Hahaha...lihat kawan...ada gadis cantik berjalan sendirian di tengah malam...
Ucap salah seorang dari 4 pemuda tersebut.
"Kau benar sekali, kawan...hai gadis cantik? Berjalan sendirian di tengah malam sungguh tidak menyenangkan...bagaimana, jika kami menemanimu berjalan-jalan di tengah malam...
Ucap yang lainnya lagi dengan seringai menakutkan terlukis di bibirnya. Dan, hal tersebut membuat Aisha ketakutan setengah mati.
"Tidak perlu, kakak? A...aku bisa berjalan-jalan sendiri....
Ucap Aisha sambil *******-***** kedua tangannya.
"Oh, benarkah? Jadi, kau tidak mau?"
Ucap yang lain lagi sambil memandangi seluruh tubuh Aisha dari kepala sampai kaki. Membuat Aisha menjadi tidak nyaman.
"Um, kakak? Biarkan, aku sendiri...jangan gangu aku...
Ucap Aisha sebab ia sudah mulai merasakan keganjilan pada tubuhnya.
"Oh, ya? Apa, kau benar-benar tidak mau?"
__ADS_1
Ucap lelaki pertama tadi. Dan, Aisha pun menggeleng kuat-kuat.
"Kurang ajar! Beraninya, kau menolak kami...kalian semua cepat tangkap dia...dan, kita akan bersenang-senang dengannya...hahaha...
Perintah lelaki pertama tadi. Mendengar perintah tersebut langsung saja keempatnya segera bergerak menangkap Aisha. Aisha yang mengetahui tentang hal tersebut pun segera mengambil kaki seribu. Ia berlari secepat mungkin dari sana. Menghindari kejaran dari 4 pemuda tersebut. Aksi kejara-kejaran pun terjadi antara Aisha dan 4 pemuda tersebut.
Saat itu bulan purnama hampir mencapai puncaknya. Sinar bulan kali ini dinilai tidak wajar oleh sebagian orang. Termasuk Anna, yang memperhatikan sinar bulan tersebut. Warna bulan tersebut seperti berpendar warna emas meskipun sinarnya masih didominasi warna putih.
"Aneh! Sinar bulan itu terlihat tidak seperti biasanya...warna berpendar emas tersebut...apa artinya?"
Ucap Anna.
"Kau benar sekali, An...sinar bulan kali ini benar-benar aneh!"
Ucap Richard yang saat itu juga sedang melihat sinar bulan di tengah malam.
"Hegh! Kau juga memperhatikannya? Kukira kau hanya sibuk mengejar cinta Aisha...
Ucap Anna ketus.
"Mengapa, kau berkata seperti itu An? Bukankah, kau tahu aku dan kau memiliki misi di desa ini?"
Ucap Richard.
"Jangan berkelit, Richard! Aku tahu kau ini jenis lelaki apa...tetap fokus pada misi jika kau masih ingin berada di perkumpulan pemburu siluman!"
Ucap Anna sambil berlalu meninggalkan Richard disana. Sementara itu, Richard merasa gelisah sebab Aisha belum juga kembali sejak tadi. Ia menjadi takut jikalau terjadi sesuatu kepada Aisha.
Aisha! Sebenarnya, kemana dia pergi...malam semakin larut...aku takut jika dia bertemu dengan makhluk siluman...
Ucap Richard dalam hati.
"Apa, sebaiknya kususul saja dia...jalanan desa ini sangat sepi jika sudah larut malam begini...
Ucapnya.
"Baiklah, sebaiknya aku keluar dan mencari dia...
Ucap Richard lagi. Lalu, ia pun segera memakai jaket kulit kesayangannya dan sepatu putih kets miliknya. Dan, segera ia berangkat pegi keluar rumah di tengah malam yang kian larut.
Anna mengetahui Richard pergi keluar untuk mencari Aisha. Dia pun menggelengkan kepalanya melihat Richard pergi keluar untuk mencari Aisha yang tidak kunjung pulang.
"Richard! Kau memang, keras kepala...jika sudah begini maka mau tidak mau aku pun harus ikut juga untuk mencari gadis itu...sebab, malam ini terasa sangat aneh bagiku!"
Ucap Anna sambil pergi keluar dari jendela kamarnya yang terbuka lebar. Meskipun kondisi tubuhnya masih belum pulih Anna tidak peduli. Ia tetap pergi menyusul Richard yang sudah berangkat lebih dulu.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1