
Aisha dan Richard pergi mengikuti rombongan sepasukan kerajaan yang sedang mencari seseorang di tengah hutan. Aisha dan Richard merasa penasaran dengan sepasukan prajurit dari satu kerajaan menyisiri hutan.
"Kira-kira, apa yang sedang mereka cari ya?"
Ucap Aisha.
"Mungkin seorang musuh kerajaan atau apalah."
Ucap Richard.
"Ya, mungkin saja."
Ucap Aisha.
"Tetapi, sepertinya mereka tidak akan bisa menemukan apa yang mereka cari."
Ucap Aisha lagi.
"Mengapa, begitu?"
Ucap Richard.
"Sebab, mungkin saja orang yang mereka cari tidak berada di sekitar daerah sini lagi...mungkin saja sudah pergi ke tempat lain."
Ucap Aisha dan Richard pun menganggukkan kepalanya saja.
"Sudahlah! Tidak perlu ikut campur dengan urusan mereka!"
Ucap Aisha.
"Lebih baik kita segera kembali saja."
Ucap Richard. Lalu, akhirnya Aisha dan Richard pun kembali ke rumah Alina. Di rumah tersebut, Anna tampak sedang sibuk mengerjakan PR yang diberikan oleh guru di sekolah.
"Wow, kau rajin sekali."
Ucap Aisha tiba-tiba.
"Ya, begitulah...daripada aku harus bepergian tidak tentu arah...bukankah lebih baik jika aku mengerjakan sesuatu?"
Ucap Anna.
"Ya, memang harus begitu."
Ucap Aisha yang segera menuang air minum dari teko ke gelas kaca.
"Curr."
Bunyi suara air yang dituang oleh Aisha dan memberikannya kepada Richard serta dirinya. Anna memperhatikan sikap Aisha terhadap Richard.
"Wah...ada apa ini? Kalian tampak romantis sekali."
Sindir Anna.
"Romantis apanya, An."
Ucap Richard malu.
"Ck, tentu saja perhatian Aisha kepada dirimu itu."
Ucap Anna.
"Kalau itu sudah biasa...sebab, kami berdua baru saja kembali dari hutan."
Ucap Richard.
"Apa! Baru kembali dari hutan."
Ucap Anna terkejut.
"Apa, yang kalian lakukan berdua di hutan?"
Ucap Anna curiga.
"Kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak...kami menyelidiki sesuatu...tetapi, tidak mendapatkan hasilnya...jadi, kami berdua kembali ke dunia manusia."
Ucap Richard.
"Oh, ya? Memangnya, hal apa yang kalian selidiki."
Tanya Anna.
"Sepasukan prajurit istana sedang menyisir hutan...untuk mencari seorang buronan istana."
__ADS_1
Balas Aisha.
"Oh, begitukah?"
Ucap Anna.
"Lalu, bagaimanakah kalian tidak dapat menemukan hasilnya."
Ucap Anna lagi.
"Tidak! Tidak baik ikut campur dalam urusan pihak lain...nanti hal tersebut dapat menjadi boomerang dalam hidup kita."
Ucap Aisha.
"Wow, kau jadi orang yang penuh dengan nasihat Aisha?"
Ucap Anna.
"Tentu saja, seiring bertambahnya usia...pikiran kita dan tindakan kita...akan mengajarkan kepada kita bagaimana cara untuk bertindak sesuai dengan hal yang perlu saja?"
Ucap Aisha. Mendengar kata-kata Aisha tersebut seketika membuat Anna terdiam.
Sial, kata-katanya benar! Aku terlalu memandang tinggi diriku.
Ucap Anna dalam hati. Sedangkan, Richard ia hanya diam sambil mendengarkan Aisha dan Anna berbicara. Tidak lama berselang, Alina datang dari dapur sambil membawakan makanan untuk mereka semua.
"Eh? Anak ibu sudah pulang."
Ucap Alina.
"Ibu."
Ucap Aisha tersenyum.
"Bagaimana, kabarmu nak?"
Tanya Alina.
"Kabarku baik-baik saja, ibu."
Jawab Aisha.
"Kau pasti lapar, bukan? Ayo, semuanya mari makan...Anna sudahi dahulu pekerjaan rumahnya...bisa disambung nanti."
Ucap Alina.
Ucap Anna. Lalu, mereka pun makan bersama di siang yang terik itu. Sementara itu, di dunia lain. Nagadhini yang sedang bersembunyi di sebuah gua sedang mencoba untuk mempelajari kembali dokumen pembuka segel milik Aisha.
Namun, sudah beberapa kali ia mencoba mempelajarinya tetapi tidak berhasil. Sebab, ternyata segel di Peta tersebut hanya Aisha sendiri yang dapat membukanya.
"Ini benar-benar rumit sekali...segel Nagini ini benar-benar tidak semudah itu."
Ucap Nagadhini.
"Bagaimana, caranya membuka segel di Peta...sementara, hanya dia saja yang bisa membukanya...dokumen ini tidak dapat membantuku...aku harus memikirkan cara lain."
Ucap Nagadhini sambil berjalan kesana kemari mencari jalan keluar untuk permasalahan yang sedang ia hadapi. Lalu, tiba-tiba ia pun mendapatkan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Ia tersenyum sendiri ketika ia memikirkan rencana liciknya tersebut.
"Sepertinya, aku memang harus mengusik Nagini sekali lagi...aku tidak peduli tentang dia maupun keluarganya."
Ucap Nagadhini.
"Yang kuinginkan adalah kesuksesanku membangkitkan tuan Iblis...dan, membuat kesepakatan dengannya."
Ucap Nagadhini lagi kemudian ia pun segera pergi dari gua tempat persembunyiannya. Nagadhini ingin kembali membuat kekacauan di dunia manusia dan mengusik Aisha.
Tidak lama ia pun sampai di dunia manusia. Ia melihat suasana rumah Alina begitu sunyi senyap. Menandakan, Aisha beserta yang lainnya sedang berada di sekolah. Hanya Alina saja yang berada di dalam rumah.
Nagadhini segera mendobrak masuk ke dalam rumah. Alina terkejut ketika mendapati seseorang menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Hei, siapa kau? Mengapa, kau menerobos masuk ke dalam rumahku!"
Hardik Alina.
"Hegh! Manusia, kau tidak perlu tahu siapa aku!"
Ucap Nagadhini.
"Apa! Kau menerobos masuk ke dalam rumahku...jelas-jelas bahwa kau orang jahat...cepat! Segera pergi dari sini."
Ucap Alina.
"Baiklah, aku akan pergi...tetapi, aku tidak akan pergi sendiri."
__ADS_1
Ucap Nagadhini.
"Ap...apa, maksudmu?"
Ucap Alina.
"Maksudku sudah jelas! Kau ikut denganku!"
Ucap Nagadhini.
"Tidak! Aku tidak mau."
Ucap Alina menolak.
"Berani menolak! Kesini kau!"
Ucap Nagadhini sambil melepaskan satu pukulan ke tubuh Alina.
"Whussh."
"Akh."
Jerit Alina lalu tiba-tiba ia jatuh pingsan. Nagadhini pun tersenyum. Lalu, ia segera membawa tubuh Alina bersamanya. Dan, menunggu reaksi dari Aisha yang saat itu sedang bersekolah.
......................
Lingkungan sekolah...
Aisha yang sedang mengikuti kelas, tiba-tiba ia merasakan perasaannya tidak enak. Ia tidak bisa fokus mengikuti pelajaran di sekolah.
Mengapa, perasaanku menjadi tidak enak...sepertinya, akan terjadi masalah.
Ucap Aisha dalam hati.
Richard yang duduk di sebelah Aisha, menangkap perasaan yang tidak enak dari Aisha. Ia dapat merasakan kegelisahan Aisha. Richard pun bertanya kepada Aisha.
"Aisha? Ada apa?"
Tanya Richard.
"Tidak tahu, Richard! Perasaanku benar-benar tidak enak sekali."
Balas Aisha.
"Sepertinya akan terjadi sesuatu...tetapi, aku tidak tahu apa itu."
Ucap Aisha.
"Tenangkan saja dirimu dahulu...nanti saat jam istirahat akan kita pastikan...sesuatu yang membuat perasaanmu tidak enak."
Ucap Richard.
"Ya, baiklah Richard."
Ucap Aisha mengiyakan kata-kata Richard. Dan, ketika jam istirahat tiba. Aisha dan Richard mencari tempat yang sepi lalu kemudian mereka pun berubah menjadi seekor ular berwarna emas dan hitam.
Keduanya pun menyusuri jalanan dan menghilang di dalam semak belukar menuju sebuah tempat yang sangat dikenal oleh Aisha. Yaitu, tempat tinggalnya sendiri. Memang, insting seorang anak tidak akan pernah salah.
Aisha melihat pintu rumahnya rusak parah seakan didobrak secara paksa oleh sesuatu yang besar. Dan, di dalam ruangan rumahnya tersebut ia juga mendapati keadaan di dalamnya pun tak jauh berbeda dengan pintu rumahnya yang dirusak paksa.
"Kurang ajar! Siluman mana yang berani mengusikku!"
Ucap Aisha marah.
"Kita cari ibumu dahulu."
Ajak Richard dan keduanya pun bergegas mencari Alina. Aisha berteriak mencari ibunya.
"Ibu! Ibu!"
Teriaknya keras. Namun, tidak ada jawaban. Hanya sepi saja yang terasa disana. Aisha mengutuk orang yang telah membawa ibunya pergi. Ia benar-benar sangat marah sekali dan sekali ini api kemarahannya tidak dapat dipadamkan lagi. Richard yang melihat hal tersebut menjadi bergidik ketakutan.
"Gawat! Ia akan menghancurkan segalanya...aku harus memanggil Ankara dan juga yang lainnya."
Ucap Richard bergegas melakukan panggilan bathin dengan Ankara beserta kedua pasangan pasutri yang merupakan panglima di istana Dewi Ular.
Saat mereka semua tiba disana, Aisha sudah dalam keadaan tidak bisa dikendalikan lagi. Ia mengamuk sejadinya dan merusak segalanya. Inilah sisi gelap Aisha yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun semenjak ia mengalami reinkarnasi.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
__ADS_1