NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 81. Pencurian Dokumen Istana


__ADS_3

Aisha tidak dapat menolak keinginan Richard. Ia pun menyetujui permintaan Richard untuk membuka jati diri Deviandra. Meskipun, ia merasa berat hati.


"Baiklah, aku akan mengatakannya kepadamu."


Ucap Aisha. Richard tersenyum mendengar kata-kata Aisha.


"Tetapi, bukan disini...kita harus berbicara di tempat lain."


Ucap Aisha lagi.


"Baiklah, kita pergi ke suatu tempat dimasa kita sering menghabiskan waktu bersama."


Ucap Richard sambil tersenyum.


"Oke!"


Ucap Aisha mengiyakan keinginan Richard. Lalu, Aisha dan Richard pun pergi menuju suatu tempat ketika mereka berdua dulu pernah menjalin kasih.


Tempat tersebut adalah merupakan tempat di dalam Dunia Ular yang tentu saja berdekatan dengan istana Dewi Ular. Tidak lama mereka pun segera sampai disana. Richard menggandeng tangan Aisha.


"Apa kau masih ingat tempat ini?"


Tanya Richard.


"Tentu saja."


Balas Aisha.


"Saat itu, setiap sore...kita menghabiskan waktu disini."


Ucap Richard.


"Bercanda mesra, berdua."


Sambung Aisha.


"Sungguh, saat itu...merupakan hari yang sangat membahagiakan."


Ucap Richard.


"Ya."


Ucap Aisha pendek.


"Tetapi, satu peristiwa telah mengubah segalanya."


Ucap Richard lirih. Aisha memeluk Richard hangat. Dan, Richard pun membalasnya. Ada kerinduan disana setelah sekian lama.


"Sekarang semuanya telah berlalu."


Ucap Aisha.


"Ya, kau benar."


Ucap Richard.


"Sekarang, kita dapat meniti kembali kisah cinta kita."


Ucap Aisha.


"Tetapi, rasanya itu tidak mungkin Aisha."


Ucap Richard.


"Mengapa, tidak mungkin?"


Ucap Aisha.


"Karena, musuh kita hidup!"


Ucap Richard.


Ya, dia masih hidup! Ditambah dia menambah diema baru dalam kehidupan kita."


Ucap Aisha.


"Dilema?"


Ucap Richard.


"Apa, maksudmu?"


Tanya Richard tidak mengerti. Aisha menarik nafas lelah. Dan, Richard menunggu kata-kata Aisha.


"Nagadhini memiliki seorang putri."


Balas Aisha.


"Apa! Seorang putri?"


Ucap Richard terkejut.


"Ya, lalu siapa saja yang mengetahui hal ini?"


Ucap Richard lagi.


"Tidak ada...hanya kita berdua."


Ucap Aisha.


"Lalu, bagaimana kau mengetahui semua ini?"


Tanya Richard.


"Mata istimewa milikku memberitahuku segalanya."


Balas Aisha.


"Kalau hal tersebut...memang tidak dapat dipungkiri."


Ucap Richard.


"Bahkan, kau dapat melihatku yang sebenarnya hanya dengan sekali lihat."


Ucap Richard lagi.


"Ya, kau benar Richard.


Ucap Aisha.


"Jadi, dimana dia sekarang!"


Ucap Richard.

__ADS_1


"Di gua, aku menyembunyikannya."


Ucap Aisha.


"Gua? Kau menyembunyikannya, mengapa?"


Tanya Richard.


"Demi keselamatannya...Nagadhini ingin menghabisinya."


Balas Aisha.


"Apa! Dia ingin menghabisi putrinya?"


Ucap Richard terkejut. Aisha mengangguk.


"Masalah ini cukup serius sekali, Aisha."


Ucap Richard khawatir.


"Ya, masalah ini memang serius."


Ucap Aisha.


"Sepertinya, memang tidak bisa dihindarkan."


Ucap Richard.


"Jika, suatu saat terjadi pertarungan antara aku dengan dirinya demi membela Deviandra!"


Ucap Aisha tiba-tiba menyebut nama Deviandra. Kali ini membuat bola mata Richard membulat.


"Apa! Deviandra? Jadi, Deviandra itu adalah putrinya?"


Ucap Richard.


"Ya."


Ucap Aisha santai.


"Rahasia sebesar ini Aisha, dan kau menutupnya dariku rapat-rapat."


Ucap Richard.


"Aku terpaksa melakukannya, Richard! Kau tahu Anna sama sekali tidak bisa dipercaya?"


Ucap Aisha.


"Ya, kau benar."


Ucap Richard.


"Dia selalu ingin tahu...ditambah lagi dia juga tidak ada kecocokan dengan Deviandra."


Ucap Aisha.


"Itu karena pertarungannya saat itu! Deviandra mengalahkannya dengan menggunakan racun."


Ucap Richard.


"Deviandra melakukan itu karena ingin melindungi dirinya sendiri."


Ucap Aisha.


Ucap Aisha lagi.


"Akan tetapi, saat itu ia hampir saja tewas...jika, saat itu kau tidak menolongnya tepat waktu."


Ucap Richard.


"Ya, sudahlah! Bagaimana, kalau kita pergi ke istana?"


Usul Aisha.


"Ide yang bagus...aku ingin bertemu dengan Ankara."


Ucap Richard. Aisha tersenyum. Lalu, keduanya pun pergi ke istana Dewi Ular untuk bertemu dengan Ankara. Sesampainya, disana suasana istana tampak sepi. Namun, penjagaan di istana diperketat.


Richard dan Aisha saling pandang melihat keadaan sekeliling istana. Suasana istana tampak sepi. Dan, seluruh prajurit bangsa ular sedang berjaga hilir mudik menjaga istana.


"Ada apa ini? Istana tampak sepi dan penjagaan istana diperketat?"


Ucap Aisha.


"Ya, kau benar...sebentar, aku akan bertanya kepada seorang prajurit disana."


Ucap Richard. Lalu, Richard pun berjalan menuju prajurit yang sedang berjaga.


"Prajurit! Mengapa, keadaan begitu sepi? Dimana, pangeran Ankara berada?"


Tanya Richard.


"Siapa kau? Mengapa, kau ingin tahu?"


Balas prajurit.


"Namaku Richard, aku ingin bertemu dengan pangeran Ankara...dia adikku."


Ucap Richard. Mendengar kata-kata Richard baru saja membuat prajurit tersebut tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha...lucu sekali...kau mengaku-aku pangeran Ankara adalah adikmu...padahal kau ini hanya orang asing yang tidak diketahui asalnya darimana."


Ucap prajurit tersebut merendahkan. Aisha yang begitu mendengar kata-kata prajurit tersebut segera mendekati prajurit dan Richard. Lalu, ia menatap mata prajurit tersebut dengan mata ularnya. Seketika prajurit tersebut pun mengenali mata ular Aisha.


"Nyai Dewi? Kau sudah kembali? Ampuni, hamba yang tidak mengenalimu nyai."


Ucap prajurit tersebut tiba-tiba. Richard memandang Aisha.


"Sudahlah, tidak perlu bersikap seperti itu kepadaku...katakan! Apa, yang sedang terjadi di istana."


Ucap Aisha.


"Nyai Dewi, terjadi pencurian dokumen resmi istana."


Ucap prajurit tersebut.


"Pencurian dokumen resmi?"


Ucap Aisha.


"Dokumen apa itu yang dicuri."


Tanya Aisha.

__ADS_1


"Dokumen resmi yang berisi tentang cara membuka segel, nyai?"


Balas prajurit.


"Apa? Dokumen tentang cara membuka segel?"


Ucap Aisha.


"Ya, nyai."


Ucap prajurit.


"Lalu, dimana pangeran Ankara?"


Tanya Aisha lagi.


"Pangeran Ankara, dia sedang mengejar pencuri tersebut nyai."


Balas prajurit tersebut.


"Ke arah mana ia pergi."


Ucap Aisha.


"Ke arah Barat, nyai."


Ucap prajurit itu memberitahu.


"Baiklah, aku akan menyusulnya...Richard kau masuk saja ke dalam istana dan tunggu aku kembali bersama dengan Ankara."


Ucap Aisha.


"Ya, hati-hati."


Ucap Richard. Aisha pun menganggukkan kepalanya. Setelahnya, ia pun melesat dengan kecepatan tinggi menuju arah barat dimana saat ini Ankara sedang bertarung dengan sosok seekor siluman yang sangat kuat dalam ilmu olah kanuragan. Pertarungan tersebut berlangsung sangat alot. Dan, kesaktian Ankara sama imbang dengan sosok siluman tersebut.


"Cih, hanya begini saja kesaktianmu?"


Ucap Ankara mengejek sosok siluman tersebut.


"Hegh! Aku belum mengeluarkan seluruh kesaktianku."


Ucap siluman tersebut.


"Oh, ya? Kalau begitu, kau harus bekerja keras demi hal itu."


Ucap Ankara yang kemudian mengeluarkan satu jurus andalannya. Yaitu, jurus emas siluman ular yang memiliki bisa paling mematikan di dunia. Dengan kekuatan menyerang per detiknya mampu membunuh seketika musuh di depan mata.


Dan, siluman yang ada di hadapannya tersebut pun melakukan hal yang sama. Ia pun juga mengeluarkan jurus andalannya. Sebuah jurus yang sama mematikannya dengan milik Ankara. Kini, keduanya pun bersiap untuk saling menyerang.


Ankara langsung menyerang titik pertahanan dari siluman tersebut. Akan tetapi, siluman tersebut sangat kuat. Sehingga, ia mampu menghindar serangan dari Ankara yang ingin menyerang titik pertahanannya. Alhasil, siluman tersebut mendapat celah untuk menyerang titik kelemahan Ankara. Dan,


"Dhuakk!"


"Akh!"


Jerit Ankara merasakan rasa sakit disana.


"Sial! Dia menyerang titik kelemahanku."


Ucap Ankara.


"Bagaimana? Aku sudah bekerja keras melakukannya."


Ucap siluman tersebut.


"Ankara!"


Sapa Aisha di saat yang tepat tiba-tiba muncul."


"Aisha? Mengapa, kau ada disini?"


Ucap Ankara.


"Aku datang kesini bersama dengan Richard."


Ucap Aisha memberitahu.


"Kau terluka! Mundurlah dulu, biar aku yang menghadapinya."


Ucap Aisha.


"Kau hati-hati, dia sangat kuat!"


Ucap Ankara.


"Jangan khawatir!"


Ucap Aisha.


"Nah, sekarang lawanmu adalah aku...mari kita bertarung!"


Ucap Aisha lagi.


Sepertinya dia bukan lawan yang mudah...dia memiliki kesaktian tingkat tinggi setara dengan makhluk iblis...aku bukan tandingannya...aku bisa mati di tangannya...lebih baik aku kabur saja.


Ucap siluman tersebut dalam hati.


"Maaf! Tidak ada waktu untuk melayanimu."


Ucapnya kemudian segera menghilang dari pandangan mata.


"Apa! Dia kabur?"


Ucap Aisha.


"Aku akan mengejarnya!"


Ucap Aisha lagi.


"Tidak perlu kau mengejarnya, Aisha? Mari kita segera kembali ke istana."


Ucap Ankara.


"Baiklah, dan kita bicarakan segalanya disana."


Ucap Aisha yang kemudian membopong tubuh Ankara yang terluka. Lalu, menghilang dalam sekejap bersama dengan hembusan angin.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover

__ADS_1



__ADS_2