NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 79. Itu Hanya Masa Lalu


__ADS_3

Nagadhini sangat murka ketika mengetahui bahwa pasukannya telah dikalahkan oleh pasukan siluman lain. Selain itu, karena hal tersebut ia tidak bisa mendapatkan Deviandra. Dan, kedudukannya saat ini sedang terancam.


Sementara itu, ia tidak takut kalau suaminya selesai bermeditasi dan menanyakan tentang Deviandra kepadanya. Sebab, Deviandra merupakan putri kesayangan suaminya.


Ini masalah besar, sepertinya aku harus turun tangan sendiri.


Ucap Nagadhini dalam hati yang kemudian melesat pergi ke dunia manusia untuk membawa Deviandra kembali. Sesampainya di dunia manusia. Ia langsung bergerak menuju sebuah lapangan luas bekas pertempuran antara pasukannya dengan pasukan yang ia kenal betul dari aura bekas pertempuran tersebut.


"Ini adalah aura Nagini."


Ucapnya menyimpulkan.


"Kurang ajar! Dia selalu saja ikut campur!"


Ucapnya lagi kesal.


"Jika, ada dirinya di belakang Deviandra...lalu, bagaimana aku akan bertindak?"


Ucapnya menimbang.


"Sudahlah, tidak perlu takut kepadanya...lebih baik bergerak sekarang."


Ucapnya kemudian melesat pergi untuk mencari Deviandra dimana pun ia berada. Karena, Nagadhini sudah tahu dimana Deviandra berada melalui aura bekas pertempuran tersebut. Dan, Nagadhini hanya mengikutinya saja. Tidak lama ia pun menemukannya.


"Ternyata disana, putriku sangat pintar bersembunyi."


Ucapnya kemudian langsung merusak pintu rumah kost milik Deviandra.


"Brak...dhuar."


Bunyi ledakan pintu dihancurkan terdengar oleh Deviandra.


"Suara yang sangat berisik...ada yang menghancurkan pintu rumah kostku...apakah, ibu?"


Ucapnya kemudian segera pergi menuju ruang tamu. Rumah kost itu sedikit berukuran besar dengan ruang kamar, kamar mandi di dalam serta dapur kecil untuk memasak.


Dan, ruang tamu terletak di depan sehingga Deviandra langsung dapat melihat siapa yang sedang duduk di kursi ruang tamu tersebut. Lalu, dia sangat terkejut ketika melihat siapa yang sudah duduk di kursi ruang tamunya tersebut.


"I..ibu?"


Ucapnya tidak percaya.


"Deviandra, putriku."


Ucap Nagadhini sambil duduk dengan tenang.


"Mengapa ibu datang ke rumahku! Aku tidak mengundang ibu kesini dan kehadiran ibu pun tidak aku inginkan."


Ucap Deviandra.


"Lancang! Dasar, anak tidak tahu diri...aku yang mengandung dan melahirkanmu...juga aku yang merawatmu...jika, tahu begini maka lebih baik kau mati!"


Ucap Nagadhini marah. Dan, Deviandra pun terkejut mendengar kata-kata Nagadhini baru saja.


"Oh, begitukah cara seorang ibu berkata kepada anaknya? Ibu, kau memang tidak pantas menyandang sebutan sebagai ibu."


Ucap Deviandra.


"Kurang ajar!"


Ucap Nagadhini yang langsung saja menyerang Deviandra. Deviandra menghindar dari serangan Nagadhini. Dan, serangan tersebut menghantam pintu kamar Deviandra.


"Dhuak...brak!"


Bunyi pintu yang hancur berkeping karena serangan yang diarahkan Nagadhini kepada Deviandra.


"Seranganku gagal?"


Ucap Nagadhini.


"Mengapa, ibu? Seranganmu gagal."


Ucap Deviandra mengejek.


"Deviandra! Kau benar-benar memancing emosiku!"

__ADS_1


Ucap Nagadhini yang kemudian menyerang kembali Deviandra. Pertarungan pun tidak terhindarkan lagi. Nagadhini dan Deviandra bertarung dengan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang mengakibatkan kehancuran dimana-mana di dalam rumah kost tersebut.


Baik Nagadhini atau pun Deviandra tidak lelah bertarung meski sudah bertarung lebih dari dua jam berlalu. Namun, belum ada yang kalah salah satu dari mereka. Mereka sama kuatnya di dalam ilmu olah kanuragan.


Akan tetapi, meski begitu Deviandra adalah seorang putri ular namun, kesaktiannya tidak dapat dibandingkan dengan Nagadhini, ibunya. Akhirnya, satu pukulan telak dari Nagadhini mengenai dadanya.


"Dhuak."


"Akh."


Deviandra terdorong ke belakang beberapa langkah dari Nagadhini. Dan, Nagadhini yang melihat hal tersebut tersenyum puas setelah melukai bagian dada Deviandra. Sedangkan, Deviandra meringis menahan nyeri di bagian dadanya.


"Sakit sekali, tetapi aku tidak akan menyerah...aku butuh tempat yang luas untuk bertarung."


Ucap Deviandra yang kemudian melesat pergi dari arena pertarungan tersebut. Nagadhini yang melihat hal tersebut segera mengejar Deviandra.


"Mau lari kemana kau."


Hardiknya kepada Deviandra.


"Kemana kau lari, putriku...maka aku pasti akan mengejarmu...dan, membawamu kembali."


Ucap Nagadhini yang mengejar dengan kecepatan tinggi. Nagadhini melayangkan satu pukulan jarak jauh kepada Deviandra dan mengenai tubuh Deviandra. Sehingga, Deviandra pun jatuh ke bumi.


"Bamm."


"Akh."


Rintihnya lagi menahan sakit di dada serta benturan keras yang terjadi akibat ia jatuh karena pukulan jarak jauh Nagadhini. Nagadhini tersenyum melihat putri kandungnya itu menderita.


"Menyerahlah, Deviandra...sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa melawanku...sebab, aku ibumu."


Ucap Nagadhini.


Bagaimana, ini aku sudah terluka parah oleh pukulan ibuku.


Ucap Deviandra dalam hati.


"Hegh! Ibu? Kau sama sekali jauh dari image seorang ibu, Nagadhini."


"Kau memang anak kurang ajar! Tidak tahu diuntung...padahal kau lahir dari rahimku! Lebih baik kau tiada, daripada menjadi beban dan benalu di kemudian hari."


Ucap Nagadhini sambil mengerahkan serangan terakhir kepada Deviandra. Deviandra yang sudah pasrah pada nasibnya itu hanya bisa diam saja menunggu nasibnya berakhir di tangan ibu kandungnya tersebut.


"Matilah, kau dengan tenang."


Ucap Nagadhini sambil bersiap untuk melepaskan serangan terakhir tersebut. Dan, ketika serangan tersebut sudah dilepaskan tiba-tiba saja, serangannya diblokir oleh seseorang yang tidak ia sangka sebelumnya.


"Hentikan!"


Ucap Aisha.


"Nagini?"


Ucap Nagadhini.


"Kau sangat keterlaluan sekali, Nagadhini! Bahkan, kau ingin menyakiti serta ingin membunuh putrimu sendiri."


Ucap Aisha.


"Hmph! Nagini! Ini bukan urusanmu, lebih baik kau pergi!"


Ucap Nagadhini.


"Oh, bukan urusanku? Apa, kau pikir aku tidak tahu?"


Ucap Aisha.


"Apa maksudmu?"


Ucap Nagadhini.


"Deviandra adalah putrimu, sekaligus dia juga adalah keponakanku."


Ucap Aisha.

__ADS_1


"Keponakan? Apa, kau bercanda? Hubungan persaudaraan kita sudah lama putus, Nagini...semenjak, kau menolak memberikan apa yang kuinginkan sejak itu kita bukan lagi saudara."


Ucap Nagadhini.


"Oh, kau menyinggung masa lalu...padahal, kau yang terlalu serakah saat itu...meminta sesuatu yang sudah menjadi milikku...apa, kau sadar itu?"


Ucap Aisha.


"Kurang ajar! Kau yang merebut dia dariku, Nagini! Bagaimana, kau bisa berkata sedemikian rupa kepadaku?"


Ucap Nagadhini marah.


"Oh, ya? Bukankah, dia sudah menolakmu? Dia tidak ingin dirimu, dia tidak mencintaimu."


Ucap Aisha.


"Kau memang mencari mati, Nagini! Terima seranganku!"


Ucap Nagadhini langsung menyerang Aisha yang pada saat itu sedang dalam posisi membelakangi Deviandra. Aisha menyambut serangan Nagadhini hanya dengan satu tapak tangan dan menghantam tubuh Nagadhini sehingga terpental jauh.


"Dhuakk."


"Akh."


Nagadhini pun meringis menahan sakit di bagian tubuhnya yang terluka dalam. Dan, rasa sakit tersebut membuatnya tidak bisa bangkit ataupun berdiri. Rupanya pukulan tapak tangan dari Aisha membuatnya tidak berdaya.


"Kurang ajar! Pukulan tapak tangan miliknya begitu kuat, hampir saja meremukkan seluruh tubuhku."


Ucap Nagadhini.


"Bagaimana, rasanya? Apakah, sakit?"


Tanya Aisha.


"Tidak usah mengejekku, Nagini! Nanti, aku akan menghajarmu habis-habisan."


Balas Nagadhini.


"Oh, ya? Ingin menghajarku habis-habisan? Tidakkah kau lihat kondisimu sekarang? Tidak perlu berpikir untuk menghajarku...pikirkan sendiri kondisi tubuhmu itu, Nagadhini."


Ucap Aisha. Lalu, kemudian Aisha mendekati Deviandra dan membantunya berdiri.


"Terima kasih."


Ucap Deviandra.


"Ya, tampaknya lukamu cukup parah."


Ucap Aisha kepada Deviandra.


"Kau benar sekali, lukaku cukup parah."


Ucap Deviandra.


"Mari, ikut denganku...dan, aku akan mengobati lukamu."


Ucap Aisha.


"Baiklah."


Ucap Deviandra. Nagadhini yang masih tidak berdaya melihat Deviandra akan dibawa pergi oleh Aisha. Ia memohon kepada Deviandra untuk tidak ikut dengan Aisha. Akan tetapi, Deviandra menolaknya.


"Deviandra! Jangan, pergi dengannya...dia musuh kita."


Ucap Nagadhini.


"Ibu? Jika, dia musuh maka itu jauh lebih baik...karena, dia jauh lebih menghargai nyawaku dibandingkan dirimu."


Ucap Deviandra kemudian berlalu pergi bersama dengan Aisha. Tinggallah, Nagadhini disana dengan segenap rasa sakit di hatinya terhadap Aisha yang telah merebut perhatian Deviandra darinya. Sekaligus membawanya pergi entah kemana.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


Cover

__ADS_1



__ADS_2