
Istana Neraka, Dunia Bawah...
Ada banyak penguasa yang berkuasa di dunia bawah selain Eyang Sri Kantil. Salah satunya adalah, Ki Krintil yang merupakan penjaga dunia bawah. Ia ditugaskan untuk menjaga buku kuno yang sebenarnya merupakan kunci untuk membuka segel peti mati sang iblis.
Buku kuno dan peti mati sang iblis sengaja dikuburkan secara terpisah agar tidak mudah ditemukan oleh orang-orang jahat yang ingin memanfaatkannya untuk membuka segel peti mati sang iblis. Sedangkan, untuk menemukan peti tersebut diperlukan darah gadis perawan suci sebanyak 7 orang.
Yang lahir, pada tanggal 1 suro tepat pukul 24 tengah malam serta dibutuhkan Peta Alam Semesta. Untuk menemukan ketujuh gadis perawan langka tersebut. Memang merupakan pekerjaan berat, akan tetapi bagi Nagadhini tidak ada yang tidak mungkin baginya. Sebabnya, tekadnya sudah bulat.
Meskipun ia harus berhadapan dengan Ki Krintil sekalipun. Ia harus berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Menjadi yang terkuat adalah cita-citanya sejak dahulu. Demi membalas dendamnya kepada Dewi Ular yang sekarang semakin kuat. Maka, ia harus menempuh jalan lain.
Dan, kini mereka sudah sampai di daerah timur. Benar saja, di hadapan mereka buku kuno sudah terlihat. Buku tersebut melayang di udara serta bukan terkubur di dalam tanah seperti yang dirumorkan. Nagadhini dan siluman ular air menjadi bingung dibuatnya.
"Apa-apaan ini? Menurut rumor buku tersebut terkubur...akan tetapi, buku itu malah melayang di udara?"
Ucap Nagadhini.
"Itu membuktikan, rumor yang beredar itu selalu tidak benar nyai?"
Ucap siluman ular air.
"Ya, kau benar."
Ucap Nagadhini.
"Kita harus segera mengambilnya, nyai...sebelum, penjaga Ki Krintil menyadari keberadaan kita disini."
Ucap siluman ular air.
"Ya, kita harus bergerak cepat!"
Ucap Nagadhini yang kemudian segera saja mengambil buku yang sedang melayang tersebut. Namun, baru saja ia melangkahkan kakinya tiba-tiba saja Ki Krintil muncul di hadapannya bersama dengan tiupan angin.
"Whussh."
Nagadhini terkejut bukan main. Ia menyadari masalah sebenarnya telah muncul di hadapannya. Ia dan siluman ular air pun menjadi waspada akan kehadiran Ki Krintil. Seorang makhluk penjaga yang sangat kuat.
"Hahaha."
Tawanya menggema di seluruh Istana Neraka dunia bawah. Nagadhini dari jarak sepuluh langkah saja dapat merasakan aura kesaktian ilmu kanuragan pilih tanding dari Ki Krintil.
"Makhluk penjaga ini, benar-benar mumpuni...kita harus berhati--hati dalam menghadapinya."
Ucap Nagadhini.
"Ya, nyai."
Ucap siluman ular air.
"Kukira siapa, yang mengganggu tidur panjangku...ternyata kau, nyai?"
Ucap Ki Krintil.
"Kau mengetahuiku?"
Ucap Nagadhini.
"Siapa yang tidak mengetahui sepak terjang dari siluman ular pertama...ciptaan sang Pencipta Langit dan Bumi."
__ADS_1
Jelas Ki Krintil.
"Oh, jadi begitu."
Ucap Nagadhini.
"Dan, bukan hanya tentang sepak terjangmu yang aku ketahui...aku juga tahu jelas apa yang kau inginkan...siluman?"
Ucap Ki Krintil.
"Kalau sudah tahu...jadi, bisakah kau minggir?"
Ucap Nagadhini.
"Hegh! Menyuruhku untuk minggir...di Istanaku sendiri...apa kau cari mati?"
Ucap Ki Krintil.
"Huh! Hanya menyuruhmu untuk minggir...tetapi, kau keras kepala...siapa, disini yang sesungguhnya yang cari mati...aku apa kau?"
Ucap Nagadhini.
"Keparat! Dasar, siluman durjana...aku tidak akan membiarkanmu untuk mengambil buku kuno tersebut...sebab, kau memiliki niat yang tidak baik."
Ucap Ki Krintil.
"Sialan! Rasakan ini."
Ucap Nagadhini sambil melayangkan satu serangan yang disambut oleh Ki Krintil dengan tangkisan tangannya. Tubuh Ki Krintil terdorong ke belakang beberapa langkah. Dan, Nagadhini hanya tersenyum saja melihatnya.
"Huh! Apa, hanya segitu saja kesaktianmu?"
Ucap Nagadhini.
Ucap Ki Krintil.
"Oh, ya? Tampaknya seranganku masih kurang."
Ucap Nagadhini.
"Hanya serangan kecil saja...kau begitu sesumbar...aku akan membuatmu mati mengenaskan!"
Ucap Ki Krintil. Lalu, Ki Krintil pun menyerang Nagadhini. Dan, pertarungan sengit tidak dapat dihindarkan begitu saja. Pertarungan antara kedua makhluk tersebut berlangsung alot.
Ki Krintil terus menyerang Nagadhini dan Nagadhini terus menghindari serangan dari Ki Krintil. Sambil terus mencari titik lemah dari Ki Krintil yang sangat kuat tersebut. Akhirnya, Nagadhini mendapatkan titik lemah dari Ki Krintil dan...
"Dhuakk...dhuakk."
"Agh."
Nagadhini memukul titik lemah Ki Krintil. Sehingga, menyebabkan Ki Krintil tubuhnya remuk redam dan muntah darah. Ulu hati Ki Krintil terluka parah, padahal pukulan Nagadhini jika dibandingkan dengan pukulan dengan Dewi Ular masihlah lemah.
Tetapi, karena pukulan tersebut mengenai titik lemahnya membuat pukulan yang seharusnya biasa saja malah membuat luka parah di ulu hati Ki Krintil.
"Ugh."
Ki Krintil masih memegangi bagian ulu hatinya yang terluka parah.
__ADS_1
"Hahaha."
Nagadhini tertawa setelah melihat keadaan dari Ki Krintil yang menyedihkan.
"Dasar, siluman busuk! Tidak perlu menertawaiku...ayo, kita bertarung sekali lagi dan kau akan melihat kehebatanku."
Ucap Ki Krintil menantang Nagadhini.
"Sudah terluka separah ini...kau masih ingin bertarung lagi denganku...apa, kau sudah kehilangan akal sehat?"
Ucap Nagadhini.
"Sejak, kapan siluman busuk sepertimu mengerti kata kehilangan akal? Kaulah yang justru kehilangan akal...menginginkan buku kuno untuk membuka segel peti mati iblis laknat itu."
Ucap Ki Krintil.
"Apa, kau tahu apa yang kau lakukan...hah! Kau sama saja, mengorbankan kehidupan banyak makhluk...ditambah lagi dengan bencana yang tidak ada hentinya ketika nanti ia berhasil bangkit."
Ucap Ki Krintil panjang lebar.
"Cih! Simpan saja khotbah busukmu itu, Ki Krintil...aku sama sekali tidak peduli...yang kuinginkan hanya satu...kekuatan besar sang makhluk yang akan ia berikan kepadaku...untuk membunuh satu-satunya musuh besarku...Dewi Ular."
Ucap Nagadhini.
"Kau tahu, sampai kapan pun kau tidak akan bisa mengalahkannya...dia adalah Ratu para Ular...dia bukan ular biasa...dia Dewi Ular...takdir sudah ditentukan! Kau bukanlah lawannya...meskipun kau mendapat bantuan iblis sekali pun."
Ucap Ki Krintil memprovokasi Nagadhini.
"Diam!"
Ucap Nagadhini marah.
"Diam, kau Ki Krintil! Tidak perlu mengatakan sesuatu apa pun tentang dia...tidak perlu mengangungkan dia...sebab, pada akhirnya yang akan menjadi pemenangnya adalah aku."
Ucap Nagadhini sombong sambil melayangkan pukulan terakhirnya dan menembus jantung Ki Krintil. Tepat saat itu, Ki Krintil menyumpahi Nagadhini yang bersikap kejam kepadanya.
"Kau akan menemukan ajalmu yang mengenaskan, Nagadhini! Kau tidak akan pernah menjadi apa-apa...kau akan hancur berkeping-keping! Ingatlah itu!"
Ucap Ki Krintil akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Nyai! Dia menyumpahimu...kau tahu artinya...jika, seseorang yang akan menjemput ajal menyumpahimu?"
Ucap siluman ular air.
"Aku tidak peduli! Cepat, kau ambil buku kuno yang melayang itu!"
Perintah Nagadhini marah.
"Baiklah, nyai!"
Ucap siluman ular air.
Nyai Nagadhini...tidak mengetahui tentang sumpah orang yang akan menjemput ajal...sumpah itu akan terlaksana seketika ia usai kehilangan nyawanya...nyai kau akan menerima akibat dari perbuatanmu sendiri!
Ucap siluman ular air dalam hati. Memang benar, apa yang dimaksud oleh siluman ular air. Ada sebab pasti ada akibat. Dan, setiap perbuatan akan ada balasannya. Barang siapa yang menebar angin maka ia akan menuai badai. Untuk itu kita harus selalu memperhatikan tindak tanduk kita. Jangan, sampai perbuatan kita menyakiti sesama. Sebab, pikir itu pelita hati.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR