NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 60. Kunjungan Baba Ke Istana


__ADS_3

Tengah hari di hutan belantara...


Baba merangsek masuk ke dalam hutan. Ia memperhatikan daerah sekeliling hutan yang tampak sunyi mencekam walaupun siang hari. Ini dikarenakan aura para makhluk siluman ular yang menguar.


"Acha! Masih tengah hari dan suasana hutan ini sangat mencekam."


Ucap Baba.


"Hm, dimanakah Ankara dan Zham? Beserta para Ratu Ular pendukung Dewi Ular dahulu...mereka seakan hilang ditelan bumi."


Ucap Baba lagi. Baba tampak bingung untuk mencari kedua ular bersaudara tersebut. Sebab, ia tidak menemukan jejak tentang keduanya tertinggal disana.


"Mungkin aku harus ke istana Dewi Ular...mungkin aku dapat menemukan mereka."


Ucap Baba kemudian segera pergi menuju ke istana Dewi Ular yang kini tampak seperti reruntuhan di mata Baba yang melihatnya. Setelah, ia sampai disana ia terperangah melihatnya.


Istana megah ini dulu pernah berjaya...tetapi sekarang hanyalah tinggal reruntuhannya saja...Nagadhini benar-benar kejam.


Ucapnya dalam hati. Baba pun menelusuri ke dalam reruntuhan istana yang dahulunya merupakan kebanggaan para makhluk siluman ular terutama bagi Dewi Ular.


Akan tetapi, baru saja ia masuk 5 langkah tiba-tiba sekumpulan prajurit siluman ular mengepungnya dan hendak membunuhnya. Baba terkejut bukan main mendapati hal tersebut.


Acha! Baru masuk saja...aku sudah dikepung...haish...nasib.


Ucap Baba dalam hati.


"Hei, manusia! Ini wilayah terlarang! Mengapa, kau masuk kesini! Cepat pergi!"


Ucap salah satu dari 5 prajurit ular tersebut.


"Tunggu dulu, a...aku tidak bermaksud jahat...aku sedang mencari...


Ucap Baba, tetapi belum lagi ia selesai bicara salah satu dari 5 prajurit tersebut langsung membentaknya.


"Sudah, tidak perlu banyak alasan! Cepat pergi! Kalau tidak maka kau akan kami usir paksa!"


Ucap salah satu prajurit tersebut bersikeras.


"Hei, tunggu! Tunggu dulu, aku tidak bermaksud jahat...kalian jangan marah dulu."


Ucap Baba sambil melambaikan tangannya.


"Banyak bacot kau! Ciatt!"


Ucap salah satunya mulai menyerang Baba, lalu disusul dengan keempat dari prajurit tersebut. Baba meladeni para prajurit siluman ular. Sedangkan, dari atas reeuntuhan istana tersebut. Ada seseorang yang sedang mengawasinya, yaitu Ankara.


Ia tersenyum melihat pertarungan Baba dengan kelima prajurit ular tersebut. Dan, Baba tampak kewalahan menghadapi kelima prajurit ular tersebut. Lalu, Baba pun mengeluarkan serulingnya. Untuk menaklukkan prajurit ular. Ankara yang melihat hal itu kemudian segera menghentikan Baba.


"Hentikan, pertarungan ini!"


Ucap Ankara yang tiba-tiba turun dari atas bangunan istana. Dan, akhirnya mereka semua pun berhenti bertarung.


"Pangeran Ankara."


Ucap kelima prajurit ular tersebut memberi hormat.


"Mengapa, kalian menyerang teman lamaku."


Tanya Ankara.


"Ah, teman? Kami sungguh tidak tahu, Pangeran? Jika, dia teman lama anda Pangeran. Mohon maafkanlah, kesalahan kami."


Balas para prajurit ular.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, kalian kembalilah ke tempat tinggal kalian masing-masing."


Perintah Ankara.


"Baik, Pangeran!"


Ucap kelimanya serentak, lalu berubah menjadi 5 ekor siluman ular. Segera pergi, kembali ke tempat masing-masing.


"Baba, lama tidak bertemu...bagaimana kabarmu?"


Ucap Ankara tersenyum menyambut Baba.


"Seperti yang kau lihat! Aku baik-baik saja."


Ucap Baba sambil memeluk Ankara.


"Tampaknya kau sangat rindu kepadaku."


Ucap Ankara tersenyum.


"Tentu saja."


Ucap Baba sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya dan ia tidak melihat Zham ada disana bersama dengan Ankara.


"Ah, kuperhatikan tempat ini tidak berubah sama sekali...tetapi dimana Zham, kakakmu itu?"


Tanya Baba. Dan, pertanyaan ini sukses membuat Ankara menarik nafas lelah.


"Nanti, akan kuceritakan kepadamu Baba...sekarang biarkan aku menjamu dirimu terlebih dahulu."


Ucap Ankara.


"Ya, baiklah."


Ucap Baba menerima undangan dari Ankara untuk makan dan minum di dalam istana. Lalu, Baba pun mengikuti langkah Ankara masuk ke dalam istana. Sungguh terkejutnya Baba, ternyata di dalam istana masih terlihat megah dan asri sama seperti dulu.


"Wow! Istana ini masih tetap sama seperti dulu."


Ucap Baba takjub.


"Tentu saja, sesuai pesan ibu Dewi Ular yang telah tiada...aku harus tetap menjaga istana ini seperti dulu...agar saat putrinya kembali nanti maka hal tersebut akan mengingatkannya akan masa-masa indah dirinya di istana ini."


Ucap Ankara, dan Baba terkejut ketika mendengar kata-kata Ankara tentang wafatnya ibu Dewi Ular.


"Apa! Nyai Archa Sevadha tiada?"


Ucap Baba terkejut.


"Ya, ia tiada karena ia tidak tahan menanggung rindu serta kehilangan putrinya...jadi ia menitipkan pesan kepadaku."


Ucap Ankara.


"Mari sebelah sini, Baba...disana adalah keputren istana...dan disana adalah kolam pemandian Dewi Ular...disana ada arena latihan kanuragan...dan disana merupakan tempat untuk bermeditasi."


Ucap Ankara menunjukkan bagian dalam istana kepada Baba.


"Dan, disana adalah tempat jamuan makan...mari sebelah sini."


Ajak Ankara.


"Istana ini sungguh megah! Tidak kalah dengan istana para raja di dunia manusia."


Ucap Baba terkagum-kagum.

__ADS_1


"Tentu saja, Baba! Istana ini sudah berdiri sejak zaman dahulu kala."


Ucap Ankara memberi tahu.


"Oh, begitu?"


Ucap Baba pendek. Dan, Ankara tersenyum.


"Mari sini...silahkan duduk."


Ucap Ankara kepada Baba. Dan, Baba mengikuti langkah Ankara kemudian duduk di kursi jamuan makan di istana Dewi Ular. Segera, para dayang istana yang semuanya adalah siluman ular pun hadir dengan membawa aneka jamuan makan ke hadapan Baba dan Ankara.


Dan, makanan yang disediakan tidak ada bedanya dengan yang ada di dunia manusia. Baba sungguh tidak percaya melihatnya. Lalu, ia pun berceloteh mengenai kebodohannya.


"Kukira makanan di dunia bangsa siluman ini tidak sama seperti makanan bangsa manusia...ternyata sungguh benar-benar di luar dugaan."


Ucap Baba tersenyum.


"Oh, lalu apakah yang ada dalam pikiranmu itu Baba...makanan apakah yang kami makan menurutmu?"


Tanya Ankara.


"Bunga tujuh rupa."


Jawab Baba sambil terkekeh geli. Dan, tentu saja kata-katanya barusan itu membuat Ankara tertawa tidak berhenti.


"Hahaha."


Tawa keduanya.


"Dasar kau, Baba...bunga adalah makanan pelengkap bagi kami...tetapi bukan bunga yang menjadi pengisi bagi energi kami."


Ucap Ankara menjelaskan.


"Oh, ya? Lalu?"


Tanya Baba.


"Makanan yang terhidang di hadapanmu inilah yang banyak merupakan sumber energi bagi tubuh kami...kalau bunga itu hanya saat tertentu saja dan itu pun ada aturannya, Baba bukan sembarangan."


Jawab Ankara lagi.


"Jadi ternyata begitu."


Ucap Baba. Dan, Ankara menganggukkan kepalanya.


"Jadi, aku ingin bertanya kepadamu Ankara...dimana Zham berada?"


Tanya Baba akhirnya mengulang pertanyaan yang tadi belum sempat dijawab oleh Ankara. Mendengar pertanyaan yang sama untuk kedua kali dari Baba sukses membuat Ankara tersedak beberapa kali.


"Maaf, apa pertanyaanku mengganggumu?"


Tanya Baba.


"Ugh! Tidak Baba! Aku akan mengatakan segalanya kepadamu...tunggu sebentar lagi...kita selesaikan dulu acara jamuan ini."


Balas Ankara. Dan, Baba pun hanya menarik nafas lelah ketika Ankara menyuruhnya untuk menunggu jawaban darinya. Sementara, Baba semakin curiga dengan keheningan tentang Zham memang sengaja disembunyikan oleh Ankara.


Ini seperti sebuah misteri...acha...dimana Zham berada sekarang? Apa dia juga tiada, sama seperti nyai Archa Sevadha...ataukah ada misteri lain yang tersembunyi...aku harus tahu segalanya...baru dapat meminta bantuan tentang Peta Alam Semesta yang sudah semakin dekat kemunculannya.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR

__ADS_1


Cover



__ADS_2