
Peristiwa yang terjadi di klan pemburu siluman, akhirnya sampai juga ke telinga Aisha. Aisha pun segera melesat dengan kecepatan tinggi bersama dengan ketiga bangsa siluman ular yakni, Ankara, Cintamani dan Joko Asmoro.
Sedangkan, Anna dan Richard menyusul dengan menggunakan mobil travel menuju klan pemburu siluman. Richard bisa saja pergi bersama dengan kelompok Aisha. Akan tetapi, ia takut bahwa jati dirinya yang sebenarnya akan terbongkar. Maka, ia pergi bersama dengan Anna untuk kembali ke klan.
Saat, Richard dan Anna sedang dalam perjalanan menuju klan. Aisha dan ketiga siluman ular yang mendukungnya telah sampai di klan pemburu siluman dan disambut hangat oleh tetua Jenggot Putih.
"Selamat datang...silahkan, nyai."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Terima kasih, tetua?"
Balas Aisha.
"Mari masuk, nyai...akan lebih baik jika kita berbicara di dalam."
Ucap tetua Jenggot Putih. Aisha mengikutinya dengan tersenyum ramah. Sesaat, sang tetua terpesona akan senyuman Aisha namun, ia harus tahu diri bahwa ia sudah tua dan ia tidak dalam masa kejayaannya ketika ia masih muda dulu.
"Ayo, nyai...disini kita duduk."
Ucap tetua sambil mempersilahkan Aisha beserta ketiganya untuk masuk ke ruangan yang telah di dekorasi bagaikan di istana kerajaan zaman dulu. Untuk, sesaat Aisha merasa kembali ke rumah. Dimana, ia terbiasa menghabiskan waktunya di istana kerajaannya bersama dengan ibundanya yang tercinta.
"Tetua? Anda sangat bersemangat sekali menyambut kedatangan kami...untuk itu kami sangat menghargainya...kedepannya kami akan memberikan penjagaan ketat di klan pemburu ini...agar, Nagadhini tidak bertindak sembarangan di klan ini lagi."
Ucap Aisha.
"Benarkah? Terima kasih, nyai...atas kemurahan hati, nyai."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Tidak perlu terlalu sungkan, tetua?"
Ucap Aisha.
"Hamba tidak merasa sungkan, nyai."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Benarkah? Kalau begitu, penawaranku ini tidak gratis!"
Ucap Aisha.
"Katakan, nyai? Mungkin saja, hamba dapat memenuhinya."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Tetua tentu tahu tentang, Richard kan?"
Ucap Aisha.
"Ah, Richard...ya, tentu hamba tahu tentang dia."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Aku ingin tetua dapat memperlakukannya dengan istimewa sama seperti tetua memperlakukanku!"
Ucap Aisha yang tentu saja membuat ketiga siluman yang bersama dengannya menjadi terkejut.
"Nyai? Ini terlalu berlebihan, Richard adalah manusia biasa...dia tidak dapat disetarakan dengan, nyai!"
Ucap Cintamani menyela.
"Cintamani, apakah kau tahu sikapmu ini? Berani menyela pembicaraanku dengan tetua...apakah, ini pantas."
Ucap Aisha sambil menatap tajam kepada Cintamani. Cintamani tampak terkejut dan tiba-tiba merasakan rasa takut yang luar biasa setelah bertatapan langsung dengan mata istimewa milik Dewi Ular. Langsung saja, ia menundukkan kepalanya sambil berkata...
"Hamba tidak berani, nyai...mohon, maafkan kesalahan hamba."
Ucap Cintamani.
"Lain, kali jangan menyela sembarangan! Atau, kau akan berakhir mengenaskan!"
Ucap Aisha memperingatkan, sungguh ada ketegasan yang menakutkan dalam kata-kata Aisha. Sehingga membuat Cintamani tidak berdaya.
"Tetua, saya mohon maaf atas masalah tadi dengan bawahan saya."
Ucap Aisha.
"Nyai, tidak perlu memohon maaf...sudah biasa jika dalam sesuatu hal ada perdebatan."
Ucap tetua Jenggot Putih tersenyum.
"Ya, anda benar tetua...jadi, dapatkah tetua meluluskan permintaanku?"
Ucap Aisha.
"Tentu saja, nyai...mengapa, tidak?"
__ADS_1
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Hamba akan mengumumkan hal ini secara resmi kepada seluruh anggota klan pemburu...nyai, jangan khawatir."
Ucap tetua Jenggot Putih lagi.
"Terima kasih, tetua."
Ucap Aisha.
"Lalu, bagaimana dengan Peta Alam Semesta...apakah aman?"
Tanya Aisha.
"Peta Alam Semesta yang asli aman...aku hanya memberinya Peta yang palsu, nyai."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Bagus, akan tetapi cepat atau lambat ia akan menyadarinya dan ia akan menyerang kembali klan ini."
Ucap Aisha.
"Ya, hamba tahu nyai...dia bukan siluman yang bodoh dan menyerah begitu saja."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Oleh karena itu kuberikan satu penawaran bagus untukmu."
Ucap Aisha.
"Ya, saya paham dan mengerti apa yang nyai maksud...saya akan memperlakukannya istimewa."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Baiklah, kalau begitu aku akan meninggalkan Cintamani dan Joko Asmoro disini...untuk menjaga kemungkinan ia datang kembali untuk menyerang."
Ucap Aisha.
"Cintamani! Joko Asmoro! Apa kalian menerima perintahku?"
Tanya Aisha tegas.
"Kami berdua, siap nyai!"
Balas Cintamani dan Joko Asmoro sama tegasnya.
Ucap Aisha.
"Baiklah, sepertinya segala sesuatunya memang sudah selesai."
Ucap Ankara yang sejak tadi hanya diam saja.
"Ya, semuanya sudah selesai."
Ucap Aisha tersenyum manis.
Aduh, senyum itu lagi...jangan lagi kau memberiku harapan Nagini...jika kau memang tidak bisa bersama denganku.
Ucap Ankara dalam hati.
"Baiklah, kalau begitu kami berdua pamit tetua."
Ucap Ankara mewakili Aisha. Tetua menganggukkan kepalanya.
"Silahkan."
Ucap tetua Jenggot Putih mempersilahkan keduanya untuk pergi. Sedangkan, Cintamani beserta suaminya tinggal disana namun, mereka tidak tinggal di dalam klan tersebut. Mereka tinggal, di alam mereka sendiri sambil mengawasi keamanan klan pemburu siluman.
Sementara itu, Aisha dan Ankara segera kembali ke tempat masing-masing. Namun, sebelum kembali Ankara bertanya kepada Aisha mengapa Aisha meminta kepada tetua Jenggot Putih untuk memberikan perlakuan istimewa kepada Richard.
"Siapa sebenarnya, Richard itu Aisha? Mengapa, manusia itu tampak istimewa sekali bagimu?"
Tanya Ankara kepada Aisha.
"Apa, kau tidak tahu? Dan, apakah kau tidak dapat merasakan?"
Balas Aisha.
"Merasakan? Merasakan, apa?"
Tanya Ankara. Aisha tersenyum mendengar kata-kata Ankara.
"Oh, setelah lama berpisah apa kau tidak rindu kepadanya?"
Balas Aisha yang membuat Ankara semakin tidak mengerti.
"Rindu? Terhadap, siapa? Aku tidak memiliki kekasih."
__ADS_1
Ucap Ankara.
"Oh, ya? Apakah, rasa rindu itu hanya dikategorikan kepada kekasih saja? Bukan hal yang lain?"
Tanya Aisha.
"Aisha! Lebih baik katakan saja langsung, tidak perlu bertele-tele begitu."
Balas Ankara kesal. Dan, Aisha tertawa lebar.
"Hahaha, baiklah...kau tidak sabaran sekali."
Ucap Aisha.
"Siluman mana yang sanggup bersabar, jika itu adalah aku, kau atau pun siluman lain."
Ucap Ankara lagi.
"Iya...iya...sudah...sudah...jangan marah!"
Bujuk Aisha.
"Aku tidak marah! Aku hanya sedikit kecewa saja."
Ucap Ankara dengan wajah memberengut.
"Usiamu, sudah setua ini tetapi masih saja kau bersikap seperti kepadaku."
Ucap Aisha lagi.
"Ya...ya...tidak perlu pikirkan masalah usia...sekarang katakan kepadaku...jawablah pertanyaanku tadi, Aisha?"
Ucap Ankara.
"Baiklah, sesungguhnya Richard bukanlah manusia biasa...dia lebih dari itu."
Ucap Aisha memberitahu.
"Apa!"
Ucap Ankara terkejut.
"Dia bukan manusia? Lalu, apakah dia termasuk bangsa siluman...mengapa, aku tidak dapat merasakannya?"
Ucap Ankara lagi.
"Ya, begitulah...dia dapat menyembunyikan dirinya dengan baik...jika, bukan karena mata istimewa milikku mustahil aku dapat mengetahui tentang dirinya."
Ucap Aisha.
"Oh, ya? Lalu, siapakah dirinya yang sebenarnya itu?"
Tanya Ankara penasaran. Aisha menarik nafas lelah.
"Zham!"
Ucap Aisha.
"Apa! Zham? Jadi, dia adalah kakakku Zham...mengapa dia tidak memberitahu tentang dirinya kepada kita, Aisha."
Ucap Ankara sambil terduduk lemas.
"Aku tidak tahu, Ankara...kemungkinan, ia tidak memberitahu identitas diri juga karena sesuatu hal."
Ucap Aisha.
"Ya, kurasa kau benar!"
Ucap Ankara.
"Sudahlah, aku sudah menjawab pertanyaanmu...sekarang, saatnya aku kembali...ibu pasti sedang mengkhawatirkan aku."
Ucap Aisha.
"Baiklah, Aisha...aku juga harus kembali."
Ucap Ankara kemudian segera menghilang di kegelapan malam.
"Ya, kau kembali atau tidak...tentu kau yang lebih tahu."
Ucap Aisha sambil berkata kepada diri sendiri. Kemudian, setelahnya Aisha pun segera kembali ke rumah Alina. Ia takut jika Alina mengkhawatirkan dirinya dan mencari dirinya. Maka, ia pun segera mempercepat langkahnya dalam sekian detik per jam agar cepat sampai di rumahnya secepat mungkin.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1