
Pembicaraan yang masih berlangsung antara tetua dan Adam, ayah angkat dari Anna...
"Jadi, kita harus bagaimana kakek? Tentunya nanti akan banyak pihak yang menginginkan Peta tersebut...
Tanya Adam.
"Itu sudah pasti...kita harus menunggu sampai Peta Alam Semesta itu muncul, dan kita harus menjaganya...Agar jangan sampai Peta itu direbut oleh mereka orang-orang yang berhati durjana...
Jawab sang tetua.
"Kira-kira dimana Peta tersebut muncul, kakek?"
Tanya Adam lagi.
"Perhatikan posisi sejajar antara bintang-bintang dan gerhana bulan akan menunjukkan dimana lokasi Peta tersebut berada...
Balas tetua yang sangat dihormati oleh Adam dan juga para pemburu siluman lainnya.
"Baiklah, tetua! Kami akan memperhatikan hal ini...aku akan memberitahu hal ini kepada Anna dan juga Richard...
Ucap Adam. Namun, sang tetua mengangkat satu tangannya sambil berkata...
"Ini bukanlah urusan yang mudah, Adam! Sebaiknya, kedua bocah remaja tersebut jangan dilibatkan! Kita saja itu sudah cukup!"
Ucap sang tetua tegas.
"Baiklah, tetua!"
Ucap Adam akhirnya menyetujui kata-kata sang tetua. Lalu, ia pun undur diri dari hadapan sang tetua. Sungguh Adam merasa sangat khawatir mengenai hal yang baru saja diceritakan oleh sang tetua.
Ia ingin membagi hal tersebut dengan Anna dan Richard akan tetapi, ternyata sang tetua perkumpulan tidak menyetujuinya. Ia tidak ingin kedua remaja tersebut mengetahui dan terlibat hal yang sangat berbahaya yang sedang mengintai kehidupan seluruh umat manusia.
Namun, karena keresahannya tersebut begitu menggunung. Sehingga, ia pun mendatangi salah seorang teman lama yang sangat dikenalnya. Yaitu, Baba si pawang ular yang sudah malang melintang dan mengurusi hal berurusan dengan bangsa siluman ular.
"Jika, aku berbicara dengan Baba mengenai hal ini...pasti masalah ini akan terpecahkan dengan sendirinya...
Ucapnya mondar mandir di ruangan kamarnya.
"Aku harus segera bertemu dengan Baba...sebab, aku tahu...kami tidak cukup kuat untuk menghadapi banyak pihak yang menginginkan Peta Alam Semesta...
Ucapnya lagi. Lalu, akhirnya Adam pun segera pergi untuk menemui teman lama yang bernama Baba. Dan, sang tetua tersebut pun masih memikirkan kemungkinan besar yang akan terjadi jika banyak pihak yang menginginkan Peta tersebut.
"Akan ada banyak hal yang akan terjadi karena kemunculannya...sudah lama sejak beribu-ribu tahun lamanya...Peta tersebut memang pembawa malapetaka...harus segera dihentikan...
Ucapnya lagi sambil keluar dari ruangan tersebut. Kemudian pergi entah kemana di tengah kegelapan malam yang semakin dingin menusuk tulang.
......................
Di atas pohon yang rindang...
Tampak disana satu sosok yang sedang memandangi gugusan bintang-bintang di langit. Dia adalah Deviandra yang ditugaskan oleh Nagadhini untuk menemukan dan mendapatkan Peta Alam Semesta.
"Gugusan bintang-bintang tersebut sudah mulai berubah...tidak lama lagi gugusan bintang-bintang tersebut akan sejajar lalu timbullah gerhana bulan yang cahayanya akan menunjukkan dimana lokasi Peta Alam Semesta berada...sungguh aku tidak sabar...
__ADS_1
Ucap Deviandra. Namun, saat dia sedang mengamati gugusan bintang-bintang tersebut ia pun mendapat satu serangan dari seorang wanita yang tidak ia kenal.
"Whussh...
"Prakk...krakk...boom...
Serangan tersebut mengenai dahan pohon yang merupakan tempat Deviandra berpijak. Sebelum, dahan tersebut benar-benar rubuh. Deviandra segera turun dari atas pohon tersebut. Dan, mendarat dengan selamat di bumi. Energi kekuatan mendominasi dari gerakannya tadi.
Sialan! Tampaknya dia yang waktu itu bertarung denganku di pertarungan sebelumnya...besar juga nyalinya dan ia masih hidup? Bagaimana, mungkin! Tidak ada satu pun bangsa manusia yang selamat setelah terkena semburan racunku...apa dia keturunan bangsa siluman ular? Tetapi, aku tidak merasakan aura bangsa siluman ular dari dirinya...
Ucap Deviandra dalam bathin.
"Hegh! Ular siluman! Kita bertemu lagi...
Sapa seorang wanita yang tidak lain adalah Anna.
"Hem...kau lagi...apakah masih kurang aku menghajarmu sampai kau tidak berdaya? Bahkan, kau hampir mati ketika itu...suatu keajaiban kau dapat bertahan dari racunku...
Ucap Deviandra. Ternyata siluman ular yang ketika itu sedang bertarung dengan Anna adalah Deviandra. Saat itu, Deviandra ditugaskan oleh Nagadhini untuk mengawasi tanda-tanda kelahiran Nagini.
"Apa kau pikir racun lemahmu itu sanggup membunuhku?"
Ucap Anna.
"Kurang ajar, kau! Mulutmu memang perlu disumpal...matilah kau!"
Ucap Deviandra menyerang Anna. Pertarungan pun tidak dapat dihindarkan diantara kedunya. Hari ini Anna akan membalaskan dendamnya kepada Deviandra. Karena, Deviandra telah mengalahkan dirinya saat itu.
Pukulan-pukulan serta tendangan-tendangan dilancarkan oleh Anna kepada Deviandra. Namun, ternyata semua serangan-serangan tersebut dapat dipatahkan oleh Deviandra.
Ucap Anna marah karena sejak tadi Deviandra tidak membalas serangannya. Sedari tadi ia hanya menghindarinya. Dan, Anna tahu kalau Deviandra hanya berniat memancing amarahnya sehingga Anna melakukan kesalahan. Dan, Deviandra menemukan celah untuk memukul balik Anna. Lalu, akhirnya...
"Dhuakk!"
"Dhuakk!"
"Akh!"
Jeritnya. Anna terdorong beberapa langkah ke belakang. Deviandra memukulnya telak di kedua bahunya. Sehingga, membuat posisinya jadi semakin sulit.
Kekuatan siluman ini bertambah dua kali lipat dari hari terakhir kami bertemu...bagaimana mungkin dia dapat meningkatkan kekuatannya dalam waktu sesingkat itu?
Ucap Anna dalam bathin. Deviandra melihat ekpresi terkejut di wajah Anna.
"Mengapa? Kau terkejut? Aku dapat mematahkan seranganmu dengan mudah?"
Ucap Deviandra.
"Cih! Jangan senang dulu! Kau belum melihat semuanya!"
Ucap Anna.
"Oh! Kalau begitu, aku ingin lihat bagaimana kau dapat menaklukkanku dengan kekuatanmu yang lemah itu...
__ADS_1
Ucap Deviandra. Lalu, Deviandra pun bertarung kembali dengan Anna. Deviandra berinisiatif menyerang Anna terlebih dahulu. Dengan segenap tenaga ia menyerang balik Anna yang sebelumnya telah menyerang dengan kekuatan penuh.
Disinilah terjadi ketimpangan antara keduanya. Deviandra lebih unggul dibandingkan Anna. Sebab, Deviandra adalah merupakan bangsa siluman sedangkan Anna adalah manusia.
Perbedaan kekuatan diantara keduanya sangat mencolok. Dan, secara diam-diam dari atas sana ada sepasang mata yang memperhatikan itu semua. Dia adalah Aisha. Aisha sengaja datang dan melihat pertarungan diantara Anna dan Deviandra.
"Perbedaan kekuatan yang sangat mencolok...jika begini terus Anna akan terluka...siluman ular ini benar-benar kuat...
Ucap Aisha di kejauhan.
"Apakah, harus ikut campur atau apakah aku harus diam saja?"
Ucap Aisha.
"Akh, sudahlah lebih baik aku menonton saja...kelihatannya sungguh sangat seru melihat mereka bertarung...apalagi semangat keduanya benar-benar menggebu-gebu...
Ucap Aisha lagi. Dan, memang pertarungan tersebut semakin seru. Karena, kini Deviandra sudah berubah wujud. Ia berubah wujud menjadi seekor siluman raksasa. Ia mengibaskan ekornya ke arah Anna yang sejak tadi sudah siap dengan segala serangannya. Namun, serangan Deviandra hanya mengenai batang pohon disana.
"Dhuass...
"Krakk...krakk...
"Boom...
Pohon tersebut tumbang dan hampir menimpa tubuh Anna jika ia tidak segera menghindar.
"Huft! Hampir saja...kekuatannya semakin besar saja...aku harus menggunakan pedangku...
Ucap Anna.
"Ayolah, manusia! Kau akan menggunakan pedang rongsokan itu? Apa, kau ingin membuatku tertawa...
Ucap Deviandra.
"Diam kau, siluman! Pedangku ini akan menembus jantungmu!"
Ucap Anna. Lalu, Anna pun kembali menyerang Deviandra dengan pedang terhunus di tangannya. Anna menaiki tubuh siluman ular tersebut. Lalu, kemudian ia pun menancapkan pedangnya di jantung siluman ular tersebut. Deviandra menjerit kesakitan.
"Argghh!"
"Manusia! Tunggulah pembalasanku!"
Ucapnya sambil menjerit dan menghilang di balik kegelapan malam. Dan, disaat bersamaan Anna melihat Aisha sedang berdiri di atas bangunan rumah penduduk desa. Ia tersenyum ke arah Anna dan kemudian ia pun menghilang di balik kabut tipis yang kemudian hilang dibawa angin.
"Aisha...ternyata sejak tadi ia disana dan melihatku bertarung...dan akh, ia tiba-tiba menghilang begitu saja...kemana dia pergi...
Ucap Anna terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1