
Tetua Jenggot Putih merasa sedih dan menyesal tidak dapat mendidik Anna dengan baik. Ia pun meminta maaf kepada Aisha.
"Maafkan, kesalahan cucu hamba nyai."
Ucap sang tetua. Dan, Aisha menghela nafas lelah.
"Tidak apa-apa, tetua...itu bukan salahmu...Annalah yang tidak memahami diriku."
Ucap Aisha.
"Kalau begitu masalah ini anggap saja sudah selesai...hamba pergi dulu, nyai...sampai jumpa."
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Ya, tetua."
Ucap Aisha mempersilahkan tetua Jenggot Putih kembali bersama dengan seluruh anggota klannya. Sedangkan, Ankara beserta dengan yang lainnya masih tetap tinggal disana.
"Nyai, apa perlu kita memberi pelajaran kepada Anna?"
Usul Cintamani.
"Tidak perlu, Cintamani...ia hanyalah seorang manusia biasa...tidak perlu bertindak dan menyakitinya."
Perintah Aisha.
"Baiklah, nyai...hamba akan mendengarkan kata-kata, nyai."
Ucap Cintamani.
"Kalau begitu mari kita kembali."
Ucap Aisha. Dan, semuanya pun menyetujui Aisha untuk segera kembali bersama-sama. Sementara itu, di sisi lain. Anna yang masih tampak kesal memilih menyendiri ke tempat sepi yang tidak ada orang.
"Huh! Benar-benar menyebalkan! Mengapa, kakek lebih peduli pada Aisha dibandingkan diriku."
Ucap Anna berbicara sendiri.
"Seakan-akan gadis itu lebih penting dariku."
Ucap Anna lagi.
"Oh, rupanya kau sedang kesal juga ya?"
Ucap seseorang yang tiba-tiba menyambung kata-kata Anna. Anna terkejut, dan ia pun segera mewaspadai siapa orang yang sudah tiba-tiba saja menyambung kata-katanya.
"Siapa kau! Tunjukkan dirimu!"
Hardiknya.
"Ck...ck...ck...gadis manusia yang pemarah."
Ucap seorang lelaki yang baru keluar dari balik rerimbunan semak belukar.
"Memang aku gadis manusia yang pemarah! Memangnya mengapa? Apa, itu mengganggumu?"
Ucap Anna.
"Tentu saja, karena ini adalah wilayah kekuasaanku...dan aku sedang beristirahat disini...lalu, tiba-tiba kau datang sambil mengoceh tidak jelas."
Ucap lelaki tersebut.
"Wilayah kekuasaanmu? Hei, jangan bicara sembarangan."
Ucap Anna.
"Apa, kau tidak bisa membaca tulisan yang terukir di batu prasasti itu?"
Ucap sang lelaki misterius tersebut.
Batu prasasti? Perasaan dari tadi tidak ada batu prasasti...lalu, bagaimana tiba-tiba ada batu prasasti muncul?"
Ucap Anna dalam hati.
"Tadi tidak ada batu prasasti disana...bagaimana, bisa ada batu prasasti disana?"
Ucap Anna bingung dan heran.
"Baca tulisannya!"
Perintah lelaki tersebut.
__ADS_1
"Tulisan apa ini? Aku tidak paham!"
Ucap Anna.
"Itu tulisan aksara jawi kuno."
Ucap Richard yang tiba-tiba hadir disana.
"Richard? Kau mengikutiku sampai disini?"
Ucap Anna.
"Ya, kita adalah rekan An...jika, kubiarkan kau sendirian...bagaimana, aku menghadapi tetua nanti."
Ucap Richard.
"Oh, kukira siapa? Rupanya, siluman ular."
Ucap lelaki misterius tersebut.
"Dan, kau adalah siluman rubah."
Ucap Richard.
"Kau benar."
Ucap lelaki yang ternyata adalah siluman rubah tersebut.
"Siluman rubah, mengapa aku tidak menyadarinya?"
Ucap Anna.
"Dia adalah siluman rubah yang pandai menyembunyikan aura siluman...kau tidak akan tahu jika kau bukanlah siluman sebangsanya atau kau tidak memiliki ketajaman indera penglihatan seperti mata istimewa Dewi Ular."
Ucap Richard menjelaskan panjang lebar.
"Oh, jadi begitu? Lalu, tulisan prasasti itu apa?"
Tanya Anna.
"Tulisan itu adalah Kerajaan Rubah Ekor Sembilan."
Balas Richard.
Ucap Anna.
"Ya, dia termasuk dalam lima monster yang memiliki kekuatan menakjubkan...dia termasuk dalam ranking dua...dan, kekuatannya setara dengan Dewi Ular."
Ucap Richard.
"Oh, ya? Jika, dia ranking dua...lalu ranking satunya siapa?"
Tanya Anna penasaran.
"Tentu saja, Dewi Ular!"
Balas lelaki siluman rubah tersebut.
"Apa! Jadi, dia ranking satunya? Apa itu benar, Richard?"
Ucap Anna.
"Itu, benar An."
Ucap Richard.
"Ternyata, dia memang kuat...bahkan dia termasuk dalam kelompok monster yang berkekuatan menakjubkan...aku telah salah menilainya selama ini...bahkan, aku sering bertengkar dengannya."
Ucap Anna menyesal.
"Jadi, bagaimana ini Richard? Siluman itu sepertinya tampak waspada terhadap kita."
Ucap Anna lagi khawatir. Tidak pernah sekhawatir ini sebab memang Anna tidak bisa melawan siluman yang jauh lebih kuat darinya.
"Jangan khawatir! Aku akan mencoba untuk berbicara dengannya."
Ucap Ricahrd.
"Siluman Rubah! Kami tidak ada urusan denganmu...tolong, izinkan kami pergi."
Ucap Richard sopan.
__ADS_1
"Hahaha, melepaskan kalian pergi? Setelah, kalian memasuki wilayah kekuasaanku?"
Ucap lelaki siluman rubah tersebut.
"Siluman rubah, kami tahu kami salah telah memasuki wilayah kekuasaanmu...untuk itu, kami mohon maaf."
Ucap Richard kemudian.
"Maaf, boleh saja...kau boleh pergi, tetapi tinggalkan gadis manusia itu...aku akan menjadikannya pelayan diistanaku."
Ucap lelaki siluman rubah tersebut memprovokasi Richard.
"Kurang ajar, kau siluman rubah...terima ini!"
Ucap Richard yang akhirnya menyerang lelaki siluman rubah tersebut. Pertarungan diantara keduanya pun terjadi. Richard menyerang lelaki siluman rubah dengan segenap kekuatannya.
Setiap pukulan-pukulan diarahkan kepada lelaki siluman rubah dengan cepat dan ganas. Keunggulan sementara memang terlihat sementara pada Richard. Namun, Richard tidak tahu bahwa lelaki siluman tersebut hanya mengeluarkan 10% kekuatannya saja.
Anna yang hanya diam saja melihat hal tersebut. Tiba-tiba saja ia mengagumi Richard. Karena, baru kali ini ia melihat Richard bertarung dengan menggunakan seluruh kekuatannya demi membela dirinya. Harus ia akui ia sangat senang melihat Richard yang sekarang dibandingkan dengan yang dulu.
Richard bertarung dengan segenap kekuatannya demi aku...aku sangat kagum melihatnya membelaku.
Ucap bathin Anna. Sedangkan, pertarungan semakin seru untuk diikuti lebih lanjut. Lelaki siluman rubah akhirnya melepaskan satu pukulan ke arah dada Richard dan...
"Whussh."
"Dhuakh."
"Akh."
Richard meringis menahan rasa sakit di dadanya. Anna sangat terkejut melihat hal tersebut.
"Dasar, rubah sialan! Terima seranganku!"
Ucap Richard yang menyerang lelaki siluman rubah tersebut kembali.
"Matilah!"
Ucap sang lelaki siluman rubah yang tiba-tiba saja mengeluarkan satu jurus dari jari-jari tangannya dan menghantam tubuh Richard sehingga membuatnya terlempar jauh.
"Whusshh."
"Akh!"
"Dasar, rubah ku...rang...a...jar."
Ucap Richard terbata.
"Apa! Richard kalah?"
Ucap Anna terkejut tidak percaya.
"Hegh! Menghadapi serangan tingkat rendah saja kau sampai seperti ini...sudahlah, tidak asyik bermain denganmu...ayo, gadis manusia? Ikut aku!"
Ucap lelaki siluman rubah tersebut kemudian membawa Anna pergi masuk ke alam kerajaan siluman rubah ekor sembilan.
Anna memberontak tidak ingin pergi, namun apa daya kekuatan lelaki siluman rubah tersebut sangat kuat. Bahkan, Richard sebangsa siluman sekelas pangeran saja pun kalah di hadapannya.
"Tidak! Aku tidak mau! Richard, tolong aku!"
Ucapnya meminta tolong kepada Richard.
"Percuma saja kau meminta pertolongannya."
Ucap lelaki sang siluman rubah tersebut dengan senyum kemenangan terlukis di bibir tipisnya.
"Lepaskan, Anna! Hei, rubah pengecut!"
Ucap Richard berusaha untuk mengejar lelaki siluman rubah tersebut akan tetapi gagal. Richard tidak cukup memiliki kekuatan untuk menolong Anna yang dibawa pergi oleh siluman tersebut. Richard mengutuk dirinya sendiri.
"Aku memang lemah! Bahkan, aku tidak bisa menolong rekanku sendiri."
Ucapnya sambil memukulkan tinjunya ke tanah.
"Anna, aku pasti datang untuk menolongmu...akan kuberi kabar ini kepada Aisha...sebab, aku tidak memiliki muka untuk berhadapan dengan ayahmu dan juga tetua."
Ucap Richard yang kemudian segera meninggalkan alam siluman rubah ekor sembilan. Richard segera pergi untuk menemui Aisha dan menceritakan tentang kondisi Anna yang sedang berada di tangan lelaki siluman rubah. Dan, ingin menjadikan Anna sebagai pelayannya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
__ADS_1
Cover