NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 84. Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Penyelidikan Cintamani dan Joko...


Di sebuah tempat, dekat laut. Banyak sekali tebing terjal di sekitar laut. Cintamani melihat ke sekeliing. Joko hanya memperhatikannya saja.


"Mengapa, kau melihat kesana kemari?"


Tanya Joko.


"Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini."


Balas Cintamani.


"Kalau begitu, langsung saja serang titik pusatnya."


Ucap Joko.


"Baiklah."


Ucap Cintamani dan ia pun segera menyerang titik pusat tempat tersebut.


"Srakk...brakk."


"Akh."


Lalu, terdengar suara jeritan kesakitan dari seorang bangsa siluman yang berbentuk kelelawar.


"Kena."


Ucap Cintamani, kemudian ia mendekati tubuh sosok siluman kelelawar tersebut.


"Ternyata kau bersembunyi disini...cepat, katakan! Dimana gulungan Peta dan dokumen kerajaan!"


Ucap Cintamani.


"Kedua benda yang kau katakan itu, sudah tidak berada di tanganku lagi!"


Ucap siluman tersebut.


"Bohong! Kau berbohong kepadaku...apa, kau tahu apa hukumannya bagi seorang pembohong?"


Ucap Cintamani.


"Apa?"


Ucap siluman kelelawar.


"Kematian!"


Ucap Cintamani.


"Ja...jangan bunuh aku! Aku akan mengatakan kepadamu dimana kedua benda yang kau maksud itu."


Ucap siluman kelelawar.


"Katakan!"


Ucap Cintamani dengan mata melotot.


"Iy...iya...akan aku katakan!"


Ucap siluman tersebut.


"Kedua benda tersebut sudah diambil kembali oleh seekor ular wanita raksasa yang bernama Nyai Nagadhini."


Ucap siluman kelelawar.


"Apa! Nyai Nagadhini?"


Ucap Cintamani.


"Aku sudah mengatakannya kepadamu! Sekarang, lepaskan aku."


Ucap siluman kelelawar. Cintamani menoleh kepada suaminya yang sejak tadi hanya diam menyaksikan.


"Bagaimana, kakang?"


Tanya Cintamani.


"Habisi saja."


Balas Joko.


"Eh? Jangan! Aku...aku masih berguna bagi kalian...aku bisa membantu kalian."


Ucap siluman kelelawar.


"Apa kau tahu? Tidak ada pengampunan, bagi orang yang telah berani menerobos istana nyai Dewi."


Ucap Cintamani yang sejurus kemudian ia pun membunuh siluman kelelawar tersebut dan menarik keluar jantungnya.


"Ck, tanganku jadi kotor karena dirimu."


Ucap Cintamani.


"Diajeng, tanganmu yang kotor masih dapat dibersihkan...tetapi, musuh berkarat dosa seperti Nagadhini meski pun ia membersihkan diri berulangkali...tetap saja, dirinya tidak akan pernah bersih dari dosa."


Ucap Joko.


"Ya, kau benar kakang."


Ucap Cintamani.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana? Apakah, kita harus mengejar Nagadhini atau kita kembali melaporkan hal ini kepada nyai Dewi."


Ucap Cintamani.


"Kita laporkan hal ini kepada nyai Dewi."


Usul Joko.


"Baiklah, kakang!"


Ucap Cintamani menuruti kata-kata suaminya. Lalu, sepasang pasutri tersebut kembali menemui Aisha di rumah Alina.


"Nyai, kami datang menghadap!"


Ucap kedua pasutri tersebut sambil membungkuk memberi hormat.


"Bangunlah!"


Ucap Aisha.


"Apa, sudah ada hasilnya?"


Tanya Aisha.


"Sudah, nyai."


Balas Cintamani.


"Katakan, kepadaku."


Ucap Aisha.


"Kami sudah bertemu dengan siluman tersebut, nyai."


Lapor Cintamani.


"Lalu?"


Tanya Aisha.


"Siluman itu berkata, kalau kedua benda sudah tidak berada di tangannya lagi."


Jawab Cintamani.


"Lalu, ada dimana kedua benda tersebut."


Ucap Aisha.


"Nagadhini, sudah mengambil kedua benda tersebut nyai?"


Ucap Cintamani.


Ucap Cintamani lagi.


"Dan, siluman itu? Apa, yang terjadi dengannya."


Ucap Aisha.


"Kami membunuhnya, nyai...atas kesalahannya menerobos istana Dewi Ular!"


Ucap Cintamani.


"Bagus! Dia memang pantas mati"


Ucap Aisha.


"Lalu, apakah yang harus kita lakukan nyai?"


Tanya Cintamani.


"Untuk sementara ini, tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan...biar urusan Nagadhini aku yang mengurusnya...kalian kembalilah ke istana!"


Perintah Aisha.


"Baiklah, nyai?"


Ucap Cintamani. Kemudian, Cintamani dan Joko Asmoro segera kembali ke istana. Di istana mereka bertemu dengan Ankara dan Richard.


Richard setelah menemui Deviandra di sebuah gua. Ia memilih segera kembali ke istana Dewi Ular untuk melihat keadaan Ankara yang masih belum pulih dari luka dalamnya.


"Bukankah, kau Richard? Teman bertarung suamiku?"


Ucap Cintamani kepada Richard ketika ia memasuki ruangan peristirahatan Ankara.


"Ya, dia adalah kakakku Cintamani? Pangeran Zham!"


Ucap Ankara menyela.


"Apa! Dia pangeran Zham?"


Ucap Cintamani terkejut.


"Ya, kau terkejut?"


Ucap Ankara.


"Itu sudah pasti."


Ucap Joko yang tiba-tiba memasuki ruangan untuk menjenguk Ankara.


"Bukankah, ini masa reuni yang menegangkan?"

__ADS_1


Ucap Joko lagi.


"Apanya, yang menegangkan! Dia saja yang tidak memberitahu kita siapa dia yang sebenarnya."


Ucap Cintamani.


"Aku memang sengaja menyembunyikan identitas diri...sayangnya, hal itu tidak berlaku di hadapan mata istimewa Aisha."


Ucap Richard.


"Ya, tentu saja...mata istimewa milik nyai Dewi memang memiliki kekuatan yang luar biasa."


Ucap Cintamani.


"Dan, siapa pun tidak dapat bersembunyi dari mata istimewanya...bahkan sang iblis pun...bila ia terlepas dari segelnya...maka nyai Dewilah yang akan menjadi lawannya."


Ucap Joko Asmoro.


"Ya, kau benar Joko!"


Ucap Ankara.


"Lalu, bagaimana hasil dari misi kalian...kudengar dari Richard kalian diberi misi oleh Aisha."


Tanya Ankara.


"Misi sukses dijalankan...akan tetapi, kedua benda tidak bisa didapatkan kembali."


Balas Cintamani.


"Karena ulah, Cintamani?


Tebak Richard.


"Ya, kau benar sekali gusti pangeran?"


Ucap Cintamani.


"Dia itu sejak dulu memang tidak pernah berubah!"


Ucap Richard sambil mengenang masa lalu. Disaat zaman yang sudah berlalu ribuan tahun yang lalu. Ketika, saat-saat indah yang terukir diantara mereka bertiga masa itu.


Diantara cinta dan persahabatan. Dan, siapa sangka jika akhirnya harus musnah karena nafsu serakah Nagadhini yang menginginkan segalanya ada di sisinya.


"Kakak! Sudah, tidak perlu mengenangnya."


Ucap Ankara menepuk pundak Richard.


"Itu benar, itu sudah lama berlalu!"


Ucap Joko.


"Eh? Darimana, kakang tahu?"


Ucap Cintamani.


"Gusti pangeran Ankara yang menceritakan segalanya kepada kakang."


Ucap Joko.


"Oh, jadi begitu? Gusti pangeran hanya menceritakannya saja kepada kakang Joko Asmoro?"


Ucap Cintamani.


"Hehe...bagaimana lagi, aku tidak mungkin mencetitakannya kepadamu."


Ucap Ankara.


"Ya, aku tahu itu...agar tidak menimbulkan kesalapahaman antara aku dan kakang Joko, bukan?"


Ucap Cintamani. Dan, Ankara menganggukkan kepalanya.


"Sudahlah, tidak perlu diributkan lagi...jamuan makan sudah disiapkan!"


Ucap Richard sambil menoleh melihat sang dayang istana datang dengan membawa makanan untuk Ankara.


"Gusti pangeran, ini makanan untuk gusti."


Ucap dayang tersebut sambil meletakkan makanan di hadapan Ankara.


"Gusti pangeran Zham? Jamuan sudah disiapkan! Mari ikuti saya."


Ucap dayang tersebut.


"Baiklah, mari semuanya."


Ajak Richard kepada Cintamani dan Joko Asmoro. Dan, mereka pun segera berlalu dari hadapan Ankara. Ankara menarik nafas lelah.


Ia masih ingat bagaimana dulu Cintamani memaksanya untuk menikah dengannya. Sampai akhirnya terjadi pertarungan dahsyat antara Aisha dan Cintamani masa itu.


Cintamani dikalahkan oleh Aisha yang menjelma dengan wujud sempurna dan menyemburkan racun mematikan yang ganas untuk membunuh Cintamani.


Bila mengingat masa itu sungguh merupakan hal yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Oleh sebab itu, Ankara tidak ingin sembarangan bertindak dan tidak ingin terlalu dekat dengan Cintamani.


Sebab, ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara kedua pasutri tersebut. Rasa cemburu pasti ada di antara pasangan suami dan istri. Dan, Ankara ingin menjaga semua itu agar tidak terjadi masalah di masa depan.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR


__ADS_1


__ADS_2