
Dunia Ular...
Zham dan Ankara semakin tidak mengerti dengan semua keadaan yang telah terjadi dengan keluarga Lovita. Apalagi, Ankara ia pun sesungguhnya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi sebenarnya. Akam tetapi, firasatnya mengatakan bahwa akan ada bencana besar di Dunia Ular. Dan, hal tersebut akan terjadi tidak lama lagi.
Sebab, Nagadhini memang sudah merencanakan segalanya. Dan, ia ingin sekali cepat-cepat menggulingkan kekuasaan Dewi Ular. Agar ia dapat, menjadi penguasa tertinggi menggantikan dinasti pemerintahan Ular Cobra. Dan, Mani merah milik Dewi Ular beserta tawanan ibu Dewi Ular, Archa Sevadha sudah ada di tangannya. Ia pun tidak sabar lagi menantikan hari itu tiba tidak lama lagi.
"Aku benar-benar tidak sabar lagi, untuk segera menggulingkan kekuasaan Dewi Ular...mani merah ada di tanganku beserta juga Archa Sevadha...hahaha...
Ucap Nagadhini tertawa senang dan bahagia. Lalu, ia pun segera mengumpulkan para Ratu Ular ke Istana Dewi Ular. Ia mengirimkan undangan untuk para Ratu Ular agar dapat memenuhi undangan darinya. Karena, itu ia pun segera menyamar kembali menjadi Archa Sevadha demi meluluskan niat jahatnya. Ia ingin mengelabui pandangan mata para Ratu Ular dan memperdaya mereka agar mereka berbalik mendukung dirinya dan menggulingkan kekuasaan Dewi Ular.
Sementara itu, di sisi lain. Di sebuah hutan yang sunyi. Angin bertiup perlahan, tidak terlalu kencang sehingga menggoyangkan dedaunan dan pepohonan di hutan. Suaranya yang sedikit berisik mengusik seseorang yang terbaring pingsan. Dan? Tubuh tersebut tidak lain adalah Baba. Ia pingsan setelah Nagadhini berhasil merebut Mani merah milik Dewi Ular.
Baba tersadar dari pingsannya karena suara dedaunan yang bergoyang ditiup oleh angin. Baba memegang kepalanya yang masih terasa berat. Ia merasakan pusing yang sangat di bagian kepalanya. Lalu, ia pun mencoba untuk bangkit dan berdiri. Memang rasa pusing masih menyerangnya.
"Aku...harus segera memberitahu Dewi Ular kalau Mani merah berhasil direbut oleh Nagadhini...dan aku juga harus mengatakan kepadanya bahwa yang membunuh seluruh anak cucu keturunanku adalah Nagadhini...
Ucap Baba. Kemudian, Baba pun mencoba merubah wujudnya menjadi siluman ular. Akan tetapi, ternyata dia tidak dapat merubah wujudnya kembali menjadi siluman ular. Ia pun mengutuk dirinya sendiri.
"Sial! Baba, kau memang bodoh! Mengapa kau masih saja tidak mengerti...kalau Mani merah sudah berpindah tangan...dan yang memiliki Mani merah tersebut sekarang adalah Nagadhini...arghh...Nagadhini sialan!"
Ucap Baba emosi karena ia sudah gagal menjaga dan melindungi Mani merah milik Dewi Ular.
"Aku kalah, Dewi Ular...bahkan aku tidak bisa menjaga hal penting darimu...aku menyesal...aku gagal Dewi Ular...
Ucapnya sambil meratap kecewa. Ketika, Baba sedang meratap karena ia telah gagal menjaga Mani merah milik Dewi Ular. Tiba-tiba saja, ia dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita yang sangat dikenalnya. Dan, wanita anggun tersebut memandangi dirinya. Untuk sesaat Baba pun terdiam membisu tertunduk malu terhadap sosok wanita anggun yang sangat dikenalnya tersebut.
Ia tidak berani berucap sepatah kata karena mengingat kegagalannya menjaga Mani merah milik Nagini. Ia diam seribu bahasa. Sehingga, akhirnya sosok wanita tersebut yang ternyata Nagini tersebut membuka suara terlebih dahulu. Dan, Nagini terlihat bingung melihat keadaan Baba yang tidak memiliki aura Mani merah miliknya.
"Apa yang terjadi Baba, mengapa aku tidak dapat merasakan aura Mani merah milikku...dimanakah itu, Baba? Bukankah, kau akan menggunakannya untuk tapa brata yang akan kau jalani?"
Ucap Nagini.
"Maafkan aku, Dewi Ular! Maafkan, atas kegagalanku menjaga Mani merah milikmu...
Ucap Baba.
"Apa! Apa maksudmu, Baba!"
Tanya Nagini.
"Dewi Ular, Mani merah telah direbut oleh Nagadhini...
Jawab Baba. Mendengar nama Nagadhini disebut seketika membuat Nagini tersentak kaget.
"Apa! Apa yang baru saja kau katakan, Baba! Nagadhini? Mani merah milikku direbutnya?"
Ucap Nagini terkejut.
"Iya, Dewi Ular...dan aku tidak tahu apa tujuannya dengan Mani merah milikmu tersebut...
Ucap Baba lagi.
"Sudah pasti untuk tujuan jahatnya, Baba...
__ADS_1
Ucap Nagini.
"Pasti dia ingin menggulingkan kau dari kekuasaanmu, Dewi Ular...
Ucap Baba.
"Bagaimana kau tahu tentang hal tersebut, Baba?"
Tanya Nagini.
"Sebab, dia pernah mengatakannya kepadaku...bahwa dia ingin sekali menjadi penguasa tertinggi di Dunia Ular...dia ingin menggulingkan dinasti Ular Cobra...
Jawab Baba.
"Apa! Jadi itu, alasannya saat itu para kaki tangannya meminta paksa Intisari Kehidupan dariku?"
Ucap Nagini.
"Iya, Dewi Ular...saat itu mereka membuat rencana...untuk merebut Intisari Kehidupan darimu Dewi Ular...tetapi rencananya gagal...lalu ia pun menyusun rencana lain kembali, Dewi Ular...dan aku tidak tahu lagi entah rencana apa yang ada di dalam pikirannya...dengan menggunakan Mani merah milikmu...
Ucap Baba panjang lebar.
"Aku merasa ada hal yang buruk yang akan terjadi, Baba...sepertinya Nagadhini ingin menggunakan Mani merah milikku untuk mengumpulkan dukungan terhadap dirinya...dengan cara itu maka ia akan dapat menggulingkan kekuasaanku dengan mudah...
Ucap Nagini.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang Dewi Ular...
Ucap Baba.
Ucap Nagini.
"Siapa, Ankara...Dewi Ular...
Ucap Baba.
"Ankara adalah adiknya Zham...cari dia di dunia manusia...cepatlah...waktu kita tidak banyak...
Ucap Nagini.
"Baiklah, Dewi Ular...
Ucap Baba. Setelah, berkata demikian Baba dan Dewi Ular pun berpisah. Masing-masing pergi dengan tujuannya masing-masing. Nagini pergi ke istana Dewi Ular sedangkan Baba pergi ke dunia manusia untuk menemui Ankara, adik Zham. Tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya sebab suasana semakin panas, sebab Nagadhini selalu mencari masalah dengan Nagini.
...****************...
Dunia manusia...
Zham dan Ankara sedang berada di reruntuhan rumah Lovita sedangkan seluruh mayat-mayat dari keluarga termasuk Lovita sendiri sudah dikebumikan. Terlihat wajah Zham yang kacau, karena kematian Lovita. Sesungguhnya ia kasihan terhadap Lovita. Ia telah menjadi korban keganasan makhluk siluman ular. Yang telah merenggut nyawanya dan keluarganya.
Ankara yang melihat kesedihan hati Zham ia pun paham dan mengerti bahwa sesungguhnya Lovita sangat berarti bagi Zham. Meskipun, ia tahu bahwa Zham masih sangat mencintai Nagini. Zham hanya menganggap bahwa Lovita hanyalah teman sekaligus sahabat baiknya. Ankara menarik nafas lelah.
"Lalu, setelah ini apa kak...
__ADS_1
Tanya Ankara.
"Kita cari, Naghi...
Balas Zham.
"Kemana kita akan mencarinya?"
Tanya Ankara lagi.
"Dunia Ular..
Jawab Zham pendek.
"Kalau begitu baiklah...ayo segera kita pergi kesana...
Ucap Ankara. Setelah, Zham dan Ankara memakamkan Lovita beserta keluarganya. Mereka berdua pun langsung pergi ke Dunia Ular untuk mencari Dewi Ular. Akan tetapi, ketika mereka akan pergi mereka bertemu dengan Baba yang sudah menghadang langkah mereka.
Melihat kedatangan Baba mereka berdua pun saling pandang. Seketika, Zham dan Ankara pun waspada. Mereka tidak tahu entah apa lagi yang akan dilakukan oleh Baba. Sedangkan, Baba yang melihat aksi waspada Ankara dan Zham akhirnya ia pun mengerti. Ankara dan Zham tidak senang melihat kedatangannya di tempat tersebut.
"Hei...tenang...aku tidak bermaksud jahat terhadap kalian...
Ucap Baba.
"Baba, kau adalah manusia jahat...siapa yang tahu maksud hatimu yang tersembunyi?"
Ucap Zham.
"Acha...ya, dulu aku memang sangat jahat...tetapi sekarang aku sudah berubah...lihat aku tidak akan menyerang kalian...
Ucap Baba.
"Baba, sudah seribu tahun berlalu sejak kejadian tersebut...apa kau pikir aku akan melupakannya begitu mudah...tentang perbuatanmu yang memisahkanku dari kekasihku...apakah dapat kau bayangkan betapa pedihnya apa yang kau lakukan terhadap diriku...
Ucap Zham.
"Aku minta maaf untuk perbuatanku saat itu kepadamu dan Dewi Ular...akan tetapi ada masalah yang lebih penting saat ini...
Ucap Baba
"Berbicara dan meminta maaf itu sangat mudah untuk dilakukan, Baba...tetapi efeknya begitu menyakitkan...apa kau sadar itu!"
Ucap Zham dengan nada suara yang meninggi.
"Aku sadar...dan aku sudah mengakui semua kesalahanku...kumohon dengarkan aku dulu...
Ucap Baba.
"Cih...tidak perlu mengelak Baba...terimalah seranganku...
Ucap Zham sambil menyerang Baba dengan membabi buta. Dan, mau tidak mau Baba pun menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh Baba. Zham yang marah terhadap Baba, sudah tidak dapat mengontrol emosinya lagi. Ankara yang melihat hal tersebut ia hanya menggelengkan kepalanya saja. Menurutnya, Baba datang dengan tujuan baik. Akan tetapi, Zham menanggapi lain kedatangan Baba.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI, DEWI ULAR