
Zham dan Nagini sedang jalan-jalan di sekitar taman bunga. Sesekali, mereka tertawa riang dengan canda dan tawa mereka berdua. Ankara yg melihat keakraban keduanya menjadi benar-benar sangat marah. Ia sudah memberi peringatan kepada Nagini. Tetapi, ternyata Nagini tak mengindahkannya.
Ingin sekali ia memberi pelajaran kepada wanita tersebut. Tetapi, tidak bisa karena kakaknya selalu berada di sisinya. Sejujurnya, ia tidak punya masalah terhadap Nagini akan tetapi, ia tidak ingin hubungan kakaknya dengan Lovita mendapat gangguan dari Nagini. Ankara, benar-benar kesal karena ia tidak ingin melukai Nagini. Karena, Nagini adalah wanita.
"Uhhh, sial! Naghi benar-benar wanita yg tidak tahu diri...berani-beraninya dia menggoda kakakku...padahal aku sudah memperingatkannya...
Ucap Ankara kesal.
Sementara, itu senyum indah terlukis di bibir Nagini dan Zham. Nagini sangat senang Zham mau menemaninya seperti saat ini. Tidak ada siapa pun yg mengganggu kecuali Ankara. Ankara yang memang sejak tadi sangat kesal melihat keakaraban kakaknya dan Nagini selalu saja berusaha mencari celah agar Nagini tidak bisa mendekati kakaknya.
Contohnya, seperti saat ini ia mengatakan kalau Lovita tadi yang meneleponnya. Padahal, ia sendiri yang menelepon Lovita. Untuk, mengacaukan kebersamaan Zham dan Nagini. Ia langsung, menemui kakaknya yg pada saat itu sedang bercengkerama dengan Nagini.
"Kak, tadi kak Lovita telepon...
Katanya.
"Lovita, telepon...
Ucap Zham.
"Iya, kak...
Ucap Ankara.
"Apa, katanya?"
Tanya Zham.
"Dia merajuk, katanya kakak jarang menghubunginya...
__ADS_1
Jawab Ankara.
"Oh, iya...kakak lupa...untuk selalu menelepon dia...Naghi, tunggu sebentar ya? Aku mau telepon pacarku, dulu...
Ucap Zham.
"Oh, iya...pergilah...
Ucap Nagini dengan senyum terpaksa.
Setelah, kakaknya pergi. Ankara, yg masih berada disana bersama Nagini benar-benar senang. Kakaknya tersebut benar-benar mudah di bohongi. Ia menatap Nagini, dengan pandangan tajam. Nagini, bukannya takut. Nagini, hanya tidak ingin berurusan dengan Ankara yg sejak awal tidak menyukai dirinya. Jadi, lebih baik ia memilih pergi meninggalkannya disana. Namun, apa yang terjadi saat Nagini hendak pergi. Tiba-tiba, saja Ankara menghadangnya. Dengan, berkacak pinggang ia berkata...
"Mau kemana kau!"
Tanya Ankara.
"Mau, kemana bukan urusanmu, Ankara!"
"Oh, ya? Tentu, hal ini akan jadi urusanku! Jika, itu menyangkut kakakku! Naghi, aku sudah memperingatkanmu...apakah, itu belum cukup?"
Ucap Ankara sembari menundukkan kepalanya dan menghadap wajah Nagini. Nagini tersentak kaget! Perlahan, ia memundurkan wajahnya. Mendapati hal itu, Ankara hanya tersenyum mengejek.
"Mengapa? Tidak, suka melihat wajahku? Atau, tidak suka melihat wajahku terlalu dekat? Atau, mungkin kau lebih suka jika wajah kakakku yang ada di hadapanmu...
Ucap Ankara.
"Serr!"
Darah Nagini, berdesir. Ia memalingkan wajah.
__ADS_1
Sialan! Bagaimana, bisa ia menebak isi hatiku?
Ucap Nagini dalam hati.
"Hei, Naghi!"
Panggil Ankara.
Nagini, diam tak menjawab pertanda ia sedang berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Melihat, hal itu Ankara tersenyum senang.
Akhirnya, ada kesempatan!
Ucap hati Ankara.
Ia mulai bergerak membaui tubuh Nagini. Namun, pada saat ia melakukan hal tersebut, tiba-tiba saja Nagini memalingkan wajahnya kembali. Alhasil, bibir Ankara yg sedang membaui tubuh Nagini itu pun bertemu dengan bibirnya Nagini. Lalu.....
"Cup!"
Nagini terkejut!
Demikian juga, Ankara. Darah mereka berdesir. Ankara seperti pernah merasakan perasaan familiar tersebut. Begitu pun juga Nagini. Sepertinya, ia juga pernah merasakannya yaitu pada saat dulu ia masih bersama Zham, Pangeran Ular yg telah tiada. Sesaat, pandangan mata mereka bertemu. Dan, untuk sesaat itu pula.
Nagini terpesona oleh tatapan penuh tanya di mata Ankara. Demikian, juga Ankara ia pun terpesona oleh tatapan mata indah itu. Namun, hanya sesaat saja. Setelahnya, mereka pun akhirnya sadar dan Nagini mendorong tubuh Ankara. Kemudian, ia lari masuk ke dalam rumah. Ia menenangkan perasaan hatinya yg seakan ingin meledak keluar.
Hal, yg sama pun terjadi pada Ankara. Ia juga mencoba menenangkan perasaan hatinya sendiri. Belum pernah, ia menyentuh bibir wanita mana pun. Tidak, disangka ia malah mencium bibir Nagini itu pun secara tidak disengaja. Namun, mengakibatkan hal yang fatal kepada dirinya. Ia menjadi teringat akan bibir indah Nagini. Ia menjadi teringat akan raut wajah wanita cantik itu.
Perlahan-lahan, benih-benih itu mulai tumbuh di hatinya. Dan, secara perlahan pula ia sering sekali mengintip Nagini secara diam-diam pada saat apa pun. Baik itu saat makan, saat Nagini sedang memasak, atau saat Nagini sedang sendiri menatap bulan yg menggantung di atas langit. Ia sering mendapati Nagini sering menangis sendiri. Dan, entah mengapa ia juga dapat merasakan perasaan yang sama dengan Nagini.
Ada rasa sesak dan sedih di dada. Tetapi, ia tidak tahu apa itu. Seakan, ia memiliki kontak bathin dengan Nagini. Seakan, dapat merasakan kesedihannya. Ankara ingin sekali menghiburnya. Tapi, ia takut Nagini akan menolak dirinya. Sementara, yang ada di mata Nagini hanyalah Zham seorang. Ankara tahu tentang perasaan Nagini kepada Zham.
__ADS_1
Namun, Ankara mencoba mencegah adanya hubungan antara Zham dan Nagini. Karena, sesungguhnya ia sudah mulai menaruh rasa terhadap Nagini. Semenjak, ia tidak sengaja mencium bibir Nagini. Ia tahu, itu adalah kecelakaan. Tapi, akibatnya benar-benar sangat fatal bagi dirinya. Dan, semenjak itu pula Ankara tidak pernah lagi bersikap kasar kepada Nagini.