
Cintamani Manikmaya bagaikan orang bodoh di hadapan Nagini. Ia dipermainkan habis-habisan oleh Nagini. Dan, setiap serangannya selalu dapat dipatahkan dengan mudah oleh Nagini. Pertarungan tak seimbang itu memang seru. Namun, terlihat ketimpangan di antara Nagini dan Cintamani. Yang mana, Nagini jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan Cintamani.
Cintamani selalu kalah oleh Nagini. Dan, Nagini merasa senang sudah merebut pusaka pedang ular beracun dari tangan Cintamani. Pusaka miliknya yang ia berikan kepada seorang yg berjasa di dalam melestarikan kehidupan para siluman ular menjadi lebih baik dan tak tersentuh tangan jahil manusia. Pedang itu ia berikan kepada Ragapati. Ayah dari Cintamani Manikmaya. Tapi, entah bagaimana pedang itu bisa berada di tangan Cintamani.
Senyum sinis terukir di wajah cantik Nagini. Ia merasa senang sudah berhasil mengambil kembali pedang ular beracun dari tangan Cintamani Manikmaya. Cintamani heran bagaimana bisa pedang itu berpindah tangan. Ia tidak tahu bahwa pemilik asli dari pusaka itu adalah Dewi Ular, Nagini.
"Ba....bagaimana bisa, pedang itu berpindah tangan?"
Ucap Cintamani dalam hati.
Nagini melihat raut heran terukir di wajah Cintamani. Nagini merasa puas.
"Kau pasti berpikir. Bagaimana bisa pedang ini berpindah tangan, bukan?"
Ucap Nagini. Cintamani diam tidak bersuara.
"Huh! Kau pasti melakukan suatu trik...agar pedang itu, berpindah ke tanganmu!"
Ucap Cintamani.
"Apa katamu? Trik?"
Ucap Nagini. Nagini tertawa lebar ketika ia mendengar kata-kata Cintamani barusan.
"Hahaha"
"Mengapa kau tertawa, sialan?"
Ucap Cintamani.
"Hmph! Asal kau tahu saja, pusaka ini adalah milikku."
Ucap Nagini.
"Apa! Jangan, sembarang mengaku-ngaku kalau kau adalah pemiliknya yg asli...pemiliknya adalah ayahku, Ragapati."
Ucap Cintamani.
Apa? Ragapati? Oh, jadi dia adalah putrinya ki Ragapati rupanya...sayang sekali, dia tidak bisa bersikap bijaksana dan waspada sedikit pun.
Batinnya.
"Mengapa bengong? Takutkah, kau setelah mendengar nama ayahku?"
Ucap Cintamani.
"Kurang ajar! Beraninya kau berlaku tidak sopan padaku...seorang bawahan rendahan...sungguh berani kau mengataiku takut pada ayahmu? Asal kau tahu saja, Cintamani Manikmaya...sedikit pun aku tidak ada rasa takut pada siapa pun! Apalagi, ayahmu. Ki Ragapati! Sekarang, terima ini!"
Ucap Nagini. Nagini sangat marah sekali pada Cintamani. Ia menyerang Cintamani dengan mengayunkan pedang tersebut.
__ADS_1
"Whusss....!"
Satu ayunan dari pedang itu mengeluarkan hawa panas beracun yang mana apabila mengenai sasarannya maka rasa sakitnya bagaikan digigit ribuan ekor ular yg paling beracun. Nagini benar-benar sangat marah. Kali ini ia tidak dapat mengontrol emosinya lagi. Satu ayunan dari pedang tadi mengenai langsung lengan Cintamani. Cintamani mengaduh kesakitan.
"Akhh."
Cintamani meringis kesakitan sambil memegangi lengannya. Melihat Cintamani kesakitan tak membuat Nagini menghentikan serangannya. Justru semakin membuatnya semakin melancarkan serangan keduanya.
"Whussss...!"
"Akhh...!"
Cintamani semakin merasakan rasa sakit yg luar biasa menggerogoti tubuhnya secara perlahan.
Arghhh! Sialan! Sakit sekali...perempuan itu benar-benar ingin menghabisiku...rasanya, aku benar-benar marah.
Ucap hatinya.
"Naghi! Kau memang cari mati! Kau sudah menyakitiku! Akan kuhabisi kau, sekarang juga!"
Ucapnya tiba-tiba merubah wujudnya menjadi seekor ular raksasa dengan bentuk separuh manusia dan separuh ular.
Melihat perubahan wujud Cintamani tidak membuat Nagini takut. Justru, Nagini tersenyum sinis.
"Heh! Akhirnya, kau menampakkan wujud aslimu...mengapa, tidak dari tadi sih? Benar-benar menyebalkan! Baiklah, kalau begitu. Aku tidak akan sungkan lagi."
Dan, dalam sekejap pedang itu berubah wujud menjadi seekor ular cobra hitam raksasa. Lalu, Nagini naik di atas kepala ular tersebut. Kini, tinggi mereka sama. Melihat hal tersebut sungguh membuat amarah di hati Cintamani kian membuncah. Ia langsung menyerang Nagini secara membabi buta. Ia mengibaskan ekornya ke arah ular cobra hitam jelmaan pedang ular beracun. Namun, dengan sigap ular itu mengelak. Dan, kibasan ekor Cintamani mengenai pohon kelapa yg ada disana. Pohon itu pun tumbang dan jatuh ke tanah.
"Kraaaakkkk."
"Boommmm."
Suara pohon kelapa yg terkena kibasan ekor Cintamani menimbulkan suara gaduh dan berisik. Hingga membangunkan Ankara yg sedang tertidur pulas. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia pun segera bangun dan mengintip dari jendela kamarnya. Dari celah jendela kamarnya ia melihat dua ekor ular raksasa sedang bertarung habis-habisan. Ia juga melihat pohon kelapa yg tumbang dan rusak berat akibat kibasan ekor Cintamani. Ankara segera keluar dari kamarnya. Ia merubah tubuhnya ke bentuk ular agar ia bisa keluar dari celah jendela tanpa harus melewati pintu.
Saat ia sampai di luar, segera ia merubah bentuknya lagi dan langsung bersembunyi di balik pohon besar yg ada di halaman rumahnya. Dari tempat persembunyian tersebut ia dapat melihat dengan jelas pertarungan dahsyat antara Nagini dan Cintamani. Ia juga dapat melihat perbedaan jauh kekuatan Cintamani dan Nagini. Karena, ia melihat Nagini lebih dapat menguasai keadaan di pertarungan tersebut dibandingkan dengan Cintamani.
Cintamani semakin terdesak karena Nagini terus memojokkan dirinya. Cintamani pun menggunakan jurus terakhirnya yaitu mengubah bentuknya lagi menjadi bentuk ular seutuhnya. Nagini melihat bahwa Cintamani memang sudah siap mati di tangannya. Segera saja, ia turun dari kepala ular raksasa tersebut. Dan, ia mengangkat tangannya ke atas dan dalam sekejap ular raksasa jelmaan pedang tadi kembali ke bentuk semula. Ia memegang pedang tersebut lalu meletakkan pedang tersebut di dada lalu pedang tersebut menghilang entah kemana.
Ankara sungguh sangat takjub melihatnya. Ia tak menduga ternyata Nagini benar-benar sangat tangguh. Untung, saja sewaktu ia bertarung dengan Nagini ia menyerah kalah. Jikalau tidak ia tentu tidak akan bisa bertahan menghadapi setiap serangan yang dilancarkan oleh Nagini padanya.
Nagini melihat ular raksasa Cintamani mengamuk. Ia menuntut pembalasan pertarungan yg masih berlangsung. Sementara, Nagini diam saja melihatnya. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Nagini. Nagini sedang menimbang-nimbang apakah yang akan ia lakukan selanjutnya. Sedangkan, ia juga tak ingin berlama dalam menghadapi Cintamani. Taoi, ada satu hal yang mencegah dirinya untuk membinasakan Cintamani.
Namun, ketika melihat perubahan maksimal Cintamani. Akhirnya, ia mengerti apa yang diinginkan oleh Cintamani. Yaitu, pertarungan sampai mati. Nagini bersidekap melipatkan tangan di dada, saatnya ia akan menampakkan wujud aslinya sebagai Dewi Ular. Dewinya para ratu ular, yang memiliki kekuasaan tertinggi di antara para ratu ular lainnya. Ada sinar merah kemilau menyilaukan mata yang menyelimuti tubuh Nagini dan lama kelamaan sinar itu pun membumbung tinggi di langit.
Lalu, terlihatlah wujud asli Nagini yg merupakan Dewi Ular. Ular berkepala lima dengan warna hitam legam dan pekat menghiasi tubuhnya. Cintamani terkejut saat melihat wujud asli dari Nagini. Ia tidak menyangka ternyata Nagini memiliki wujud demikian menyeramkan. Bukan hanya Cintamani yang kaget akan tetapi Ankara juga tak kalah terkejutnya.
Ap...apa! Dia juga siluman ular sama sepertiku?
Ucap hatinya.
__ADS_1
Pantas saja ia sangat kuat, ternyata ia memiliki wujud menyeramkan begini...tidak ada, ular siluman yang memiliki wujud seperti ini...kecuali, penguasa tertinggi...Dewinya para Ratu Ular, DEWI ULAR NAGINI.
Ucap hatinya lagi.
Kalau begitu, jangan-jangan dia Nagini! Dewi Ular, Nagini! Gawat, nyawaku bisa melayang di tangannya...bisa-bisanya aku bersikap sombong di hadapannya.
Bathin Cintamani panik.
Namun, ia sudah terlanjur membuat seorang Dewi Ular menampakkan wujud aslinya. Cintamani menatap ke dalam bola mata sang Dewi Ular. Dan, ia dapat melihat amarah sang Dewi yg sudah tidak bisa di ajak untuk berkompromi lagi. Ia pasrah.
"Masa bodoh!"
Bathinnya.
Ia pun menyerang Dewi Ular dengan segenap kekuatannya yang tersisa. Tapi, serangannya tidak mempan pada Dewi Ular yang masih berdiri kokoh di hadapannya.
Apa! Seranganku tidak berguna pada dirinya?
Ucapnya dalam hati.
"Teruskan usahamu, Cintamani! Serang aku, dan akan aku hisap semua seranganmu itu."
Ucap Nagini angkuh.
"Kurang ajar! Hei, kau! Pertarungan ini tidak seimbang...ayo, kembalilah ke wujudmu semula...kita bertarung dengan kekuatan seimbang!"
Ucap Cintamani kesal.
"Cintamani! Dengan melihat wujud asliku begini. Apa kau jadi takut?"
Ucap Nagini.
"Cih! Siapa takut menghadapi siluman busuk sepertimu!"
Ucap Cintamani.
"Keparat! Cintamani, kau memang bawahan sombong dan tidak tahu aturan...tdak tahu batasan... malam ini, akan kumusnahkan kau dari muka bumi ini!"
Ucap Nagini marah.
Nagini menyemburkan api bercampur racun dari kelima mulutnya ke arah tubuh ular Cintamani. Api bercampur racun itu mencabik-cabik tubuh Cintamani dengan rasa sakit yg tak tertahankan.
"Aarrrggghhhhhh...!!!"
Cintamani menjerit kesakitan merasakannya. Sedangkan, Nagini tiada rasa kasihan sedikit pun pada Cintamani. Karena, Cintamani sudah membuat dirinya sangat marah. Kini, tidak ada yg menolong Cintamani dari amukan Nagini. Cintamani sedang menunggu ajalnya. Dan, Ankara merasa bergidik ngeri melihat Nagini yang sedang mengamuk pada Cintamani. Ia tak bisa membayangkan jika dia ada di posisi Cintamani. Sudah pasti ia akan gosong terbakar dengan rasa sakit yang terasa amat menyakitkan.
Bersambung....
DEWI ULAR, NAGINI.
__ADS_1