NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 25. Tewasnya Kala Abang


__ADS_3

Setelah semua rencana yang disusun oleh Nagadhini gagal. Kala Abang segera kembali ke gua dimana tempat Nagadhini menyekap Archa Sevadha. Dengan hati yang berdebar-debar, Kala Abang memasuki gua tersebut. Di dalam gua tersebut sudah menunggu Nagadhini. Ia sudah tidak sabar menanti kabar dari Kala Abang. Apakah Kala Abang berhasil atau tidak mengambil Intisari Kehidupan dari Nagini, sang Dewi Ular.


Nagadhini menunggu dengan tidak sabar. Sedari tadi ia berjalan kesana kemari menunggu kedatangan Kala Abang beserta pengikutnya. Setelah lama menunggu akhirnya, Kala Abang pun hadir di hadapan Nagadhini. Melihat kedatangan Kala Abang, raut kegusaran di wajah Nagadhini seketika pun sirna. Ia menyambut kedatangan Kala Abang dengan senyum keramahan berharap Kala Abang berhasil menjalankan perintah dari dirinya.


"Silahkan...silahkan masuk...Kala Abang...


Ucap Nagadhini menyambut kedatangan Kala Abang dengan seulas senyum manis di bibirnya.


"Terima kasih...nyai...


Ucap Kala Abang, ia sangat tersanjug atas sambutan hangat dari Nagadhini.


"Silahkan duduk...Kala Abang...


Ucap Nagadhini sambil mempersilahkan Kala Abang duduk di hadapannya di kursi batu yang sudah dipersiapkan oleh Nagadhini untuk menyambut tetamunya. Kala Abang pun segera duduk di kursi batul di hadapan Nagadhini. Setelah ia duduk, Nagadhini pun membuka pembicaraan penting mereka. Sementara itu, nyai Bajing Ireng sedang mendapat tugas untuk menjaga Archa Sevadha di ruangan penjara milik Nagadhini.


"Bagaimana, Kala Abang? Apakah kau berhasil merebut benda sakti tersebut?"


Tanya Nagadhini. Mendengar pertanyaan Nagadhini seketika membuat Kala Abang menjadi gelisah dan kelihatan tidak tenang.


"Mengapa, kau diam saja Kala Abang! Katakanlah kepadaku yang sebenarnya...


Desak Nagadhini begitu ia melihat kegelisahan Kala Abang.


"Nyai...hamba mohon maaf, nyai...hamba belum dapat memenuhi keinginan nyai...


Ucapnya dengan mimik wajah ketakutan.


"Apa!"


Ucap Nagadhini sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Kala Abang, apa itu berarti kau gagal!"


Tanya Nagadhini dengan raut wajah marah. Kala Abang terdiam, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Kala Abang, kau adalah panglima perang bangsa siluman Kalajengking...melawan satu musuh saja kau sudah kalah...lalu apa artinya kau memegang jabatan penting bangsa siluman Kalajengking, Kala Abang?"


Ucap Nagadhini, dengan sorot mata tajam seakan menusuk ulu hati Kala Abang.


"Maafkan, hamba nyai...bukan satu musuh saja yang hamba hadapi, nyai...tetapi dua, nyai...


Ucap Kala Abang. Mendengar kata dua keluar dari mulut Kala Abang semakin membuat kerutan di dahi Nagadhini bertambah.


"Dua? Siapa yang kau maksud itu, Kala Abang...

__ADS_1


Tanya Nagadhini.


"Nyai, selain nyai Nagini disana...ada satu siluman lagi nyai...


Jawab Kala Abang.


"Siapa?"


Tanya Nagadhini.


"Dia siluman ular Emas, nyai...


Jawab Kala Abang lagi.


"Siluman ular Emas?"


Ucap Nagadhini.


"Ya...nyai...


Ucap Kala Abang.


"Lalu, apakah kau tahu siapa siluman ular Emas itu Kala Abang...


Tanya Nagadhini.


Ucap Kala Abang.


"Kakang Aryan Wijaya? Adik Pangeran Ular, Zham?"


Tanya Nagadhini.


"Ya, nyai...


Jawab Kala Abang.


"Bukankah, Zham sudah kita habisi melalui Baba? Tetapi, ketika aku menyamar menjadi ibunya, Archa Sevadha...Nagini mengatakan kepadaku bahwa Zham masih hidup...Ia juga mengatakan kepadaku bahwa Zham sudah memiliki kekasih...lalu Ankara...siapa dia?"


Tanya Nagadhini lagi penasaran.


"Nyai...bukankah sudah hamba katakan kepada anda bahwa Ankara itu adalah adiknya Pangeran Ular, Zham...dan aku pernah bertarung dengannya...hanya karena aku mengejeknya ketika ia sedang mengalami proses pergantian kulit...


Jawab Kala Abang menjelaskan tentang Ankara kepada Nagadhini.


"Lalu? Apa, yang terjadi? Siapa yang menang dalam pertarungan tersebut, Kala Abang...apakah kau yang menang atau dia...

__ADS_1


Ucap Nagadhini.


Kala Abang terdiam, ketika ia mendengar pertanyaan dari Nagadhini. Ia merasa tercabik harga diri dan kehormatannya sebagai seorang pria di hadapan sang wanita yang ia cintai. Karena, ternyata ia kalah dari seekor ular yang masih muda tersebut. Dan, Kala Abang tidak ingin kekalahannya tersebut diketahui oleh Nagadhini. Sebab, ia takut Nagadhini akan mengejek dirinya. Menganggap dirinya tidak bisa diandalkan dalam segala hal.


Karena, Nagadhini lebih membutuhkan pengikut yang bukan hanya setia kepada dirinya. Tetapi, juga sangat kuat sama seperti dirinya. Hal tersebutlah yang membuat Kala Abang jatuh cinta kepada Nagadhini meski pun Nagadhini tidak mengetahui hal tersebut. Sebab, Kala Abang tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Nagadhini.


"Kala Abang....,


Panggil Nagadhini. Mendengar suara Nagadhini yang memanggil namanya membuat Kala Abang langsung sadar dari sikap terdiamnya.


"Ya, nyai...


Ucap Kala Abang.


"Sedari tadi aku bertanya kepadamu dan kau hanya diam...cepat, katakan kepadaku diantara pertarunganmu dengan adik Pangeran Ular...siapakah yang menang?"


Tanya Nagadhini dengan seringai di terukir di bibirnya. Melihat seringai di bibir Nagadhini seketika membuat Kala Abang menelan ludah.


"Yang memenangkannya adalah dia, nyai...


Ucap Kala Abang akhirnya.


"Kau kalah darinya...dari siluman ular yang masih muda itu? Kala Abang kukira kau sakti mandraguna, ternyata kau hanyalah siluman lemah yang mudah dikalahkan olehnya...


Ucap Nagadhini.


"Dan, lagi kau juga tidak berhasil merebut Intisari Kehidupan milik Dewi Ular...lalu apa yang bisa kuharapkan darimu, Kala Abang? Maka, lebih baik jika kau tiada...


Ucap Nagadhini, kemudian secara tiba-tiba Nagadhini melancarkan serangan jarak jauh kepada Kala Abang.


"Whusshh...


"Ahkkk...


Pukulan tersebut langsung mengenai jantung Kala Abang. Dan, dalam waktu sekejap saja Kala Abang pun tewas. Sesungguhnya Kala Abang tidak akan tiada dengan mudah jika bukan sebelumnya ia telah terluka oleh pukulan berbalik yang di lancarkan oleh Ankara untuk melindungi Nagini.


Nyai Bajing Ireng yang tidak sengaja melihat kejadian tersebut. Seketika ia merasakan rasa takut yang luar biasa jika seandainya ia pun gagal menjalankan perintah dari Nagadhini. Sungguh ia tidak, habis pikir mengapa Nagadhini menghabisi Kala Abang. Padahal hanya satu kali Kala Abang melakukan kesalahan. Akan tetapi, ternyata Nagadhini tidak bisa menerima satu kesalahan tersebut. Nagadhini tidak bisa menerima kekalahan meski pun itu hanya satu kali saja.


Tidak boleh ada kesalahan sedikit pun untuk merebut Intisari Kehidupan milik Dewi Ular...Jika dia tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik...maka akan jauh lebih baik jika ia tiada bukan?


Ucap Nagadhini di dalam hati. Kemudian, ia tersenyum ke arah Bajing Ireng yang secara tidak sengaja melihat semua kejadian tersebut. Bajing Ireng yang melihat senyum Nagadhini hatinya menjadi berdebar. Ia tidak tahu apa maksud dari senyum Nagadhini tersebut kepada dirinya. Dan, setelah tewasnya Kala Abang seluruh bangsa siluman yang menjadi pengikut Nagadhini menjadi lebih waspada terhadap Nagadhini. Mereka tidak mau menjadi korban berikutnya setelah Kala Abang.


Begitulah nasib Kala Abang, ia tiada di tangan wanita yang cintai dan kagumi. Sedangkan, Nagadhini ia sungguh tidak tahu jika Kala Abang menyimpan rasa terhadapnya. Namun, bagaimana pun semuanya telah terjadi. Kala Abang tewas di tangan Nagadhini, karena Kala Abang telah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh Nagadhini.


Setelah, melenyapkan Kala Abang. Nagadhini pun segera kembali ke Istana Dewi Ular. Ia ingin mengetahui situasi yang terjadi disana. Sekaligus, ia ingin menyelidiki Ankara, adik dari Pangeran Ular, Zham. Maka, Nagadhini pun kembali menyamar menjadi Archa Sevadha.

__ADS_1


Bersambung...


NAGINI, DEWI ULAR


__ADS_2