
Tubuh kecil itu menyusuri hutan yang gelap. sesekali, ia mendesis menandakan kehadirannya.
"Sssshhhh"
Setelah, ia menyusuri hutan yg gelap dan menyusuri jalanan beraspal. Ia sampai di depan sebuah rumah yang megah dan mewah. Rumah yang merupakan rumah keluarga Ankara beserta keluarganya. Ular itu berubah bentuk kembali menjadi bentuk manusia dengan menggunakan pakaian kemben berwarna emas serta mahkota di kepalanya. Dialah, ratu ular Cintamani Manikmaya. Yang, ditolak cintanya oleh Ankara demi memilih wanita lain sebagai pendampingnya.
Mengingat hal itu sungguh membuatnya sangat marah. Ia kecewa pada Ankara, yang dengan mudahnya menolak dirinya tanpa memandang dirinya sebagai seorang ratu ular penguasa hutan di daerah Timur. Secara diam-diam ia mulai menyusup dan merencanakan pembunuhan terhadap wanita yang menjadi perusak hubungannya dengan Ankara. Ia ingin menggigit Nagini sampai mati.
Ia berubah kembali menjadi bentuk ular agar ia dapat masuk ke dalam rumah itu dan mencari dimana Nagini berada dan membunuhnya. Nagini mengetahui bahaya yang mengancam dirinya. Buruan saja ia menghilang. Dan, dalam sekejap ia sudah berada di luar rumah keluarga Ankara. Nagini mencium bau amis. Bau yg sama seperti bau yang dimiliki dirinya. Bau bangsa siluman ular, tapi bau ini memiliki bau amis yang khas.
Jelas bau itu bukanlah jenis bau bangsa siluman ular biasa. Nagini tersenyum mendapati hal itu. Ia sudah tahu siapa siluman ular yang ingin membunuh dirinya. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Ratu ular Cintamani Manikmaya. Yang menuntut balas atas kekalahannya dalam perebutan cinta sang Pangeran Ular Ankara.
"Keluarlah, nyai Ratu...tidak perlu, bersembunyi dengan bentuk kecilmu itu...aku sudah tahu kau akan datang...."
Ucapnya lantang.
Apa! Kurang ajar! Dia sudah tahu aku akan mengincarnya? Sesungguhnya, siapa dia ini...dan aura itu lagi...benar-benar, istimewa sekali.
Bathin Cintamani Manikmaya.
Dalam sekejap, tubuh kecil Ratu Ular Cintamani Manikmaya pun berubah kembali ke bentuk manusianya.
"Wush."
"Siapa kau! Mengapa, kau bisa tahu kalau aku sedang mengincar nyawamu!"
Ucap Cintamani.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, nyai Ratu? Yang, perlu kamu tahu adalah aku tidak ada urusan denganmu...masalah tentang Ankara bisa aku jelaskan...kau tidak perlu buang tenaga untuk membunuhku."
Ucap Nagini.
"Apa! Kurang ajar! Berani sekali kau berbicara begitu padaku...kepada seorang Ratu? Heh! Manusia....."
Ucap Cintamani. Nagini memotong kata-kata Cintamani Manikmaya.
"Naghi. Naghi namaku...kau tak perlu menyebutku manusia."
Ucap Nagini.
"Ohh, Naghi rupanya namamu...dari, namamu saja sudah terlihat kau adalah...tipe wanita yg suka merebut milik orang lain."
__ADS_1
Ucap Cintamani.
Apa! Tipe yang suka merebut milik orang lain? Kurang ajar! Bawahan, yang satu ini benar-benar tidak bisa diperingatkan dan diberi ampun...sebaiknya, dia dimusnahkan saja...dia sama sekali tidak mengenali pimpinan tertinggi di dunia siluman ular...Ratunya para Ratu, DEWI ULAR NAGINI.
Bathin Nagini.
"Tampaknya, kau memang tipe yg tidak bisa diberi peringatan dan diajak berdamai nyai? Bahkan, kau juga tidak bisa mengenali siapa aku...lebih baik, kumusnahkan saja kau sekarang juga!"
Ucap Nagini.
Apa! Ap...apa yang dikatakannya...aku sama sekali tidak bisa mengerti...dia ingin memusnahkanku?
Bathin Cintamani.
"Humph! Siapa takut! Bukan aku yg akan musnah tapi kau...bersiaplah, menerima seranganku! Ciaaatttttt....!!!"
Ucap Cintamani.
Cintamani menerjang dan menyerang Nagini. Nagini menghindari serangan Cintamani. Setiap pukulan dan serangan Cintamani dapat di patahkan oleh Nagini dengan mudah. Hingga membuat tubuhnya mundur ke belakang karena pukulan telak dari Nagini.
"Bugh"
"Kurang ajar! Beraninya, kau memukulku!"
Ucap Cintamani.
Ucap Nagini.
"Keparat! Tutup mulutmu, perempuan sialan!"
Ucap Cintamani geram.
Perempuan ini dengan mudahnya mematahkan seranganku...tampaknya, dia lawan yang sulit kuhadapi...harus bagaimana, menghadapinya? Ah...baiklah aku gunakan pedang ular beracun saja untuk melumpuhkannya sekaligus membunuhnya.
Ucap Cintamani dalam hati dengan seringai licik di bibirnya.
Apalagi, yang sedang dipikirkan oleh bawahan rendahan ini? Apa, yang akan ia lakukan selanjutnya?"
Ucap hati Nagini.
Tampak di hadapan Nagini, Cintamani mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuhnya. Sesuatu berbentuk cahaya merah menyilaukan itu perlahan membentuk sebuah pedang dengan ukiran sisik ular di pegangannya dan juga bergambar ular di bagian atas pedang itu.
__ADS_1
Eh? Bukannya, itu pedang ular beracun? Pedang yang aku berikan kepada paman Ragapati...bagaimana, bisa ia memilikinya? Ck...humph! Pedang itu sangat tidak cocok dimiliki bawahan seperti dia...dia sangat sombong dan arogan...aku harus ambil kembali darinya.
Ucap Nagini dalam hati.
"Perempuan sialan! Lihatlah, pedang ini...aku akan menghancurkanmu dengan pedang ini!"
Ucap Cintamani.
"Memangnya mengapa? Hanya, sebilah pedang biasa saja?"
Ucap Nagini meremehkan.
"Apa! Pedang biasa katamu? Akan, aku buktikan padamu bahwa pedang ini bukan pedang biasa...terima ini!"
Ucap Cintamani. Dan, Cintamani mengayunkan pedang itu dari jarak jauh.
"Sraaaaa"
"Whoossshh"
Tampak, hawa panas beracun keluar dari pedang yang diayunkan oleh Cintamani menuju ke arah Nagini. Tapi, dengan mudah serangan dari hawa pedang itu dapat di hindari olehnya. Lagi, Cintamani menyerang kembali. Dan, lagi-lagi serangan itu gagal mengenai tubuh Nagini.
Apa, kau sudah puas menyerangku? Hoaaammm....ayolah, aku mengantuk sekali? Seranganmu ini, tak lebih dari serangan anak ular yang masih kecil."
Ucapnya mengejek. Cintamani semakin kesal saja pada Nagini.
"Apa, katamu? Serangan seorang anak kecil? Aku akan menyerangmu lagi! Terima ini!"
Ucap Cintamani.
Cintamani mencoba menyerang Nagini kembali, namun apa yg terjadi tiba-tiba saja pedang ular beracun itu berpindah tangan. Dan, sekarang pedang itu berada di tangan Nagini. Cintamani sangat terkejut mengetahui hal itu. Bagaimana, bisa pedang itu berpindah tangan dengan sendirinya. Sungguh, Cintamani bagaikan orang yang sangat bodoh. Ia mudah sekali dijadikan bahan lelucon oleh Nagini, sang Dewi Ular.
Ia bahkan tidak mengetahui siapa lawan yang ia hadapi saat ini. Cintamani benar-benar sudah dibutakan oleh rasa cemburunya terhadap Nagini. Sebab, Ankara telah menolak dirinya dan lebih memilih Nagini dibandingkan dirinya. Cintamani benar-benar tidak melihat siapakah Nagni yang sebenarnya. Seandainya, ia mengetahuinya maka ia tidak akan bersikap begitu kurang ajar terhadap Nagini.
Tetapi, sekarang yang ada di dalam hatinya hanyalah ingin membalaskan dendam yang membara di dalam hatinya. Dengan membunuh Nagini dan membuat Ankara beserta seluruh keluarganya menderita sebab telah menolak dirinya. Cintamani tidak peduli dengan nayawa orang yang tidak bersalah. Asal saja semuanya lenyap dari hadapannya serta dendamnya sudah terbalas itu sudah cukup bagi dirinya.
Memang, begitulah dendam yang bersarang dalam hati seseorang. Bila, dendam sudah terlaksana maka hati seseorang itu akan merasa puas. Tetapi, mereka lupa akan akibat dari perbuatan mereka suatu hari nanti. Hal tersebut akan terus berulang dan berulang terus menerus tiada henti.
Bersambung......
NAGINI, DEWI ULAR
__ADS_1