
Baba pingsan setelah Mani merah milik Dewi Ular direbut paksa oleh Nagadhini. Nagadhini ingin menggunakan Mani merah untuk melenyapkan Nagini selamanya. Sebab, Mani merah sebenarnya adalah nyawa Nagini. Dan, tidak ada yang tahu tentang hal tersebut kecuali Nagini sendiri. Akan tetapi, rahasia tersebut diketahui oleh Nagadhini melalui tapa brata yang ia lakukan dahulu ketika Nagini mengambil seluruh kesaktiannya.
Dalam tapa brata tersebut, Nagadhini memohon petunjuk kepada sang Pencipta bagaimana caranya agar Nagini lenyap. Awal tahun pertama, Nagadhini tetap bersabar melakukan tapa brata. Bahkan di tahun-tahun berikutnya. Ia tetap melakukan tapa brata tersebut meski terasa sakit menyiksa seluruh tubuhnya. Itulah sebabnya, Nagadhini tidak mau melakukan tapa brata. Akan tetapi, kali ini ia rela melakukannya karena dendam kesumat yang tertanam di hatinya terhadap Nagini yang telah memusnahkan seluruh ilmu kesaktiannya.
Yang membuatnya harus bersembunyi ketakutan karena ia tidak ingin menjadi mangsa para siluman ular lain yang lebih kuat darinya setelah Nagini memusnahkan seluruh ilmu kesaktiannya. Oleh sebab itu, ia melakukan tapa brata demi menggugah sang Pencipta untuk memberikan petunjuk kepada dirinya atas masalah yang sedang dihadapinya. Akhirnya, kesabaran Nagadhini pun berbuah manis juga. Ketika, di hari yang kesekian kalinya ia mendapatkan wangsit atau petunjuk untuk mengalahkan Dewi Ular.
Yaitu, ia harus dapat memiliki Mani merah milik Dewi Ular. Karena, Mani merah milik Dewi Ular adalah merupakan nyawa bagi Dewi Ular. Jika, Mani merah hancur maka Dewi Ular akan tamat. Sebab, hanya itu saja yang dapat dilakukan oleh Nagadhini. Ia harus bisa mendapatkan Mani merah jika ingin mengalahkan Dewi Ular. Sekaligus, hal tersebut juga yang akan membuatnya mendapatkan Intisari Kehidupan dari Dewi Ular. Kedua hal penting sudah ada di tangannya, yaitu ibu Dewi Ular Archa Sevadha dan Mani merah.
Dan, sekarang hanya menunggu waktu yang tepat bagi dirinya untuk menjalankan rencana berikutnya mendapatkan Intisari Kehidupan dari Dewi Ular. Hal tersebut harus terencana dengan baik. Jika, tidak maka ia tidak akan mendapatkan benda sakti yang ia idam-idamkan sejak lama. Dan, ia tidak akan bisa menjadi sang Dewi Ular pemimpin tertinggi dari para Ratu Ular di seluruh Dunia Ular. Saat ini ia sedang menyusun rencana untuk melakukan hal yang sesungguhnya.
Terhadap Dewi Ular beserta seluruh bangsa ular yang mendukung dirinya. Sekarang ia sedang memulai rencana mulai dari istana kerajaan Dewi Ular. Ia mengumpulkan seluruh Ratu Ular yang tersebar di seluruh dunia untuk mendukung dirinya. Dengan menggunakan Mani merah milik Dewi Ular ia ingin meluluskan rencana awalnya.
...****************...
Sementara, Nagadhini menyusun rencana untuk menjatuhkan dinasti Ular Cobra. Di sisi lain di dunia manusia, Zham akhirnya kembali ke rumahnya. Ia sedang menunggu Ankara adiknya datang ke rumah tersebut. Sebab, ketika ia memanggil adiknya melalui panggilan bathin, Ankara sama sekali tidak merespon panggilan tersebut. Oleh sebab itu, Zham sengaja pulang ke rumah untuk memberitahu tentang hal tersebut.
Ia menunggu Ankara pulang ke rumah. Akan tetapi, yang ditunggu tidak kembali juga. Zham benar-benar bosan menunggu dirinya. Zham ingin menceritakan tentang keadaan rumah keluarga Lovita yang telah hancur berantakan karena ulah Nagini, menurut dirinya. Bu Retno yang melihat semua kegelisahan tersebut ia pun lalu menegur Zham.
"Zham?"
Panggilnya.
"Ya , bu...
Balas Zham.
"Mengapa kau mondar mandir begitu...
Tanya bu Retno.
"Aku sedang menunggu, Ankara bu...
Ucap Zham.
"Ankara?"
Ucap bu Retno.
"Iya bu...
Balas Ankara.
"Ankara...kalau tidak salah tadi dia izin ke ibu katanya mau keluar rumah...tetapi, ibu tidak tahu kemana ia pergi...
Ucap bu Retno.
"Ibu, tidak tahu kemana ia pergi...
Ucap Zham.
__ADS_1
"Tidak...ibu tidak tahu...
Ucap bu Retno.
"Masa ibu tidak tahu...kemana ia pergi...
Ucap Zham kesal.
"Zham, Ankara tidak mengatakan apa pun kepada ibu...jadi mengapa kau terlihat kesal...sebenarnya ada apa, Zham...
Ucap bu Retno menyelidiki.
"Hmm, tidak ada apa-apa bu...
Ucap Zham lagi.
"Ya sudah kalau begitu, Zham...ibu mau ke dapur dulu...
Ucap ibunya kemudian.
"Ya, bu...
Balas Zham. Zham terlihat sangat kesal sekali. Sebab, Ankara adiknya tidak ada di rumah. Dan, Nagini pun tidak ada kabarnya. Ia pun menjadi tidak mengerti apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi. Zham berpikir keras.
Apa yang sesungguhnya yang telah terjadi...mengapa Nagini melakukannya...mengapa ia menghabisi manusia yang tidak bersalah...Baba yang bersalah...tetapi mengapa kau menghabisi mereka semua, Nagini! Aku juga ikut bersalah, Nagini...tetapi mengapa engkau tega melakukannya...mengapa engkau menghabisi mereka...mengapa Nagini...mengapa...
Ucap Zham dalam hati. Terasa kacau balau segala yang ada. Sebab, ia pun kehilangan jejak Nagini. Sekaligus ia juga tidak dapat menghubungi Ankara. Disaat, Zham sedang merasakan bingung tiba-tiba saja ia mendengar suara mesin motor milik Ankara. Ia pun segera lari ke depan rumah, dan benar saja ia melihat Ankara sudah ada di depan rumah.
"Ankara, darimana saja kau...tadi aku menghubungimu melalui panggilan bathin...tetapi kau tidak menjawab panggilanku...katakan, mengapa...
Ucap Zham tiba-tiba ketika Ankara baru saja tiba. Dan, Ankara terlihat bingung melihat kakaknya marah-marah seperti itu.
"Kakak, aku baru saja pulang...mengapa kau marah-marah, kakak?
Ucap Ankara kepada kakaknya.
"Ankara! Ada masalah penting saat ini dan kau masih bertanya mengapa?"
Ucap Zham.
"Masalah penting? Apa itu, kak...
Ucap Ankara.
"Apakah, kau tidak tahu? Naghi telah membuat masalah! Apa, kau tahu apa yang dilakukannya!"
Ucap Zham dengan nada tinggi. Ankara yang melihat ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi ia pun langsung menutup mulut kakaknya.
"Sssttt...kakak, pelankan suaramu...nanti ibu bisa dengar...kita berbicara saja di tempat lain...ayo ikut aku...
__ADS_1
Ucap Ankara seraya memegang pergelangan tangan Zham menuju taman. Dan, mereka pun berbicara di taman.
"Sudah lepaskan!"
Ucap Zham emosi.
"Kakak, coba ceritakan kepadaku ada masalah apa?"
Ucap Ankara. Zham, sejenak menarik nafas lelah. Lalu, ia pun duduk di bangku taman. Untuk sementata ia diam seribu bahasa. Dan, Ankara menunggu kakaknya untuk berbicara.
Sesungguhnya ada masalah apa? Sehingga kakakku lepas kendali seperti ini...dia marah kepadaku...karena panggilan bathin tidak berhasil memanggilku? Akan tetapi, tidak tahu mengapa aku merasa sepertinya badai besar akan segera tiba...tetapi apa...
Ucap Ankara dalam hati.
"Ada masalah besar, Ankara!"
Ucap Zham tiba-tiba, membuyatrkan lamunan Zham.
"Masalah, apa kakak?"
Tanya Ankara.
"Naghi, dia mengamuk...
Balas Zham. Ankara terkejut mendengarnya.
"Apa! Naghi mengamuk? Mengamuk apa, kak...apa dia sudah tahu kalau kakak masih mengingat dia...
Tanya Ankara lagi.
"Bukan, mengamuk karena itu...tetapi dia mengamuk di rumah Lovita dan dia membunuh semua orang yang ada disana, Ankara...
Ucap Zham panjang lebar.
"Apa! Itu tidak mungkin, kak! Naghi tidak seperti itu kak...Naghi seekor siluman yang baik hati...dia tidak mungkin mencelakai manusia jika manusia itu tidak bersalah, kak...dan apa yang kau katakan ini adalah semuanya tidak benar, kak...
Ucap Ankara.
"Akan tetapi, kakak melihat segalanya Ankara...tempat itu hancur Ankara...rumah Lovita hancur...dan siapa juga yang mempunyai kekuatan sebesar itu, Ankara...jika bukan, Naghi...
Ucap Zham.
"Kakak, bukankah kakak sangat mencintainya...bukankah kakak sangat mengenal dirinya...lalu apakah kakak tidak paham siapa dirinya kakak? Dia Dewi Ular, dia tidak mungkin sembarangan menyakiti manusia, kakak...
Ucap Ankara lagi memberi penjelasan.
"Ya, kau benar kakak sangat mencintai dirinya...kakak sangat mengenal dirinya...dan menurut kakak dia tidak mungkin melakukannya...lalu siapakah siluman yang tega melakukannya...
Ucap Zham lagi.
__ADS_1
"Tidak tahu, kak...mungkin kita akan tahu siapa pelakunya tidak lama lagi...
Ucap Ankara penuh dengan keyakinan. Dan, pembicaraan mereka pun terputus sampai disini. Masing-masing, Ankara maupun Zham saling terdiam dengan lamunan masing-masing. Sebab, pelaku yang sebenarnya yang melakukan tindakan keji tersebut belum dapat diketahui dengan pasti.