NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 80. Itu bukan Urusanmu!


__ADS_3

Aisha membawa Deviandra ke tempat aman. Aisha tidak ingin membawa Deviandra ke rumah Alina. Sebab, ia ingin menghindari Anna yang telah mencurigai dirinya.


"Ah, disini saja...awas, hati-hati banyak batu kerikil di gua ini."


Ucap Aisha.


"Ya, terima kasih."


Ucap Deviandra yang kemudian duduk di permukaan tanah dengan dibantu oleh Aisha.


"Bagaimana, lukamu?"


Tanya Aisha.


"Masih terasa sakit dan nyeri, Aisha?"


Balas Deviandra.


"Panggil aku bibi saat kita berdua karena aku adalah bibimu...dan, panggil aku Aisha saat kita sedang bersama dengan yang lain."


Ucap Aisha.


"Ah, baiklah bibi."


Ucap Deviandra tanpa banyak bertanya kepada Aisha. Karena, ia sudah tahu bahwa Aisha adalah saudara dari ibunya.


"Aku akan mengobatimu!"


Ucap Aisha yang kemudian segera bergerak untuk mengobati luka Deviandra. Aisha menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka Deviandra. Selang tidak berapa lama kemudian luka yang dialami oleh Deviandra telah sembuh.


"Selesai! Bagaimana, keadaanmu sekarang?"


Ucap Aisha.


"Terima kasih, bibi...aku sudah pulih."


Ucap Deviandra.


"Baguslah, kalau begitu...untuk sementara kau tinggallah disini."


Ucap Aisha. Deviandra menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui kata-kata Aisha. Kemudian, Aisha pun segera pergi dari gua tersebut.


Aku harus memasang segel di gua ini! Aku takut kalau Nagadhini akan datang kesini.


Ucap Aisha yang kemudian memasang segel di gua tersebut. Setelah selesai, Aisha pun melesat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama ia pun sampai di rumah Alina.


Saat sampai disana, ia bertemu dengan Anna di halaman rumah Alina. Dan, ia menebak Anna akan menanyakan sesuatu kepada dan mencurigainya.


"Aisha!"


Sapa Anna.


"Ya, An...ada apa kau memanggilku."


Ucap Aisha.


"Kau sepertinya habis berpetualang? Apa, yang kau lakukan?"


Tanya Anna.


"Huff! Anna sepertinya aku melakukan apa itu bukanlah urusanmu."


Ucap Aisha.


"Tetapi, aku penasaran! Katakan, kepadaku."


Ucap Anna.


"Maaf, Anna sekali kukatakan kepadamu! Ini bukanlah urusanmu! Berhenti menanyakannya kepadaku!"


Ucap Aisha dengan sorot mata yang tajam menatap mata Anna. Seketika, Anna merasakan hal yang mengerikan dari tatapan mata Aisha.


"Baiklah...aku tidak akan menanyakannya lagi kepadamu."


Ucap Anna. Dan, Aisha pun segera berlalu dari hadapan Anna.


Sungguh tatapan mata yang mengerikan sekali, seakan menarik jiwaku keluar dari tubuhku...Aisha sangat kuat...dan, aku tidak bisa menyinggungnya.


Ucap Anna dalam hati.


"Lebih baik jika aku tidak mengurusi urusannya...maka, aku akan berpatroli saja."


Ucap Anna yang kemudian segera pergi dari halaman rumah Alina untuk berkeliling kampung tersebut. Ia menyusuri jalanan desa dan ia juga naik ke atas pohon untuk melihat keadaan di sekitar desa yang telah sepi mencekam.


Matanya nanar mengawasi keadaan sekitar. Tidak ada yang aneh selama ia mengawasi dari atas sana. Akan tetapi, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang aneh di suatu tempat yang sepi.

__ADS_1


Apa itu disana di tempat sepi? Sangat mencurigakan! Aku harus melihatnya.


Ucap Anna dalam hati.Lalu, Anna pun turun dari atas sana. Secara perlahan ia mendekati sesuatu tersebut. Ia pun bersembunyi di antara rerimbunan pohon lebat ketika ia hampir mendekati sesuatu tersebut.


"Kurang ajar! Dasar, Nagini sialan! Beraninya dia melukaiku sampai seperti ini!"


Ucap Nagadhini kesal.


Oh, ternyata dia Nagadhini...dia terluka parah sampai seperti itu...siapa yang sudah ia singgung...sehingga membuatnya menjadi seperti itu...rasakan! Itu memang pantas untuknya.


Ucap Anna dalam hati sambil kemudian beranjak dari sana karena ia tidak mau berurusan dengan Nagadhini. Akan tetapi, ketika baru saja hendak pergi ia mendengar Nagadhini mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.


"Dan, ia juga membawa putriku kabur!"


Ucap Nagadhini.


Apa! Putri? Jadi, Nagadhini memiliki seorang putri?


Ucap Anna dalam hati.


"Ssh...ahh...sakit sekali akibat pukulan si keparat Nagini...dia semakin kuat saja...semenjak, bereinkarnasi aku merasakan kesaktiannya semakin bertambah hebat."


Ucap Nagadhini lagi. Karena, terlalu fokus pada pendengarannya mendengarkan sesuatu yang dilontarkan oleh Nagadhini baru saja. Membuat Anna menjadi gegabah sehingga menginjak ranting kering disana.


"Krak."


Nagadhini terkejut mendengarnya.


"Siapa, disana!"


Hardiknya keras.


Haish! Aku ketahuan olehnya...ini benar-benar masalah yang serius.


Ucap Anna dalam hati sambil kemudian ia pun menampakkan diri di hadapan Nagadhini.


"Kau? Bukankah kau si pemburu siluman."


Ucap Nagadhini.


"Ya, aku si pemburu siluman."


Ucap Anna.


"Kurang ajar! Sedang apa kau tadi disana!"


Ucap Nagadhini.


Ucap Anna mengejek.


"Sialan! Apa kau pikir aku terluka begini...aku tidak bisa menghadapimu...hah!"


Ucap Nagadhini.


"Silakan saja, jika kau mampu."


Ucap Anna menantang Nagadhini.


"Apa? Kau benar-benar cari mati."


Ucap Nagadhini.


"Dengan kondisimu yang terluka parah...apa kau pikir sanggup melawanku?"


Ucap Anna.


Ck, dia benar! Aku sedang terluka parah...aku tidak mungkin menghadapinya disaat aku sedang terluka begini.


Ucap Nagadhini dalam hati.


"Hmph! Hari ini kau ku ampuni...lain kali aku akan menghabisimu!"


Ucap Nagadhini yang kemudian pergi bersama dengan kabut asap yang tersapu angin malam.


"Hmph! Dia pergi, benar-benar pengecut!"


Ucap Anna yang kemudian ia pun segera pergi dari tempat itu. Dan, ia pun melanjutkan kembali tugasnya berkeliling desa. Untuk melihat keadaan desa di tengah malam yang sepi.


......................


Sementara itu di sisi lain...


Aisha yang baru saja kembali, ternyata semua polah dan tingkah lakunya diperhatikan oleh seseorang. Dan, seseorang tersebut adalah Richard. Richard menemukan kenyataan bahwa Aisha menyembunyikan banyak hal darinya. Dan, Richard bermaksud untuk menanyakannya secara langsung kepada Aisha.


"Aisha!"

__ADS_1


Sapanya. Aisha menoleh dan melihat Richard sedang berdiri di hadapannya.


"Richard?"


Ucap Aisha.


"Aku ingin bertanya kepadamu tentang sesuatu hal."


Ucap Richard.


"Sesuatu? Tentang apa?"


Ucap Aisha.


"Mengenai Deviandra!"


Ucap Richard.


"Deviandra? Ada apa dengannya."


Ucap Aisha.


"Tentu kau lebih mengetahuinya bukan?"


Ucap Richard.


"Oh, jadi kau memata-mataiku?"


Ucap Aisha tenang sambil melipat tangan di dada.


"Ayolah, Aisha aku sangat penasaran dan ingin mengetahuinya."


Ucap Richard.


"Richard, saat ini aku sedang tidak ingin berbagi apa pun denganmu!"


Ucap Aisha.


"Oh, benarkah?"


Ucap Richard sambil melangkah maju semakin mendekat kepada Aisha. Aisha hanya diam dan memperhatikannya saja. Sungguh kali ini ia tidak dapat menebak dengan mata ularnya untuk melihat apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh Richard.


Apa yang terjadi? Mengapa mata ularku tidak dapat menebak apa yang akan ia lakukan kepadaku?


Ucap Aisha dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja Richard memeluk Aisha setelah Richard berada di lebih dekat dengan Aisha. Aisha terkejut.


"Biasanya kekasihku tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku."


Ucap Richard demikian lembut kepada Aisha.


"Deg!"


Detak jantung Aisha berdebar lebih kencang dari biasanya.


"Katakan, yang sebenarnya kepadaku...tentang semua masalah ini...atau aku akan memelukmu terus seperti ini."


Ucap Richard.


"Richard? Kau...tidak perlu melakukan hal ini kepadaku."


Ucap Aisha.


"Aku perlu melakukan hal ini, mengingat kau itu sangat sulit untuk membuka sesuatu rahasia kepadaku."


Ucap Richard.


"Aku akan mengatakannya kepadamu...tetapi, lepaskan aku dulu."


Ucap Aisha.


"Melepaskanmu? Tidak mau!"


Ucap Richard tersenyum.


"Richard? Aku tidak bisa mengatakannya kalau kau mengunciku seperti ini."


Ucap Aisha.


"Aku lebih suka kau mengatakannya kepadaku ketika aku memelukmu...seperti ini."


Ucap Richard. Dan, kata-kata tersebut pun sukses membuat wajah Aisha merona. Jika sudah begitu maka Aisha tidak dapat menolak keinginan Richard untuk mengetahui sesuatu tentang yang disembunyikan oleh Aisha.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR

__ADS_1



__ADS_2