
Zham terus menerus menyerang Baba. Dan, Baba pun terus menghindari setiap serangan-serangan yang dilancarkan oleh Zham. Sedangkan, Ankara hanya diam memperhatikan pertarungan tersebut. Karena, ia merasa sesungguhnya ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka. Akan tetapi, karena Zham sudah terlanjur emosi maka, maka Baba pun sudah tidak bisa berkata apa pun lagi.
Dan, suatu ketika saat pukulan Zham mengenai tubuh Baba. Baba pun terbuyung kebelakang dan lalu jatuh terjengkang. Melihat hal tersebut sungguh membuat hati Zham sangat puas. Ia pun melancarkan serangan kembali kepada Baba. Akan tetapi, kemudian dicegah oleh Ankara. Karena, melihat Baba tidak memiiki keinginan untuk bertarung dengan Zham.
"Berhenti, kakak!"
Ucap Ankara tiba-tiba yang membuat Zham menghentikan serangannya.
"Ankara! Ada apa, kau menghentikanku!"
Ucap Zham kesal.
"Kakak...apa kau tidak lihat dia sudah tidak ada keinginan untuk bertarung...lihat saja dirinya terdiam seperti itu karena kelelahan menghadapi semua seranganmu tersebut...
Ucap Ankara menjelaskan.
"Manusia ini adalah manusia yang licik, Ankara! Kita tidak perlu mengasihaninya...
Ucap Zham.
"Tetapi, kakak lihatlah dia...dia sudah tidak berdaya...apa kau mau menghabisinya?"
Ucap Ankara. Lalu, Baba pun memotong pembicaraan mereka berdua.
"Sudah hentikan omong kosong kalian berdua...aku kesini untuk menyamaikan pesan dari Dewi Ular...
Ucap Baba yang membuat Ankara dan Zham terkejut.
"Apa! Pesan? Dari Dewi Ular...katakan apa pesannya...
Ucap Zham. Sedangkan, Ankara ia kelihatan cemas sekali.
"Pesannya adalah ia menyuruh kalian untuk segera menyusulnya ke istana Dewi Ular...ada sesuatu yang sedang terjadi disana...
Ucap Baba.
"Katakan! Apa yang sedang terjadi disana...
Ucap Zham penuh emosi.
"Kakak, tenang dulu...biarkan dulu dia bicara...
Ucap Ankara menenangkan Zham yang sedang diliputi api kemarahan.
"Bicaralah, Baba...apa yang sesungguhnya sedang terjadi...
__ADS_1
Ucap Ankara.
"Singgasana Dewi Ular sedang terancam...Nagadhini sedang melakukan sesuatu yang besar...ia sedang merencanakan untuk menggulingkan kekuasaan Dewi Ular...
Ucap Baba menjelaskan.
"Apa!"
Ucap Ankara dan Zham serentak.
"Kalau begitu, ayo kita kesana sekarang...
Ucap Ankara.
"Baiklah, ayo Baba...
Ajak Zham kepada Baba. Lalu, akhirnya mereka pun segera pergi bersama-sama menuju istana Dewi Ular. Untuk mencegah Nagadhini mengambil alih kekuasaan Dewi Ular.
...****************...
Malam ini cuaca di Dunia Ular tampak sedang mendung gelap menandakan badai di Dunia Ular akan tiba sebentar lagi. Seluruh Ratu Ular di seluruh dunia tampak berbondong-bondong datang memenuhi undangan Nagadhini yang sedang menyamar menjadi Archa Sevadha, ibu ratu ular. Dan, Nagadhini saat ini sedang menunggu kedatangan para Ratu Ular yang ia undang ke istana.
Senyum kemenangan menghiasi bibir merahnya. Para punggawa dari seluruh kerajaan sudah hadir disana. Dan, para Ratu Ular pun akan segera tiba. Lalu, tidak lama kemudian para Ratu Ular dari seluruh kerajaan ular pun tiba di aula pertemuan istana. Tampak disana Nagadhini yang sedang menyamar menjadi Archa Sevadha sedang duduk dengan sombongnya di singgasana milik Dewi Ular.
Para Ratu Ular yang tiba disana saling pandang ketika mereka melihat hal yang tidak pantas tersebut. Sebab, hanya Dewi Ular yang pantas menduduki singgasana tersebut. Tetapi, tidak tahu mengapa Nagadhini yang sedang menyamar menjadi Archa Sevadha yang sedang duduk disana. Nagadhini tersenyum senang melihat para Ratu Ular yang datang memenuhi undangannya.
Sekaligus, menduduki posisi tertinggi di Dunia Ular. Nagadhini tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada saat ini. Ia benar-benar merencanakan segalanya dengan baik. Termasuk mengundang para Ratu Ular. Agar, turut hadir di istana dalam rangka menggulingkan Dewi Ular dari singgasananya. Begitu serakahnya Nagadhini sampai ia tega berbuat demikian.
"Selamat...selamat datang para Ratu Ular...silakan duduk di kursi yang telah disediakan...
Ucap Nagadhini sambil ia mengembangkan senyum di bibir merahnya. Dan, para Ratu Ular pun berbisik-bisik melihatnya yang sedang menyamar menjadi Archa Sevadha duduk di singgasana milik Dewi Ular. Dan, Nagadhini yang melihat kegelisahan tersebut pun segera menenangkan semua suara-suara sumbang yang terjadi di acara pertemuan tersebut.
"Tenang...tenang...para hadirin sekalian...
Ucap Nagadhini yang membuat suasana kembali tenang kembali tanpa kegaduhan. Setelah, keadaan kembali tenang maka Nagadhini pun membuka suara.
"Wahai...para hadirin sekalian...para punggawa kerajaan...dan para Ratu Ular...
Sambutan Nagadhini menyambut seluruh yang hadir disana.
"Sengaja aku mengumpulkan kalian semua disini untuk membahas tentang sesuatu hal...
Ucap Nagadhini. Semua yang ada di aula istana pun saling pandang tidak mengerti. Dan, bertanyalah salah seorang dari mereka.
"Nyai Archa Sevadha, sebenarnya sesuatu apakah yang hendak kau bicarakan dengan kami...sehingga kau mengumpulkan kami seluruhnya di sini...
__ADS_1
Ucap salah seorang dari mereka yang ternyata adalah Ratu Ular Katrina Maheswari, Ratu Ular Hijau.
"Apakah, nyai Katrina Maheswari sangat penasaran...
Tanya Nagadhini yang sedang menyamar tersebut.
"Tentu saja, nyai...sepertinya ada sesuatu yang begitu mengusik pikiran nyai...coba katakan kepada kami semua...apakah hal tersebut yang membuat nyai mengirimkan undangan untuk kami semua dan membuat kami semua berkumpul di sini...
Ucap Katrina Maheswari tersebut. Mendengar kata-kata dari Ratu Ular Hijau tersebut membuat Nagadhini tersenyum.
"Baiklah, nyai...kalau begitu aku akan mengatakan kepada kalian semua...
Ucap Nagadhini lagi.
"Kalian tahu kan kalau Mani merah milik Dewi Ular sudah direbut...dan sampai saat ini Mani merah tersebut beum juga didapatkan kembali oleh Dewi Ular...
Ucap Nagadhini.
"Tentu saja, nyai kami mengetahui hal tersebut...lalu apakah maksud nyai dengan semua ini, nyai...
Tanya Katrina.
"Maksudku adalah...
Ucap Nagadhini membalas pertanyaan Katrina Maheswari namun Nagadhini diam tidak melanjutkan kata-katanya. Semua terdiam dan menunggu dengan perasaan penasaran. Nagadhini masih diam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Dan, tidak lama kemudian Nagadhini mengeluarkan Mani merah milik Dewi Ular dari dalam tubuhnya. Mani merah tersebut mengeluarkan cahaya berwarna merah semerah darah.
Semua yang hadir memenuhi undangan Nagadhini mereka semua menjadi terkejut. Mereka pun lalu saling berbisik-bisik. Seketika, suasana di aula tersebut menjadi berisik. Nagadhini tersenyum senang melihat semua tamu undangannya terkejut dan berbisik-bisik bersama dengan rekan di sebelahnya.
"Bagaimana mungkin, bukankah Mani merah ada di tangan Baba si pawang ular sakti tersebut?"
Ucap seekor siluman ular yang memakai mahkota bergambar ular di kepalanya yang sedang berbicara dengan rekan di sebelahnya. Melihat suasana dan situasi semakin tidak terkendali sebab terjadi perdebatan di antara para Ratu Ular. Nagadhini pun mengangkat kedua tangannya sambil berkata...
"Tenang...tenang semuanya...
Ucap Nagadhini. Dan, salah satu dari para Ratu Ular tersebut pun langsung mengungkapkan rasa penasarannya kepada Nagadhini.
"Nyai, bagaimana kau bisa mendapatkan Mani merah tersebut...sedangkan selama ini yang kita tahu Mani merah sudah berpindah tangan kepada Baba...lalu bagaimana bisa Mani merah tersebut jatuh ke tanganmu, nyai...dan satu hal lagi nyai...singgasana tersebut hanya diperuntukkan untuk Dewi Ular, Nagini...mengapa kau mendudukinya?"
Ucap Ratu Ular tersebut. Mendengar kata-kata tersebut membuat Nagadhini menjadi sedikit emosi. Akan tetapi, ia menahan emosi tersebut agar tidak keluar melewati batas yang akhirnya akan membuat seluruh rencananya gagal. Karena, untuk meggulingkan kekuasaan Dewi Ular dan untuk mendapatkan singgasana tersebut maka ia harus mendapatkan persetujuan dari para Ratu Ular yang ada di seluruh dunia.
Jika tidak, maka akan sia-sia saja semua rencananya tersebut. Sebab, ia memerlukan banyak dukungan dari para Ratu Ular tersebut agar ia mendapatkan semua keinginannya. Untuk itulah, ia memerlukan Mani merah milik Dewi Ular. Demi mewujudkan rencana jahatnya tersebut. Karena, dengan menunjukkan Mani merah tersebut maka ia berharap para Ratu Ular berpikir bahwa Dewi Ular sudah gagal menjaga Mani merah miliknya.
Dan, ia tidak pantas menduduki singgasana sekaligus ia juga tidak pantas untuk menjadi sang Dewi Ular para Ratu Ular. Demikianlah rencana licik Nagadhini yang sudah ia susun sedemikian rupa untuk mendapatkan semua keinginannya. Meski harus menempuh cara curang sekalipun. Nagadhini tidak peduli. Baginya apa yang terpenting harus ia dapatkan meski harus menumpahkan darah sekalipun ia akan rela melakukannya.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI, DEWI ULAR