
Setelah kejadian tersebut, Aisha merasa sangat bersalah dan malu sekali. Sebagai pimpinan para Ratu Ular ia merasa tindakannya saat itu telah menumbuhkan rasa takut di antara ribuan milyar bangsa ular. Oleh sebab itu, ia ingin sekali merubah citra buruk dirinya. Ia tidak ingin kejadian tersebut terulang lagi di dalam pemerintahannya.
"Yang terpenting adalah mengatur tingkat emosimu."
Ucap Eyang Sri Kantil di sela-sela kunjungannya.
"Iya, nyai."
Ucap Aisha.
"Kau memiiki kekuatan besar yang dapat menghancurkan dunia...jika, kau tidak dapat menyeimbangkannya maka itu akan menjadi bencana besar, Aisha."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Ya, saat itu aku tidak tahu apa yang telah aku lakukan...rasanya sangat indah dan memuaskan bagiku jika...aku dapat menghancurkan segalanya."
Ucap Aisha.
"Itulah yang harus kau lawan dan hadapi...jangan sampai ia yang mengendalikanmu tetapi...harus kau yang mengendalikannya...dan, kejadian saat itu jadikanlah pelajaranmu."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Aku paham, nyai."
Ucap Aisha.
"Dan, mengenai penculikan ibumu...sebentar lagi dia akan datang menemuimu...dia ingin menukar ibumu dengan segel milikmu."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Oh, ya? Siapa dia, nyai."
Tanya Aisha.
"Seseorang yang sangat kau kenal."
Ucap Eyang Sri Kantil.
Seseorang yang sangat kukenal? Siapa? Apakah, Nagadhini.
Ucap Aisha dalam hati.
"Nah, sebaiknya aku kembali terlebih dahulu...ingatlah, Aisha...jangan libatkan emosi dalam masalah penculikan ibumu."
Ucap Eyang Sri Kantil sambil menghilang di antara hembusan angin.
"Baiklah, nyai."
Ucap Aisha. Setelah, pembicaraan saat itu. Benar saja, seseorang yang dikatakan oleh Eyang Sri Kantil datang sendiri ke hadapan Aisha. Dan, ia ingin menukar ibu Aisha dengan segel milik Aisha. Tetapi, orang tersebut bukanlah Nagadhini. Melainkan anak buah dari Nagadhini.
"Oh, jadi kau datang kesini demi segel milikku?"
Ucap Aisha.
"Benar! Dan, sebagai gantinya aku akan menyerahkan ibumu."
Ucap anak buah tersebut.
"Oh, jadi kau menginginkan pertukaran?"
Ucap Aisha. Dan, seseorang tersebut hanya tersenyum.
Dia hanya tersenyum? Sudah jelas sekali bahwa ia benar-benar membutuhkan segel pembuka milikku.
Ucap Aisha dalam hati.
"Jika, kau ingin pertukaran...aku ingin melakukannya dengan orang yang sangat penting di belakangmu."
Ucap Aisha.
Apa! Bagaimana, dia tahu?
Ucap anak buah tersebut dalam hati.
"Apa, kau terkejut mengapa aku mengetahuinya?"
Ucap Aisha.
"Tidak heran, jika kau mengetahuinya...kau adalah Dewi Ular...kira-kira hal apa lagi yang tidak kau ketahui."
Ucap anak buah tersebut.
"Kalau, begitu?"
Ucap Aisha.
"Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi...nyai, muncullah!"
Ucap anak buah tersebut memanggil orang yang ada di belakangnya.
"Hahaha, Nagini...ternyata kau pintar sekali."
__ADS_1
Ucap Nagadhini tiba-tiba muncul disana.
Nagadhini! Sudah kuduga...dialah dalang dibalik penculikan ibuku.
Ucap Aisha dalam hati.
"Nagadhini! Ternyata, benar memang kaulah dalangnya."
Ucap Aisha.
"Ya, itu benar...lalu?"
Ucap Nagadhini.
"Kurang ajar! Serahkan ibuku, Nagadhini."
Ucap Aisha.
"Ibumu? Baiklah, dengan satu syarat!"
Ucap Nagadhini.
"Aku tahu apa syaratmu!"
Ucap Aisha.
"Bagus! Kalau, kau sudah tahu."
Ucap Nagadhini.
"Buka segel Peta ini terlebih dahulu...setelahnya, akan aku serahkan ibumu."
Ucap Nagadhini.
"Baik."
Ucap Aisha menyetujui syarat Nagadhini.
Begitu mudahnya dia menyetujui syaratku...dasar Nagini...dia masih saja bodoh seperti dahulu.
Ucap Nagadhini dalam hati.
Tampaknya, membuka segel di Peta tersebut berjalan sangat mudah...kukira akan menghadapi rintangan.
Ucap anak buah dalam hati. Aisha pun membuka segel yang ia pasang pada Peta Alam Semesta tersebut. Setelah, selesai ia pun menyerahkan kembali Peta tersebut kepada Nagadhini.
Tetapi, sebelumnya ia terlebih dahulu meminta Nagadhini menyerahkan ibunya terlebih dahulu baru ia akan menyerahkkan Peta tersebut.
"Segel Peta sudah kubuka...dan, sebaiknya kalian serahkan ibuku kembali kepadaku."
Ucap Aisha.
Ucap Nagadhini sambil tersenyum licik.
Dia tersenyum? Seperti ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
Ucap Aisha dalam hati.
"Hei, siluman ular air...bawa kemari wanita manusia itu."
Perintah Nagadhini kepada anak buahnya yang merupakan siluman ular air.
"Baik, nyai."
Ucap anak buah.
"Tampaknya, kau merasa khawatir sekali Aisha?"
Ucap Nagadhini.
"Khawatir? Tidak sama sekali...aku hanya khawatir setelah ini kau akan melakukan sesuatu."
Ucap Aisha.
"Itu sudah pasti, sebab...rencanaku memang harus berjalan sesuai dengan keinginanku...jikalau tidak mana mungkin aku akan menerima kekalahan."
Ucap Nagadhini.
"Huh! Kau masih saja sama seperti dahulu."
Ucap Aisha. Tidak lama kemudian siluman ular air kembali dengan membawa Alina dalam keadaan pingsan.
"Nyai, aku sudah membawanya."
Ucap anak buah.
"Baiklah, segera kita lakukan pertukaran."
Ucap Nagadhini sambil tersenyum licik untuk kedua kalinya.
Lagi-lagi, senyum itu lagi...apa maksudnya?"
__ADS_1
Ucap Aisha dalam hati. Lalu, Nagahini dan Aisha melakukan pertukaran secara bersamaan. Alina ditukar dengan Peta tidak tersegel. Akan tetapi, disaat pertukaran itu terjadi Nagadhini pun sengaja memukul tubuh Alina sehingga mengakibatkan luka dalam di bagian dalam tubuhnya. Aisha sangat terkejut sekali mendapati hal tersebut dan ia pun berteriak histeris.
"Ibu....!"
Teriaknya.
"Nagadhini! Kau sangat kejam...kau memukul ibuku."
Ucap Aisha.
"Hahaha..., Aisha? Apa, kau pikir aku akan menyerahkan ibumu secara gratis kepadamu?"
Ucap Nagadhini.
"Semua itu ada harganya."
Ucap Nagadhini sambil tersenyum jahat dan meninggalkan Aisha yang saat itu sedang menangisi ibunya.
"Ibu! Ibu! Bangun, ibu!"
Ucap Aisha sambil mengguncang tubuh ibunya.
"Ibu! Aisha, mohon ibu! Bangun, ibu!"
Ucap Aisha kembali mengguncang tubuh ibunya kasar. Akan tetapi, tubuh Alina tetap diam tidak bergerak.
"Tidak! Ibu! Bangun, ibu!"
Ucap Aisha semakin tidak terkendali tangisannya.
"Nagadhini....! Tunggu, pembalasanku....!"
Ucap Aisha marah dan kecewa.
......................
Sementara itu di dunia bawah tanah...
"Haish! Hatinya terluka sangat dalam...aku tidak tahu setelah ini apa yang akan dilakukan oleh Aisha...jika, dia mengamuk lagi...maka, aku pun tidak dapat menghentikannya kembali."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Nyai, bagaimana jika kita membantu nyai Dewi Ular untuk membalas Nagadhini."
Ucap anak buah Eyang Sri Kantil.
"Kita tidak boleh ikut campur dalam urusan mereka, Mayang."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Akan tetapi, nyai...jika dibiarkan terus maka akan banyak hal yang akan terjadi di luar kemampuan kita."
Ucap anak buah yang bernama Mayang itu.
"Dunia bawah tidak pernah ikut campur dalam urusan dunia atas, Mayang...apalagi, hal yang terjadi antara Aisha dan Nagadhini adalah dendam lama."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Dendam lama?"
Ucap Mayang.
"Ya, dendam lama antara dua siluman ular pertama dan kedua yang diciptakan oleh sang Pencipta terlebih dahulu...dibandingkan siluman ular lainnya."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Itu berarti dendam itu sudah berlangsung lama sekali."
Ucap Mayang.
"Ya, sampai Aisha mengalami reinkarnasi demi membalas dendam kepada Nagadhini."
Ucap Eyang Sri Kantil.
"Apa! Sampai seperti itu?"
Ucap Mayang. Dan, Eyang Sri Kantil menghembuskan nafas lelah.
"Itu berarti masalah itu tidak sesederhana yang aku pikirkan."
Ucap Mayang.
"Kau benar sekali...sudahlah! Sekarang, pergilah kau ke dunia atas dan tolonglah ibunya Aisha...berikan obat ini kepadanya."
Perintah Eyang Sri Kantil.
"Baiklah, nyai."
Ucap Mayang sambil menerima obat lalu segera menghilang dari hadapan Eyang Sri Kantil.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR