
Peristiwa alam yang Baba lihat di kehidupan masa lalu Nagini, benar-benar mengerikan. Semua hancur lebur tidak bersisa lagi. Mayat-mayat hewan yang sudah hancur atau pun hanya tinggal bagian tubuhnya saja yang tidak utuh menjadi pemandangan mengerikan bagi Baba. Sungguh ia tidak dapat membayangkan jika seandainya saja peristiwa alam itu terjadi di masa sekarang sudah pasti akan menimbulkan kehancuran bagi seluruh umat manusia.
Dan, Baba tidak dapat membayangkan betapa hebatnya kehancuran yang akan terjadi di alam manusia nanti. Pasti akan sangat menyakitkan bagi seluruh manusia di bumi. Bahkan, bukan hanya manusia akan tetapi hewan dan tetumbuhan pasti akan mengalami nasib yang sama. Sungguh Baba masih bersyukur, masih selamat dan masih dapat hidup meski seluruh anak cucu keturunannya sudah tiada.
Karena, Baba masih dihadapkan kepada hal yang tidak ia sangka, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat bayangan seseorang disana. Meski samar namun ia bisa merasakan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang tersebut sangat kuat jauh melampaui dirinya. Ia menatapnya lalu tidak lama kemudian ia melihat sosok yang sangat dikenalnya. Sosok tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sosok Nagini.
Ia terkesiap sesaat melihat wujud Nagini saat itu seekor ular siluman dengan tubuh separuh manusia dan separuhnya lagi ialah ular. Nagini berjalan menyisiri tempat yang hancur dan berantakan tersebut serta bau busuk yang menyergap hidung. Sungguh bau yang sangat tidak enak untuk dihirup. Untuk sesaat Nagini berdiri disana, mematung dan bersedih hati. Ia melihat banyak sekali kehancuran yang terjadi. Yang membuatnya menangis dan terluka adalah bahwa makluk sebangsanya pun tidak luput dari peristiwa alam menakutkan tersebut.
Ia terlihat sangat menderita sekali. Sebab, ia juga merupakan salah satu dari mereka. Akan tetapi, meskipun begitu Nagini sangat kuat jika dibandingkan dengan makhluk sebangsanya. Ia tidak semudah itu tiada dan ia juga tidak semudah itu terluka. Oleh karenanya, ia pun ingin agar badai tersebut segera berlalu seiring dengan zaman yang kian berubah seiring waktu. Lalu, ia pun segera melakukan tapa brata selama dalam kurun waktu yang tidak ditentukan.
Berharap kemurahan sang Pencipta untuk mengembalikan keadaan yang sudah hancur tersebut kembali seperti semula. Baba yang melihatnya melakukan tapa brata hanya demi menyelamatkan kembali makhluk ular siluman sebangsanya ia menjadi terharu. Sungguh Baba tidak menyangka kalau Dewi Ular sanggup melakukan hal tersebut. Hanya demi menyelamatkan dunianya yang sudah hancur tersebut. Maka, ia rela melakukan pengorbanan apa pun demi sesama bangsanya sendiri.
Ketika, Baba sedang terharu melihat pengorbanan besar sang ular siluman. Tiba-tiba, pandangan mata Baba menjadi silau sebab satu cahaya yang bersinar terang turun ke bumi. Baba sejenak takjub melihat keajaiban seindah itu di hadapan pandangan matanya. Seakan ia belum pernah melihat sesuatu yang demikian indahnya. Sinar cahaya tersebut sangat hangat seperti hangatnya sinar matahari dikala senja. Sehingga, sejenak ia menjadi terdiam dan mematung.
"Apa itu, indah sekali dan sinarnya begitu terang dan sangat hangat sekali...membuat perasan hatiku merasa nyaman dan juga tenang...untuk sejenak aku dapat melupakan rasa sedihku...atas kehilangan nyawa anak cucu keturunanku...
Ucap Baba sambil meresapi setiap hangatnya sinar cahaya terang yang sesungguhnya berasal dari setetes air yang turun dari langit, yang disebut dengan Intisari Kehidupan. Dan, ketika sinarnya menyentuh bumi saat itu juga seluruh alam yang sudah mati dan tidak bernyawa pun hidup kembali.
Intisari Kehidupan mengembalikan dan meremajakan kembali keadaan bumi yang telah hancur dan porak poranda karena peristiwa alam.
Dan, Baba masih ada disana ketika ia melihat sang sinar tersebut mengembalikan dan meremajakan kembali alam Dunia Ular yang hancur tersebut. Sebelum akhirnya, satu kekuatan menarik tubuhnya ke zaman sekarang. Ia terkaget-kaget ketika ia mendapati dirinya sudah kembali ke zaman sekarang. Lalu, Nagini tersenyum melihat raut terkejut Baba. Dan, Baba pun merasa sedikit malu terhadap Nagini.
"Bagaimana dengan perjalananmu, Baba...melewati dimensi ruang dan waktu...
Tanya Nagini.
"Sangat menakjubkan sekali, Dewi Ular...
Balas Baba.
"Apa saja hal yang kau lihat dan dapatkan disana...
Tanya Nagini lagi.
"Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan disana, Dewi Ular...di zaman ketika bumi masih sangat muda...pertengakaranmu dengan Nagadhini...bumi yang hancur karena peristiwa alam juga peremajaan kembali bumi setelah kau melakukan tapa brata...hal tersebutlah yang kudapatkan, Dewi Ular...semua hal tersebut sangatlah berarti...
Balas Baba panjang lebar.
"Dan, pelajaran tersebut sangat berharga...ada makna disana...di setiap kejadian...dapatkah kau menyimpulkannya, Baba...
__ADS_1
Ucap Nagini kepada Baba. Baba yang mendapat pertanyaan tersebut untuk sejenak ia diam berpikir. Dari, kejadian pertama sampai kejadian ketiga semuanya saling berkaitan. Lalu, Baba ingat dengan kejadian pertama ketika Nagini dan Nagadhini bertengkar hanya karena seorang pria yang bernama, Zham. Yang diketahui Baba adalah kekasih dari Nagini, Dewi Ular. Ia ingin bertanya dan mempertanyakan tentang kejadian tersebut kepada Nagini.
"Banyak sekali, Dewi Ular...dari kejadian pertama sampai kejadian ketiga...semuanya saling berkaitan...namun ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, Dewi Ular...apakah kau dan Nagadhini saudara sedarah?"
Tanya Baba ingin tahu. Pertanyaan yang diajukan oleh Baba seakan menusuk hatinya. Terasa pedih dan menyiksa bathinnya yang paling dalam.
"Kau benar, Baba...setelah kau masuk ke zaman ketika bumi masih muda itu tentu saja, kau dapat melihat segalanya...bahkan hal yang tidak diketahui oleh bangsa ular pada umumnya...kau dapat mengetahuinya dengan jelas tentu saja atas izinku...
Balas Nagini terdiam sejenak, kemudian ia pun berkata...
"Kau memang benar, Baba...aku dan Nagadhini adalah saudara...akan tetapi bukan saudara satu darah...saudara karena telah diciptakan di muka bumi saat bumi masih muda...Nagadhini adalah ular siluman pertama yang ada di muka bumi sedangkan aku adalah yang kedua...bahkan dapat dikatakan aku adalah bayang-bayang dari dirinya...bayang-bayang yang selalu menghantui dirinya setiap saat dan setiap waktu...oleh sebab itu ia menggunakan segala cara untuk menjauhkan diriku dari dirinya...
Ucap Nagini menjelaskan secara jelas kepada Baba.
"Dengan meminta, Zham?"
Ucap Baba dan Nagini tersentak ketika Baba menyebut nama, Zham.
"Ya, itu adalah awalnya saja Baba...selebihnya dia akan meminta yang lebih daripada itu...
Ucap Nagini.
"Apa misalnya, Dewi Ular...
"Kau pasti sudah tahu, Baba...aku sudah melihatnya dengan jelas sejak aku bertemu di reruntuhan bangunan dan diantara mayat-mayat anak cucumu yang bergelimpangan...bahwa kau ada hubungannya dengannya, Nagadhini...
Ucap Nagini dengan jelas dan rinci, sehingga membuat Baba tidak dapat lagi menyembunyikannya lebih lama lagi dari Dewi Ular.
"Intisari Kehidupan...
Ucap Baba, akhirnya.
"Kau tentu tahu dan kau sudah merasakan sinar hangat dari Intisari Kehidupan...ia dapat meremajakan kembali alam Dunia Ular yang sudah mengalami kehancuran...lalu bagaimana jika Intisari Kehidupan jatuh ke tangan orang yang berniat jahat...seperti, Nagadhini misalnya...
Ucap Nagini.
"Tentunya hal tersebut akan menimbulkan bencana besar, Dewi Ular...maafkan, aku jika ternyata hal tersebut sangat berbahaya bagi kehidupan di bumi...
Ucap Baba.
__ADS_1
"Bukan hanya berbahaya bagi Dunia Ular tetapi berbahaya juga bagi keseimbangan dua alam...alam antara manusia dan alam Dunia Ular...
Ucap Nagini, yang membuat Baba sedikit terkejut mendengar kata-katanya.
"Apa! Separah itukah...acha...
Ucap Baba dengan ekspresi wajah terkejut.
"Ya, karena itulah aku memberimu Mani merah milikku, meskipun aku tahu yang kau inginkan adalah Intisari Kehidupan...tetapi kau tidak tahu bagaimana bentuk Intisari Kehidupan...jadi yang kau minta dariku hanyalah Mani merah saja...aku benarkan?"
Ucap Nagini tersenyum manis.
"Itu...itu...iya...Dewi Ular...sesungguhnya aku salah paham dengan maksud Nagadhini saat itu, Dewi Ular...aku memang tidak tahu dan aku memang salah paham...salah paham karena aku mengira Mani merah adalah Intisari Kehidupan...
Ucap Baba, akhirnya mengakui.
"Ya, itu sebabnya kau menggunakan Mani merah untuk mengubah wujud manusiamu bukan? Demi cintamu kepada Nagadhini, kau tidak menyerahkannya kepadanya...tetapi kau menggunakannya demi kepentinganmu...
Tanya Nagini.
"Ya, itu benar sekali...aku memang menggunakannya untuk hal tersebut, Dewi Ular...
Jawab Baba.
"Akan tetapi, waktu latihanmu belum cukup, Baba...kau butuh melakukan tapa brata agar kau mendapatkan wujud sempurnamu...serta banyak latihan keras agar ilmu kanuragan serta kesaktianmu semakin sempurna...
Ucap Nagini.
"Jadi, begitukah Dewi Ular? Aku harus bertapa dan banyak latihan keras...
Ucap Baba dan Nagini hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kalau begitu, aku akan pergi melakukan tapa brata serta latihan keras...tetapi Mani merah ini...
Ucap Baba ragu ketika Mani yang ada di dalam darahnya adalah Mani merah milik Nagini.
"Tidak perlu ragu, Baba...aku tidak akan memintanya kembali...tetapi aku sudah memberikan Mani merahku kepadamu...jadi kau bisa tenang sekarang...dan gunakanlah ia dijalan kebaikan Baba...jangan gunakan dia di jalan yang salah...janganlah kau meniru langkah Nagadhini hanya karena cinta...sebab hal tersebut adalah semu belaka...
Ucap Nagini berkata panjang lebar kepada Baba. Nagini sudah mengikhlaskan Mani merah miliknya untuk Baba. Dan, Nagini tidak akan memintanya kembali. Sebab, sejak Mani merah berpindah tangan sejak itulah Mani merah bukan miliknya lagi. Dan, Nagini yakin Baba adalah orang yang tepat untuk memilikinya.
__ADS_1
Bersambung...
NAGINI, DEWI ULAR