NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 34. Kemarahan Nagadhini


__ADS_3

Baba pun segera pergi hadapan Nagini untuk melakukan tapa brata demi meningkatkan kualitas dirinya sebagai makhluk siluman ular yang masih muda. Agar ia segera mendapatkan wujud sempurna yang dimiliki oleh seekor siluman ular dan tidak dipandang sebelah mata lagi oleh Nagini atau pun siluman ular lainnya.


Baba sebagai siluman ular yang masih muda ingin mendapatkan pengakuan dari seluruh siluman ular di Dunia Ular termasuk sang Dewi Ular bahwa ia adaalh siluman yang tidak dapat dianggap remeh. Bahwa, ia termasuk salah satu dari sekian banyak siluman ular yang memiliki kesaktian pilih tanding. Atas petunjuk Dewi Ular, Baba pun rela melakukan tapa brata demi niat dan tujuan mulia.


Ia tidak ingin salah jalan lagi. Dan, ia tidak ingin lagi terjebak dalam cinta palsu Nagadhini. Dan, ia ingin agar dirinya menjadi lebih baik lagi. Menjadi makhluk siluman yang baik yang dapat berbuat baik kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan darinya. Baba yang sekarang memang berubah drastis, semenjak ia merasakan hangatnya cahaya Intisari Kehidupan ia merasa sangat nyaman dan perasaan hatinya pun menjadi tenang.


Tidak ada perasaan dendam lagi. Yang ada sekarang hanya ada perasaan tenang dan nyaman. Yang membuatnya menjadi berbeda, tidak seperti dulu lagi. Oleh sebab itu, ia pun mencari tempat untuk melakukan tapa brata berharap kesaktiannya bertambah sekaligus mendapatkan wujud yang sempurna seperti para siluman ular lainnya.


Ia menyusuri hutan, untuk mencari sebuah goa yang dapat digunakan untuk melakukan tapa brata. Akan tetapi, laju langkahnya tiba-tiba dihadang oleh seekor ular siluman yang sangat dikenalnya. Ia terkejut dan ia pun segera berhenti sekaligus ia mengubah wujudnya ke wujud manusia kembali. Sedangkan, makhluk siluman yang ada di hadapannya tersebut sedang memperhatikan dirinya sambil tersenyum.


"Ah, nyai...kau disini...


Ucapnya dengan ekspresi terkejut.


"Tentu saja, Baba sayangku...


Ucap seekor ular tersebut yang tidak lain adalah Nagadhini. Tiba-tiba saja, Baba merasakan adanya bahaya yang sedang mengancam jiwanya semenjak Nagadhini menghadang langkahnya. Dan, Nagadhini memandangi wajah Baba yang terlihat sedikit pucat dan berkeringat dingin.


"Baba, ada apa denganmu...tidak biasanya wajahmu pucat dan juga tidak biasanya kau berkeringat dingin begini...


Ucap Nagadhini sambil menyentuh bulir-bulir keringat yang menetes di kening Baba.


"Acha...nyai...aku tidak apa-apa, tidak ada yang terjadi denganku nyai...aku baik-baik saja...


Ucap Baba menyangkal, padahal Baba takut sekali apabila Nagadhini tiba-tiba ada disana di hadapannya dan melakukan sesuatu terhadap dirinya.


"Oh, ya kalau begitu...hendak kemanakah engkau, Baba...mengapa kau pergi dariku dan menjauhiku...bukankah kau mencintaiku?"


Ucap Nagadhini.


"Nyai...aku tidak pergi kemana-mana...aku hanya ingin berjalan-jalan saja dengan menyusuri hutan...


Ucap Baba berbohong.


"Oh, ya...benarkah...lalu mengapa kau berjalan-jalan disini seperti sedang mencari tempat aman?"


Ucapnya lagi penuh selidik.

__ADS_1


"Nyai...aku benar-benar hanya berjalan-jalan saja...aku tidak sedang mencari tempat aman...


Balas Baba lagi.


"Kau berbohong, Baba...kau bermain-main di belakangku...kau mengkhianatiku dan kau juga berbohong kepadaku...kau pikir aku ini siluman bodoh, hah!"


Ucap Nagadhini yang tidak diterima dikhianati dan dibohongi oleh Baba, akhirnya ia pun marah lalu melayangkan pukulan jarak dekat kepada Baba. Karena, posisi Baba saat itu sedang berhadapan dengan Nagadhini dari jarak yang sangat dekat.


"Bugh...


Nagadhini langsung menyerang Baba, dan pukulannya mengenai ulu hati Baba. Seketika, tubuh Baba jatuh terjengkang. Karena, pukulan Nagadhini yang sangat kuat dan bertenaga tersebut membuat Baba merasa kesakitan.


"Arrgh...nyai...mengapa, kau menyakitiku!"


Ucap Baba berteriak.


"Itu adalah hukuman bagi seorang pengkhianat dan hukuman bagi seorang yang suka membohongiku...


Ucap Nagadhini.


"Tetapi, nyai aku tidak melakukan itu semua...aku sangat setia kepadamu...


"Oh, benarkah...lalu apakah yang kulihat tadi kau bersama dengan Nagini...dan apa yang kudengar tadi...tentang tapa brata dan peningkatan ilmu kesaktian...seperti wujud sempurna siluman ular...


Ucap Nagadhini membeberkan pembicaraan Baba dan Nagini tadi di tepi hutan. Baba yang mendengarnya seketika terkejut. Ia tidak menyangka jika Nagadhini mengetahui pembicaraannya dengan Nagini tadi. Ia merasa sangat shock dan ia pikir maka habislah ia kali ini ditangan Nagadhini.


Ini benar-benar masalah besar...nyai Nagadhini mengetahui pembicaraanku dengan Dewi Ular...dia pasti akan membunuhku...karena aku telah melanggar perjanjianku dengannya...acha...habislah aku kali ini..


Ucap Baba dalam hati. Sementara, itu Nagadhini tersenyum dengan mata melotot menatap Baba dengan matanya yang berubah menjadi mata ular. Dan, Baba semakin bergidik ketakutan melihatnya. Lalu, sekejap saja ia pun berubah menjadi seekor siluman ular bertubuh kecil dan lari meninggalkan Nagadhini disana.


Nagadhini yang melihat hal tersebut pun langsung bertindak. Secepat kilat, Nagadhini pun merubah dirinya menjadi seekor ular raksasa. Separuh bertubuh ular dan separuh lagi bertubuh manusia. Ia menyisiri hutan mencari keberadaan Baba. Akan tetapi, ia tidak berhasil menemukan Baba. Nagadhini mengobrak-abrik seisi hutan akan tetapi ia tetap tidak menemukan Baba di seluruh hutan. Nagadhini marah dan ia menghncurkan apa pun yang ada di hadapannya.


"Dimana kau, Baba!"


Teriak Nagadhini.


"Baba, kau memang pengkhianat sejati Baba...tetapi kau lupa aku Nagadhini, dan aku tidak dapat menerima satu pengkhianatan apalagi kebohongan...sebab pengkhianatan dan kebohongan adalah dua hal yang hampir sama, Baba...tidak jauh berbeda...jadi, baik kau seorang partner sejati atau pengkhianat sejati...dirimu tetap sama bukan? Jadi, keluarlah kau dari tempat persembunyianmu, Baba!"

__ADS_1


Ucap Nagadhini dengan suara nyaring memenuhi hutan. Sementara, Baba yang mendengar suara Nagadhini yang lantang seketika ia semakin ketakutan dan ia tetap diam di tempatnya bersembunyi. Sebagai, ular yang masih muda dan masih belum memiliki wujud sempurna. Wajar saja jika Baba, lebih memilih melarikan diri daripada melawan seekor ular siluman yang memiliki wujud sempurna.


Sebab, percuma saja jika ia melawan tetap hasilnya tidak akan berubah dan ia akan kalah dari Nagadhini yang sakti serta serakah tersebut. Sementara, Baba sedang bersembunyi. Nagadhini mulai kehilangan akal sebab meskipun ia mengobrak-abrik hutan tetapi Baba belum keluar juga. Nagadhini tahu jika Baba tidak akan keluar dari tempat persembunyiannya maka Nagadhini menggunakan trik licik agar Baba keluar dari tempat ia sembunyi. Ia sengaja memancing kemarahan Baba.


"Baiklah, Baba...jika kau tidak ingin keluar dari sana...sembunyi saja disana...dan jangan keluar dari sana...maka kau akan selamat...tetapi apakah kau tidak ingin tahu?"


Ucap Nagadhini mencoba memancing Baba. Sedangkan, Baba tetap diam di tempat persembunyiannya sambil ia berpikir apa yang sesungguhnya yang sedang dilakukan oleh Nagadhini.


Apa yang sesungguhnya yang sedang dia rencanakan? Mengapa, ia berkata seperti itu...sepertinya dia ingin memancingku?


Ucap Baba dalam hati.


"Baba! Apakah, kau tidak ingin tahu tentang kematian anak cucu keturunanmu?"


Ucap Nagadhini. Dan, kali ini pancingannya tepat sasaran. Baba, yang begitu mendengar Nagadhini berbicara tentang kematian anak cucu keturunannya pun sekejap saja amarahnya memuncak. Lalu, tidak lama kemudian ia keluar dari persembunyiannya dalam bentuk wujud manusia.


"Nyai...kau memang keparat sialan! Jika, memang kau tahu untuk apa memancingku! Bukankah, kau dapat mengatakan kepadaku secara langsung? Katakan! Untuk apa semua ini, nyai!"


Ucap Baba dengan amarahnya yang sedang memuncak. Nagadhini yang sudah melihat sasarannya langsung saja menyerang Baba secara tiba-tiba dengan kibasan ekornya.


"Wuttt...


Akan tetapi kibasan ekornya tidak mengenai tubuh Baba, sebab Baba segera menghindari serangan dari Nagadhini tadi.


"Nyai, mengapa kau menyerangku...kau sudah dua kali menyerangku...cepat katakan nyai, apa yang kau tahu tentang kematian anak cucu keturunanku!"


Teriak Baba nyaring. Akan tetapi, bukan jawaban yang didapat oleh Baba. Melainkan, serangan kembali yang dilancarkan oleh Nagadhini. Nagadhini melempari tubuh Baba dengan sepotong kayu raksasa yang sangat besar.


"Bruakkk...


Hampir saja mengenai tubuh Baba, tetapi Baba dapat mengatasinya. Melihat serangannya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Baba. Seketika, membuat Nagadhini semakin marah.


"Kurang ajar, kau Baba! Jangan menghindar terus, ayo lawan aku...dan aku akan mengantarkan kau bertemu dengan anak cucu keturunanmu...hahaha...karena apa? Karena, akulah yang telah membunuh mereka semua...hahaha...


Ucap Nagadhini sambil tertawa dengan lebar. Sedangkan Baba yang mendengar hal tersebut ia menjadi terkejut. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Nagadhinilah pelakunya. Bukan Nagini, sejenak Baba terpekur diam, membisu seribu bahasa. Sungguh ia merasa shock ketika Nagadhinilah yang menghabisi seluruh anak cucu keturunannya. Ia menyesal telah menuduh Nagini yang melakukan tindakan keji tersebut. Ternyata, wanita yang ia sukai tersebutlah yang melakukannya. Dan, Baba tidak sanggup menerima semua kenyataan tersebut


Bersambung...

__ADS_1


NAGINI, DEWI ULAR


__ADS_2