
Pertarungan itu membuat Nagadhini kerepotan karenanya. Dewi Ular yang sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Yang sekarang sangatlah kuat dan tidak dapat ia imbangi kekuatannya.
Sial! Dia semakin kuat...dibandingkan dulu...kesaktianku bahkan tidak dapat dibandingkan dengannya.
Ucap Nagadhini dalam hati.
Tetapi, aku tidak boleh menyerah begitu saja...aku akan berusaha untuk mengalahkannya...dan membangkitkan sang Iblis tersebut.
Ucap Nagadhini lagi dalam hati.
"Mengapa, Nagadhini? Apa, kau heran...aku lebih kuat sekarang?"
Ucap Aisha.
"Hmph! Kesaktian yang kau dapat sekarang...itu juga merupakan sumbangan dariku...jika, bukan aku yang membuatmu celaka...mana mungkin kau akan begitu kuat sekarang!"
Ucap Nagadhini.
"Oh, sumbangan ya? Tetapi, aku merasa tidak begitu...bagiku ini adalah anugerah dari sang Pencipta...bukan karena sumbangan darimu."
Ucap Aisha.
"Cih! Tidak perlu menyebut sang Pencipta...akulah yang membuatmu seperti sekarang ini."
Ucap Nagadhini sombong.
"Jangan bersikap sombong, Nagadhini...saatnya nanti kau jatuh...maka, kau akan memahami dan mengerti betapa Maha Kuasanya sang Pencipta."
Ucap Aisha mengingatkan.
"Ck, sudahlah! Tidak perlu menceramahiku...kita selesaikan saja urusan ini...segera."
Ucap Nagadhini yang kemudian mulai menyerang Aisha dengan kekuatan penuh.
Lagi-lagi, menyerangku dengan cara seperti ini...benar-benar bodoh.
Ucap Aisha dalam hati. Nagadhini tidak ingin membuang-buang waktu dengan percuma. Sebab, sinar bulan pun sudah mencapai puncaknya. Sungguh ia tidak memiliki waktu lagi. Ia harus melumpuhkan Aisha dan merebut tempat penyimpanan darah ketujuh perawan suci.
Serangan Nagadhini pun semakin brutal dan tidak terarah. Dan, mereka berdua pun bertarung di udara. Mereka berdua saling menyerang serta saling menggunakan kesaktian mereka masing-masing. Alhasil, pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit. Sehingga, mengakibatkan semua pepohonan yang ada di bawah porak poranda.
Pertarungan antara Nagadhini dan Aisha mengakibatkan kerusakan dimana-mana. Dan, hal tersebut membuat seluruh penghuni Dunia Ular dicekam ketakutan. Mereka takut jika pertarungan kedua makhluk siluman ular terkuat itu menghancurkan dunia mereka.
Oleh sebab itu, Eyang Sri Kantil sang penguasa dunia bawah pun hadir. Ia menyelubungi Dunia Ular dengan kesaktiannya. Agar, dampak dari kesaktian dua siluman ular itu tidak membuat kerusakan terlalu parah pada Dunia Ular. Dan, memicu kemarahan sang Pencipta Langit dan Bumi.
Aisha sebagai Dewi Ular sangat berterima kasih atas bantuan tersebut. Sehingga, ia dapat terus bertarung dengan Nagadhini tanpa rasa khawatir. Dan, Eyang Sri Kantil menghargai rasa terima kasih Aisha.
Serta, tetap memberi dukungan kepada Aisha untuk mengakhiri kejahatan Nagadhini di Dunia Ular untuk selamanya. Nagadhini melihat Eyang Sri Kantil hadir disana. Dan, ia merasakan ancaman dari penguasa dunia bawah tersebut.
Hmph! Penguasa dunia bawh itu...dia sangat kuat...aku takut jika dia bergabung dengan Nagini...maka aku akan kewalahan menghadapi mereka berdua.
Ucap Nagadhini dalam hati. Aisha melihat rasa khawatir pada diri Nagadhini. Dan, ia hanya tersenyum saja sambil berkata...
"Tenanglah, Nagadhini! Penguasa dunia bawah itu...tidak akan mencampuri urusan kita berdua."
Ucap Aisha.
"Nagini! Kau selalu saja mengintip sesuatu...dengan mata istimewamu itu...apakah, kau tidak bisa menghentikan kebiasaan lamamu itu?"
Ucap Nagadhini.
"Nagadhini, sayang sekali...aku tidak bisa menghentikan kebiasaan lamaku itu...sungguh sangat menyenangkan dapat melihat rasa khawatirmu itu."
Ucap Aisha mengejek.
"Kurang ajar, kau Nagini!"
Teriak Nagadhini marah sambil melayangkan pukulan-pukulan berbahayanya kepada Aisha. Aisha seketika mengelak dari serangan-serangan yang ditujukan kepada dirinya. Pertarungan di atas udara pun terjadi dengan hebat. Dua kekuatan beradu di udara. Lalu, seketika angin pun berhembus dengan kencang sembari menimbulkan keributan di Dunia Ular.
Yang mengakibatkan banyak kerusakan yang terjadi di Dunia Ular. Namun, kerusakan tersebut tidaklah parah. Sebab, kesaktian penguasa dunia bawah yang telah melindungi Dunia Ular. Eyang Sri Kantil tetap tenang meski benturan-benturan antar kesaktian mereka bertiga sering terjadi.
Nyai! Bagus, kau tetap bertahan meski benturan adu kesaktian kami juga mempengaruhimu...bersabarlah, nyai...akan aku selesaikan semua ini.
Ucap Aisha melalui komunikasi bathin kepada Eyang Sri Kantil.
Tidak apa-apa...nyai, lanjutkan saja pertarunganmu...dan usahakan darah tujuh perawan suci...tidak dapat ia rebut dari tanganmu.
__ADS_1
Balas Eyang Sri Kantil.
Baiklah, nyai.
Ucap Aisha. Aisha selesai berkomunikasi bathin dengan Eyang Sri Kantil. Karena, ia bertarung sekaligus berkomunikasi bathin dengan Eyang Sri Kantil. Mengakibatkan, terbukanya celah yang membuat Nagadhini mengambil kesempatan untuk merebut darah tujuh perawan suci dari tangan Aisha.
Akan tetapi, gagal sebab Aisha mengetahuinya. Nagadhini tidak berhasil merebutnya. Malah, akibatnya darah tujuh perawan suci jatuh dari atas ketinggian dan hampir saja darah ketujuh perawan suci tumpah di atas peti mati sang Iblis. Bila tidak diselamatkan oleh Eyang Sri Kantil dengan segera.
"Hap! Dapat."
Ucapnya.
"Nyai, tolong jagakan darah tersebut untukku."
Pinta Aisha dari atas sana.
"Baiklah."
Balas Eyang Sri Kantil.
"Kurang ajar, kau Nagini! Mengapa, kau malah menyuruh siluman dunia bawah...membantumu menjaganya."
Ucap Nagadhini semakin marah.
"Mengapa, tidak kau memberikannya saja kepadaku...dan aku dapat membangkitkan makhluk dalam peti tersebut."
Ucap Nagadhini lagi.
"Maaf, Nagadhini! Dari awal tujuanku adalah aku ingin dunia ini tetap aman dan damai."
Ucap Aisha.
"Kau terlalu banyak bicara, Nagini!"
Ucap Nagadhini kemudian ia menyerang Aisha. Nagadhini berubah menjadi seekor ular besar. Dan, ia siap menelan tubuh Aisha dan menghancurkannya. Akan tetapi, ternyata Aisha lebih gesit dari Nagadhini.
Ia mengeluarkan satu senjata yang dahulu diburu dan diinginkan oleh Nagadhini yakni Intisari Kehidupan. Melihat benda sakti idamannya tersebut berada di tangan musuhnya. Seketika, membuat Nagadhini semakin bernafsu untuk mendapatkannya.
Intisari kehidupan! Aku harus mendapatkan benda sakti itu dari tangannya...dengan benda sakti tersebut aku bisa menjadi orang paling kuat dimuka bumi...dan, aku tidak butuh bantuan sang Iblis lagi.
Ucap Nagadhini dalam hati.
Ucap Nagadhini.
"Nagadhini, kau menginginkan benda sakti ini dari tanganku? Boleh saja...tapi, serahkan dahulu nyawamu kepadaku."
Balas Aisha.
"Setan Alas! Kurang ajar, kau!"
Ucap Nagadhini sambil mengibaskan ekornya ke arah Aisha. Namun, Aisha menghindar dengan cepat. Alhasil, kibasan ekor raksasa Nagadhini hanya menyentuh sebuah pohon besar disana dan...
"Brakk."
Pohon tersebut pun tumbang dan jatuh ke bawah. Lagi, Nagadhini menyerang dengan menyemburkan bisa kepada Aisha. Dan, lagi serangannya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Aisha. Dengan, menggunakan Intisari Kehidupan.
Intisari Kehidupan menyerap bisa yang menyerang Aisha. Nagadhini pun terkejut ketika melihat hal tersebut berlangsung di hadapannya. Sungguh ia tidak menyangka kalau Intisari Kehidupan dapat menyerap bisanya. Melihat raut wajah Nagadhini membuat Aisha menjadi berada di atas angin. Ia tersenyum saja melihat Nagadhini.
"Ada apa, Nagadhini? Kau terkejut, melihat bisamu diserap?"
Ucap Aisha mengejek.
"Huh! Dasar, keparat kau Nagini...kau sengaja menggunakan kekuatannya untuk menekanku."
Ucap Nagadhini.
"Nagadhini, apa kau pikir aku ini sengaja menggunakan kekuatannya?"
Balas Aisha.
"Jika, bukan kau tidak sengaja...mana mungkin kau menggunakan kekuatannya."
Ucap Nagadhini.
"Oh, baiklah...tampaknya kau keberatan...maka aku akan menggunakan kekuatan yang sama denganmu."
__ADS_1
Ucap Aisha. Lalu, Aisha pun menyimpan kembali Intisari Kehidupan ke dalam tubuhnya. Dan, dalam sekejap mata ia pun berubah ke wujud paling sempurna. Ia berubah menjadi seekor ular besar berwarna keemasan dan memakai mahkota emas di kepalanya. Melihat wujud baru sempurna milik Aisha. Seketika, membuat Nagadhini merasakan kengerian luar biasa dalam dirinya.
Aura yang terpancar dari wujud baru Aisha membuat Nagadhini merasakan kekuatan luar biasa yang tersembunyi dalam diri Aisha. Sekaligus, kekuatan mematikan yang sangat berbahaya. Dan, bukan ia saja yang merasakannya. Bahkan, semua yang menyaksikan hal tersebut pun merasakan hal yang sama.
Wujud ini benar-benar tampak berbeda dengan wujud miliknya yang dahulu...jelas sekali kekuatannya saat ini melebihi saat itu.
Ucap Nagadhini dalam bathin.
Aku harus berhati-hati...jika, tidak maka aku yang akan tewas di tangannya.
Ucapnya lagi.
"Sekarang, kekuatan kita sama Nagadhini! Mari, kita bertarung sampai akhir."
Ucap Aisha sambil mengibaskan ekornya kepada Nagadhini.
"Whusss."
Nagadhini, menghindari serangan Aisha yang terlihat sangat ganas.
"Boom!"
Serangan Aisha menghantam tanah. Dan, tanah yang baru saja terkena hantaman ekor Aisha pun hangus dan mengeluarkan asap. Nagadhini terkejut melihatnya.
"Serangannya sangat mengerikan."
Ucap Nagadhini kemudian ia pun meningkatkan kewaspadaannya. Agar ia tidak terkena kibasan ekor Aisha. Lagi, Aisha menyerang Nagadhini kembali. Namun, Nagadhini tidak tinggal diam begitu saja. Ia pun menyambut serangan ekor dari Aisha. Dan, kini ekor mereka saling melilit satu dengan lainnya. Nagadhini mengerahkan seluruh kekuatannya agar ia menang dalam pertarungan tersebut.
Akan tetapi, dalam pertarungan tersebut akhirnya yang menang adalah Aisha. Sebab, ketika dalam pertarungan tersebut ketika ekor mereka saling terlilit. Ekor Aisha mengeluarkan hawa panas dan membuat Nagadhini merasakan kesakitan yang luar biasa. Dan, akhirnya membuatnya berubah ke bentuknya yang semula.
"Aaargggghhhh."
Teriaknya.
"Ah...sakit...sakit sekali."
Ucapnya sambil bergulingan di tanah. Dan, semua yang menyaksikan hal tersebut menjadi sangat terkejut sekali. Tubuh Nagadhini melepuh dan ia mengalami luka bakar. Nagadhini meraung kesakitan. Sedangkan, Aisha kembali ke bentuknya yang semula. Lalu, ia pun menghampiri tubuh Nagadhini yang sudah hampir gosong.
Tiba-tiba, rasa iba menyelimuti relung hati Aisha. Terbersit niatnya di hati untuk menolong Nagadhini. Akan tetapi, Eyang Sri Kantil mencegahnya. Aisha pun memahami. Dan, saat itulah Deviandra pun hadir serta mendekati tubuhnya yang sedang diambang ajal. Deviandra menangis sedih.
"Hu...hiks...ibu...mengapa, kau jadi seperti ini?"
Ucap Deviandra sambil memeluk tubuh ibunya.
"De...vian...dra."
Ucap Nagadhini terbata-bata. Melihat, kondisi ibunya yang tampak menyedihkan tersebut membuat Deviandra pun memohon kepada Aisha. Untuk nyawa ibunya yang tercinta. Dengan deraian air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Hiks...bibi? Dapatkah, kau mengampuni nyawa ibuku?"
Ucap Deviandra. Dan, Aisha terdiam.
"Aku tahu ibuku banyak berbuat kejam...dan, menyakitimu serta membuatmu bereinkarnasi untuk kedua kali."
Ucap Deviandra.
"Tetapi, bagaimana pun dia adalah ibuku...aku...
Ucapan Deviandra terpotong ketika ia melihat Aisha mengangkat telapak tangannya dan berkata...
"Cukup, Deviandra! Bukan hanya aku saja yang merasakan...perbuatan ibumu...tetapi, orang lain pun juga merasakan akibat dari perbuatan ibumu."
Ucap Aisha.
"Jadi, kumohon berhentilah! Memohon ampun untuknya...sebab, dia tidak pantas!"
Ucap Aisha tegas. Begitu Deviandra mendengar kata-kata Aisha yang terdengar sangat tegas tersebut. Seketika, membuatnya tidak berdaya. Dan, ia semakin menangis histeris melihat keadaan ibunya. Tubuh tersebut lama kelamaan semakin menghitam. Lalu, secara perlahan-lahan tubuh tersebut pun berubah menjadi debu.
"Tidak....ibu...."
Ucap Deviandra.
"Jangan, tinggalkan aku...."
Teriaknya lagi. Begitulah akhir dari Nagadhini yang kejam, serakah dan juga sombong. Ia menderita di akhir hidupnya bahkan ketika menjelang ajalnya ia pun menderita dan menjadi debu akibat perbuatannya sendiri.
__ADS_1
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
T A M A T