
Aisha dan Ankara melesat dengan kecepatan tinggi. Mereka tidak ingin jika Nagadhini membuat kerusuhan di dunia manusia. Oleh karena itu, keduanya berusaha sekuat tenaga untuk mencegah hal itu terjadi.
Sementara, itu Nagadhini membentangkan Peta di atas langit dan ia membiarkan Peta tersebut untuk menghisap intisari milik manusia sebanyak-banyaknya. Langit yang tadinya berwarna gelap kini berubah menjadi berwarna merah.
Akibat dari perbuatan Nagadhini yang telah memulai aksinya untuk penyerapan intisari tersebut. Melihat warna merah dilangit tentu saja membuat klan pemburu siluman pun terkejut. Mereka pun akhirnya bertindak dan menuju satu arah.
Demikian juga, Anna dan Richard. Mereka melihat langit berwarna menandakan ada sesuatu hal yang sedang terjadi. Akhirnya, mereka berdua pun langsung menuju ke titik pusat ketika langit berwarna merah terbentuk. Saat, mereka semua tiba di titik pusat Nagadhini menyerap intisari manusia. Terdengar suara jeritan mnusia yang meminta tolong.
"Tolong! Argh!"
Jeritannya.
Aisha tidak tahan mendengar suara jeritan tersebut. Oleh sebab itu, ia pun melepaskan satu pukulan kepada Nagadhini yang saat itu sedang melakukan penyerapan intisari manusia.
"Dhuak! Akh! Ugh!"
Nagadhini merintih menahan sakit di dada. Sementara, itu Aisha atau Nagini telah berada di hadapannya.
"Apa, kabar Nagadhini."
Sapa Aisha basa basi.
"Sialan, kau Nagini!"
Ucap Nagadhini memaki Aisha.
"Owh? Kau marah? Apakah, sakit?"
Ucap Aisha.
"Cih! Kau selalu saja menggangguku!"
Ucap Nagadhini marah.
"Dimana pun kau selalu membuat masalah, Nagadhini...sekarang, hentikan! Dan, kembalilah ke alam dunia ular."
Ucap Aisha.
"Apa, kau pikir aku akan mendengarkanmu?"
Ucap Nagadhini.
"Kau memang tetap sama seperti dulu, Nagadhini...tidak pernah berubah."
Ucap Aisha.
"Hegh! Berubah? Aku tidak akan pernah berubah, Nagini."
Ucap Nagadhini.
"Kalau begitu, maka aku akan memperhitungkan setiap rasa sakit yang kau berikan kepadaku!"
Ucap Aisha.
"Silahkan, saja! Itu jika kau memang bisa."
Ucap Nagadhini.
"Kurang ajar! Terima ini!"
Ucap Aisha yang marah karena ucapan Nagadhini. Aisha melancarkan serangan-serangan berbahaya kepada Nagadhini. Dan, Nagadhini pun juga tidak menyerah kalah begitu saja. Ia pun menyambut setiap pukulan-pukulan tersebut dengan sigap.
Tidak tahu sudah beberapa puluh kali serangan serta beberapa kali Nagadhini mengelak dan menerima setiap serangan dari Aisha tersebut. Namun, akhirnya Aisha berhasil juga memukul mundur dirinya.
"Bugh!"
Satu pukulan Aisha berhasil mengenai dada Nagadhini. Nagadhini pun meringis kesakitan.
"Akh!"
"Kurang ajar! Kekuatannya meningkat pesat dari terakhir kali aku bertarung dengannya...kekuatannya itu bertambah dua kali lipat...tentu saja, sebab dia bukan ular siluman biasa."
Ucap Nagadhini.
__ADS_1
"Bagaimana, Nagadhini kini kau tahu kekuatanku?"
Ucap Aisha meremehkan.
"Nagini, kekuatanmu yang sekarang bukankah karena kau terlahir kembali? Bagaimanapun, kau tetap sama seperti dulu...dapat kuhancurkan dengan mudah!"
Ucap Nagadhini.
"Jangan bermimpi di siang bolong, Nagadhini...aku yang sekarang telah jauh berbeda...aku yang sekarang tidak mudah untuk kau taklukkan."
Ucap Aisha.
"Sialan! Jangan, banyak bacot kau!"
Ucap Nagadhini yang terprovokasi untuk menyerang Aisha terlebih dulu. Lalu, terjadilah pertarungan yang lebih dahsyat dibandingkan yang tadi. Nagadhini menyerang habis-habisan Aisha dengan tenaga yang tersisa.
Kali ini Nagadhini tidak bermain-main lagi dengan Aisha karena, Aisha yang sekarang sudah jauh banyak berubah. Baik dari segi kekuatan maupun kemampuan strategi dalam menyerang.
Tetapi, Nagadhini sang siluman ular licik memiliki seribu cara jitu untuk menjatuhkan dan memukul mundur musuh disaat ia sudah mulai terdesak dan tidak mampu lagi bertahan.
Ia menggunakan nyawa seorang anak kecil sebagai tameng sekaligus cara yang ampuh untuk melarikan diri dari kepungan musuh. Sebab, semua musuh-musuhnya pada saat itu sudah berkumpul untuk menghancurkan dirinya.
"Huwaa."
Tangis anak kecil tersebut.
"Berhenti, Nagini...jangan, menyerang lagi.
Ucap Nagadhini sambil memperlihatkan sandera anak kecil di tangannya. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Aisha tersenyum sinis.
"Nagadhini yang kuat, perkasa dan licik...kau memang sesuai dengan nama besarmu."
Ucap Aisha.
"Tentu saja...Nagini, sekarang kau baru tahu."
Ucap Nagadhini dengan senyum mengejek.
Ucap Aisha.
"Yang kuinginkan kau tentu sudah tahu, bukan?"
Ucap Nagadhini.
"Peta Alam Semesta! Sudah pasti kau menginginkannya."
Ucap Aisha.
"Kalau begitu...lepaskan anak kecil itu, dan kembalikan intisari kehidupan kepada para bangsa manusia maka kau akan mendapatkan keinginanmu."
Ucap Aisha.
"Pertukaran yang adil, Nagini! Tangkap bocah kecil ini dulu."
Ucap Nagadhini sambil menyerahkan seorang bocah kecil kepada Nagini
"Baiklah, bocah kecil sudah kutangkap...sekarang, hentikan mengambil intisari milik kaum manusia."
Ucap Aisha.
"Nagini, apa kau pikir aku bodoh! Berikan, dulu Peta Alam Semesta yang asli."
Ucap Nagadhini.
"Baik, aku akan memberikan apa yang kau mau...tetua bawa Petanya."
Ucap Nagini kepada sang tetua Jenggot Putih. Tetua Jenggot Putih memberikan Peta kepada Aisha.
"Ini Petanya, nyai?"
Ucap tetua Jenggot Putih.
"Terima kasih, tetua."
__ADS_1
Ucap Aisha.
"Wow, Nagini begitu banyak kaum manusia yang tunduk kepadamu...kau benar-benar berbakat dalam hal ini."
Ucap Nagadhini mengejek.
"Tidak perlu, banyak bicara kau Nagadhini...ambil Petanya dan kembalikan intisari milik kaum manusia yang telah kau ambil."
Ucap Aisha marah.
"Baiklah, bersamaan!"
Ucap Nagadhini yang kemudian mengembalikan intisari kehidupan dan Aisha yang menyerahkan Peta yang asli kepada Nagadhini.
"Hahaha, akhirnya aku mendapatkannya!"
Ucap Nagadhini sambil tertawa lebar setelah mendapatkan Peta Alam Semesta yang asli. Ia pun segera pergi meninggalkan dunia manusia. Aisha yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya.
"Nagadhini, apapun yang kau lakukan tidak pernah berakhir baik."
Ucap Aisha akhirnya menghela nafas lelah.
"Kau membiarkannya pergi begitu saja?"
Tanya Anna kepada Aisha ketika Aisha sudah turun ke bawah.
"Apalagi? Membiarkan, nyawa kaum manusia menderita hanya karena Peta?"
Balas Aisha.
"Aku tidak percaya ini...kukira kau adalah seekor siluman yang sangat kuat dan mampu mengalahkannya...tetapi, ternyata kau adalah seekor ular yang tidak bisa berbuat apa-apa!"
Marah Anna.
"Anna! Jangan, bicara tidak sopan begitu."
Hardik tetua Jenggot Putih.
"Kakek! Kakek membelanya?"
Ucap Anna.
"Anna, bersyukurlah ada nyai...jika, tidak maka nyawa kaum manusia dalam bahaya."
Ucap tetua.
"Bersyukur? Jika, bukan karena kecerobohannya dalam bertindak bak seorang pahlawan...Peta itu masih ada di tangan kita."
Ucap Anna. Mendengar kata-kata Anna memicu kemarahan sang tetua yang dipanggil kakek oleh Anna. Ia menampar pipi Anna.
"Plakk."
Anna meringis kesakitan memegangi pipinya yang sakit.
"Kakek! Mengapa, kakek menamparku?"
Ucap Anna.
"Itu adalah hukuman untukmu, karena kau tidak bisa menjaga mulutmu sama sekali."
Ucap tetua.
"Demi siluman itu, kakek memperlakukanku seperti ini."
Ucap Anna sambil melangkah pergi dan menghilang di kegelapan malam. Adam ingin menyusulnya, akan tetapi tetua tersebut melarangnya. Ia tidak ingin Adam memanjakan Anna. Ia tidak ingin jika Anna berubah menjadi seorang yang angkuh dan sombong.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1