
Kilas balik...
Nagini menyusuri jalanan basah dengan tubuh kecilnya. Sesekali, ia merubah tubuhnya menjadi manusia untuk melihat-lihat keadaan. Sementara, siluman lain yang mengikutinya dengan tatapan mata tajam yang menusuk hati dengan hati-hati tetap mengawasinya. Nagini tidak sadar jika ia telah diikuti oleh seekor siluman lain dalam bentuk seekor ular Naga kecil.
Setelah ia menyusuri jalanan untuk sampai ke rumah Lovita. Akhirnya, sampailah ia di tempat tujuan. Namun, alangkah terkejutnya ia manakala ia melihat rumah Lovita telah hancur berserakan. Padahal ia belum melakukan apa-apa. Nagini tidak mengerti pemandangan apakah yang sedang disuguhkan di hadapannya kini. Ia tidak habis pikir siapakah orang yang telah melakukan hal tersebut.
Siapakah orang yang tega melakukan hal sampai serendah ini? Menghancurkan dan membunuh manusia tidak bersalah sampai seperti ini? Niatku hanya ingin membunuh seluruh anak cucu keturunan Baba, akan tetapi tidak sampai seperti ini...Ini adalah kejahatan besar...dan ini bukanlah ulah manusia...ini adalah ulah makhluk siluman raksasa...tapi siapakah dia...
Ucap Nagini dalam hati. Sungguh hatinya merasa hancur dan iba melihat kejadian seperti ini. Dan, untung saja ia tidak jadi melakukan kejahatan besar seperti ini. Yang mengakibatkan banyaknya jatuh korban jiwa. Dikarenakan, hawa nafsu amarah yang menyelubungi relung hatinya saat ini. Saat Nagini, sedang menatap kehancuran rumah keluarga Lovita yang merupakan anak cucu keturunan Baba. Sepasang mata tajam sedang memperhatikan disana, ia tersenyum puas ketika melihat reaksi Nagini melihat sesuatu yang menyakitkan pandangan mata siapa pun yang melihatnya.
Lalu, tidak lama kemudian muncullah Baba secara tiba-tiba. Melihat, kemunculan Baba secara tiba-tiba seketika membuat Nagini menjadi terkejut. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan musuh besarnya di tempat pembantaian tersebut. Sedangkan, Baba yang baru saja tiba ia menjadi terkejut ketika ia melihat rumah keluarganya sudah hancur luluh lantak tanpa menyisakan satu kehidupan pun disana. Dan, tiba-tiba saja Baba mendadak histeris melihat pemandangan mata yang menyakitkan tersebut.
Baba menangis pilu melihat semua kejadian tersebut. Ia menangis sejadi-jadinya. Padahal, ia ingin sekali hadir bersama-sama keluarganya. Merayakan pernikahan Lovita secara bersama-sama. Meski, kehadirannya terselip niat jahat yang sesungguhnya. Ia ingin menukar nyawa Zham nanti dengan Intisari Kehidupan miik Dewi Ular setelah Zham resmi menikah dengan Lovita. Namun, apa uang terjadi kini semua harapan serta niat liciknya hancur berkeping-keping. Melihat kematian seluruh keluarganya.
Nagini yang ada disana bersama Baba, untuk sesaat ia dapat merasakan kesedihan Baba. Akan tetapi, ia tidak dapat memberikan dukungan kepada Baba. Karena, ia dan Baba adalah musuh besar. Dan, Nagini tidak ingin berbaikan dengan Baba. Sebab, Baba adalah sosok musuh yang penuh dengan tipu daya dan kelicikan. Sehingga, Baba tidak dapat dipercaya. Bahkan, Nagini tidak dapat mempercayainya walaupun saat ini Baba sangat menderita karena kehilangan keluarganya. Yang merupakan anak cucu keturunannya.
"Apa yang sudah terjadi? Mengapa, semuanya hancur seperti ini...tidak mungkin...ini tidak mungkin...anak cucu keturunanku sudah tiada...hiks...siapa...siapa yang sudah membunuh mereka semua...
Ucap Baba menangis sedih. Sementara, Nagini hanya diam mematung melihat Baba yang sedang bersedih. Baba, melihat kesana kemari. Matanya nanar melihat seluruh mayat keluarganya yang bergelimpangan tersebut. Dan, ia semakin bersedih. Nagini yang tidak tega melihat penderitaan orang lain pun akhirnya membuka suara.
"Sudahlah, Baba. Janganlah, kau tangisi kepergian mereka...memang ini semua sudah menjadi kehendak sang Pencipta...keluargamu harus berakhir dengan cara seperti ini...
Ucap Nagini. Baba, yang mendengar suara yang kedengarannya tidak asing tersebut. Langsung menoleh ke asal satu suara tersebut. Dan, begitu yang ia lihat adalah Nagini yang ada bersama-sama dengan dirinya di tempat tersebut seketika emosinya memuncak. Baba menuduh Nagini yang menghabisi seluruh keluarganya.
"Kau! Pasti kau...yang sudah menghabisi seluruh keluargaku! Iya, kan! Kau membunuh mereka tanpa ampun! Kau memberikan mereka kematian yang menyakitkan! Bahkan, kau juga tidak mengampuni mereka semua! Kau membunuh mereka semua...itu semua karena dendammu kepadaku Dewi Ular! Aku yang bersalah! Bukan mereka! Mengapa...mengapa Dewi Ular! Mengapa, kau mengambil keluargaku!
Ucap Baba sangat marah. Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Baba. Membuat Nagini berpikir bahwa bukan dialah pelakunya. Nagini pun membela dirinya.
"Apa! Apa kau pikir aku setega itu melakukannya? Mengambil nyawa manusia yang tidak bersalah sampai seperti ini, Baba! Ini semua bukan perbuatanku, Baba! Memang! Tadinya aku memiliki niat untuk menghabisi seluruh keluargamu...akan tetapi...aku tidak jadi melakukannya...sebab setelah sampai disini...pemandangan inilah yang tersaji di depan mataku, Baba!"
Ucap Nagini membela diri. Baba tidak mempercayai Nagini. Baba tetap bersikeras Naginilah dalang dibalik pemandangan berdarah tersebut.
"Bohong! Kau berbohong, Dewi Ular! Kau memang pelakunya! Kau yang membunuh mereka semua, Dewi Ular! Kau...kau pembunuh Dewi Ular! Kau pembunuh!"
Ucap Baba bertubi-tubi. Mendengar kata-kata Baba, membuat Nagini menjadi emosi dan naik darah. Ingin sekali ia menghabisi Baba. Akan tetapi, niatnya tidak terlaksana. Sebab, ia mengerti keadaan, Baba saat ini. Baba, sedang terguncang.
__ADS_1
"Hentikan berbicara omong kosong, Baba! Sudah kukatakan kepadamu! Aku bukan pelakunya...dan aku tidak membunuh mereka semua, Baba! Percayalah kepadaku, Baba!"
Ucap Nagini lagi.
"Apa! Percaya kepadamu? Kepada siluman busuk sepertimu, Dewi Ular! Tidak! Aku tidak percaya kepadamu!"
Ucap Baba bersikeras.
"Teeserah kau saja, Baba! Aku akan pergi, dan aku tidak peduli dengan dirimu!"
Ucap Nagini.
"Apa, kau pikir kau dapat pergi begitu saja, Dewi Ular! Hah!
Ucap Baba mencegah langkah Nagini.
"Baba, bukankah sudah kukatakan kepadamu...aku tidak peduli...silahkan saja kau urus kematian mereka...aku ada urusan lain yang harus aku urus...
Ucap Nagini dengan nada rendah.
Ucap Baba, yang tiba-tiba melancarkan serangan jarak jauh tersebut seketika membuat Nagini bergerak reflek menghindari serangan Baba.
"Whusssh...
"Crakkk...
Serangan Baba, tidak mengenai Nagini. Serangan Baba, terbentur mengenai pohon. Akan tetapi, tidak menimbulkan kerusakan parah bagi tumbuhan tersebut. Sebab, Baba adalah siluman Ular yang masih muda. Kekuatannya, kalah delapan tingkat dari Nagini. Sudah pasti, ia akan mudah kalah dari Nagini. Sedang, Nagini yang melihat serangan biasa saja tersebut ia menjadi tertawa geli.
"Hahaha...
Tawanya.
"Jangan tertawa kau, Dewi Ular!"
Ucap Baba emosi.
__ADS_1
"Ck...ck...ck...Baba? Lihat, serangan yang kau lancarkan kepadaku. Sama sekali tidak dapat mengenai tubuhku...dan seranganmu tersebut begitu lemahnya...bahkan seranganmu itu tidak dapat menghancurkan tetumbuhan tersebut...lihatlah...tetumbuhan tersebut masih tegak berdiri...
Ucap Nagini mengejek.
"Dewi Ular, seranganku yang tadi itu hanyalah pemanasan saja...selanjutnya serangan keduaku akan menyakitimu...menghancurkan kesombonganmu...
Ucap Baba.
"Oh, ya? Ck...coba tunjukkan kepadaku, Baba...hasil latihanmu selama ini dengan menggunakan Mani merah milikku...
Ucap Nagini kemudian, yang seketika membuat Baba tertegun dan diam mematung.
Bagaimana dia tahu...bahwa aku menggunakan Mani merah untuk melatih diriku...demi cintaku kepada nyai Nagadhini aku rela menjadi makhluk siluman ular sama seperti dirinya...
Ucap Baba dalam hati. Nagini yang melihat Baba, diam mematung akhirnya ia pun membuka suara lagi.
"Baba, aku ini Dewi Ular...apa pun yang disembunyikan oleh musuhku pasti dapat terlihat oleh mata ularku...meski aku tidak berubah ke wujid sempurnaku...aku dapat melihat dirimu yang sesungguhnya dengan jelas...kecuali jika kau memiliki sesuatu yang dapat menghalangi pandangan mata ularku...yakni semacam perisai?"
Ucap Nagini menjelaskan. Dan, Baba masih saja terdiam saja di tempatnya sejenak lalu kemudian ia pun menatap mata Nagini. Dan, benar saja Baba apa yang dikatakan oleh Nagini. Baba melihat bola mata Nagini bukanlah bola mata biasa. Bola mata itu sangat spesial dan istimewa. Bola mata itu sangat indah bila dipandang. Untuk sesaat Baba terpana melihat bola mata yang dimiliki oleh Nagini. Mengetahui hal tersebut terburu-buru Nagini menuup pandangan mata Baba. Ia tidak ingin Baba terpengaruh oleh bola matanya. Dan, Baba pun terkejut.
"Jangan menatap mataku terlalu lama, Baba...Sebab akan lain jadinya bila kau menatap mataku terus menerus seperti itu...
Ucap Nagini dengan nada memperingatkan. Baba, yang terkejut mendengar kata-kata Nagini perlahan menyadari bahwa Nagini bukanlah lawan yang mudah. Apalagi, bagi dirinya yang baru saja mendapatkan bentuk tubuh siluman ular.
"Baba, aku mengerti kau siluman ular yang baru mendapatkan bentuk tubuh...akan tetapi masih butuh waktu jika kau ingin memiliki wujud yang sempurna seperti diriku...dan juga seperti siluman ular lainnya...jika kau tidak keberatan...aku akan tunjukkan kepadamu sesuatu hal yang akan membuatmu berpikir dua kali sebelum kau mengambil tindakan...
Ucap Nagini kepada Baba.
"Apa yang sesunggguhnya yang ingin kau tunjukkan kepadaku, Dewi Ular...
Tanya Baba.
"Sesuatu yang akan mengubah hidupmu, selamanya...
Balas Nagini memberitahu. Akhirnya, Baba pun dapat mengerti lalu ia pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Nagini. Baba bersedia untuk ikut dengan Nagini. Akhirnya, Nagini dan Baba pun pergi ke alam Dunia Ular. Baba yang penasaran dengan kata-kata Nagini seakan setuju saja kemana Nagini akan membawanya. Sedangkan, sepasang mata tajam tersebut menjadi kesal karena rencananya kembali gagal total. Lalu, kemudian ia pun segera kembali ke alamnya dengan sejuta rasa kesal di hatinya.
__ADS_1