NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 68. Merebut Kembali Peta


__ADS_3

Nagadhini berencana untuk merebut kembali Peta Alam Semesta dari tangan para pemburu siluman yang ketuai oleh Adam dan tetua Jenggot Putih. Nagadhini tidak akan pernah menerima kekalahan atas para pemburu. Meskipun, sejatinya bukanlah para pemburu yang berhasil merebut Peta tersebut dari tangan Deviandra.


Melainkan musuh besarnya, yang sudah ribuan tahun ini bermusuhan dengannya. Nagadhini memang tidak pernah bisa menerima kekalahan dari musuh besarnya tersebut. Oleh karena itu, ia berupaya sekuat tenaga untuk merebut kembali Peta. Dan, saat ini ia akan melakukannya.


Nagadhini sangat yakin dengan kekuatan dirinya kalau dia akan berhasil merebut Peta tersebut. Meskipun, ia tahu kalau kekuatan para pemburu siluman tidak bisa dianggap remeh. Dia pun segera datang ke markas para pemburu siluman untuk merebut kembali Peta.


Dengan kekuatannya, ia menerobos pengamanan ketat klan para pembunuh siluman. Dan, dengan sadis ia juga menghabisi anggota para pembunuh siluman yang masih berusia muda. Mendapat serangan yang secara tiba-tiba tersebut membuat klan para pemburu siluman menjadi panik.


"Ahh...ada siluman mengamuk...panggil ketua! Cepat!"


Ucap anggota tersebut dengan suara nyaring. Dan, tidak lama Adam pun keluar untuk menghadapi kemarahan Nagadhini yang saat itu sudah dalam wujud sempurna.


Ia tampak terkejut ketika melihat seekor ular raksasa dalam wujud sempurna datang menghampiri klan mereka dan sengaja membuat keributan disana. Adam pun bergerak cepat untuk menghadapi siluman tersebut.


Dan, akhirnya pertarungan tak terelakkan pun terjadi. Kedua musuh beda dunia tersebut pun saling bertarung demi sebuah Peta. Serangan-serangan yang dilancarkan keduanya pun tampak semakin berbahaya dari menit ke menit.


Pertarungan tersebut memang tidak seimbang sebab, Nagadhini adalah siluman yang sudah hidup lama di muka bumi. Sedangkan, Adam hidup di dunia ini baru puluhan tahun. Sudah tentu dilihat dari hal tersebut saja sudah merupakan hal yang tidak mungkin untuk menang dari Nagadhini.


Akan tetapi, Adam tetap bertekad untuk bertarung dengan siluman ular Nagadhini tersebut. Demi mempertahankan amanat yang diberikan oleh Dewi Ular kepada Klan mereka tersebut. Adam berusaha sekuat tenaga meski ia sudah menerima puluhan kali pukulan yang dilancarkan oleh Nagadhini.


"Akh!"


Jeritnya ketika pukulan Nagdhini mengenai tubuhnya. Nagadhini tertawa melihat musuhnya tampak lemas dan sudah tidak dapat bertarung lagi.


"Hahaha, manusia lemah...beraninya kau melawanku...sekarang, serahkan Peta itu kepadaku!"


Ucapnya lantang.


"Sampai mati pun, aku tidak akan menyerahkannya kepadamu."


Ucap Adam dengan bibir berlumuran darah. Tubuh Adam telah terkena pukulan tenaga dalam puluhan kali oleh Nagadhini. Dan, Nagadhini hanya perlu untuk memukulnya sekali lagi sampai ia tewas. Maka, ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Manusia kurang ajar! Kau memang mencari mati!"


Ucap Nagadhini marah kepada Adam. Lalu, ia pun segera melayangkan pukulan terakhirnya untuk membunuh Adam. Akan tetapi, ketika baru saja ia hendak membunuh Adam.


Tiba-tiba, orang yang paling dituakan di klan tersebut hadir. Lalu, ia berjalan ke depan menuju Adam dan Nagadhini saling bertarung. Serta, dengan tiba-tiba juga tetua klan memberikan Peta Alam semesta kepada Nagadhini.


"Berhenti membunuh orang-orangku...ini Peta yang kau cari dan, sekarang pergilah dari sini."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Hmm, apakah ini Petanya? Kau tidak sedang membohongiku, kan?"

__ADS_1


Ucap Nagadhini ragu.


"Ya, itu benar...Peta Alam Semesta...sekarang, pergilah!"


Ucap tetua Jenggot Putih lagi.


"Tentu saja, aku akan pergi...tetapi, setelah aku membunuh orang ini."


Ucap Nagadhini sambil mengerahkan kekuatannya untuk membunuh Adam. Namun, tindakan tersebut dicegah oleh tetua Jenggot Putih.


"Nyai, aku sudah memberikan apa yang kau inginkan...jangan mengacau lagi disini, pergilah."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Ow, apa tetua juga ingin ikut berpesta?"


Ucap Nagadhini.


"Siluman, berani sekali kau bertindak begitu arogan di hadapanku...aku sudah menyuruhmu pergi, tetapi kau tetap tidak mau...dasar siluman tidak tahu diri...hari ini aku akan mencabikmu sampai mati."


Ucap tetua Jenggot Putih tersebut sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyerang Nagadhini. Lalu, pertarungan seru pun tidak terelakkan lagi diantara keduanya.


Dan, sesuatu yang diambil tetua Jenggot Putih itu bukanlah senjata biasa. Senjata tersebut merupakan pemberian dari Aisha. Sebelum, Aisha benar-benar kembali ia menyerahkan sesuatu kepada tetua Jenggot Putih sebagai alat pertahanan diri dari serangan musuh.


Senjata tersebut adalah cakram lempar yang memiliki bentuk fisik berbentuk bulat dan kecil. Namun, apabila digunakan maka ia dapat membesar beberapa kali lipat untuk membunuh musuh dari jarak mana saja. Nagadhini tentu mengenal senjata tersebut dari auranya.


Ucap Nagadhini dalam hati.


"Tetua, benar-benar tidak sabaran ya?"


Ucap Nagadhini sambil menghindari serangan dari tetua tersebut.


"Siluman, kau tidak akan selamat...hari ini kau harus mati."


Ucap tetua tersebut sambil melempar cakram tersebut. Cakram tersebut melayang-layang di udara. Cakram itu meyerang Nagadhini dimanapun posisi Nagadhini berada. Nagadhini benar-benar kewalahan dibuatnya. Sebab, cakram tersebut tidak mau berhenti meski ia berhasil menghantam sesuatu.


"Brakk."


Tetapi, senjata tersebut akan terbang lagi dan menyerang kembali Nagadhini.


Kurang ajar, Nagini! Ia telah memasukkan jiwa dalam senjata cakram tersebut...hawa pembunuh jiwa yang begitu kuat menyerangku dimana pun posisiku berada...ini tidak bagus! Aku harus segera pergi dari sini...yang penting Peta sudah aku dapatkan."


Ucap Nagadhini dalam hati kemudian menghilang bersamaan dengan tiupan angin malam yang sepoi-sepoi terasa. Tetua Jenggot Putih mengambil kembali Cakram Mahasima yang telah melaksanakan tugasnya untuk mengusir Nagadhini pergi dari klan pemburu siluman.

__ADS_1


Adam pun langsung mengucapkan terima kasih kepada sang tetua Jenggot Putih yang dipanggilnya kakek karena telah menyelamatkan nyawanya.


"Terima kasih, kakek sudah menyelamatkan aku."


Ucap Adam.


"Ya, sebaiknya perketat penjagaan di depan gerbang utama."


Saran tetua Jenggot Putih.


"Baik, kakek...tetapi, Peta itu?"


Ucap Adam khawatir.


"Jangan risau! Peta selamat, itu hanya duplikatnya saja memang mirip tapi bukan yang asli."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Lalu, yang asli dimana kakek?"


Tanya Adam.


"Yang asli ada di altar penyimpanan...kau tenang saja...ada aura Dewi Ular disana...siluman tersebut bila pun berhasil mencurinya tetap ia tidak akan bisa menggunakannya."


Balas tetua Jenggot Putih lagi.


"Baiklah kalau begitu, kakek...aku akan mengurus penjagaan di depan gerbang."


Ucap Adam.


"Ya, baiklah."


Ucap tetua tersebut segera kembali ke dalam rumah. Sedangkan, Nagadhini pun segera kembali ke istana dengan nafas terengah-engah.


"Kurang ajar! Cakram milik Nagini begitu kuat...hampir saja tubuhku terpotong-potong karenanya...untung saja, Peta sudah ada di tanganku...jadi, aku dapat memulai upacara besok."


Ucap Nagadhini sambil tersenyum penuh dengan kemenangan. Ia merasa sudah berhasil untuk memulai upacara mencari lokasi peti mati milik sang Iblis disimpan. Padahal Peta yang didapatkannya bukanlah yang asli.


Kemenangan sesaat telah membutakan mata Nagadhini. Sehingga, ia tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Ia tidak sempat untuk memperhatikan keaslian Peta. Sebab, ambisi telah membuatnya menjadi siluman paling serakah di muka bumi dan tidak dapat melihat hal yang sebenarnya.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR

__ADS_1


Cover



__ADS_2