
Sementara itu, di sisi lain di kehidupan alam manusia. Terlihat Ankara yang sedang cemas dengan keadaan Naghi atau Nagini. Ia ingin sekali pergi mencari Nagini ke Istana Dewi Ular. Namun, saat ini situasinya benar-benar tidak memungkinkan. Disamping kuliahnya yang belum selesai ditambah lagi dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk setiap hari. Sungguh membuatnya sangat setres dan bingung setiap hari.
Zham yang melihat kegelisahan di raut wajah Ankara. Seketika, ia pun langsung bertanya perihal apa yang sedang dipikirkan oleh Adiknya itu. Perlahan, ia mendekatinya dan mengajaknya berbincang sebentar.
"Ankara...."
Panggilnya.
"Ya, kak..."
Ucapnya santun.
"Ankara, apa yang terjadi padamu...kau tampak gelisah."
Tanya Zham kepada Ankara.
"Iya, kak. Emm, aku sedang memikirkan Naghi kak...sudah beberapa hari ini ia tidak kembali...sungguh aku tidak tahu dimana dia...sungguh aku ingin mencarinya, kak."
Jawab Ankara.
"Naghi?"
Ucap Zham berpikir. Sedangkan Ankara hanya memperhatikan tingkah kakaknya.
"Ah, kakak ingat! Naghi, kemana dia Ankara? Kakak juga merasakan ada sesuatu yang hilang disini."
Ucap Zham tiba-tiba. Dan, Ankara menepuk jidatnya sendiri ketika kakaknya bertanya begitu.
"Sudahlah kak..bercandamu sungguh tidak lucu."
Ucap Ankara marah lalu pergi meninggalkan kakaknya sendiri disana.
"Ankara..., hei...Ankara...."
Panggil Zham kemudian memanggil Ankara. Namun, Ankara tidak menggubrisnya. Ankara pergi keluar rumah lalu ia segera merubah bentuk tubuhnya. Ankara berubah menjadi siluman ular. Lalu, kemudian ia segera pergi dari rumahnya untuk mencari Naghi alias Nagini. Wanita yang sudah sukses mencuri hatinya.
"Ssssshhhhh."
Desisnya.
Ia berjalan menyusuri jalanan lalu masuk ke hutan belantara yang sunyi kemudian menembus alam siluman ular. Sampai disana ia pun merubah lagi bentuknya ke bentuk semula. Ankara memandangi seluruh alam Dunia Ular. Menurutnya ada sesuatu yang akan terjadi disana sebentar lagi.
Lalu, ia kembali ke bentuk ular siluman dan mencari Naghi di dalam alam siluman ular. Namun, ia tidak menemukannya. Mencari dan masih ia mencari. Ankara sudah berhari-hari menyusuri hutan demi mencari Naghi. Tetapi, masih belum bertemu juga. Ankara benar-benar sangat mencemaskan keadaan Naghi.
"Ck..., sial! Aku sudah mencarinya tetapi aku belum juga menemukannnya...padahal aku merasakan bahaya sedang mengancam jiwanya."
Ucapnya kesal.
Ankara benar-benar sangat gelisah ketika ia tidak menemukan Nagini dimana pun dia berada. Dan, setiap siluman ular yang ada disana yang ia temui tidak satu pun dari mereka yang mengetahui dimana Nagini.
"Permisi, kisanak? Apa kalian melihat Naghi?"
Tanyanya kepada para siluman ular yang sedang berkumpul di area hutan tersebut.
__ADS_1
"Naghi? Siapa, Naghi?"
Jawab mereka.
"Ck, bodohnya aku."
Ucap Ankara sambil menepuk jidatnya sendiri. Dan, para siluman yang ia tanyai sejak tadi hanya diam dengan ekpresi wajah bingung.
"Hei, jika yang kau maksud adalah nyai Dewi Ular Nagini...saat ini dia sedang bertarung dengan siluman kalajengking...Kala Abang juga dengan para siluman ular lainnya."
Jawab salah seorang dari para siluman ular tersebut.
"Lalu, dimanakah kalian melihat pertarungan tersebut."
Tanya Ankara lagi.
"Dekat Istana Dewi Ular, pertarungan tersebut sangat dahsyat...kau jangan kesana, disana Dewi Ular sedang mengamuk...ia sedang membunuh bangsanya sendiri, hiii...,
Ucap salah satu dari para siluman ular itu lagi.
"Terima kasih, aku suka melihat wanita yang aku cintai mengamuk...dia benar-benar sangat menarik jika sedang marah."
Ucap Ankara tidak mempedulikan ucapan para siluman ular tersebut. Dan, ia pun langsung menggeloyor pergi begitu saja meninggalkan para siluman ular tersebut yang sedang dalam keadaan ketakutan. Sedangkan, para siluman ular tersebut yang mendengar kata-kata Ankara mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka masing-masing.
"Kau pasti mati, kisanak...."
Teriak salah satu dari mereka. Namun, Ankara tidak perduli maka ia pun merubah kembali bentuknya ke bentuk siluman ular kembali dan langsung pergi ke tempat yang dimaksud para siluman ular tadi. Sesampainya disana, Ankara benar-benar melihat kehancuran yang luar biasa disana. Nagini, sang Dewi Ular memang benar sedang mengamuk.
Melihat hal tersebut, muncullah Ankara dari balik semak-semak belukar tempat ia melihat pertarungan sengit tersebut. Ankara menghalau satu pukulan yang diarahkan kepada Nagini. Dan, pukulan tersebut kembali mengenai tubuh Kala Abang sendiri.
"Dhuaak."
"Arrghhhh...,
Kala Abang kesakitan menerima pukulan balik dari seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Dan, Nagini sangat terkejut dengan kehadiran Ankara disana. Seorang lelaki yang tergila-gila kepada dirinya. Ia juga terkejut melihat Ankara menolongnya dengan kesaktian yang sama dari bangsa siluman ular. Padahal yang Nagini tahu, Ankara bukanlah siluman ular tetapi ia adalah manusia. Nagini benar-benar dibuat bingung olehnya.
"Tapi ini benar-benar tidak mungkin, bagaimana mungkin Ankara melakukannya? Setahuku dia manusia biasa bukan siluman ular tapi kekuatannya setara dengan para siluman ular kelas tinggi alias setingkat dengan pangeran ular kekasihku, Zham. Siapa sesungguhnya Ankara? Mengapa begitu banyak teka teki tentangnya. Aku harus menyelidikinya nanti."
Ucap Nagini dalam hatinya. Ia benar-benar penasaran dengan Ankara. Padahal yang ia tahu Ankara adik Zham bukanlah termasuk dalam golongan siluman tetapi dia adalah manusia biasa. Nagini benar-benar tidak bisa mencium bau khusus bangsa ular di tubuh Ankara. Ia benar-benar terkecoh dengan tingkah laku Ankara terhadap dirinya. Yang dinilai tidak sopan dan terkesan selalu mencari-cari cara untuk selalu mendekatinya.
Sementara, Nagini sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Kala Abang sudah bangkit dan ia marah kepada Ankara yang sudah menyerangnya tiba-tiba. Kala Abang kesal karena Ankara berada di pihak Nagini bukan di pihaknya.
"Hei, kamu bocah ingusan, kurang ajar kamu! Mengapa kau menyerangku...bukan dia, seharusnya kau berada di pihakku bukan di pihaknya...dasar kau siluman sontoloyo! Sialan!"
Ucap Kala Abang marah sambil memaki Ankara. Ankara yang mendengar kata-kata Kala Abang dia hanya diam sambil berkacak pinggang. Membuat Kala Abang semakin kesal saja. Lalu, tidak disangka Kala Abang melancarkan pukulan ke arah Ankara. Ankara yang melihat hal tersebut ia menghindari setiap serangan dari Kala Abang dengan gesit dan lincah.
Sehingga membuat Kala Abang semakin ingin bernafsu untuk mengeluarkan semua jurusnya untuk menghajar Ankara. Ankara tersenyum melihat raut kesal di wajah Kala Abang.
"Mengapa kau tersenyum, Heh."
Ucap Kala Abang kesal.
"Hihihi, kau Kala Abang kan?"
__ADS_1
Tanya Ankara kepada Kala Abang.
"Ya, aku Kala Abang, mengapa? Apa kau mengenalku, heh."
Jawab Kala Abang.
Ankara menyilangkan kedua tangannya di dada tersenyum sambil tertawa geli melihat raut kebingungan di wajah Kala Abang.
"Memangnya siapa kau? Apa aku mengenalmu? Atau apa aku pernah bertarung denganmu sebelumnya?"
Tanya Kala Abang lagi.
"Wah, ingatanmu benar-benar bagus sekali Kala Abang...kita pernah bertarung...dan kalau tidak salah seingatku bukankah aku mengalahkanmu?"
Ucap Ankara lagi meyakinkan Kala Abang. Kala Abang merenung dan mengingat-ingat sesuatu namun, ia sendiri pun bingung kapan ia pernah berkelahi dengan pemuda ingusan di hadapannya itu.
"Hei, sebenarnya kau ini siapa? Hegh...! Tidak usah kau melancarkan teka-teki itu untukku...katakan saja kau ini siapa?"
Ucap Kala Abang semakin kesal.
"Oww, jadi Kala Abang tua ini sudah lupa ya? Bukankah, aku pernah menghajarmu habis-habisan...waktu itu di malam bulan purnama? Ketika aku sedang mengalami proses ganti kulit yang menyiksa lalu kau datang dan mengejekku?"
Ucap Ankara menjelaskan lagi secara rinci dan jelas. Mendengar penjelasan tersebut membuat Kala Abang tiba-tiba jadi teringat sesuatu dan seketika juga membuat darahnya berdesir.
"Deg!"
"Sialan, ternyata dia bocah itu rupanya. Bocah ular emas yang menakutkan. Aku ingat bisanya sungguh sangat menyakitkan. Membuat seluruh tubuhku serasa terbakar api. Bahkan racunku pun tidak mempan melawan racun miliknya. Dia benar-benar ganas. Lebih baik aku pergi saja. Dari pada tubuhku merasakan racun miliknya itu."
Demikian ucap hati Kala Abang. Kemudian Kala Abang pun berseru kepada seluruh anak buahnya yang masih tersisa untuk segera pergi dari tempat itu.
"Ayo, semuanya mundur! Kita harus pergi sekarang!"
Ucap Kala Abang kepada seluruh anak buahnya.
"Mengapa, kita harus pergi tuan Kala? Bukankah kita sedang menang?"
Tanya salah seorang anak buahnya. Mendengar kata-kata anak buahnya itu seketika membuat Kala Abang menarik tangan anak buahnya dengan kuat lalu berbisik di telinga anak buahnya itu.
"Apa, kau mau mati konyol? Jika kau mau mati konyol...silahkan kau saja yang menghadapi mereka berdua."
Ucap Kala Abang kepada salah seorang anak buahnya itu. Sang anak buah tersebut melihat Nagini dan Ankara sudah bergidik ketakutan melihatnya. Lalu, ia pun segera mengikuti langkah Kala Abang meninggalkan tempat bekas pertarungan tersebut bersama dengan para anak buah Kala Abang lainnya.
Nagini yang melihat kepergian Kala Abang beserta anak buahnya ia menjadi bingung sendiri. Ia tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya padahal tadi Kala Abang kelihatan begitu kuat ketika menghadapinya sebelum kedatangan Ankara. Akan tetapi setelah setelah kedatangan Ankara, Kala Abang menjadi lemah dan tidak berkutik di hadapan Ankara. Sebenarnya apa yang terjadi antara Ankara dan Kala Abang?
Nantika episode selanjutnya ya?
Bersambung...
NAGINI, DEWI ULAR
Visual Eyang Sri Kantil alias Ular Suci, Candrika.
__ADS_1