NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 23. Kejujuran Ankara Tentang Jati Diri


__ADS_3

Setelah kepergian Kala Abang, Nagini segera menghampiri Ankara dan segera menghujani Ankara dengan segala pertanyaan yang sudah memenuhi ruang kepalanya.


"Siapa kau sebenarnya, Ankara? Mengapa, banyak hal yang kau sembunyikan dariku? Mengapa, kau tidak mengatakan tentang jati dirimu?"


Tanya Nagini kepada Ankara.


Ankara mendekati Nagini dengan senyuman nakalnya. Nagini segera merespon tindakan Ankara yang tiba-tiba mendekatinya dengan menjauhi Ankara atau mengambil jarak dengannya. Melihat hal tersebut membuat Ankara menjadi bersemangat terhadap Nagini.


"Hem...dia mencoba menjauhiku."


Ucap hati Ankara.


"Naghi...bukan...aha...sayangku Nagini sang Dewi Ular."


Ucap Ankara dengan senyuman manisnya. Melihat senyuman manis Ankara membuat Nagini menjadi marah dan kesal kepada Ankara.


"Baiklah, jika kau tidak ingin mengatakannya kepadaku...lebih baik jangan...dan pergilah dari sini Ankara...aku tidak mau kau berada disini."


Ucap Nagini mengusir Ankara.


"Sayang, mengapa kau marah? Aku akan mengatakan segalanya kepadamu...kau jangan marah, ya?"


Ucap Ankara menenangkan hati Nagini.


"Baik, kalau begitu katakan...siapa kau sebenarnya Ankara?"


Ucap Nagini dengan nada tinggi.


"Wow..., suaramu terdengar begitu nyaring sayang? Ck, Naghi...aku akan katakan segalanya padamu, sabar."


Ucap Ankara.


"Oh, ya? Apa kau ingin kita bertarung dulu...lalu kau mau bicara?"


Ucap Nagini mengancam Ankara.


"Naghi, sayang? Tolonglah, jangan menyelesaikan semua masalah dengan pertarungan...itu tidak baik."


Ucap Ankara.


"Diam, kau Ankara! Tidak perlu menasehatiku...kau bilang kau mau bicara tetapi sedari tadi kau tidak mau menjawab pertanyaanku...kau hanya diam saja bagaikan patung bisu yang suka tersenyum...apa kau ingin mengejekku? Hah!"


Ucap Nagini marah.


"Naghi, ini bukan saatnya untuk marah-marah...aku tahu kondisimu begitu sulit sekarang...itu sebabnya aku datang menolongmu...dan bukan maksudku untuk menyembunyikan segalanya darimu...aku akan katakan kepadamu siapa diriku yang sebenarnya...tetapi kumohon kau bersabarlah dulu...dan sebaiknya kita kembali ke istana dulu...nanti kita bisa berbicara dengan leluasa disana...bagaimana?"


Ucap Ankara panjang lebar. Nagini membuang nafas lelah.


"Baiklah, Ankara. Aku setuju denganmu mari ikut aku ke Istana...dan kau bisa mengatakan segalanya kepadaku disana."


Ucap Nagini mengalah. Akhirnya, mereka berdua pun berjalan menuju Istana Dewi Ular. Selama itu, mereka berdua hanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Tidak lama kemudian mereka pun sampai di Istana Dewi Ular. Nagini mengajak Ankara ke taman keputren Istana.


Disanalah mereka duduk berdua, Nagini menyuruh pelayan Istana membawakan makanan enak untuk mereka berdua beserta minuman hangat. Para pelayan pun menjalankan perintah Nagini. Tidak lama mereka pun datang dengan membawakan semua pesana Nagini. Dan, meletakkannya disana.


Mata Ankara seketika membulat manakala melihat semua makanan enak sudah tersedia disana. Ia pun langsung menyantap semuanya di hadapan Nagini tanpa rasa malu atau sungkan sedikit pun. Nagini yang melihat itu semua ia pun menegur Ankara.


"Ankara, mengapa kau makan semuanya...kau sama sekali tidak menyisakan sedikit pun untukku."


Tegur Nagini dengan raut wajah kesal.


"Ah, Naghi aku benar-benar lapar sayang? Tolonglah sayang? Jangan, hentikan aku untuk memakan semua makanan ini."


Jawab Ankara sambil terus mengambil makanan yang masih tersisa satu piring lagi. Lalu, ketika ia hendak mengambilnya tiba-tiba saja Nagini memukul tangannya.

__ADS_1


"Makan itu kira-kira, Ankara...angan kau habiskan semuanya."


Ucap Nagini.


"Naghi, aku sangat lapar semenjak aku habis bertarung tadi...tenagaku sudah habis...jika aku tidak makan banyak maka tubuhku akan lemas, Naghi."


Ucap Ankara.


"Mengapa, bisa begitu?"


Tanya Nagini.


"Sebab, semua ini terjadi karena dirimu sayang?


Balas Ankara dengan memainkan sebelah matanya. Nagini yang melihat itu hanya menarik nafas lelah.


"Tidak bisakah kau tidak memanggilku begitu? Aku merasa tidak nyaman sekali, Ankara?"


Ucap Nagini dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Tidak bisa, ayolah, Naghi jangan terlalu dipikirkan tentang rasa sayangku dan rasa cintaku kepadamu."


Ucap Ankara.


"Baiklah, aku tidak akan menyinggung hal tersebut...sekarang, katakan kepadaku Ankara. Siapa kau yang sebenarnya?"


Tanya Nagini mendesak.


"Tunggu sebentar, aku mau minum dulu."


Ucap Ankara. Nagini menunggu semua hal yang dilakukan oleh Ankara. Setelah, selesai Ankara duduk dengan tenang sambil menatap di kejauhan. Tatapan matanya menerawang jauh. Ia mengingat segala hal yang berhubungan dengan dirinya dan Dunia Ular. Kemudian ia menghembuskan nafas lelah. Begitu berat langkah dan perjuangannya selama ini. Demi mempertahankan hidup kakaknya yang telah tiada di tangan Baba.


Ya, sesungguhnya Zham masih hidup. Zham belum tiada. Nagini mengira kalau Zham sudah tiada akan tetapi yang sesungguhnya tidak begitu. Zham masih hidup hanya saja ia mengalami tidur yang sangat panjang. Dan, ketika ia bangun seribu tahun kemudian ia menjadi lupa siapa jati dirinya. Bahkan ia pun lupa kepada Nagini kekasihnya yang sangat ia cintai.


Ia tidak mengenali Nagini ketika ia bertemu Nagini untuk pertama kali setelah sekian lama terpisah. Nagini juga harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Zham ternyata sudah memiliki kekasih. Karena dirinya yang sekarang bukanlah lagi siluman ular. Zham yang sekarang adalah manusia biasa. Tetapi, adiknya Ankara adalah siluman ular Emas.


"Apa, kau sudah selesai merenung?"


Ucap Nagini mengejutkannya dan membuyarkan lamunannya. Sejenak ia menghembuskan nafas lelah dan setelahnya ia pun mulai membuka cerita mengenai jati dirinya yang sebenarnya.


"Masa itu, setelah kakakku tiada di tangan Baba...kakakku mengalami masa tidur yang sangat panjang selama seribu tahun...dan, selama masa itu aku mengurus dirinya...menjaga jasadnya agar tetap utuh dan tidak membusuk dengan mustika ular Emas yang kumiliki...aku melakukan apa pun yang aku bisa untuk dirinya...berharap suatu saat nanti kakakku akan sadar dan terbangun dari tidurnya yang sangat panjang."


Ucap Ankara sedih dan tanpa sadar mata Ankara yang tajam itu mengeluarkan bulir dari kedua pelupuk matanya. Nagini yang melihat hal tersebut ia sangat terkejut. Ia tidak menyangka ia akan melihat sisi lain dari Ankara yang sangat menyayangi kakaknya, Zham. Nagini tanpa sadar menyentuh pundak Ankara.


"Jangan sedih, kita berdua sama-sama menyayangi kakakmu."


Ucap Nagini menenangkan perasaan Ankara yang sedang berkecamuk. Mendengar kata-kata Nagini, sejenak Ankara merasa tenang lalu kemudian ia pun melanjutkan ceritanya.


"Ternyata perjuanganku tidak sia-sia...setelah seribu tahun di hari yang terakhir kakakku terbangun dari tidur panjangnya...ketika, ia terbangun dari tidur panjangnya ia sama sekali lupa akan jati dirinya...ia seperti orang yang kehilangan ingatannya...bahkan, memori tentang dirimu ia tidak ingat sama sekali, Naghi."


Ucap Ankara menjelaskan.


"Mungkin ia terkena efek dari seruling Baba...pa kau tahu Ankara? Seruling, Baba itu bukan seruling biasa...seruling itu memiliki kekuatan untuk menundukkan bangsa siluman ular...bahkan jika ia seorang Pangeran ular sekalipun...ia pasti akan tunduk dan tidak berdaya ketika seruling itu dimainkan."


Ucap Nagini.


"Pantas saja, kakakku tidak tiada namun ia mengalami masa tidur yang panjang...dan, demi menjaga jasadnya tetap utuh aku menggunakan mustika ular Emas milikku...lalu, menunggu keajaiban apa yang diberikan sang Pencipta kepada kakakku....dan, akhirnya perjuanganku tidak berakhir sia-sia Naghi...ia bangun, meski ia lupa jati dirinya sekaligus ia juga lupa terhadapmu...ia tidak mengingat dirimu juga tidak mengenalimu...butuh waktu yang panjang untuk membuatnya kembali seperti sedia kala."


Ucap Ankara panjang lebar.


"Lalu setelah itu apa yang terjadi, Ankara."


Tanya Nagini lagi.

__ADS_1


"Setelah keadaannya kembali seperti sedia kala...namun memorinya masih belum kembali juga...ditambah lagi kakakku sudah berubah menjadi manusia biasa...aku harus menerima kenyataan bahwa ternyata kakakku bukanlah lagi siluman ular...tetapi ia seorang manusia biasa, Naghi."


Jawab Ankara kembali mengeluarkan dua bulir dari pelupuk matanya. Ankara merasa sangat terpukul sekali ketika mengingat masa itu. Nagini membiarkan Ankara meluapkan segala beban yang ada di hatinya. Baru setelahnya, Ankara bercerita kembali.


"Oleh sebab itu...


Belum lagi Ankara menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba, saja Nagini menyambung kata-katanya.


"Oleh sebab itu, kau membawanya ke dunia manusia...agar ia selamat dan ia tidak disakiti oleh bangsanya sendiri...begitukah, Ankara."


Ucap Nagini.


"Ya, kau benar Naghi...aku membawanya dari Dunia Ular ke dunia manusia...agar kakakku mendapatkan kehidupan baru...lalu, kebetulan kami bertemu dengan bu Retno seorang manusia yang baik hati...ia bersedia menerima kami sebagai anak angkat...lalu, mengajak kami tinggal bersamanya...sebab, bu Retno sebatang kara...ia tidak mempunyai saudara...kakak atau pun adik...oleh sebab itu, ia menerima kami dengan senang hati."


Ucap Ankara.


"Oh, jadi begitu? Kusangka, bu Retno itu ibu kandung kalian...ternyata bukan."


Ucap Nagini.


"Tidak, Naghi...bagaimana, mungkin seorang manusia bisa menjadi ibu kandung bangsa ular?"


Ucap Ankara menjelaskan.


"Iya, benar juga...lalu, siapa kau yang sebenarnya Ankara?"


Tanya Nagini penasaran. Ankara tersenyum.


"Kau ingin tahu?"


Balas Ankara.


"Ya, aku ingin tahu."


Jawab Nagini.


"Aku adalah calon pengganti Pangeran Ular yang berikutnya, Naghi...nama asliku, Kakang Aryan Wijaya...wujudku adalah seekor ular Emas...kekuatanku adalah semburan bisa yang sangat beracun...dapat membunuh musuh dalam waktu sekejap...jika, ia manusia ia akan mati dalam waktu sekejap jika...siluman maka ia akan mati dalam waktu lima detik saja...tetapi, jika ia seekor siluman yang memiliki jabatan tinggi di kelasnya seperti siluman Kalajengking, Kala Abang...maka, semburan bisa itu hanya menyakiti kulit tubuhnya yang keras...tidak membuatnya mati tetapi cukup membuatnya sangat tersiksa."


Ucap Ankara.


"Apa? Jadi, seperti itu? Pantas saja ia takut padamu lalu ia lari tunggang langgang...dan, kau calon pengganti kakakmu, Zham? Kau seekor siluman ular Emas? Ankara, aku tidak percaya semua ini...kau tampak seperti manusia biasa saja...dan aku tidak mencium bau siluman pada tubuhmu...jelas, kau sudah mengelabuiku."


Ucap Nagini kesal. Melihat perubahan di wajah cantik Nagini membuat Ankara tertawa lebar.


"Hahaha...mengapa kau marah, Naghi...baru kali ini aku melihat sisi lain dari dirimu...ternyata kau sangat cantik jika sedang kesal seperti ini."


Ucap Ankara lagi.


"Kau sangat menyebalkan, Ankara!"


Ucap Nagini semakin kesal.


" Oh, ya?"


Ucap Ankara sambil menarik tangan Nagini, sehingga membuat jarak mereka semakin dekat. Lama, mereka saling menatap dalam kebisuan. Ada desir indah disana. Namun, terburu-buru Nagini memalingkan wajahnya kembali dari Ankara. Dan, hal tersebut sukses membuat Ankara kecewa.


Ankara terdiam dalam kebisuan yang tercipta di antara mereka berdua. Ankara tidak sanggup lebih lama lagi menyimpan perasaannya terhadap Nagini. Meski, ia tahu Nagini hanyalah milik Zham, kakaknya. Dan, terus akan tetap begitu. Namun, perasaan cinta di dalam hatinya begitu besar untuk Nagini. Dan, hanya Nagini saja yang bisa menggetarkan hatinya.


Sekeras apa pun aku mencoba, tetap saja hanya ada dia disana. Meski pun, dia bukan lagi siluman ular kau masih saja tetap mencintai kakakku, Naghi. Aku terluka Naghi. Aku merana. Aku benar-benar tersiksa dengan semua perasaan cinta ini, Naghi. Tolong, lihat aku Naghi. Tolong, cintai aku walau hanya sedetik saja. Dengan begitu aku akan merasa bahagia, meski ada dia di dalam hatimu di antara kita...


Bersambung...


NAGINI, DEWI ULAR

__ADS_1


Visual Nagadhini



__ADS_2