
Baba menarik nafas lelah, melihat Nagini sang Dewi Ular sedang bersedih hati. Baba ingin bertanya, kepada Nagini perihal apa yang membuatnya bersedih.
"Acha, Dewi Ular! Apa, yang membuatmu bersedih...
Tanya Baba.
"Tidak, Baba! Aku hanya mengenang sedikit masa laluku disini...
Balas Nagini.
"Masa lalu? Masa lalu apa...
Ucap Baba.
"Masa laluku Baba, dengan seekor ular yang pertama diciptakan di muka bumi...
Jawab Nagini. Mendengar kata-kata Nagini barusan membuat Baba penasaran.
Acha! Seekor ular pertama? Siapa?
Ucap Baba dalam hati penasaran.
"Dewi Ular siapa yang kau maksud itu...
Ucap Baba.
"Itulah yang akan kuceritakan kepadamu, Baba...sudikah kiranya kau mendengarkanku?"
Ucap Nagini.
"Ya, Dewi Ular...aku bersedia mendengarkanmu...
Ucap Baba.
"Kisah ini begitu panjang, Baba...bahkan untuk mendengarkan ceritanya...membutuhkan waktu yang tidak sedikit, Baba...harapanku...setelah kau mendengarkanku...maka kau akan mengerti tentang hal yang sesungguhnya...
Ucap Nagini.
"Ya , Dewi Ular...aku akan mendengarkanmu...ayo katakanlah kepadaku...
__ADS_1
Ucap Baba sudah tidak sabar lagi.
"Yang bercerita bukanlah bibirku, Baba...melainkan bola mataku...oleh sebab itu tataplah bola mataku...maka kau akan melihat segalanya...
Ucap Dewi Ular yang membuat Baba menjadi terkejut mendengar kata-katanya.
"Apa! Dewi Ular...jangan bercanda...itu tidak mungkin...
Ucap Baba.
"Apa yang tidak mungkin...tentu saja bisa menjadi mungkin, Baba...semuanya tergantung kepada sang Pencipta Langit dan Bumi...
Ucap Dewi Ular lagi meyakinkan Baba.
"Kalau begitu, baiklah Dewi Ular...aku menurutimu...
Ucap Baba akhirnya, ia menuruti kata-kata Nagini. Ia pun segera menatap ke dalam mata sang Dewi Ular. Ketika, ia menatap ke dalam mata tersebut terasa ada sesuatu kekuatan yang sangat dahsyat menarik dirinya ke tempat lain melintasi ruang dan waktu. Lalu, akhirnya Baba tiba di suatu masa dimana bumi masih sangat muda saat itu.
"Acha! Dimana aku!"
Ucapnya. Ketika, Baba baru saja sampai dari perjalanan melintasi ruang dan waktu sehingga ia sampai di tempat tersebut.
Ucap Baba kemudian, yang merasa penasaran serta dirinya dilanda kebingungan teramat sangat bagi dirinya. Lalu, tidak lama kemudian sayup-sayup tidak jauh dari tempatnya berdiri ia mendengar suara dua orang wanita yang sedang bertengkar. Ia pun mencoba mendengarkan suara dua orang wanita yang sedang bertengkar tersebut. Meski samar-samar akan tetapi Baba sanggup mendengarkannya.
"Apa lagi yang harus kuberikan kepadamu, Nagadhini...kau kakakku...akan tetapi kau bersikap seolah-olah kau bukan kakakku?"
Ucap seorang wanita disana.
"Hegh! Nagini, apa yang kau berikan kepadaku tentu saja itu tidak cukup...aku ingin semua hal yang kau miliki baik itu kesaktianmu atau pun juga kekasihmu, Zham...berikan lelaki itu kepadaku, Nagini!"
Ucap seorang wanita yang satunya lagi.
"Apa! Zham? Tidak...tidak kakak! Zham adalah cintaku, kekasihku dan hidup matiku...aku tidak bisa menyerahkan dia kepadamu...
Ucap sang wanita satunya lagi. Baba yang mendengarkan pertengkaran dua wanita kakak beradik tersebut sejenak ia menjadi semakin penasaran.
Ini tentang, Zham? Pangeran Ular...
Ucap Baba dalam hati, setelahnya ia pun melihat wajah kedua wanita yang tadi sedang beetengkar. Sebelumnya ia hanya mendengarkan saja suara mereka saja. Betapa, terkejutnya ia ketika ia melihat wajah kedua wanita yang sedang bertengkar tersebut.
__ADS_1
"Apa! Bukankah, itu Nagadhini dan Nagini? Jadi, sebenarnya mereka berdua kakak adik?"
Ucap Baba terkejut setelah melihat wajah kedua wanita tersebut. Baba, pun menghampiri kedua wanita tersebut karena melihat pertengkaran mereka berdua semakin sengit.. Ia bermaksud ingin melerai mereka berdua. Akan tetapi, ternyata Baba sama sekali tidak dapat menyentuh kedua wanita tersebut. Baba semakin terkejut mendapati kenyataan tersebut.
"Apa! Aku sama sekali tidak dapat menyentuh mereka? Apa, ini...jadi Dewi Ular membawaku ke kehidupan masa lalunya...dan inilah kehidupan masa lalunya...dan ia bersedih karena ini...dia dan Nagadhini...kakak dan adik...acha...
Ucap Baba yang mulai mengerti keadaan dirinya saat ini. Sementara, itu pertengkaran menjadi semakin bertambah sengit saja. Baba menyaksikan segalanya akan tetapi ia hanya diam saja tanpa tahu harus melakukan apa.
"Baiklah, kalau begitu adikku tersayang...kau menolaknya...yang kuinginkan adalah Zham...akan tetapi kau tidak ingin menyerahkan dia bukan? Kalau begitu, sampai disini saja hubungan persaudaraan kita...aku memutuskan tali persaudaraan kita...dan mulai saat ini kau bukanlah adikku...kau adalah orang lain, Nagini...
Ucap Nagadhini lantang. Nagini yang mendengarkan kata-kata Nagadhini tersebut seketika terkejut. Karena, ia tidak menyangka kalau Nagadhini akan memutuskan tali persaudaraan mereka. Ia bersedih lalu kemudian ia pergi dan tidak pernah bertemu kembali dengan Nagadhini selama kurun waktu yang lama.
"Kakak, hiks...kau memutuskan tali persaudaraan kita hanya karena kau ingin memiliki apa yang kumiliki...kau sangat serakah sehingga kau ingin memiliki segala yang kumiliki...kakak, lebih baik aku pergi dari sisimu...karena kau sudah tidak menganggapku sebagai saudaramu lagi...
Ucap Nagini menangis sedih. Lalu, kemudian Nagini melangkah pergi dan setiap langkah kepergiannya diikuti tatapan mata Baba yang merasa iba melihat kesedihannya.
"Ternyata kau memilih pergi, Dewi Ular! Ternyata, kau dan Nagadhini adalah saudara dan sekarang kalian berpisah dan memutuskan tali persaudaraan kalian...acha...kumenangis untukmu, Dewi Ular...
Ucap Baba, ketika ia menyaksikan segalanya disana. Lalu, tidak lama setelah kepergian Nagini. Tiba-tiba, saja langit yang cerah berubah menjadi gelap. Baba terkejut melihatnya.
Tiba-tiba, saja langit menjadi gelap...pertanda apakah ini?
Ucap Baba dalam hati. Baba menjadi penasaran, sebab ia tidak tahu bahwa hal tersebut merupakan pertanda kehancuran bagi seluruh kehidupan di muka bumi. Kehancuran yang akan memusnahkan seluruh ular di dunia, baik itu dalam bentuk siluman atau pun dalam bentuk ular biasa. Baba memperhatikan segalanya. Lalu, tiba-tiba datanglah bola api turun dari atas langit dan menghancurkan apa saja yang ada disana.
Baba yang terkejut melihat semua kejadian tersebut, ia bergidik ketakutan melihatnya. Langsung saja, ia pun mencari tempat untuk bersembunyi menghindari hantaman bola-bola api tersebut yang sangat banyak jumlahnya. Akan tetapi, belum sempat lagi ia menemukan tempat untuk bersembunyi. Tiba-tiba, saja satu bola api menghantam tubuhnya.
"Dhuarr...
Anehnya Baba yang terkena hantaman bola api tersebut. Tidak mengalami hal apa pun terhadap dirinya, sebab ia bukanlah makhluk yang berada disana. Ia adalah makhluk yang berasal masa depan, dan karena kekuatan bola mata Naginilah telah melindungi dirinya dengan selubung gaib tidak kasat mata.
Baba merasa aneh dan terkejut sekali dengan apa yang terjadi kepada dirinya tersebut. Akan tetapi, ia bersyukur dirinya selamat karena kekuatan bola mata Dewi Ular yang melindungi dirinya. Sehingga, ia masih bisa selamat dan sekarang ia masih dapat melihat tempat sekelilingnya. Hancur musnah tidak tersisa satu pun kehidupan disana. Kecuali, Nagini dan Nagadhini yang masih hidup.
"Tempat ini benar-benar, hancur dan kehidupan disini benar-benar musnah...peristiwa alam telah menghancurkan alam Dunia Ular...
Ucap Baba kepada dirinya sendiri.
Baba melihat pemandangan mengerikan setelah peristiwa tersebut. Dimana, banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan disana. Bahkan, ada mayat yang bagian tubuhnya tidak utuh lagi. Baba bergidik ketakutan ketika melihat pemandangan mengerikan tersaji di hadapannya. Dan, ia hanya bisa pasrah saja ketika kekuatan bola mata ular milik Dewi Ular menuntunnya dan menunjukkan sesuatu kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI, DEWI ULAR