
Nagadhini telah membuat gaduh seisi alam Dunia Ular. Ia dengan sengaja memperlihatkan Mani merah milik Nagini atau Dewi Ular kepada seluruh para Ratu Ular dan punggawa kerajaan. Demi meluluskan rencana liciknya, Nagadhini memang sengaja melakukan hal tersebut untuk memperoleh dukungan dari para Ratu Ular beserta punggawa istana kerajaan.
Salah seorang dari para Ratu Ular bertanya kepada Nagadhini. Bagaimana Mani merah bisa berada di tagannya. Sedangkan, Mani merah diketahui berada di tangan Baba. Lalu, tidak tahu mengapa Mani merah sekarang bisa berada di tangan Nagadhini. Juga, satu hal yang menjadi pertanyaan salah seorang dari para Ratu Ular tersebut yang hadir disana ialah mengapa Nahadhini yang sedang menyamar menjadi Archa Sevadha dapat duduk di singgasana milik Dewi Ular. Lalu, Nagadhini pun menjawab...
"Apakah, kalian semua ingin tahu mengapa Mani merah ada di tanganku? Dan, apakah kalian tahu mengapa aku menduduki singgasana milik Dewi Ular...
Tanya Nagadhini.
"Tentu saja, nyai...
Balas mereka bersama-sama.
"Aku merampas Mani merah dari tangan, Baba...dan aku menduduki singgasana milik putriku karena aku ingin menggantikan posisi putriku...menjadi penguasa tertinggi di Dunia Ular...
Ucap Nagadhini. Setelah, mereka mendengar kata-kata Nagadhini mereka pun saling pandang tidak mengerti apa maksud dari kata-kata Nagadhini. Mengapa seorang ibu ingin menggantikan posisi sang anak di dalam pemerintahan istana. Sedangkan, mereka mengetahui betapa Archa Sevadha sangat menyayangi putri kandungnya. Dan, tidak mungkin seorang ibu tega melakukan ha tersebut.
"Nyai, apakah sudah kehilangan akal? Bukankah kau sangat menyayangi putri kandungmu...lalu bagaimana mungkin sekarang kau ingin menggantikan posisinya...
Ucap salah satu dari para Ratu Ular lagi. Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh salah seorang dari mereka seketika membuat Nagadhini tersenyum.
Apa mereka ini bodoh...apakah mereka tidak dapat melihat siapakah aku ini...mana mungkin Nagini menjadi putri kandungku...dia adalah rivalku selama ini...dan aku ingin apa yang ia miliki menjadi milikku...termasuk Zham, lelaki yang ia cintai...
Ucap Nagadhini dalam hati. Nagadhini terdiam sambil tersenyum. Membuat para Ratu Ular bertanya-tanya.
"Mengapa, kau diam nyai? Jawablah, pertanyaan kami...
Ucap para Ratu Ular. Lalu, tiba-tiba Nagini pun tiba di aula kerajaan tempat Nagadhini mengadakan pertemuan bersama dengan para Ratu Ular. Melihat Nagini tiba-tiba saja hadir disana seketika membuat semua yang hadir disana pun menjadi terkejut. Termasuk Nagadhini, ia lebih terkejut lagi. Sungguh ia tidak menyangka kalau Nagini akan mencium rencana busuknya secepat ini.
"Aku yang akan menjawabnya!"
Ucap Nagini yang baru saja tiba disana. Dan, ekspresi Nagadhini pun langsung berubah.
"Oh, ternyata kau rupanya...Dewi Ular...
Ucap Nagadhini dan kini dua ekor siluman yang pernah bersaudara tersebut saling berhadapan.
"Ya, aku...katakan! Ada apa, kau mengadakan pertemuan di aula istanaku!"
Ucap Nagini tegas.
"Dewi Ular, memangnya mengapa jika aku mengadakan acara penting disini...apakah itu mengusikmu?"
Ucap Nagadhini. Dan, salah satu dari para Ratu Ular tersebut pun berkata.
"Nyai, jelas itu mengusik Dewi Ular...sebab Dewi Ularlah yang menjadi penguasa tertinggi di istana ini...lagipula kau tidak pantas menduduki singgasana tersebut, nyai...itu adalah milik putrimu...
__ADS_1
Ucap salah seorang dari para Ratu Ular tersebut. Nagadhini yang mendengar ucapan tersebut membuat hatinya terasa panas lalu meluaplah seketika emosinya tersebut. Ia pun lalu, menyerang salah satu Ratu Ular tersebut yang telah lancang berkata demikian kepada dirinya dengan serangan jarak jauh.
"Whusshh...dhuakk...
Dan, tubuh Ratu Ular tadi yang mengusik Nagadhini pun seketika terpental jauh. Melihat, Nagadhini yang menyerang secara tiba-tiba tersebut. Seketika, ia pun menjadi marah. Ia pun lalu membalas menyerang Nagadhini yang sedang menyamar menjadi ibunya tersebut dengan pukulan jarak jauh.
"Whuussh...bugh...
Lalu, pukulan Nagini tepat mengenai sasarannya. Akan tetapi, tidak sampai membuat Nagadhini terpental jauh. Nagadhini merasakan sesak di dadanya sekaligus rasa nyeri di ulu hatinya. Untuk sesaat ia mengaduh kesakitan.
"Akh...
Ucap Nagadhini sambil memegang ulu hatinya.
"Kurang ajar, kau Nagini! Kau membuat ulu hatiku sakit...
Ucap Nagadhini.
"Hegh! Itu memang pantas untukmu Nagadhini...untuk apa kau menyerangnya...bukankah kau dapat mengatakan kepada mereka apa niatmu yang sesungguhnya?"
Ucap Nagini, dan kemudian seluruh para Ratu Ular serta para punggawa kerajaan pun terkejut ketika Nagini menyebutkan nama Nagadhini. Otomatis mereka semua yang ada disana pun bersiap untuk menyerang Nagadhini. Akan tetapi, Nagini mencegah para Ratu Ular beserta para punggawa kerajaan untuk membantunya.
"Oh, ternyata dia adalah Nagadhini yang sedang menyamar menjadi ibu Dewi Ular, Archa Sevadha...
Ucap Katrina Maheswari.
Ucap Katrina Maheswari mengkomando seluruh Ratu Ular agar bertempur untuk Dewi Ular.
"Tidak perlu! Biar aku saja yang menghadapinya...kalian, segera pergiah dan cari ibuku...aku merasa sepertinya Nagadhini telah melakukan sesuatu kepada ibuku...
Ucap Nagini.
"Baiklah, nyai Dewi...
Ucap Nagini. Lalu, Nagini pun segera menyerang Nagadhini. Kembali ia terus menyerang, Nagadhini dengan gerakan-gerakan kanuragan khas yang dimilikinya. Akan tetapi, Nagadhini pun tidak kalah dari Nagini. Nagadhini mampu mengimbangi semua gerakan-gerakan tersebut. Nagini pun melihat Nagadhini sedari tadi memegang Mani merah milik Nagini. Untuk sejenak, Nagini pun berhenti menyerang. Nagadhini pun bertanya kepada Nagini mengapa berhenti menyerangnya.
"Mengapa kau berhenti, Nagini...
Tanya Nagadhini.
"Serahkan kembali Mani merah milikku, Nagadhini!"
Balas Nagadhini dengan tatapan tajam.
"Hahaha...susah payah aku merebutnya dari pawang ular sialan itu...dan sekarang dengan seenaknya kau memintanya dariku?"
__ADS_1
Ucap Nagadhini menolak permintaan Nagini.
"Nagadhini, Mani itu milikku...bukan milikmu...serahkan atau kau akan menerima akibatnya, Nagadhini...
Ucap Nagini dengan geram.
"Silahkan saja, Nagini...dan aku senang hati akan melayanimu...
Ucap Nagadhini.
"Kurang ajar...
Ucap Nagini sambil menyerang Nagadhini. Nagini semakin membabi buta menyerang Nagadhini dengan pukulan-pukulan beracun yang ia lancarkan kepada Nagadhini. Sementara itu, Ratu Ular Katrina Maheswari pergi menyusuri seluruh istana Dewi Ular untuk menemukan dimana ibu Ratu Ular, Archa Sevadha berada. Ia membagi kelompok para Ratu Ular lainnya untuk menemukan Archa Sevadha.
Sedangkan, nyai Bajing Ireng yang mengetahui keadaan tersebut ia pun melarikan diri. Ia tidak ingin tewas di tangan para Ratu Ular yang jumlahnya sangat banyak tersebut. Ia tidak ingin mati sia-sia karena mendukung keserakahan Nagadhini. Jadi, ia meninggalkan Archa Sevadha disana. Dan, ia pun segera melarikan diri bersama dengan seluruh anak buahnya. Katrina yang mengetahui hal tersebut, ia segera mengkomando para Ratu Ular untuk menyerang nyai Bajing Ireng beserta seluruh anak buahnya.
"Kejar! Jangan, sampai lolos...dan habisi mereka semua...
Ucap Katrina. Mendengar seruan yang diteriakkan oleh Katrina maka seluruh siluman ular yang mendukung Dewi Ular pun memburu siluman bajing secara bersama-sama. Sedangkan, Katrina ia pun mencoba untuk melepaskan ibu Dewi Ular, Archa Sevadha. Karena, nyai Bajing Ireng telah mengikat Archa Sevadha dengan menggunakan tali magis yang tidak dapat sembarang dilepaskan jika ia bukan siluman yang berilmu tinggi.Tidak butuh waktu lama, Katrina pun berhasil melepaskan Archa Sevadha dari tali magis yang mengikat tubuhnya. Kemudian, Archa Sevadha pun bertanya kepada Ratu Katrina dimana Nagini berada.
"Dimana, putriku nyai...
Tanya Archa Sevadha.
"Dia sedang bertarung dengan nyai Nagadhini, nyai...
Jawab Katrina.
"Antarkan aku kesana, nyawa putriku dalam bahaya...Mani merah milik Nagini, nyawa Nagini...akan pupus apabila berada di tangan Nagadhini...sebab Nagadhini sudah tahu Mani merah adalah nyawa Nagini...
Ucap Archa Sevadha. Dan, Katrina pun terkejut ketika mengetahui bahwa Mani merah milik Nagadhini adalah nyawa dari Nagini sendiri.
"Apa! Benarkah, begitu nyai...
Ucap Katrina.
"Ya...
Ucap Archa Sevadha pendek.
"Kalau begitu, nyai...ayo kita harus segera menyelamatkannya...
Ajak Katrina kepada Archa Sevadha, sambil membantunya berdiri. Dan, meninggalkan tempat yang menjadi tempat penyekapan Archa Sevaďha menuju arena pertarungan antara Nagini melawan Nagadhini.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI, DEWI ULAR