NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 98. Pertarungan Terakhir


__ADS_3

Nagadhini membawa peti sang iblis tersebut ke tempat persembunyiannya. Tepat, saat itu orang-orang yang berurusan dengan peti sang iblis pun dapat merasakan adanya aura kejahatan yang ingin segera keluar dari tempat selama ini ia dikurung.


"Gawat! Peti sang iblis sudah keluar dari bawah tanah."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Hal ini sangat berbahaya sekali, aku harus segera menemui nyai Dewi...aku harus memberitahunya tentang hal ini."


Ucap tetua Jenggot Putih. Kemudian, ia pun segera pergi untuk menemui Aisha di istana Dewi Ular. Sedangkan, di sisi lain tampak Aisha sedang bersemadi di dalam ruangan khusus miliknya. Dan, ia dapat merasakan kalau peti sang iblis sudah keluar dari dunia dimensi alam manusia.


"Aura yang sangat jahat dan berbahaya ini...ternyata sudah, keluar dari tempat ia dikubur...Nagadhini, memang tidak menyia-nyiakan kesempatan."


Ucap Aisha


"Akan tetapi, masalah ini tidak akan sesederhana itu...dia membutuhkan darah ini...juga dia membutuhkan satu kali kesempatan tepat di tengah malam...disaat sinar bulan mencapai puncaknya."


Ucap Aisha.


"Aku ingin lihat bagaimana dia akan kehilangan kesempatan ini selamanya."


Ucap Aisha sambil tersenyum. Aisha segera keluar dari ruangan khusus tersebut. Ia menemui Richard, Ankara serta dua pasutri yang selalu setia menjadi tangan kanannya saat ini. Dan, seorang lagi tamu yang datang dari dunia manusia.


"Kalian sudah lama menungguku?"


Ucap Aisha. Lalu, semuanya menoleh dan melihat Aisha dengan senyum manisnya.


"Nyai, akhirnya anda selesai juga bersemadi...bagaimana hasilnya, nyai?"


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Hasilnya? Tetua, apakah anda khawatir...kalau masalah ini tidak bisa aku selesaikan?"


Ucap Aisha.


"Hamba, tidak berani nyai...tetapi, kecemasan ini sungguh benar-benar membuat hamba yang sudah renta ini tidak berdaya."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Tetua tidak perlu khawatir, tentang hal itu...biar aku saja yang mengatasinya."


Ucap Aisha.


"Hamba merasa lega kalau begitu, nyai...rasa khawatir ini mendadak menjadi hilang...seiring dengan kata-kata nyai tadi."


Ucap tetua Jenggot Putih.


"Kalau begitu, nyai kapan nyai akan bertindak?"


Ucap Cintamani.


"Malam ini, saat Nagadhini mengadakan ritual terakhir...aku akan mengakhiri semua aksinya selama ini...sekaligus aku akan menuntaskan dendam lama dengannya."


Ucap Aisha.


"Dan, malam ini adalah malam bulan purnama penuh...saat yang tepat sekaligus berbahaya."


Ucap Richard.

__ADS_1


"Apakah, kau khawatir pangeranku?"


Ucap Aisha dengan lembut.


"Bagaimana, aku tidak kahawatir...makhluk itu sungguh menakutkan...petinya saja baru dikeluarkan dari bawah tanah...dan, aura kejahatannya sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia."


Ucap Richard.


"Percayalah kepadaku...aku akan menjaga diriku baik-baik dan segera kembali kepadamu dengan keadaan selamat."


Janji Aisha.


Mengapa, dia harus bermesraan dengan Richard di depanku...benar-benar membuatku cemburu.


Ucap pangeran Ankara dalam hati. Aisha mengetahui kecemburuan Ankara. Akan tetapi, dia tidak mempedulikannya. Ia hanya menatap mata Ankara dengan mata ularnya. Mengisyaratkan untuk tidak menunjukkan rasa cemburunya di hadapan semua yang ada disana.


Baik! Aku akan menurutimu...aku tidak akan menunjukkannya.


Ucap pangeran Ankara dalam bathin.


"Kakak, jangan khawatir...Aisha pasti kembali."


Ucap Ankara.


"Ya."


Balas Richard pendek. Dan, akhirnya pertemuan tersebut pun berakhir. Aisha sudah siap dengan segala rencana yang telah ia susun dengan penguasa dunia bawah Eyang Sri Kantil.


"Bagaimana, persiapanmu? Ini adalah pertarungan terakhirmu...kuharap kau sudah mempersiapkannya dengan matang."


Ucap Eyang Sri Kantil di saat kunjungannya ketika Aisha sedang menyusun rencananya.


Ucap Aisha.


"Bagaimana, aku tidak khawatir...melihat pertarunganmu terakhir kali...saat itu aku bergidik ngeri...andai saja aku terlambat sedikit...bukankah kau tidak akan berdiri di hadapanku?"


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Ya, nyai benar...jika saat itu nyai terlambat sedikit saja...maka mungkin Nagadhini akan mengacau di istanaku...dan, meminta haknya untuk menduduki singgasana kerajaan."


Ucap Aisha.


"Dia memang pejuang yang gigih...sayang sekali kakinya berdiri di atas kejahatan...seandainya saja kakinya berdiri di atas kebaikan...maka ceritanya akan berbeda."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Sejak dahulu dia memang begitu, nyai...dia tidak akan pernah berubah...meski ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan...ia masih saja tetap kekurangan."


Ucap Aisha dan tatapan matanya menatap keluar jendela. Eyang Sri Kantil mengerti akan hal itu.


"Kau pasti kecewa dan sakit hati."


Ucap Eyang Sri Kantil.


"Ya, itu sudah tentu nyai...tetapi, sudahlah semua telah terjadi...aku bisa apa...sebab semuanya tergantung kepada sang Pencipta."


Ucap Aisha. Eyang Sri Kantil menepuk-nepuk pundak Aisha dan tersenyum. Kemudian, ia segera pergi dari tempat tersebut. Tetapi, sebelum pergi ia berkata...

__ADS_1


"Akhirilah, apa yang harus kau akhiri...dan jangan menyesal atas apa yang kau akhiri...sebab, setelah semua berakhir...maka, hal tersebut pun tidak akan sama lagi jika kembali."


Pesan Eyang Sri Kantil. Aisha terdiam mendengar pesan tersebut. Memang, urusannya dengan Nagadhini harus segera di selesaikan dan diakhiri untuk selamanya. Meskipun, ia merasa ragu apakah ia memang harus melenyapkan Nagadhini atau tidak. Karena, ia memikirkan nasib Deviandra yang akan kehilangan sosok seorang ibu dalam hidupnya.


......................


Di sebuah gua...


Nagadhini sedang mengadakan ritual pembangkitan. Untuk membangkitkan sang Iblis dari peti mati tersegel yang selama ini mengurung dirinya. Dengan berbekal buku kuno ia memulai ritual tersebut. Akan tetapi, setelah ia selesai melakukan ritual.


Sang Iblis tetap tidak dapat dibangkitkan. Ia berpikir ada yang salah dengan ritualnya. Sedangkan, Aisha sudah hadir disana di tempat Nagadhini sedang mencoba membangkitkan sang Iblis. Aisha tersenyum melihat amarah terlukia di wajah Nagadhini.


"Syarat sudah lengkap! Sinar bulan sudah dipuncaknya...apa yang kurang."


Ucap Nagadhini sambil berpikir dengan raut wajah marah. Lalu, terlintas sesuatu dalam pikirannya.


"Ah, sialan! Darah ketujuh perawan suci! Mengapa, aku melupakannya."


Ucap Nagadhini.


"Dimana, darah itu berada."


Ucap Nagadhini panik mencari-cari darah ketujuh perawan suci yang sebenarnya saat itu sudah ia buang ketika ia sedang mencari peti sang Iblis di gurun pasir.


"Kurang ajar! Aku membuangnya disana."


Ucap Nagadhini.


"Sekarang bagaimana? Tanpa, itu aku tidak bisa membangkitkannya."


Ucap Nagadhini dengan raut wajah kecewa. Tepat, saat itu Aisha hadir disana sambil mengacung-acungkan sebuah benda yang berisi darah ketujuh perawan suci.


"Apa, kau mencari ini?"


Ucap Aisha.


"Kau? Bagaimana, darah tersebut ada ditanganmu."


Ucap Nagadhini terkejut.


"Oh, apakah aku bodoh? Tidak mengikutimu dan mendapatkan celah untuk menjatuhkanmu?"


Ucap Aisha.


"Nagini! Urusan kita pasti akan kuselesaikan...tetapi, berikan dahulu benda yang ada di tanganmu itu."


Ucap Nagadhini.


"Hegh! Kau mau benda ini? Ambillah, sendiri...sebab aku tidak akan menyerahkannya kepadamu begitu saja."


Ucap Aisha.


"Setan alas! Beraninya kau...terimalah seranganku!"


Ucap Nagadhini menyerang Aisha dengan segenap kekuatannya. Pertarungan pun sudah tidak terelakkan lagi diantara dua musuh besar. Nagadhini melancarkan serangan-serangan mematikan kepada Aisha. Akan tetapi, Aisha menghindar dari serangan mematikan Nagadhini. Aisha saat ini terihat lebih kuat dari sebelumnya. Sehingga, membuat Nagadhini menjadi kerepotan dibuatnya.


Bersambung...

__ADS_1


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR.



__ADS_2