NAGINI, DEWI ULAR

NAGINI, DEWI ULAR
Bab 71. Peta Duplikat Menyerap Intisari


__ADS_3

Istana Nagadhini di Dunia Ular...


Beberapa, kawanan ular datang dan memenuhi panggilan Nagadhini. Saat itu, Nagadhini sedang menimang-nimang Peta duplikat Alam Semesta sambil tersenyum bahagia.


"Nyai, kami datang atas perintah nyai."


Ucap Kepala pasukan tersebut.


"Bagaimana, dengan pencarian Deviandra...apakah, sudah ada hasil?"


Tanya Nagadhini.


"Hamba, mohon maaf nyai...kami belum menemukannya...mohon, nyai jangan marah."


Jawab Kepala pasukan tersebut takut.


"Tenanglah, aku tidak akan menghukummu...karena kegagalanmu untuk menemukan putriku."


Ucap Nagadhini.


"Benarkah, nyai?"


Ucap Kepala pasukan tersebut.


"Akan tetapi, kau dan bawahanmu harus menjadi pelengkap Peta Alam Semesta ini."


Ucap Nagadhini.


"Apa!"


Ucap Kepala pasukan terkejut.


"Nyai, ampuni hamba nyai!"


Ucap Kepala pasukan itu lagi.


"Mengampunimu? Boleh saja, tetapi Nagadhini bukanlah siluman pemberi belas kasih...karena kau gagal jadilah pelengkap Peta ini...hahaha."


Ucap Nagadhini tertawa nyaring sambil menyerap intisari kehidupan sang Kepala pasukan beserta anak buahnya. Lalu, mengisi Peta Alam Semesta duplikat tersebut dengan intisari milik makhluk siluman.


"Peta duplikat! Hahaha...mereka pikir aku bodoh? Tidak mengetahui kalau ini adalah Peta duplikat? Nagini kau memang pintar sekali...akan tetapi Nagadhini jauh lebih pintar darimu."


Ucap Nagadhini.


"Setelah kau mengecohku, apa kau pikir aku akan diam saja...lihat saja, para manusia itu akan menjadi pelengkap Peta Alam Semesta duplikat...sampai kau menghentikan langkahku dan memberikan Peta yang asli kepadaku...hahaha."


Ucap Nagadhini sambil tertawa lebar. Dan, ia pun mulai menjalankan rencana berikutnya untuk mengundang amarah Aisha yang saat ini sedang berbincang-bincang dengan Ankara.


"Jadi, kau sudah bertemu dengannya?"


Ucap Aisha.


"Ya, dia sedikit berbeda denganku."


Ucap Ankara.


"Oh, ya? Sedikit berbeda...apa dia kelihatan jauh lebih tampan dibanding dirimu?"


Ucap Aisha sambil menatap penuh arti kepada Ankara. Dan, Ankara tersenyum mendengar kata-kata Aisha.


"Apa kau lebih senang melihat wajahnya yang sekarang dibanding dengan yang dulu?"


Tanya Ankara.


"Aku?"


Balas Aisha sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya."


Ucap Ankara tersenyum.


"Aku lebih suka melihat dirinya yang dulu dibanding dengan sekarang."


Ucap Aisha.


"Mengapa begitu?"


Ucap Ankara.


"Sebab, dia yang sekarang sama sekali tidak tampan menurutku, Ankara? Dia selalu dibawah kata-kata Anna...jadi, dia sama sekali tidak terlihat jantan bagiku?"

__ADS_1


Ucap Aisha terus terang.


"Oh, jadi kau tidak suka jika dia dekat-dekat dengan Anna? Apa, kau cemburu?"


Ucap Ankara asal menebak.


"Tidak, bukan begitu...untuk apa aku cemburu dengannya?"


Ucal Aisha.


"Oh, jadi kau tidak cemburu?"


Tanya Ankara.


"Tidak!"


Balas Aisha.


"Benarkah?"


Ucap Aisha.


"Benar! Kau tidak percaya kepadaku?"


Ucap Aisha sambil melipat tangan di dada.


"Kalau begitu, jika sampai mereka ada hubungan bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"


Tanya Ankara.


"Akan kuhancurkan mereka berdua!"


Ucap Aisha marah sambil mengepalkan tangannya. Melihat hal tersebut membuat Ankara jadi tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha."


Tawanya.


"Mengapa, kau tertawa?"


Ucap Aisha.


"Aku hanya memancing emosimu saja, Aisha...akan tetapi dampaknya ternyata luar biasa."


Ucap Ankara.


Ucap Aisha.


"Aku memang berani...mengapa?"


Ucap Ankara yang tiba-tiba saja menjauh dari Aisha.


"Kau memang harus diberi pelajaran...kesini kau!"


Ucap Aisha sambil berlari menuju Ankara. Akan tetapi, Ankara menjauh dari Aisha. Hal tersebut tentu saja membuat Aisha semakin kesal kepada Ankara. Ia lalu mengejarnya lagi dan lagi sampai akhirnya ia berhasil menyentuh tubuh Ankara dan menariknya.


"Aku berhasil mendapatkanmu."


Ucap Aisha. Tiba-tiba, saja Ankara menatap Aisha. Aisha terdiam tanpa suara. Kedua tangan Ankara menyentuh kedua pipi Aisha dengan lembut. Kemudian, tanpa sadar Ankara mencium bibir Aisha. Akan, tetapi sebelum berhasil ia mencium bibir Aisha.


Aisha memalingkan wajahnya dan ia menolak Ankara. Ankara terkejut seketika, namun ia paham dan mengerti mengapa Aisha tidak menerima ciuman darinya. Aisha masih mencintai Zham, kakaknya.


Oleh sebab itu, Aisha tidak menerima ciuman itu dari Ankara. Ankara menyerah sekali lagi, dan ia tidak bisa memaksa Aisha demi hasratnya sendiri. Aisha adalah sosok seorang wanita yang selalu ia hormati dan kagumi.


Ternyata sampai hari ini pun, aku tidak bisa memenangkan hatimu...Aisha, ternyata kau masih mencintainya...meski kini kekuatannya tidak sebanding denganmu...tetapi, kau tetap hanya memperdulikannya...aku telah salah menilaimu.


Ucap Ankara dalam hati.


"Maaf, aku terlalu lancang Aisha."


Ucap Ankara.


"Tidak apa-apa."


Ucap Aisha.


"Aku sadar, aku bukanlah apa-apa bagimu...aku hanyalah pelengkap dimatamu."


Ucap Aisha. Dan, Aisha terdiam mendengar kata-kata Ankara. Ankara pun segera berlalu, dari hadapan Aisha. Tinggallah Aisha disana dengan sejuta kebimbangan di hatinya.


"Maafkan aku, Ankara...aku harus melakukan ini...kau bukanlah pelengkap bagiku...kau lebih berharga bagiku...namun, aku tidak bisa memberikan hatiku kepadamu...mohon, maafkan aku."

__ADS_1


Ucap Aisha dengan perasaan sedih.


"Ow, aku mengira seorang Dewi Ular tidak pernah bersedih?"


Ucap Anna yang tiba-tiba sudah ada disana bersama Richard.


"Huh! Memangnya, apa yang harus aku sedihkan...sama sekali tidak."


Ucap Aisha segera berlalu dari hadapan Anna dan Richard. Anna hanya memperhatikan raut wajah Aisha.


"Kau lihat itu, Richard? Dia bersedih tetapi dia tidak mau mengakuinya."


Ucap Anna. Richard hanya diam mendengarkan kata-kata Anna.


"Hei, kau juga sama dengannya? Kau juga bersedih."


Ucap Anna yang tiba-tiba menangkap ekspresi wajah Richard yang murung.


"Sudahlah, An...tidak perlu dibahas! Nanti, malam kita bergerak! Aku merasakan akan ada hal yang akan terjadi."


Ucap Richard.


"Baiklah."


Ucap Anna sambil memperhatikan Richard. Richard pun hanya diam saja ketika Anna sedang memperhatikannya lagi. Lalu, setelahnya Anna pun segera masuk ke dalam rumah tersebut.


Richard menggelengkan kepalanya. Ia sudah hafal dengan semua sifat dan sikap Anna. Ia faham akan Anna yang sombong dan angkuh. Oleh sebab itu, ia tidak mau berurusan dengan Anna lebih jauh lagi.


......................


Di sisi lain...


Nagadhini telah datang kembali ke dunia manusia. Ia bermaksud akan membuat sedikit bencana dan kekacauan di dunia manusia. Ia ingin menyerap intisari manusia sebanyak-banyaknya melalui Peta duplikat yang diberikan oleh tetua Jenggot Putih.


Ia ingin memberi pelajaran kepada manusia yang telah berani mempermainkannya. Terutama ia ingin sekali jika, orang yang berada di balik itu semua muncul dan dapat memberikan Peta yang asli kepada dirinya.


Tujuan utamanya tidak lain ialah, Nagini atau Aisha. Yang secara terang-terangan membantu klan pembuu siluman untuk menyinggung dirinya.


"Nagini, secara tidak langsung kau ingin membuatku bekerja keras bukan?"


Ucap Nagadhini di atas sebuah rumah penduduk.


"Dengan begitu, kau juga ingin bermain-main denganku...lihat saja, apa yang dapat aku lakukan di dunia manusia yang fana ini....akan aku lenyapkan mereka sehingga kau hadir dan menolong mereka semua dari amarahku."


Ucap Nagadhini lagi sambil menggenggam kedua tangannya. Sedangkan di sebuah tempat di dalam sebuah kamar berwarna merah muda. Tampak Aisha sedang bermeditasi. Ia ingin sekali dapat mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Nagadhini. Dan, setelah ia mengetahuinya ia pun tersenyum senang.


"Silahkan, saja Nagadhini! Apa yang ingin kau lakukan...lakukan saja...aku akan menunggu hasil dari kerja kerasmu itu."


Ucap Aisha.


"Dan, tidak akan kubiarkan kau menyakiti para manusia dan dengan seenaknya mengambil intisari milik mereka dengan cara curang."


Ucap Aisha.


"Ankara!"


Panggil Aisha. Dalam sekejap Ankara muncul di hadapan Aisha.


"Hoam! Aku masih mengantuk, Aisha? Mengapa, kau memanggilku di tengah malam?"


Ucap Ankara.


"Dasar bodoh! Jangan tidur saja, Nagadhini sudah bergerak."


Ucap Aisha.


"Eh? Apa! Secepat ini?"


Ucap Ankara terkejut.


"Iya."


Ucap Aisha.


"Ayo, bergerak!"


Ucap Aisha kemudian sambil menarik tangan Ankara untuk segera pergi ke tempat dimana Nagadhini berada. Aisha tidak ingin Nagadhini membuat kekacauan di dunia manusia. Oleh, sebab itu ia pun membawa Ankara bersamanya untuk memberi pelajaran kepada Nagadhini.


Bersambung...


NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR

__ADS_1


Cover



__ADS_2