
Apa yang terjadi? Aku menyerahkan Peta yang kudapatkan dengan susah payah kepada dirinya...hanya dengan satu ancaman...siapa dia? Sungguh ia memiliki kekuatan yang jauh melebihiku...dan aku tidak mungkin melawannya...tetapi ia sungguh berwibawa dan ia sungguh memiliki kecantikan yang luar biasa.
Ucap Deviandra kemudian sambil menyusuri hutan belantara untuk menuju istana milik ibunya. Dengan perasaan kecewa karena tidak bisa memenuhi keinginan sang ibu sungguh membuatnya dilema.
"Apa yang harus kukatakan kepadanya? Aku gagal dan tidak berhasil membawa Peta?"
Ucap Deviandra.
"Ibu, pasti sangat marah kepadaku."
Ucapnya lagi kemudian ia pun sudah sampai di istana tempat tinggalnya selama ini bersama dengan keluarganya. Saat ia kembali, Nagadhini dengan senyum manis menyambutnya.
"Oh, putriku...kau sudah kembali? Ayo, masuk dan kita berbincang-bincang di dalam."
Ucap Nagadhini.
"Ya, ibunda."
Ucapnya santun. Nagadhini mengajak Deviandra ke ruang aula istana. Nagadhini berjalan di depan sedangkan Deviandra berjalan di belakangnya. Dari belakang Deviandra dapat melihat aura berwarna kelabu menguar dari tubuh ibunya.
Aura ibunda...pasti ibunda sudah tahu kalau aku gagal membawa Peta itu bersamaku...bagaimana ini.
Ucap Deviandra dalam hati. Memang apa yang ditakutkan oleh benar adanya. Nagadhini sangat marah sekaligus kecewa kepada Deviandra putrinya sebab tidak sanggup untuk melaksankan tugas yang diberikan kepadanya.
Dan, Nagadhini bermaksud untuk memberi hukuman kepada Deviandra di aula umum. Saat itu di aula umum telah berkumpul banyak pihak yang mendukung Nagadhini. Deviandra pun merasa takut dan gugup ketika sampai di aula umum istana. Sepertinya kali ini Nagadhini ingin mempermalukan dirinya.
"Ibunda? Mengapa, ibunda mengumpulkan banyak siluman di sini hari ini."
Tanya Deviandra kepada Nagadhini, tetapi bukan jawaban yang didapat melainkan satu tamparan keras mendarat di pipi kirinya.
"Plaakkk."
Deviandra meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang sakit akibat kena tamparan keras Nagadhini.
"Ibunda! Mengapa, ibunda menamparku? Apa salahku, ibunda!"
Ucap Deviandra.
"Itu adalah hal yang pantas untukmu, karena kau...semua usahaku sia-sia."
Ucap Nagadhini.
"Apa! Aku melakukan satu kesalahan dan ibunda marah kepadaku! Bagaimana, jika aku melakukan kesalahan berulangkali ibu?"
Tanya Deviandra.
"Maka aku akan membunuhmu!"
Jawab Nagadhini tegas.
"Apa! Ibunda, apa maksudnya ini."
Tanyanya lagi.
"Maksudnya adalah, kau beruntung karena kau adalah putriku...maka satu kesalahanmu aku hanya menamparmu...tetapi, jika itu orang lain maka kau pasti sudah mati karena kau gagal menjalankan tugasmu!"
Jawab Nagadhini dengan tatapan mata tajam.
"Oh, jadi begitu...satu kesalahan kecil ibu menamparku...jika banyak kesalahanku maka ibu akan membunuhku, bukan?"
Ucap Deviandra.
__ADS_1
"Jika, anggapanmu seperti itu...maka, baiklah."
Ucap Nagadhini.
"Ibunda! Aku adalah putrimu! Apakah, pantas kau memperlakukanku dengan kasar seperti ini?"
Ucap Deviandra.
"Deviandra, putriku! Kau dengar baik-baik! Dalam hidupku hanya satu tujuan...yakni, menjadi makhluk siluman paling kuat di dunia siluman....aku ingin menjadi sang Dewinya bangsa siluman...apakah, aku salah jika aku memiliki keinginan tersebut?"
Ucap Nagadhini.
"Jadi, apakah ibunda tidak peduli kepadaku?"
Ucap Deviandra dengan tatapan mata mengharap.
"Tidak! Aku hanya peduli dengan tujuanku! Itu sudah pasti...dan, jika ada makhluk yang lemah di dalam kekuasaanku...maka aku akan menyingkirkannya dari jalanku!"
Ucap Nagadhini. Mendengar kata-kata Nagadini membuat Deviandra terdiam dan ia sangat shock. Ia tidak percaya jika ibunya sanggup berkata-kata seperti itu kepada dirinya. Seakan-akan yang ada di hadapan ibunya hanyalah kekuatan dan ambisi.
Seperti inikah ibundaku...mengapa aku merasa jikalau dia bukan ibundaku...dia tidak menyayangiku selayaknya ibunda yang telah melahirkan anaknya...dia tampak seperti iblis siluman...sungguh mengerikan makhluk sepertinya tetap ada di dunia ini.
Bathin Deviandra mengepalkan tinjunya. Kemudian, ia pun segera pergi dari aula istana tempat Nagadhini mengumpulkan seluruh makhluk siluman untuk memberi pelajaran kepada Deviandra atas kegagalannya dalam mendapatkan Peta Alam Semesta.
Sungguh ku tidak menyangka ku lahir dari rahimmu, ibunda...aku begitu menyayangimu...dengan setulus hati...tetapi kau tidak peduli kepadaku...bahkan ketika aku sekarat dan hampir tiada sekali pun kau tidak datang menolongku...kau hanya memperalatku ibu...jangan salahkan aku jika di kemudian hari aku tidak akan pernah lagi mendukungmu...sampai disini saja hubungan kita antara ibu dan anak.
Ucap Deviandra dalam bathin, segera meninggalkan istana tersebut dan pergi mengembara tanpa tujuan di alam Dunia Ular.
Ya, Deviandra telah memutuskan untuk pergi dan tidak ingin lagi terlibat dengan ambisi Nagadhini yang ingin menjadi siluman digdaya di muka bumi. Ia tidak ingin dijadikan alat oleh Nagadhini. Oleh sebab itu, ia pergi menjauh dari istana Nagadhini untuk selamanya.
......................
Aisha disambut oleh tetua pemburu siluman di rumahnya dengan hormat. Sebab, ia tahu bahwa Aisha adalah seorang gadis remaja yang memiliki sisik emas di bahunya.
Tetua sangat takjub melihatnya, dalam pandangan matanya ia dapat melihat sosok asli dari Aisha. Seekor ular berwarna keemasan dengan mahkota emas permata di dahinya. Karena itu, ia memerintahkan kaum pemburu untuk tidak mengganggunya atau pun mengusiknya.
"Selamat datang, nyai?"
Sambut sang tetua.
"Terima kasih atas sambutanmu, tetua?"
Ucap Aisha sopan.
"Nyai, silahkan duduk."
Ucap sang tetua mempersilahkan. Lalu, Aisha pun duduk di hadapan tetua. Aisha memperhatikan di sekelilingnya. Disamping tetua ada Adam, Anna dan juga Richard. Ia tersenyum menatap Anna dan Richard bergantian. Anna diam saja sedangkan Richard pun membalas senyuman Aisha.
"Tetua, anda sangat hebat...anda memiliki calon penerus pemburu siluman yang berbakat."
Ucap Aisha.
"Nyai, jangan terlalu memuji...justru aku harus memuji nyai...nyai dengan mudah dapat mengalahkan siluman itu."
Ucap sang tetua merendah.
"Itu bukan aku...tetapi panglima perangkulah yang berhasil menaklukkannya."
Uca Aisha tidak kalah merendah.
"Begitu, ya nyai...kalau begitu terima kasih hamba ucapkan kepada, nyai...karena, masalah ini terselesaikan dengan baik."
__ADS_1
Ucap tetua.
"Ya, dan aku bermaksud untuk memberikan Peta ini untuk tetua simpan."
Ucap Aisha dan kata-kata yang diucapkan oleh Aisha membuat seluruh yang ada disana menjadi terkejut.
"Ini...ini suatu keberkahan yang luar biasa, nyai...nyai, memberikan satu kepercayaan kepada hamba untuk menyimpannya."
Ucap tetua terharu.
"Benda ini telah kusegel dan hanya aku sendiri yang dapat membuka segelnya...jadi tetua tidak perlu khawatir jika, ada pihak lain yang ingin mengambil benda ini."
Ucap Aisha.
"Terima kasih banyak, nyai."
Ucap tetua.
"Ya, ini ambillah."
Ucap Aisha sambil menyerahkan Peta tersebut kepada sang tetua. Dan, sang tetua tersebut menerimanya dengan rasa bangga.
"Nyai, bolehkah hamba mengetahui nama anda nyai?"
Tanya tetua. Aisha tersenyum manis mendengar pertanyaan dari sang tetua.
"Namaku di dunia ini adalah Aisha, di dunia ular namaku adalah Nagini atau biasa disebut Dewi Ular penguasa para Ratu siluman ular di seluruh dunia."
Ucap Aisha dengan lantang. Dan, semua yang ada disana sangat terkejut sekali mendengarnya termasuk Anna dan Richard.
"Apa! Dewi Ular.
Ucap mereka serentak.
"Nyai, kau sungguh sama seperti yang dirumorkan banyak orang...kau sangat sakti, anggun, cantik dan berwibawa serta bijaksana."
Ucap tetua memuji. Dan, Aisha tersenyum.
"Tetua, itu pujian yang terlalu berlebihan...aku tidak seperti itu."
Ucap Aisha.
"Nyai, anda memang seperti itu."
Ucap tetua lagi bersikeras.
"Ya, baiklah kalau begitu tetua...aku harus pergi sekarang."
Ucap Aisha.
"Silahkan, nyai."
Ucap tetua tersebut mempersilahkan. Setelah, tetua tersebut selesai berkata, Aisha telah lenyap dari pandangan mata. Semuanya terkejut, namun akhirnya semuanya pun memahami bahwa Aisha bukanlah siluman biasa. Kekuatannya tidak sama jika dibandingkan dengan siluman yang sama dengannya di zamannya.
Bersambung...
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR
Cover
__ADS_1