
Pertarungan tersebut tampak berlangsung sengit. Keduanya, menyerang Nagadhini tiada henti. Sedangkan, Nagadhini ia sedang mencari kelemahan keduanya. Sebab, ia tidak ingin lagi menyakiti Deviandra. Bagaimana pun, Deviandra adalah putrinya. Meskipun, kini berseberangan pihak dengannya dan tidak mendukung dirinya.
Bagaimana pun, Deviandra adalah putriku! Aku tidak bisa menyakiti dirinya lagi.
Ucap Nagdhini dalam hati.
Meskipun, kini dia tidak mendukungku lagi...aku tidak ingin membuatnya menderita...apa lagi melukainya...hanya saja aku harus melumpuhkannya agar aku dapat menyelesaikan urusan terakhir ini.
Ucapnya lagi dalam hati. Nagadhini terus saja mencari celah dan ia akhirnya ia mendapatkannya. Ia segera melayangkan pukulannya tepat di dada Deviandra dan Anna. Pukulan telak tersebut membuat keduanya terluka parah.
"Dhuakk."
"Akh."
Jerit Deviandra dan Anna bersamaan. Melihat, keduanya terluka parah. Nagadhini segera mengambil langkah seribu. Ia pun pergi meninggalkan Deviandra dan Anna disana sambil membawa 6 sampel dari 7 darah perawan suci. Hanya tinggal satu lagi saja maka kesemuanya akan lengkap dan peti sang iblis pun dapat ditemukan.
"Sial! Kurang ajar."
Ucap Anna kesal.
"Kita gagal."
Ucap Deviandra.
"Ya, wanita terkutuk tersebut berhasil melarikan diri."
Ucap Anna.
"Kita kejar saja dia."
Ucap Deviandra.
"Apa, kau gila? Mengejar dia...sama saja dengan mencari mati...kita kembali saja dan melaporkannya kepada Aisha."
Ucap Anna.
"Baiklah, terserah kau saja."
Ucap Deviandra. Lalu, Deviandra dan Anna pun segera kembali ke istana Dewi Ular. Keduanya pun melaporkan mengenai tugas yang diberikan oleh Aisha kepada keduanya.
"Salam, bibi Aisha."
Sapa Deviandra.
"Salammu kuterima, bangunlah keponakanku."
Ucap Aisha.
"Salam...
Ucapan Anna terputus.
"Tidak perlu bersikap seperti itu, Anna."
Ucap Aisha.
"Kau adalah seorang penguasa tertinggi...bangsa siluman ular...dan, aku harus memberi penghormatan untukmu."
Ucap Anna.
"Bangsaku boleh memberi hormat kepadaku...tetapi tidak dengan bangsa manusia...sebab, derajat manusia lebih tinggi dibandingkan bangsa siluman."
Ucap Aisha bersikap bijaksana dan berwibawa.
"Ah, Aisha...mengapa, kau bersikap seperti ini? Kau membuatku menjadi malu."
Ucap Anna. Aisha tersenyum.
"Lagi pula, kau adalah temanku...dan diantara teman tidak diperkenankan perlakuan yang seperti itu."
Ucap Aisha.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu."
Ucap Anna.
"Bibi, kami ingin melaporkan sesuatu."
Ucap Deviandra.
"Ya, Aisha...kami gagal dalam tugas ini."
Ucap Anna.
"Gagal ya? Itu berarti aku harus mengutus seseorang yang jauh lebih kuat dari kalian berdua."
Ucap Aisha.
"Maafkan, kami bibi."
Ucap Deviandra.
"Deviandra, tidak perlu meminta maaf begitu kepadaku."
Ucap Aisha.
"Sekarang, kalian beristirahatlah."
Ucap Aisha.
"Baiklah, Aisha...kami permisi dahulu."
Ucap Anna segera berlalu dari hadapan Aisha bersama Deviandra.
Tampaknya masalah kali ini benar-benar tidak mudah...aku harus mengirimkan Cintamani dan Joko Asmoro...untuk menggagalkan rencana Nagadhini.
Ucap Aisha dalam hati. Lalu, Aisha segera memanggil Cintamani dan Joko Asmoro, suaminya. Dalam sekejap saja Cintamani beserta suaminya sudah sampai di hadapan Aisha.
"Salam hormat saya, nyai...ada apa gerangan nyai memanggil kami berdua."
Ucap Cintamani.
Perintah Aisha.
"Baiklah, nyai...kami berdua akan melaksanakan perintah nyai...kami permisi."
Ucap Cintamani yang segera menghilang dari hadapan Aisha. Cintamani dan Joko Asmoro pergi ke dunia manusia. Mereka mencari Nagadhini untuk menggagalkan usaha terakhir Nagadhini. Dan, mereka menemukannya di sebuah tempat yang sunyi di dekat kaki gunung.
Dimana, di kaki gunung tersebut ada sebuah desa yang sangat terpencil jauh dari keramaian. Nagadhini sedang berdiri di atas sebuah pohon besar dan rindang. Atas petunjuk Peta Alam Semesta, keberadaan sang perawan suci ke 7 ada di desa tersebut.
"Haha...akhirnya, yang terakhir...darah perawan suci yang ke 7 ada disini."
Ucap Nagadhini.
"Aku akan segera menyerap darahnya...serta akan meninggalkan mayatnya disana...sungguh menyenangkan...hahaha."
Ucap Nagadhini sambil tertawa.
"Dengan begitu...aku akan bisa menemukan peti sang iblis sesegera mungkin."
Ucap Nagadhini lagi.
"Oh, ya? Benarkah? Menemukan peti iblis sesegera mungkin...katanya."
Ucap Cintamani tiba-tiba didampingi Joko.
"Hah, kukira siapa...ternyata anak buah busuk Dewi Ular."
Ucap Nagadhini.
"Kurang ajar kau, Nagadhini! Turun kau dan hadapi aku!"
Ucap Cintamani emosi.
__ADS_1
"Cih! Aku tidak sudi menghadapi...anak buah busuk seperti kalian...suruh pimpinan kalian saja yang turun tangan."
Ucap Nagadhini.
"Pimpinan kami, nyai Dewi Ular...adalah seorang sosok yang sangat terhormat...dia tidak perlu turun tangan untuk menghadapi cecunguk sampah sepertimu!"
Ucap Cintamani.
"Sialan! Dasar kau, antek-antek Dewi Ular! Kuhabisi kau!"
Ucap Nagadhini yang tiba-tiba melancarkan serangan dari telapak tangannya. Yang mengeluarkan sebuah sinar biru. Cintamani cepat menghindar mengetahui ia mendapat serangan dari Nagadhini.
"Boom...dhuarr."
Bunyi ledakan akibat hantaman telapak tangan Nagadhini yang menghantam bumi.
"Sial!"
Ucap Nagadhini yang kemudian turun ke bawah menghampiri Cintamani. Lagi, Nagadhini melancarkan serangan kepada Cintamani tetapi serangannya diblokir oleh Joko. Yang bertugas melindungi istrinya.
"Wah, pasangan yang serasi...akan aku habisi kau beserta istrimu itu!"
Ucap Nagadhini marah.
"Lewati aku dulu."
Ucap Nagadhini sambil melayani setiap serangan Nagadhini yang ingin menyakiti Joko. Joko pun tidak tinggal diam begitu saja, ia pun turut membantu istrinya menyerang Nagadhini.
Dan, pertarungan tersebut pun berlangsung sengit. Dua kubu sama-sama kuat, akan tetapi bukan Nagadhini namanya jika tidak dapat menyingkirkan duri yang menghalangi jalannya. Lalu, hanya dengan satu gerakan saja dan...
"Dhuakk...dakhh...brukk...akh."
Lagi, anak buah kiriman Aisha berhasil dikalahkan oleh Nagadhini. Nagadhini tertawa bahagia melihat kedua pasutri tersebut pingsan akibat pukulan telak yang ia lancarkan.
"Hahaha...bagus sekali...mereka terluka parah dan pingsan...aku bisa dengan leluasa mengambil darah itu."
Ucap Nagadhini sambil meninggalkan kedua pasutri yang sedang pingsan tersebut.
......................
Satu jam kemudian...
Terjadi kegemparan di desa kaki gunung tersebut. Berita tentang kematian seorang anak perempuan. Mati kering tanpa setetes darah pun yang tersisa. Dan, kegemparan tersebut telah menjadi berita utama baik di desa tersebut maupun di tempat-tempat berbeda yang mengalami hal yang serupa.
Cintamani dan Joko terbangun dari pingsan mereka. Mereka sangat terkejut ketika mereka mendengar hal yang sangat mengejutkan tersebut. Dan, mereka tahu mereka berdua telah gagal menjalankan tugas dan perintah dari Aisha.
"Nyai, kami mohon maaf!"
Ucap Cintamani menyampaikan kata maaf kepada Aisha ketika ia dan suaminya sudah tiba kembali di istana Dewi Ular.
"Tidak perlu meminta maaf, Cintamani! Kau dan suamimu sudah berusaha dengan keras...dan aku dapat memakluminya."
Ucap Aisha.
"Nagadhini memang sangat kuat! Dia bukan lawan kalian...aku yang salah...seharusnya, aku yang menghadapinya."
Ucap Aisha lagi.
"Jadi, sekarang kita harus bagaimana nyai...dia sudah berhasil."
Ucap Joko.
"Kalian berdua tenang saja...serahkan sisanya kepadaku...aku sudah memiliki rencana."
Ucap Aisha.
"Baiklah, kalau begitu nyai...kami mengikuti rencana nyai saja."
Ucap Cintamani. Aisha sudah melakukan berbagai cara untuk mencegah Nagadhini. Tetapi, ternyata ia tidak berhasil. Malahan, ia mengalami kegagalan sebanyak dua kali. Dan, tampaknya ia sendiri yang harus turun tangan sendirian untuk mengakhiri semuanya. Termasuk mengakhiri permusuhan mereka berdua untuk selamanya.
Bersambung...
__ADS_1
NAGINI 2, TITISAN DEWI ULAR