Om itu suamiku

Om itu suamiku
Uler keket


__ADS_3

" Roy, baru pulang nak ? " tanya Ruby. Ia sedang menyaksikan siaran berita di TV bersama suaminya.


" Iya ma. " jawab Roy. Ia berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Menaruh jas yang sedari tadi ia tenteng di lengan sofa, kemudian barulah ia menyalami kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan mereka.


" Sudah makan malam ? Jika belum, mama siapin. " ujar Ruby.


" Sudah ma. Tadi pesan makanan online. " Roy menghenyakkan pan tatnya di atas sofa single yang berada di samping sofa yang di duduki kedua orang tuanya.


" Kerjaan banyak. Nanggung kalau mau di tinggalin keluar buat makan. " lanjutnya sambil mengusap wajahnya dan rambutnya bergantian.


" Capek? " tanya Ruby kembali.


" Lumayan. " jawabnya pendek.


" Makanya, cepetan cari istri. Menikah. Enak, pulang kerja, badan capek, ada yang ngerawat, ada yang mijitin. Apalagi pijit plus-plus. " sahut tuan Manoj.


" Papa bisa aja. " sahut Roy sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya. Tubuhnya memang terasa sangat lelah. Tidak hanya tubuhnya, tapi pikirannya juga.


" Papa kamu benar. Usiamu sudah tidak muda lagi. " sahut Ruby.


" Baru 28 tahun ma. " jawab Roy malas.


" Kamu bilang baru 28 tahun? " pekik Ruby. " Kamu itu sudah tergolong perjaka tua kalau kita masih tinggal di kampung. "


" Mama, ah! " protes Roy.


" Mama pengen nimang cucu. " sahut Ruby.


" Papa juga. " imbuh tuan Manoj.


" Kenapa papa sama mama seolah-olah tidak akan menimang cucu? Bukankah tidak sampai tiga bulan lagi Selsa akan melahirkan? Kalian akan punya cucu. " kata Roy.


" Kami juga tahu kalau itu. " Sahut tuan Manoj. " Tapi kami juga ingin punya cucu dari kamu. "

__ADS_1


" Lagian, kalau Selsa punya anak, Elyas tidak akan membiarkan anaknya tinggal di sini sama kita. Kasihan umi Titin kalau Selsa tinggal di sini sama anaknya. " imbuh Ruby.


" Papa sama mama bisa datang ke rumah mereka tiap hari. Biar tiap hari melihat cucu kalian. " sahut Roy.


" Mana bisa kami kesana tiap hari. Ngaco kamu. Ya nggak enak lah sama yang punya rumah. " tolak Ruby.


" Sama aja ma. Kalau misalnya Roy menikah, Roy juga akan bawa istrinya Roy ke rumah Roy sendiri. Kami juga tidak akan tinggal di sini. " ujar Roy.


" Tidak... Tidak .. Tidak ... Setelah menikah, dan sampai kapanpun kamu tidak akan papa biarkan keluar dari rumah ini. Kamu harus tinggal di rumah ini. Bersama kami. " ucap tuan Manoj tegas.


" Nggak bisa gitu dong pa. Roy sudah menabung untuk membeli rumah sendiri. Roy ingin mandiri. Membangun rumah tangga sendiri. " kekeh Roy.


" Kamu tenang saja. Kami tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kamu nanti. " tuan Manoj pun tidak mau kalah. " Papa biarkan kamu mempunyai usaha sendiri dan tidak mengambil bagian di perusahaan papa. Papa terima itu. Tapi sampai kapanpun, jika kamu mau keluar dari rumah ini, papa tidak akan ijinkan. " lanjutnya.


" Ck. Sudah pa. Biarkan saja dia mau tinggal di mana setelah menikah nanti. " Ruby berusaha meredakan emosi suaminya. Ia menggenggam lembut tangan suaminya yang sudah mulai berkeriput.


Ruby menoleh menatap suaminya yang hendak protes. Tapi tuan Manoj tidak jadi protes karena istrinya sudah mengedipkan matanya. Itu berarti, sang istri punya rencana lain.


" Lebih baik kamu segera cari calon istri. Jangan membuat mama meragukan kejantananmu. Apa jangan-jangan kamu malah berbelok? " Ruby memicing menatap putranya yang terlihat kesal.


" Roy normal mama. " geram Roy. " Roy masih suka perempuan. "


" Kalau kamu memang menyukai perempuan, buktikan dong. Bawa calon istri kamu kesini." tantang Ruby.


Roy menoleh ke samping sambil menghela nafas panjang.


" Atau jangan-jangan punya kamu letoy ya. " Ruby makin memancing sang putra. Ia tahu, putranya tidak akan bisa jika terus di pojokan seperti ini.


" Ck! Roy normal mama. NORMAL!! " geram Roy. Dan tuan Manoj sudah menahan tawanya dari tadi melihat wajah putranya masam.


" Atau jangan-jangan, nggak ada perempuan yang mau sama kamu? Wuah, mama heran sama anak jaman sekarang. Ada laki-laki gagah, tampan kayak gini, tapi nggak ada yang melirik. " Ruby makin gencar meledek putranya.


" Mama jangan salah. Sekretaris barunya, sangat mengidolakannya. " sahut tuan Manoj.

__ADS_1


" Tidak papa. Papa jangan asal menyimpulkan. " elak Roy.


" Bagaimana papa bisa salah menyimpulkan? Kalau papa saja sering melihat dia yang selalu berusaha berdekatan dengan kamu? Sampai dandanan sama pakaiannya saja heboh begitu. " sahut tuan Manoj.


" Nah, ya sudah. Mumpung ada yang mau. Besok mama mau datang ke kantor kamu. Mau lihat sekretaris baru kamu seperti apa. Kalau cocok, langsung saja kita lamar pa. " Ruby mengambil keputusan.


" Jangan ma. Demi Allah, mama tidak akan menyukainya. Beneran. Karena Roy saja tidak menyukainya. Dia mirip uler keket ma. Geli lihatnya. " tolak Roy. Dan tuan Manoj langsung melepaskan tawanya.


" Maksudnya uler keket gimana? " Ruby mengernyit. " Kok papa ketawa gitu? Jelek emang orangnya pa? Kek Bety la_fea? " kini Ruby menoleh ke arah suaminya.


" Kalau cuma kayak Bety la_fea, gampang itu. Kita dandanin yang bener, cantik dia. " lanjutnya.


Tuan Manoj menggelengkan kepalanya. " Dia mana tahu Bety la_fea ma. Telenovela kesukaan mama. Dia waktu si Bety jadi pegawai, masih orok. " timpalnya sambil menunjuk ke arah Roy.


" Sekretaris dia itu cantik ma. " jelas tuan Manoj. " Bukan seperti si Bety. Tubuhnya, bak gitar spanyol. Iya nggak Roy? " ledek tuan Manoj sambil menoleh ke arah Roy.


" Gitar spanyol apaan? Harpa kali pa. " sahut Roy malas.


" Ah, kalian bikin mama bingung deh. Mama jadi makin penasaran. " sahut Ruby antusias.


" Nggak usah penasaran ma. Roy kasih tahu aja. " ujar Roy yang kini menghadap serius ke arah mamanya. " Si Joice itu ma, dandannya kayak toko kosmetik berjalan. Apa aja dia pakai. Warna pelangi ada semua di wajahnya. Udah gitu, Roy kasih dia gaji nggak sedikit. Tapi dia pelit. Kalau beli baju milih yang murah. Makanya selalu kurang bahan. Bikin mata sakit. Saking kurangnya tuh bahan, bikin bagian atasnya ini ma... " Roy menunjuk dadanya. " Meluber. Tumpah ruah kemana-mana. "


Ruby hanya bisa terbengong mendengar penuturan putranya. " Beneran seperti itu pa? " tanyanya ke tuan Manoj. Dan tuan Manoj mengangguk sambil tersenyum.


" Nggak... Nggak ... Nggak ... Mama nggak mau punya mantu modelan kek gitu. Amit amit deh. " ucapnya.


" Mama tenang aja. Kolega bisnis papa banyak yang punya putri cantik-cantik. Kita akan pilihkan satu buat Roy. " sahut tuan Manoj sambil menepuk perlahan punggung tangan Ruby.


" Roy nggak mau di jodohkan pa. " tolak Roy.


" Ck. Ya sudah, kalau tidak mau di jodohkan, cepat cari calon sendiri. Mama kasih waktu dua bulan. Dalam waktu dua bulan, bawa calon mantu mama ke rumah ini. Titik. Nggak ada tawar menawar. " putus Ruby yang langsung pergi meninggalkan suami juga putranya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2