
Tak terasa waktu cepat berlalu. Masa magang Arisa juga sudah selesai. Arisa sekarang sudah bisa bernafas lega karena ia tidak harus mengikuti bos yang kaku dan selalu datar dalam berekspresi.
Berbeda dengan Roy. Setelah beberapa hari hari-harinya tanpa ada Arisa, mendengar segala celotehannya, melihat sikap bar-barnya dan segala kecerobohannya, Roy merasa hatinya kosong.
Ia jadi sering melamun memikirkan Arisa. " ****!! " umpatnya. Ia melempar bolpoin yang semenjak tadi di pegang nya.
" Kenapa aku harus ingat si bocil terus sih. " gerutunya.
" Salah ini. Jelas ini salah. Tidak mungkin aku menyukainya. Aku masih waras, dan aku masih normal. Aku bukan seorang pedofil yang harus menyukai anak kecil. " Roy berusaha meyakinkan dirinya supaya bayang-bayang Arisa pergi dari pikirannya.
Roy mengusap wajahnya kasar sambil menggeram. Ia di buat serasa gila. Seharian ini, bayangan Arisa selalu muncul. Bahkan tak jarang, ia masih berbicara pada Arisa. Ia masih terbiasa dengan kehadiran Arisa di ruangannya.
" Seharusnya aku tidak memintanya menjadi asistenku dan membiarkannya berada di ruangan yang sama denganku. " keluhnya.
Pletak
Roy melempar bolpoinnya ke pintu ruangan. Hingga tak lama kemudian, pintu itu terbuka.
Ceklek
" Iya, tuan boss. Apa anda merindukan saya? " tanya Joice dengan senyuman lebarnya. Tapi senyuman itu seketika menyurut kala ia melihat tatapan tajam bak elang dari Roy.
" Maaf, tuan boss. " ucapnya sambil nyengir.
" Siapa yang menyuruhmu masuk ? " tanya Roy ketus.
" Lah, tadi? Bukannya tuan bos melempar sesuatu ke pintu untuk menyuruh saya masuk? " Joice malah di buat bingung. " Apa telpon di ruangan ini rusak, tuan? Biar saya panggilkan teknisi. "
" Lebih baik kamu segera keluar dari ruangan saya. Jangan buat saya makin pusing. " sengit Roy tanpa melihat ke arah Joice.
" Baik tuan. Permisi. " Untuk kali ini, Joice ingin segera meninggalkan ruangan sang bos yang biasanya selalu membuatnya betah. Sikap bosnya kali ini, membuat nyalinya menciut.
" Ambilkan bolpen saya dulu. ! " titah Roy saat Joice hendak menutup pintu.
" Ha? " beo Joice. Tapi seketika ia sadar kala pandangan matanya menemukan sebuah bolpoin mahal teronggok tak berdaya di belakang pintu. Ia lalu segera memungutnya dan segera memberikannya ke Roy.
" Sudah, cepat sana pergi. " usir Roy. Dan Joice mengangguk, lalu ia segera meninggalkan ruangan Roy.
Selang beberapa waktu, pintu ruangan Roy kembali di buka dari luar.
__ADS_1
" Ada apa lagi??? " geram Roy sambil menaikkan pandangannya.
" Apa??? " ternyata bukan Joice yang memasuki ruangannya. Tapi sang adik, Selsa.
" Ck! " Roy berdecak, lalu kembali menurunkan pandangannya. " Perut sudah segede toren gitu masih aja jalan-jalan. " gumamnya.
Kret
Selsa menarik kursi di depan meja Roy. " Hamil makin tua justru di sarankan banyak jalan-jalan. Makanya aku jalan-jalan kesini. Bosen jalan-jalan di ruangan mas Elyas. " sahutnya karena ia masih mendengar apa yang di ucapkan Roy meskipun Roy hanya bergumam.
" Joice bilang, kakak sering uring-uringan akhir-akhir ini. Kenapa? Kayak yang lagi PMS aja. " ledek Selsa sembari membuka - buka berkas yang ada di atas meja Roy.
" Sudah. Tangannya di kondisikan. Semua berkas itu sudah di urutkan. Jangan kamu bikin berantakan. " cerca Roy.
" Ck! " Selsa berdecak sambil mencibir. Ia menghentikan gerakan tangannya. Tapi saat ia hendak menarik tangannya, matanya menemukan sesuatu. Ia mengerutkan keningnya dalam.
" Ini? Bukankah ini draft design yang di buat si anak magang? Siapa tuh namanya? " Selsa mencoba mengingat. " Oh si Amalthea. Iya, si anak yang lucu itu. " kekeh Selsa.
" Sebenarnya design nya lumayan untuk pemula. " pujinya.
" Hem. " jawab Roy.
" Eh???? " Selsa terhenti di lembaran terakhir. Ia mengernyit. " Kenapa dia menggambar wajahnya sendiri? Perasaan dulu, dia tidak mengumpulkan gambar ini. Bagaimana bisa ada di sini? " ujarnya ketika ia melihat gambar wajah cantik Arisa ada di lembaran terakhir.
Roy memilih diam dan tidak menjawab. Ia lalu mengambil paksa file yang berisi design Arisa.
" Sudah aku bilang, tangannya di kondisikan. " ucapnya datar tanpa melihat ke arah Selsa.
Tapi otak cerdas Selsa terus bekerja. Ia ingin membuktikan kecurigaannya. Ia berdiri dari duduknya dengan susah payah.
" Nih si kecil betah banget ngumpet dalem perut. Makin berat aja. " ujarnya sambil tangan kanannya mengelus perut buncitnya, dan tangan kirinya memegang handle tangan kursi yang ia duduki untuk menopang tubuhnya ketika hendak bangun dari duduknya.
" Mau kemana? " tanya Roy. " Kenapa tidak duduk saja? Ngilu liat kamu jalan. "
" Kan aku tadi udah bilang. Dokter nyuruh jalan-jalan. Biar besok proses lahirannya gampang. " jawab Selsa.
Ia berjalan mengitari meja Roy. Matanya berkeliling. Hingga saat ia melihat sisi meja Roy bagian pojok, lebih tepatnya tepat di sebelah tangan Roy, Selsa melihat ada sebuah foto berukuran kecil yang sepertinya sengaja di tempel di sana.
Untuk memperjelas penglihatannya, Selsa berjalan mendekati meja Roy. Ia sedikit membungkuk untuk melihat dengan jelas foto siapa kah gerangan.
__ADS_1
" Bukankah itu foto si anak magang? " monolog Selsa. " Kenapa kakak masih menyimpannya? Bukankah semua file anak magang ada di bagian HRD? "
Roy nampak celingukan. Ia mencari apa yang di maksud sang adik.
" Nih! " tunjuk Selsa tepat di atas foto Arisa.
" Ck! Itu kerjaan si bocil. " jawab Roy singkat.
Arisa memang sengaja menempelkan fotonya yang berukuran 4 x 6 di atas meja Roy dengan menggunakan selotip.
Roy ingat, saat itu ia marah.
Flash back on
" Hei, apa yang kamu lakukan? " sentak Roy.
" Nempelin foto saya. Yaaa... siapa tahu kan, om kangen sama saya. Dua Minggu saya nemenin om terus di ruangan ini. Kali aja nanti om ngerasa kesepian, terus kangen deh. Kalau gini kan enak, tinggal di lihat aja fotonya si Eneng cantik anaknya ibu Andhara. " Jawab Arisa dengan santainya.
Ia mendatangi ruangan Roy saat hari terakhir dirinya magang di perusahaan ini.
Belum sempat Roy mengeluarkan suku katanya, Arisa sudah pergi meninggalkan ruangan sambil tergelak.
Flash back off
Dan hingga hari ini, Roy seolah enggan melepas foto itu.
" Mau dia, ataupun kakak sendiri yang pasang, toh nggak ada bedanya. Kakak membiarkan foto itu di situ. " ujar Selsa.
Lalu ia memicing, " Kakak suka yaaa.... sama dia??? " Ledek Selsa.
" Jangan asal bicara kamu. " elak Roy.
" Sepertinya kecurigaan aku bener deh sedari awal. Pertama, kakak minta dia jadi asisten, minta di taruh satu ruangan, terus kakak bawa dia ke undangan, padahal biasanya kakak paling males bawa pasangan ke acara-acara kek gitu. Terus tadi, ada gambar si Amalthea. Kemungkinan kakak yang minta dia buat gambar wajahnya sendiri. Terus yang terakhir, kakak nyimpen fotonya. Apalagi kalau nggak suka coba. " Selsa mencoba menganalisa semua hal yang telah terjadi. Ia berjalan mondar-mandir di belakang Roy .
" Ah, aku harus kasih tahu mama. Mama pasti seneng banget kalau anak laki-lakinya menyukai seorang gadis. " kelakar Selsa.
" Awas kamu bicara macam-macam sama mama. " ancam Roy sambil memutar kursinya ke belakang. Ia menatap tajam ke arah Selsa. Tapi Selsa malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut buncitnya.
bersambung
__ADS_1