
Roy tersenyum. " Memang buat kamu. " ucapnya.
" Dih, abang jangan suka ngibul deh. Jangan suka PHP juga. Pemberi harapan palsu. Entar aku udah terbang tinggi ke angkasa sana. Eh, sayapnya di patahin sama abang. Jatuh, nyungsep, sakit jadinya. " sahut Arisa.
" Tadi bilangnya mau kasih surprise, eh mana? " imbuhnya lagi.
Roy terus melangkah mendekati dirinya. Sampai akhirnya mereka tak berjarak, karena Roy memeluknya dari belakang.
" Astaghfirullah hal'adzim. ABANG!! Bikin kaget aja. " ketus Arisa.
Roy terkekeh kecil. Istrinya ini memang ajaib. Dimana-mana, perempuan jika di peluk begini, bawaannya pasti malu-malu meong, bahagia, seneng. Bukan malah menampilkan tampang ketusnya begini.
" Rumah ini, abang beli buat kamu. Dan inilah surprise yang abang bilang tadi. " ucap Roy, lalu mengecup pipi Arisa yang sedikit tertutup hijab voalnya.
" Ha? " beo Arisa. Ia lalu melepas pelukan Roy, dan segera memutar tubuhnya menghadap Roy. " Beneran? " tanyanya meyakinkan.
Roy mengangguk sambil tersenyum. Sontak Arisa menutup mulutnya untuk meredam ia yang ingin menjerit kegirangan. Bola matanya terlihat berbinar.
" Kamu suka, kan? " tanya Roy.
Arisa mengangguk antusias. " Suka banget. Rumahnya bagus. Estetik. " jawabnya.
" Ini, kamar siapa? " tanyanya.
" Kamar kita. " jawab Roy.
" Wuahhh... Bagus banget kalau gitu. "
" Makasihnya buat abang, mana? " ujar Roy sambil menaik turunkan alisnya.
" Makasih, abang. " ucap Arisa sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Roy dan memeluknya sesaat.
" Cuman gitu? " tanya Roy sambil menyipitkan matanya.
" He em. Kan abang tanya, makasihnya mana? Tadi, aku udah ngucapin makasih. Udah di kasih bonus pelukan juga. " jawab Arisa.
" Ck! Bonusnya kurang. Masak iya, di kasih rumah gede gini bonusnya cuman pelukan. " decih Roy.
" Terus, Abang maunya di kasih bonus apa? Kalau duit, aku jelas nggak punya. Duit buat jajan aja di kasih sama abang. "
" Mau tahu abang minta bonus apaan? " tanya Roy sambil tersenyum smirk. Ia lalu meraih pinggang Arisa dan menarik tubuh Arisa dalam dekapannya.
Cup
Sebuah kecupan singkat Roy berikan ke bibir Arisa. " Seperti itu, misalnya. "
Arisa tersenyum tak kalah smirk dari sang suami. Ah, suaminya itu suka sekali memanas-manasi Arisa. Belum tahu siapa gue nih. batin Arisa.
Arisa lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Roy. Ia lalu berjinjit untuk menyamai tinggi Roy meskipun tetap saja tidak akan smaa. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Roy. Dan ia menempelkan bibirnya ke bibir Roy, bergerak melu mat bibir itu.
__ADS_1
Roy yang memang sedari kemarin setelah menyatakan cintanya sudah sangat menginginkan bibir itu, kini ia tak menyia-nyiakannya.
Roy membalas luma tan Arisa. Mereka kini saling menyesap. Bahkan Arisa kini membuka mulutnya dan membiarkan lidah mereka saling membelit. Ia yang awalnya hanya ingin memancing dan mengerjai sang suami, tapi kini ia malah yang terjebak sendiri dalam trap nya.
Mereka saling berciu man dalam waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya Roy melepas tautan bibir mereka dan menempelkan keningnya dan kening Arisa dengan nafas yang memburu.
Roy sengaja melepas tautan mereka kala ia sadar. Jika ia teruskan, maka ia tidak yakin bisa menahan diri. Apalagi tempat dan situasi yang sepi begitu mendukung.
Roy menatap mata Arisa yang terpejam dengan masih saling menempelkan kening mereka.
" I love you. " ucapnya dan membuat Arisa langsung membuka lebar kedua matanya. Hingga manik mata mereka saling bertemu.
" Mau di teruskan, tidak? " tanya Roy menggoda sambil tersenyum. Sontak Arisa menjauhkan wajahnya dari wajah Roy.
" Maksudnya? " ia memicing.
" Sekarang, kita ada di kamar kita. Dan hanya berdua. Suasana sore yang segar ini sepertinya sangat mendukung. " Roy menaik turunkan kedua alisnya.
Plak
Arisa memukul dada Roy. " Abang ih!!! Selalu aja kesitu. Jangan menodai telinga sama otak aku yang masih kecil dan suci ini, ya. " ia melepaskan kedua tangan Roy yang melingkar di pinggangnya.
" Suci gimana? Kamu aja udah pinter memancing gitu. " elak Roy sambil terkekeh.
Tak mau mendengarkan ucapan me sum sang suami lebih lanjut, Arisa memilih untuk kembali melangkah keluar dari dalam kamar.
" Buat anak kita nanti. " jawab Roy seadanya. Ia terus mengikuti langkah sang istri.
" Anak? Ck! Masih lama dong bang. " sahut Arisa.
" Semua bisa di buat cepat asalkan kamunya udah siap. " jawab Roy.
Arisa menoleh ke belakang ke arah suaminya sambil mendelik dan dengan kaki yang tetap berjalan.
Lalu ia kembali menghadap ke depan karena kakinya hendak menggapai anak tangga.
" Kesitu lagi... Kesitu lagi! Jadi haus. " gerutu Arisa.
Roy terkekeh mendengar gerutuan sang istri.
" Yang di bawah situ, sama yang di belakang sana, kamar siapa bang? " tanya Arisa kembali.
" Yang itu, kamar tamu. Siapa tahu ada tamu yang mau menginap. Terus yang belakang dekat taman sama dekat dapur, nanti kalau kita punya pembantu atau punya baby sitter. " jelas Roy.
" Anak nya aja belum ada. Udah mikir kamar buat baby sitter. Bener-bener definisi CEO perfeksionis. " sahut Arisa.
" Ada minuman nggak sih? " ujarnya lagi tanpa menunggu jawaban, ia langsung membuka pintu kulkas.
" Wuaahhh... Komplit amat, udah kek di swalayan. " ujarnya kala melihat kulkas terisi penuh oleh minuman, bahan makanan, camilan.
__ADS_1
" Abang, siapa yang mau makan isi kulkas ini? " tanya Arisa. Ia menoleh ke suaminya yang ada di belakangnya, setelah ia mengambil satu kotak susu low fat rasa coklat kesukaannya.
" Kita. " jawab Roy singkat.
Arisa memicing, sambil tangannya menusuk lubang susu untuk ia minum.
Sruuttt
Arisa menyedot susu kotak itu hingga tinggal separo.
" Duduk sini dulu kalau minum. Nabi Muhammad kalau makan, atau minum, pasti duduk loh. Atau jongkok lah seenggaknya. Nggak berdiri kek gitu. " Roy menarik satu kursi di dapur untuk di duduki Arisa.
Arisa menurut. Ia duduk di kursi itu, dan Roy ikut duduk di sampingnya.
" Udah terlanjur habis separuh susunya, baru keinget kalau aku masih berdiri. " kekeh Arisa.
" Sayang... "
" Ih, abang. Bisa nggak manggilnya biasa aja. Nggak usah pakai sayang. Geli tahu dengernya. " potong Arisa sambil terkekeh geli tapi juga berkedut hatinya.
" Biasakan denger abang manggil gitu. Karena mulai sekarang, abang bakalan manggil kamu sayang. " sahut Roy.
" Jangan cengengesan. " lanjutnya kala melihat Arisa malah cengengesan.
" Mulai hari ini, kita akan tinggal di sini. " imbuhnya.
" Ha? " Arisa membelalakkan kedua bola matanya.
" Abang jangan bercanda ih. Nggak lucu, tahu! " protesnya.
" Abang serius. Habis ini, kita pulang dulu, buat ambil baju-baju kita. " jawab Roy.
" Mama, gimana? Pasti nggak di bolehin sama papa sama mama. " lirih Arisa.
" Kamu tenang aja. Abang udah bicara masalah ini sama mereka. Dan mereka udah setuju kok. " jawab Roy menjawab kegundahan Arisa.
" Beneran, bang? " wajah Arisa berubah menjadi sumringah.
Bukannya ia tidak betah tinggal di rumah mewah keluarga mertua. Tapi kadang ia merasa kecil. Bagaimana pun juga, tetap enak dan nyaman kalau tinggal di rumah sendiri, bukan?
Dan Roy sepertinya mengerti kegundahan sang istri. Sebenarnya rumah ini sudah ia bangun semenjak lama. Tapi belum pernah ia tinggali. Setelah resmi menyandang status suami, Roy mulai mencoba menyelami kesukaan sang istri, dan sedikit demi sedikit, merenovasi rumah, mengisi rumah, sesuai kesukaan Arisa.
Dan seminggu lalu, semua renovasi, selesai. Dan Roy rasa, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengajak Arisa tinggal berdua. Memulai rumah tangga yang sebenarnya, bersamaan dengan dirinya yang menyadari tentang perasaannya untuk Arisa.
" Tapi abang jangan macem-macem loh kalau kita cuma tinggal berdua. " ancam Arisa dengan tatapan tajamnya.
" Bukan macam-macam, sayang. Cuma satu macam aja. Paling abang ajakin belah duren. " goda Roy dan membuat Arisa mencebik kesal.
Bersambung
__ADS_1