Om itu suamiku

Om itu suamiku
Cita cita


__ADS_3

" Gimana Mile? Aku dapet di mana? " tanya Arisa ketika melihat Miler mendekat.


Miler menghenyakkan pan tatnya di bangku yang sama dengan yang di duduki Arisa.


" Manoj Entertainment. " ucap Miler sambil membenahi jilbab Arisa yang sedikit menceng.


Arisa tersenyum. Ia memang berangan-angan bisa bekerja di perusahaan itu jika dirinya sudah menyelesaikan pendidikannya.


" Kamu? " tanya Arisa.


" Sama dong. Kan kita sehati. Guru mah tahu kalau aku nggak bisa pisah sama kamu beb. " gombal Miler.


" Huek!! Pengen muntah gue. " gerutu Santo.


" Gue gimana Mile? " tanya Kaila. " Jangan bilang, gue misah sama kesayangan gue. "


" Loe satu tempat sama bebeb gue. Inget ya, dia... " Miler menunjuk ke arah Arisa. " Dia itu kesayangan gue. My bebeb. So, loe jangan suka ngaku-ngaku. Mendingan loe cari pacar Sono biar nggak jomblo kek dia. " lanjutnya.


" Eh, sebelum dia jadi kesayangan loe, dia udah jadi kesayangan gue. Gue dulu yang nemuin dia. " Kaila tak mau mengalah.


" Nemuin? Loe pikir gue duit yang ilang? " sahut Arisa.


" Makanya Kai Kai, loe mending terima tuh cintanya si Boy. Biar nggak jomblo. " ujar Miler sambil memainkan ujung jilbab Arisa.


" Ogah! Namanya aja Boy. Playboy lah dia. Gue mah ogah sama cowok yang suka menebar pesona di mana-mana. Mendingan gue jomblo we lah. " sahut Arisa.


" Kuy masuk ke kelas guys. " ajak Santo.


" Ngapain buru-buru To? " tanya Arisa.


" Udah mau pulang. Si Ryan udah nulis di grup tuh. " jawab Santo.


" Oh, oke lah. Ya udah, aku ke kelas dulu ya. " pamit Arisa ke Miler


" Pulang bareng ya beb. " pinta Miler. " Bonceng aku gitu. "


" Sorry Mile. Bukannya aku nggak mau. Tapi aku nggak mau sampai rumah, di ulek sama ibu aku. Jadi Arisa geprek entar. " jawab Arisa.


" Yah!! Sampai kapan dong beb ? " keluh Miler.


" Ya belum tahu. " jawab Arisa.


" Nunggu kalau kambing tuh bertelur. Bukan lagi beranak. " sahut Kaila. Dan Miler hanya bisa berdecak kesal. Baru kali ini ia memiliki kekasih tapi buat pulang bareng aja susahnya kayak mau nyalonin DPR.


.


.


.


" Jo!!! " panggil Roy ke sekretaris nya dengan suara menggelegar dari dalam ruangannya.


Brak


Pintu ruangannya terbuka dengan sedikit kasar. Siapa lagi pelakunya jika buka sang sekretaris yang mirip cabe se tan itu menurut Roy.


" Ck! Bisa tidak jadi perempuan itu yang lembut. Nggak sebanding sama dandanan. " ketus Roy.


" Ya maaf tuan. Habisnya tuan manggilnya pakai toa. Joice pikir ada yang urgent. " sahut Joice sambil berjalan melenggang ke arah meja Roy.


" Tuan, bisa nggak manggilnya jangan Jo, gitu. Orang sek si gini masak manggilnya Jo? Emang Joko? " gerutu Joice.

__ADS_1


" Terus mau di panggil apa? Nama kamu JOICE kan? Ada Jo nya kan? Ribet amat. " sahut Roy kesal sambil mengusap wajahnya kasar. Punya sekretaris satu tapi sukanya bikin darah tinggi.


" Joice, gitu tuan. Namanya keren. Masak manggilnya jatuhnya Jo. Mirip Joko. " jawab Joice.


" Ada apa, tuan tumben memanggil saya? Biasanya saya yang nyamperin tuan bos. Kangen ya tuan .. " Joice memasang wajah sok centilnya.


" Ck! Saya mau tanya, bagaimana rencana magang murid SMA IT Persada Nusantara? " tanya Roy enggan membahas lebih lanjut ucapan sang sekretaris.


" Oh, kirain kangen tuan. " gumam Joice. Ia lalu segera mengangkat tab yang sedari tadi ia pegang. Mengusap, menggeser layarnya.


" Dua hari lagi mereka akan datang kesini, untuk pengenalan tuan. " Joice memberikan informasi.


" Berapa anak? " tanya Roy.


" Ada 20 anak tuan. Khusus dari jurusan desain grafis. Mau di taruh di bagian apa tuan? " tanya Joice.


" Emmm... " Roy nampak berpikir. " Mereka memang anak desain grafis. Tapi tetap mereka harus tahu hal lain. Bagi mereka masing-masing 5 anak. Di tim kreatif, bagian pengambilan gambar dan audio, editing, skrip, sama promotion. " lanjutnya.


" Baik tuan. Ada lagi yang lain? " tanya Joice.


" Kumpulkan mereka di ruang meeting 5 sebelum menyerahkan mereka ke bagian masing-masing. Saya mau bertemu mereka terlebih dahulu. " jawab Roy


" Baik tuan. "


.


.


.


" Bu...... " teriak Arisa memanggil sang ibu.


" Sekalian sono pakai microphone. Biar satu komplek denger Sa. " teriak balik Andhara.


" Kalau pulang tuh salam kek. " ujar sang ibu.


" Assalamualaikum ibuku yang cantik. " ucap Arisa sambil mengambil tangan kanan Andhara dan mencium punggung tangannya.


" Waalaikum salam. Gitu kan cakep. " jawab Andhara.


" Cakep dong.. Anaknya ibu Andhara sama ayah Lio gitu loh. " jawab Arisa.


" Hem. Emaknya aja udah kayak Song Hye Kyo kan ya? " ujar Andhara.


" Ck. Ketinggian kali Bu. " protes Arisa


" Cantikan ibu ketimbang Song Hye Kyo. " sahut Orion yang baru masuk. Ia lalu memeluk tubuh ibunya dan mengecup pipi sang ibu. Begitu lah si Ori. Ia memang dekat dengan ibunya ketimbang si Arisa yang lebih dekat dengan sang ayah.


Jika si Arisa datang sekolah lalu mencium punggung tangan ibunya, berbeda dengan Ori yang langsung memeluk dan mencium pipi sang ibu. Yang terkadang membuat sang ayah jengah. Boleh nggak sih cemburu sama anak sendiri? Itulah yang sering Julio tanyakan dalam hatinya.


" Salam dulu, sayang. " Andhara mengingatkan.


" Assalamualaikum, ibu ustadzah. " ucap Ori sambil cengengesan.


" Waalaikum salam, Gus." jawab Andhara.


" Nama loe berubah jadi Agus? " ledek Arisa.


" Diem loe. " sarkas Ori. " Bu, lapeerrr... " ucapnya sembari merangkul bahu ibunya.


" Risa juga sama. Laperrrrr pakai banget. " Arisa pun tak mau kalah. Ia menggelayut di lengan ibunya.

__ADS_1


" Duh, kasian anak-anak ibu pada laper. " ucap Andhara. " Yuk, kita ke meja makan. Ibu tadi udah masak spesial buat kalian. "


Mereka pun berjalan berdampingan ke ruang makan.


Hap


Tiba-tiba si kecil Kevin nemplok di punggung kakak laki-lakinya.


" Kevin! Bikin kakak kaget aja. " celetuk Orion.


" Habisnya, kakak suka memonopoli ibu. Kevin nggak suka. " sungut Kevin.


" Senengnya punya anak-anak yang sayang sama ibu. " ucap Andhara sambil mencubit gemas pipi Kevin.


" Kamu tuh yang suka memonopoli ibu. Kalau malem, suka nyusulin ayah sama ibu buat tidur kan? " sahut Orion sambil membenarkan posisi Kevin di punggungnya.


" Biarin. Habisnya kalau malem suka ke bangun, terus takut tidur sendiri. Kakak kamarnya di kunciin. " jawab Kevin.


" Dih, anak ibu. Mau nyusu ya malam-malam nyusulin ibu... " ledek Arisa.


" Biarin. " sahut Kevin.


Sampai di meja makan, Orion mendudukkan Kevin di kursi kosong. Lalu dirinya menghenyakkan pan tatnya di kursi di sebelahnya.


" Nih, ibu udah masakin kesukaan kalian. Telur mata sapi bumbu balado kesukaan Arisa, sama daging rendang kesukaan Ori. " Andhara membuka penutup makanan yang ada di atas meja.


" Bentar, ibu ambilin piringnya. " lanjutnya.


" Ibu duduk aja. Biar Risa yang ambil piringnya. Ibu kan udah capek masak. " Arisa meminta sang ibu duduk di kursi. Ia lalu mengambil piring untuknya, Ori, juga Andhara.


" Kevin mau makan nggak? " tanyanya sambil menoleh ke belakang.


Kevin menggeleng. " Kevin udah makan siang tadi pulang sekolah kak. " jawabnya.


" Oke. " sahut Arisa lalu mengambil tiga buah piring, lalu meletakkan di depan Ori, lalu ibunya.


" Ibu udah makan tadi. Ibu nemenin kalian aja. " ucap Andhara.


Arisa mengangguk dan tersenyum. Ia lalu mengambil nasi untuknya sendiri, dan mengambilkan nasi juga untuk Ori. Begitulah mereka. Meskipun mereka sering berdebat, tapi mereka saling menyayangi.


" Bu, dua hari lagi, Risa mau ada magang. Ibu tahu nggak, Risa dapetnya di mana? " ucap Arisa.


" Dimana? " Andhara terlihat antusias.


" Di Manoj entertainment. " ucap Arisa antusias.


" Wah... Hebat. Selamat nak. Ibu doakan, semoga kelak, kamu bisa benar-benar bekerja di sana seperti cita - cita kamu. " Andhara menggenggam tangan Arisa.


" Amiinnn... " sahut Arisa dan Orion bersamaan.


" Ibu dengar, CEO nya masih muda. Ganteng lagi. " ujar Andhara.


" Hmmm....Awas kedengeran ayah loh. " sahut Orion.


" Iya Bu. Katanya. Duh, nggak sabar deh pengen masuk perusahaan itu. " ucap Arisa.


" Semoga CEO nya masih jomblo. Terus suka sama kamu. Nggak bisa ngebayangin ibu kalau punya mantu CEO teh gimana rasanya. " celetuk Andhara.


" Amiinnn. " sahut Kevin kencang.


" Kok kamu yang ngaminin sih? " tanya Arisa.

__ADS_1


" Kakak nggak mau ngaminin. Ya udah, Kevin aja. Biar kalau kakak cepet nikah, saingan Kevin di rumah ini berkurang. " jawab sang adik. Yang sontak mendapatkan pelototan tajam dari sang kakak. Tapi sang ibu justru tertawa terbahak bahak.


bersambung


__ADS_2