Om itu suamiku

Om itu suamiku
Rumah baru


__ADS_3

Setelah dari menjenguk Selsa dan bayinya di rumah sakit, Roy mengajak Arisa ke suatu tempat.


" Loh, kemana? " tanya Arisa bingung sambil melihat ke jalanan yang ia lewati.


" Ini mah bukan jalan ke rumah papa. " lanjutnya.


" Kita mau kemana dulu, bang? " kini ia menoleh ke arah suaminya.


Roy menoleh sesaat sambil tersenyum sebelum ia kembali menatap jalanan di depan.


" Surprise. " ucapnya.


" Ck! Aku paling nggak suka nih kalau ada yang bilang surprise. Suka bikin jantungan. Dag Dig dug nggak jelas." sahut Arisa kesal.


" Bawaannya kayak yang mau di prank. " lanjutnya.


" Awas aja kalau abang sampai nge-prank! " Arisa memiringkan tubuhnya menoleh ke arah Roy sambil memicingkan kedua matanya.


Roy menanggapi Arisa hanya dengan senyuman tipisnya. Ia terus melajukan mobilnya membelah jalanan sore yang lumayan padat. Para pengendara motor yang mungkin baru pulang dari tempat kerja, semakin menambah kemacetan.


Arisa memilih diam sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mulut manyun yang sesekali terlihat komat-kamit seperti Mbah du kun yang sedang membaca mantra.


Sampai beberapa menit kemudian, mobil yang di kendarai Roy memasuki sebuah gerbang perumahan yang lumayan elite.


Roy membunyikan klaksonnya untuk menyapa sekuriti yang menjaga area perumahan itu.


Arisa membaca nama ' Royal Garden Residence '.


" Kita mau ke rumah siapa, bang? " tanya Arisa sambil mengamati rumah-rumah yang mereka lewati.


Arisa melihat, rumah-rumah di sana terlihat elegan dan mewah.


" Ish, bang! Di tanya kok diem aja sih! " kesal Arisa. " Jangan bilang kita mau ngerampok di sini. " imbuhnya makin kesal.


Sampai akhirnya Roy membelokkan mobilnya, memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas.


Ia memarkirkan mobilnya di garasi rumah itu. Lalu ia melepas seatbelt nya. Arisa, ia mengamati ke sekeliling rumah itu dari dalam mobil. Ia bahkan masih mengenakan seatbelt nya tanpa mau melepaskannya.


Tok... Tok ... Tok ....


Roy mengetuk kaca pintu mobilnya. Ternyata ia sudah turun dari dalam mobil.


" Ayo turun. " ucap Roy dari luar.


Tapi Arisa terlihat enggan untuk turun. Ia malah memegang seatbelt nya dengan kencang. Ia juga menggelengkan kepalanya.


Ceklek

__ADS_1


Roy membuka pintu mobil sebelah kemudi. Lalu ia sedikit menunduk supaya ia bisa dekat dengan Arisa.


" Arisa, ayo turun. " ajak Roy kembali. Dan kembali, Arisa menggeleng.


Lalu Roy memasukkan setengah tubuhnya ke dalam mobil hingga wajah Arisa dan wajahnya begitu berdekatan.


" Abang mau ngapain? " pekik Arisa.


Roy menghentikan gerakan tangannya. Ia menoleh ke arah Arisa, dan membuat wajah mereka semakin berdekatan. Bahkan mereka bisa saling merasakan hembusan nafas mereka.


Ke empat netra itu saling menatap dalam diam. Jantung Arisa sudah berdetak makin kencang.


" Jangan bilang abang mau merko sa aku di rumah itu. " celetuk Arisa.


Tag


Roy menjitak kepala Arisa. " Mana ada suami memperko sa istrinya sendiri. Yang ada tuh memberikan kebutuhan biologis dan batiniah namanya. " ujar Roy.


Padahal tadi ia sudah hampir menyerang bibir sang istri. Tapi sayang, sang istri justru merusak momen. Akhirnya ia meneruskan pergerakannya yang hendak melepas seatbelt Arisa.


Klik


Seatbelt Arisa terlepas. Lalu, Roy menarik tangan kiri Arisa supaya Arisa mau cepat turun.


" Bang, kita mau ke rumah siapa sih ini? " tanya Arisa kembali.


" Ini tuh rumah kosong. Rencananya abang mau belah duren di sini. " sahut Roy dengan santainya.


" Abang jangan macem-macem ya!!! " wajah Arisa sudah terlihat panik.


" Macem-macem gimana? Abang cuma mau minta satu macem aja kok. " sahut Roy. Ia sepertinya semakin senang menggoda Arisa. Melihat wajah Arisa yang panik, membuat hiburan tersendiri untuknya.


Arisa melipat kedua tangannya di depan dada. " Arisa mau pulang aja! " ia hendak berbalik badan, tapi Roy segera menangkap tubuhnya, lalu di dekapnya, dan menarik tubuh itu hingga berjalan memasuki rumah.


Arisa terus memberontak. Tapi Roy mendekapnya dengan erat, hingga ia sampai di depan pintu rumah itu. Roy membuka pintu dengan lengannya. Pintu itu tidak terkunci karena penjaga rumah itu sudah membukanya.


Ketika pintu sudah terbuka lebar, Arisa berhenti memberontak. Ia mengamati dengan takjub isi rumah itu.


Mulai dari cat tembok, warna sofa, semuanya berwarna hijau, warna kesukaannya.


Arisa melepas dekapan Roy. Dekapan yang tadi begitu susah untuk dia coba lepaskan, kini bisa terlepas dengan mudah.


Arisa masuk ke dalam rumah lebih dalam. Ia mengamatinya dengan seksama.


Roy, hanya mengikuti langkah Arisa tanpa bersuara sedikitpun. Ia ingin membiarkan sang istri menikmati kekagumannya.


" Rumah siapa ini, bang? " tanya Arisa sambil terus melangkah menyusuri ruangan demi ruangan.

__ADS_1


" Bagus? " bukannya menjawab, Roy justru balik bertanya.


" Banget. " jawab Arisa. " Aku kalau punya rumah, mau banget nih bikin rumah yang kayak gini. " lanjutnya.


Krieek


Arisa membuka pintu kaca yang membatasi ruang keluarga dengan teras belakang.



Teras belakang rumah terlihat begitu luas, dengan kolam renang dan sebuah taman yang terlihat begitu nyaman dan indah. Batu alam yang berbaris memanjang dengan air mancur membuat kolam renang itu nampak estetik. Udara bisa masuk bebas ke sana karena atap tempat itu berasal dari kaca yang bisa membuka dan menutup sesuai keinginan si pemilik.


Dari teras itu, mereka bisa melihat ruang keluarga karena antara teras dan ruang keluarga di batasi oleh dinding dan pintu kaca yang sangat lebar.


Lalu langkah Arisa menuju ke dapur yang juga terlihat dari ruang keluarga.



Dari dapur, teras belakang juga bisa terlihat dengan jelas. Ternyata dinding kaca dan pintu kaca juga membatasi dapur dan teras belakang rumah.


Arisa meneliti setiap inci isi dapur. Ia menyentuh meja, kompor tanam, almari. Sedangkan Roy masih memperhatikannya dari pintu pembatas ruang keluarga dan dapur. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding sambil melipat kedua tangannya di dada.


Mata Arisa nampak berbinar. Ia begitu menyukai rumah ini. Lalu ia kembali berjalan menuju ruangan yang masih tertutup. Ia membuka pintu kamar yang berada di dekat dapur dan teras belakang.


Sebuah kamar yang agak kecil. Ada sebuah kasur single, meja rias, juga kursi. Lalu ia kembali keluar. Ia berjalan kembali menyusuri ruangan yang lain.


" Boleh naik? " tanyanya seraya menoleh ke arah Roy ketika ia mendapati tangga naik.


Roy mengangguk. Dengan riang, Arisa menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua rumah itu. Sampai di lantai dua, dia melihat sebuah ruangan yang mirip dengan ruang keluarga. Satu set sofa dengan warna ungu, sebuah karpet tebal terbentang di sana. Sebuah televisi dengan ukuran besar menggantung di dinding.


Di lantai dua, ada tiga buah pintu yang tertutup. Arisa membuka pintu yang paling dekat dengannya. Dari sana, Arisa menemukan ruangan terbuka tempat menjemur pakaian sekaligus tempat mencuci pakaian.


Ia lalu keluar, dan kembali melangkah. Kembali ia membuka pintu. Di sana, Arisa melihat sebuah kamar, yang terlihat masih kosong. Ia menutup kembali pintu ruangan tersebut.


Ia kembali melangkah dan membuka sebuah pintu yang tersisa. Ceklek.


Arisa begitu terkejut melihat kamar itu. Kamar yang begitu luas, dengan ranjang super king size, sama seperti ranjang di kamar Roy.



Dari tempat Arisa berdiri, ia bisa melihat sebuah jendela besar yang masih tertutup tirai. Arisa berjalan mendekati jendela itu dan membuka tirainya. Setelah tirai tu terbuka, Arisa melihat sebuah jendela kaca yang besar. Ia membukanya.


Terdapat balkon di kamar itu. Dengan taman kecil dan kursi santai di sana. Dan dari balkon itu, Arisa bisa melihat taman belakang rumah itu yang terlihat indah ketika di lihat dari atas.


" Suka? " tanya Roy. Ia berjalan mendekat ke arah Arisa.


" Ck! Abang dari tadi nanya bagus? Suka? Emang rumah ini mau di kasih buat aku? " Arisa mencebik sambil memprotes. Bukannya menjawab pertanyaan Roy.

__ADS_1


Roy tersenyum. " Memang buat kamu. " ucapnya.


bersambung


__ADS_2