Om itu suamiku

Om itu suamiku
Baper


__ADS_3

Roy memakai kemeja, jas, juga celana bahan berwarna cream. Senada dengan kebaya yang akan di kenakan oleh Arisa nanti. Ia terlihat gagah di depan cermin.


Hari ini, ia akan melepas masa lajangnya bersama seorang gadis kecil yang baru ia kenal beberapa waktu yang lalu. Harusnya, bukan pernikahan seperti ini yang Roy harapkan.


Sebenarnya ia memimpikan melangsungkan pernikahan dengan mengundang banyak orang. Klien, kolega bisnis, sahabat, juga teman-temannya yang lain supaya semua orang tahu jika dirinya sudah tidak sendiri lagi. Supaya tidak ada lagi perempuan - perempuan tidak jelas yang terus mendekatinya.


Tapi apalah daya, jika gadis yang hendak ia nikahi masih bersekolah bahkan usianya belum bisa jika di daftarkan di KUA. Roy menghela nafasnya setelah ia merapikan jasnya.


Harusnya, perempuan yang ia impikan untuk menjadi pendampingnya adalah sang adik tiri. Bertahun-tahun ia menunggu. Tapi ternyata Allah tidak mentakdirkan mereka untuk berjodoh. Bahkan sang adik tiri sudah menikah terlebih dahulu.


Bohong jika Roy mengatakan jika dirinya sudah move on dari sang adik. Nyatanya, rasa itu masih ada. Meskipun ia pun mengakui jika dirinya sudah merasakan sebuah rasa yang masih sulit ia jelaskan untuk Arisa.


Gadis itu mampu mengisi hari-harinya yang sepi dengan segala kelakuannya. Gadis itu mampu menarik kedua sudut bibirnya lebih tinggi.


Roy memejamkan kedua matanya sambil memegang ujung meja dengan kedua tangannya. Ia berusaha memantapkan hatinya untuk mengucapkan ijab kabul atas nama Arisa. Ia pun mengulang beberapa kali dalam hati ucapan ijab kabul yang nanti akan ia ucapkan di depan semua keluarga. Jangan sampai ia sampai salah dalam mengucapkannya nanti.


" Udah siap, kak? " tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Roy membuka matanya, lalu memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang menyambangi kamarnya. Meskipun tanpa melihat pun, ia tahu siapa orang itu.


Roy mengangguk setelah melihat sang adik berada di depan pintu dengan pintu yang terbuka.


" Dih, wajahnya kenapa tegang gitu? Grogi ya? " goda Selsa. Ia berjalan mendekati sang kakak dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka.


" Biasa aja. " jawab Roy sambil merapikan kembali penampilannya.


Selsa menghampiri. Ia membantu Roy untuk membenarkan penampilannya.


" Ternyata kakak ganteng juga kalau gini. " candanya.


" Baru nyadar sekarang? " sahut Roy.

__ADS_1


" Bentar deh. Dasinya agak miring ini. " Selsa meraih dasi yang di sudah melingkar di leher Roy, membuatnya berdiri tepat di depan Roy. Dari jarak ini, Roy bisa menatap wajah cantik Selsa dengan jelas.


" Jangan baper kak. " ucap Selsa tanpa mengalihkan pandangannya dari dasi dan juga tangannya. Roy tersentak dengan ucapan Selsa.


" Aku udah nikah. Kakak juga bentar lagi mau nikah. Jangan pernah sia-siain gadis yang sudah kakak nikahi kelak. Baik buruknya dia, tetaplah istri kakak. Apa yang kakak rasakan di masa lalu, gantikan dengan rasa yang baru. Apapun yang terjadi di masa lalu, itu hanyalah kenangan. " lanjutnya. Lagi-lagi Roy terkejut.


" Kamu? "


" Iya kak. Aku tahu apa yang ada di hati kakak dulu. Aku bisa merasakannya meskipun kakak hanya diam. " jawab Selsa sembari tersenyum dan mengangkat kepalanya sejenak untuk memandang Roy yang sedang mengernyit.


" Mulai sekarang, dada ini, hanya boleh bergetar untuk istri kakak. Jangan ada nama lain di hati ini. Harus hanya ada nama istri kakak di sini. " lanjutnya sambil menekan dada Roy dengan ujung telunjuknya.


" Jangan pernah menyakiti perempuan kak, dengan menyimpan nama perempuan lain di hati kakak. Karena akan sangat menyakitkan untuk istri kakak. Aku pernah merasakannya. Bagaimanapun kakak harus ingat, mama, dan adik kakak ini juga perempuan. Kakak pasti tidak akan mau jika kami di sakiti oleh lelaki. Iya, kan? " Selsa setelah menjadi istri seorang Elyas memang banyak berubah. Ia menjadi semakin dewasa. Ia memberikan petuahnya untuk sang kakak.


" Maaf. Maafkan aku jika aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku.... Aku tidak bisa menolak ketika rasa itu datang dalam hatiku. "


" Jangan meminta maaf Kak. Cukup kakak buktikan, jika kakak akan bahagia dengan istri kakak. Seperti aku yang juga bahagia dengan suamiku. Juga calon anak kami. " jawab Selsa.


" Kakakku memang tampan. Beruntung Arisa memilikimu menjadi suaminya. Seperti aku yang memiliki mas Elyas sebagai suamiku. "


" Kamu bahagia dengan Elyas? " tanya Roy.


" Tentu saja aku bahagia kak. "


" Syukurlah. Karena jika kamu tidak bahagia dengannya, maka akan aku hajar suamimu itu. " canda Roy sambil mengusak rambut Selsa.


" Ihh, kakak.... Rambut aku berantakan. " pekik Selsa sambil memanyunkan bibirnya. Tapi Roy malah tergelak.


" Kakak juga harus bahagia, oke? "

__ADS_1


" Tentu saja aku akan bahagia. Doakan kakakmu ini, oke? "


" Tentu. " Selsa mengangguk sambil tersenyum.


" Ouhh, aww!!! " pekik Selsa tiba-tiba sambil memegangi perutnya yang buncit.


" Hei, kenapa? Apa kamu akan melahirkan? " tanya Roy panik. Ia memegangi bahu Selsa yang sedang sedikit membungkuk.


Selsa menggeleng dengan buru-buru. " Tidak. Belum saatnya ia lahir. Masih bulan depan HPL nya. Dia nungguin kalau udah punya onty baru lahir. Dia hanya sedang salto sepertinya. Mungkin ia ikut bahagia karena uncle nya akan menikah. " ucapnya sembari tersenyum.


" Syukurlah. " ucap Roy. " Apa sebaiknya kamu di rumah saja? Istirahat saja di rumah. "


" Oh, tidak bisa. Aku harus ikut. Aku harus melihat kakak mengucapkan ijab kabul. Karena aku hanya memiliki seorang saudara, kau tahu itu kan? " tolak Selsa mentah-mentah.


" Duh... Duh .. Lagi pada ngapain ini? Rame banget. " Ruby muncul dari luar. Selsa dan Roy menoleh ke samping. Mereka melihat Ruby berjalan masuk menuju ke kamar.


" Mama. " panggil Selsa. Ia langsung menelusupkan tangannya ke lengan sang ibu tiri kala Ruby sudah berada di sampingnya. Ruby tersenyum hangat kepadanya.


" Wahh, ganteng banget anak mama. " puji Ruby sambil meneliti penampilan Roy.


" Mama bisa aja. Tiap hari juga penampilan Roy seperti ini, ma. "


" Tapi beda sayang. Aura pengantin itu yang membuatnya berbeda. Bukankah begitu, nak? " Ruby meminta pertimbangan ke Selsa.


" Mama benar. Aura pengantin memang tidak bisa berbohong. Apalagi di tambah dengan raut wajah yang tegang, dan jantung yang berdebar debar. " canda Selsa.


" Ah, kalian sama saja. " Roy berdecak dan membuat dua wanita dalam hidupnya itu terkekeh.


" Oh, sebaiknya kita berangkat sekarang. Keluarga Arisa pasti sudah menunggu. Jangan membuat calon istrimu berubah pikiran. " goda Ruby.

__ADS_1


" Kalau sampai dia berubah pikiran, mama tidak jadi punya menantu baru. " sahut Roy sambil mulai melangkah keluar dari dalam kamarnya. Diikuti oleh Ruby yang menggandeng Selsa.


bersambung


__ADS_2