Om itu suamiku

Om itu suamiku
Salah paham


__ADS_3

" Mau ketemu suami, ceki ceki penampilan dulu dong. " gumam Arisa sambil berdiri di depan tembok kaca yang ada di lobby kantor Roy.


Pede dan tanpa malu. Itulah Arisa. Ia membenahi kerudung pashmina nya yang agak meleot karena tertindih helm. Lalu mengambil liptint dari dalam tasnya dan memoleskan ke bibirnya.


" Dih, cantiknya anak ibu Andhara. Pantes aja om om aja klepek-klepek. " kekehnya sambil meneliti kembali penampilannya, bergerak ke kiri dan ke kanan.


Ia lalu berjalan memasuki lobby.


" Met siang menjelang sore pak. " sapanya ke sekuriti yang berjaga di depan pintu.


" Selamat sore mbak Arisa. " oh, sepertinya Arisa sudah terkenal di sana.


Bagaimana sekuriti tidak mengenalnya, jika ia udah sering datang ke kantor ini. Mulai dari ketika ia magang dulu.


Ia yang supel dan ramah, tentu saja orang lain cepat mengingatnya.


" Mau bertemu siapa? " tanya sekuriti.


" Mau ketemu sama om. " jawab Arisa.


Di kantor ini, Arisa di kenal sebagai saudara jauh keluarga Manoj Rakesh. Karena itulah yang tuan Manoj katakan di depan karyawan. Sengaja ia mengumumkan seperti itu, karena ia ingin sang menantu bisa datang ke kantor ini kapan saja.


" Oh, sudah tahu kan ruangannya di mana? " canda sekuriti.


" Nggak cuma tahu, bapak. Hafal pakai banget. Sambil merem aja bisa nyampe. " sahut Arisa.


Pak sekuriti tersenyum. " Silahkan jika begitu. Beliau ada di ruangan. "


" Terima kasih banyak bapak. Selamat bertugas, selamat bekerja. Selamat mencari cuan. " ucap Arisa sambil mengangkat tangan kanannya dan mengepalkan jemari tangannya.


Pak sekuriti hanya bisa tertawa melihat tingkah gadis yang katanya saudara jauh dari sang Presdir.


Arisa berlalu dari hadapan pak sekuriti. Tanpa mampir di resepsionis, ia langsung saja berjalan menuju lift. Menekan tombol lantai paling atas, menunggu beberapa saat hingga pintu lift itu terbuka dan Arisa masuk ke dalam.


Sambil bersenandung, Arisa berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya seiring dengan nada lagi yang ia nyanyikan menuju ke ruangan sang suami.


Beberapa langkah ketika hendak sampai di depan ruangan Roy, kaki Arisa seperti ada remnya. Ia berhenti mendadak. Ckiiiitttt.....


Matanya membola dan sesaat kemudian, air matanya tergenang. Entah situasi seperti apa, tapi yang pasti, mata Arisa yang membola melihat sang suami tengah memegangi sekretarisnya.

__ADS_1


Dan sobeknya lagi, posisi Roy yang membelakanginya, membuat Arisa berasumsi jika kedua orang itu tengah berpelukan.


Hati Arisa terasa nyeri. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan deru nafas naik turun menahan emosi. Air mata sudah di bisa ia kontrol lagi.


Dan Arisa membenci keadaan seperti ini. Benci dengan apa yang ia lihat. Benci dengan dirinya sendiri kenapa sekarang menjadi sering melow melow gini


Arisa kesal, kenapa akhir - akhir ini ia menjadi sosok yang manja. Kegarangannya tiba-tiba lenyap entah kemana.


Ketika hendak berbalik, Arisa melihat sebuah botol berisi hand sanitizer yang isinya tinggal beberapa mili saja. Mungkin petugas kebersihan lupa untuk mengisinya.


Arisa bergegas mengambil botol itu, lalu melemparnya ke arah Roy. Dan yap, lemparan itu tepat mengenai tengkuk Roy.


Sontak Roy berbalik dan melepas Joice begitu saja hingga hampir saja Joice terjengkang ke belakang.


Sayang, ketika Roy membalikkan tubuhnya, ia hanya melihat sebuah siluet. Sudah tidak ada siapapun di belakangnya.


Mata Roy menyipit guna mencermati siluet yang sempat ia lihat tadi. Seperti siluet tubuh seseorang yang sangat ia kenali.


Roy lalu mengambil botol hand sanitizer yang tadi menimpuknya. Ia mengamati sambil berpikir. Sedetik kemudian, otak cerdasnya menemukan sebuah jawaban.


" Pasti salah paham. " gumamnya.


" Addduhhh, si tuan ah! Main lempar lempar aja. " gerutu Joice.


" Mana tadi lepas pegangan nggak bilang-bilang lagi. Untung gue nggak kejengkang. Niat bantuin, tapi akhirnya, di jatuhin sendiri. Dasar tuan bos kebangetan! " lanjutnya mengumpat.


Tentu saja Joice berani mengumpat karena si bos sudah berjalan menjauh meninggalkannya.


" Lagian, siapa sih yang berani nimpuk si bos pake botol ? Mana di lantai ini lagi. Apa ada musuh dalam selimut? "


" Kalau mau nimpuk, kenapa nggak entaran aja sih? Tadi kan gue lagi cari perhatian. Mumpung si bos lagi bantuin gue. Ah, gagal kan rencana gue! Kesel deh!! " masih saja dengan gerutuan si Joice menghentak-hentakkan kakinya dan melipat kedua tangannya di dada.


" Pak, lihat Arisa ? " tanya Roy ke sekuriti saat ia sudah sampai di lobby.


" Oh, baru saja keluar tuan. " jawab sekuriti.


" Ada bilang sesuatu? " tanya Roy kembali.


" Sepertinya tidak tuan. Tadi nona Arisa datang, katanya mau ketemu tuan, langsung naik ke atas. Tapi tidak sampai seperempat jam, nona Arisa sudah turun lagi dan bergegas keluar. " jelas sekuriti

__ADS_1


" Naik bus kota? "


" Tidak tuan. Nona Arisa tadi bawa motor. " jawab sekuriti.


Roy mengangguk, lalu ia segera berlari menuju parkiran. Ia harus segera menyusul sang istri yang ia yakini, Arisa pasti salah paham dengan apa yang di lihatnya.


Roy memutar kemudi dengan begitu lihai sambil terus mengamati sekitar jalanan yang ia lewati. Siapa tahu sang istri berhenti di suatu tempat yang ia lewati.


" Sayang... Kamu salah paham. " gumam Roy sambil mencengkeram kemudi erat.


Sedangkan di jalanan yang lain, Arisa tengah mengendarai motornya dengan masih sesenggukan. Bahkan sesekali ia masih menyusut ingusnya dengan punggung tangannya.


" Abang jahaaaattt!!!! Sok-sokan nggak mau sama sekretaris gatel itu. Eh, nyatanya di sosor juga. " umpat Arisa di sepanjang jalan.


" Iihhh,, nggak mau nangis lah. Capek nangis. Bikin laper. " ujarnya sambil menyeka air matanya.


Hidungnya memerah, kedua bola matanya juga memerah.


" Mau jajan siomay aja lah dulu. Orang nangis juga butuh tenaga. Kalau laper, mana ada tenaga. " gumamnya sambil memarkirkan motornya di dekat gerobak tukang siomay yang terparkir di jalanan.


" Bang, siomay nya satu porsi. Tapi telurnya dobel ya. Sama bikinin es jeruk. Tapi jeruknya yang manis ya bang. Cukup hidup aku aja yang kecut. " ujarnya.


" Asiap, atuh neng cantik. Di antos nye'. " jawab si tukang siomay.


Sedangkan Roy, kini ia sudah sampai di rumahnya. Tapi ketika mobilnya memasuki pekarangan, ia tidak melihat motor matic sang istri. Rumah juga masih terlihat sepi.


" Kok motornya nggak ada? Kata pak Sardi tadi dia bawa motor kan? " gumam Roy.


" Apa dia belum sampai rumah? Mampir kemana dulu? Kenapa aku tidak melihatnya sama sekali di jalanan tadi. " lanjutnya.


Roy berjalan memasuki rumah. Mengambil kunci cadangan rumah yang ia kantongi. Lalu membuka pintu rumahnya.


Sepi. Satu kata yang ada di pikiran Roy. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi sang istri.


Berdering, tapi tidak di angkat. Beberapa kali Roy mencoba, hasilnya tetap sama.


" Kemana kamu Sa? " gumam Roy khawatir. Lalu ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2