
" Kerja yang bener loe. Jangan ampe laki gue bangkrut gara-gara loe kagak becus ngurusinnya. " omel Arisa ke Ori.
Setelah penjelasan yang panjang lebar tadi, Roy memanggil Ori untuk bergabung. Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk bertiga di meja yang sama. Meskipun yang dua itu pasangan, jangan berpikir jika yang ketiganya adalah se tan ya.
" Berisik kek emak-emak loe. Yang punya aja kagak ribut. Loe nya ribut udah kek petasan banting. " sahut Ori lalu menenggak minumannya.
" Yang punya tuh laki gue, ege! So pasti gue juga ikutan punya lah. Iya, nggak bang? " Arisa menoleh Roy sebentar.
Bukan anggukan atau jawaban iya, tapi Arisa hanya mendapatkan senyuman tipis setipis kertas HVS 60gr.
Karena gemas, Ori mengambil beberapa kentang goreng yang tersisa, lalu memasukkan paksa ke dalam mulut Arisa.
" ORI!!!!" pekik Arisa. " Abang, istri kamu di dzolimi nih. " rengeknya ke arah Roy.
Kembali Roy hanya tersenyum . Ia selalu senang melihat keluarga istrinya jika berkumpul. Suasana pasti akan selalu ramai.
" Udah ah bang. Ori mau balik kerja lagi. Masih ada laporan yang harus Ori ceki-ceki. " pamit Ori.
" Dedek Ori yang ganteng, jangan lupa. Bulan depan kalau udah gajian, upeti buat kakak tersayang. " ucap Arisa lembut dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu.
" Cih. Ogah. Minta sendiri sono sama laki loe. " Ori berdecih sambil bangkit dari duduknya.
" Kalau dari abang mah wajib hukumnya. Nafkah lahir itu. " teriak Arisa karena Ori sudah berjalan menjauh.
" Kalau mau nafkah batin juga aku siap ngasih. " sahut Roy sambil tersenyum smirk.
" Hiss!!! " Arisa memutar bola matanya malas dan membuat Roy terkekeh.
🌷🌷🌷
" Abang mau balik ke kantor, atau langsung pulang? " tanya Arisa ketika mereka baru masuk ke dalam mobil. Bahkan mobil yang di kendarai Roy, baru mau keluar dari area parkir cafe.
" Balik ke kantor. " jawab Roy sembari menoleh ke belakang, untuk melihat ke belakang karena dia akan keluar dari area parkir.
Tiba-tiba jantung Arisa berdetak kencang kala tak sengaja wajahnya berada begitu dekat dengan wajah Roy yang agak mencondongkan ke samping tubuhnya karena ia harus melihat ke belakang.
Arisa terpaku.
Wah, ternyata laki gue emang tampan meskipun usianya sudah tua. Ucap Arisa.
E lah Sa, usia Roy tuh baru 28 tahun keles. Jangan lebay ngatain usia segitu tua deh. Justru usia segitu tuh usia yang lagi mateng-matengnya. Kalau ibarat mangga tuh pas lagi manis-manisnya kalau di makan. batin Arisa kembali.
Jantung gue kenapa jadi makin jedug jedug gini sih? Masak iya gue mau mati muda? Haiss, gue belum ngerasain belah duren Ya Allah... Jangan kau ambil nyawaku lebih dulu. Jerit Arisa dalam hati.
__ADS_1
" Kamu kenapa? " hembusan nafas Roy terasa begitu kelas menerpa wajah cantik Arisa. Posisi mereka masih sama seperti tadi.
Karena ketika Roy hendak membalikkan posisinya lurus ke depan, ia mendapati Arisa yang sedang terpaku dengan pandangan menatap dirinya, dan kedua sudut bibir yang terangkat ke atas.
Sungguh sangat menggemaskan bagi Roy. Roy meniup wajah Arisa ketika sang istri masih belum tersadar.
" Definisi ganteng yang sebenarnya. " ucap Arisa tanpa sadar, membuat Roy terkekeh.
Dan... Cup
Roy mengecup bibir Arisa karena ia gemas dengan raut wajah sang istri.
Hah. Seketika Arisa langsung tersadar dan dia memelototkan kedua matanya.
" ABANG!!!! " teriak Arisa. Untung saja mereka saat ini sudah berada di dalam mobil. Jika masih di luar, sudah pasti akan mengundang perhatian banyak orang.
Arisa memukuli lengan Roy yang bergetar karena Roy sedang tertawa terbahak -bahak.
" Iya... Iya... Maaf... Maaf. Stop! Jangan mukul lagi. Kita bisa celaka nanti. Abang lagi nyetir ini. " ujar Roy karena memang dia sudah mulai menjalankan mobilnya.
" Issh!!! Abang nyebelin! " rajuk Arisa sambil memonyongkan bibirnya.
" Itukan first kiss nya aku. Nggak artistik. Nggak epik. Nggak banget lah pokoknya. Harusnya, abang tuh bilang dulu kalau mau nyium. Nggak main nyosor aja kek bajaj. Kalau abang bilang dulu kan akunya bisa siap-siap. " cerocos Arisa.
Eh, ternyata... Arisa malah justru mengomelinya karena ia tidak bilang-bilang dulu.
" Siap-siap gimana? " tanya Roy dengan melirik ke arah Arisa sebentar.
" Ya... Seenggaknya, Arisa bisa nyiapin mental dan hati juga otak. Biar first kiss nya aku tuh kesimpen dengan baik di otak. Jadi kenang-kenangan. Atau bisa juga, kita ambil fotonya. Biar aku simpen di hp. Di hp abang juga. Jadiin wallpaper kan keren tuh. Biar abang selalu inget, kalau udah ambil first kiss seorang gadis yang cantik dan imut ini. " jawab Arisa panjang kali lebar.
Tiba-tiba Roy menepikan mobilnya. Lalu ia membuka seat beltnya. Mendengar sang istri yang terus nyerocos seperti itu, sepertinya tidak bisa di tahan kalau sampai rumah.
" Lah, Abang ngapain malah berhenti di sini? " Wajah cengo Arisa tergambar begitu lucu.
Roy nampak merogoh saku jasnya. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku, dan membuka kunci layar ponselnya.
" Kamu siap-siap, oke. Tadi itu bukan first kiss namanya. Tadi cuma sekedar kecupan. Abang akan kasih kamu first kiss seperti yang kamu mau. " ucap Roy sambil mendekati wajah Arisa dan mengangkat tangan kirinya untuk menahan tengkuk Arisa, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengangkat ponselnya bersiap untuk mengambi gambar.
Cup. Roy menempelkan bibirnya ke bibir Arisa. Lalu mulai melu matnya lembut. Sedangkan Arisa hanya membuka lebar kedua matanya, terkejut bukan main. Dan kembali, hatinya berdebar kencang.
Cekrek
Cekrek
__ADS_1
Roy mengambil gambar ketika mereka sedang berciuman.
Roy melepas ciumannya, lalu menatap bibir Arisa yang basah karena salivanya. Ia menarik tangannya dari tengkuk Arisa, dan membawanya untuk mengusap bibir Arisa yang basah. Lalu ia mengangkat pandangannya hingga kini pandangannya bertemu dengan netra Arisa yang sedang mengerjab-ngerjab lucu.
Roy mendekatkan kembali wajahnya ke Arisa. Kali ini, bukan untuk mencium bibir Arisa. Tapi ia mengecup lembut kening sang istri.
" Tadi itu, baru namanya ciuman. First kiss kamu. " ujar Roy sambil mengusap pipi Arisa yang bersemu merah.
Arisa masih terdiam. Sepertinya, otaknya masih berceceran. Ia mengangkat tangan kanannya, meraba bibirnya.
" My first kiss? Ciuman? Tadi itu ciuman? " gumam Arisa dengan wajah polosnya.
" Ibuuuuu.... Risa di cium sama abang ihhh!!! " pekiknya setelah sadar.
Dan Roy langsung tertawa lepas melihat kelucuan sang istri.
" Gimana first kiss nya? Enak? " goda Roy dan membuat Arisa memalingkan wajahnya ke jendela karena sudah pasti wajahnya makin memerah.
" Abang udah kirimin fotonya tadi. " ujar Roy sambil terkekeh.
" Foto apa? " tanya Arisa menoleh.
" Buka aja hp kamu. " titah Roy.
Degan segera, Arisa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dan alangkah terkejutnya, setelah ia membuka pesan dari suaminya. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, lalu menoleh ke samping, ke arah sang suami.
" Abang beneran, moto'in kita tadi? " tanyanya.
" Sesuai keinginan kamu, kan? " jawab Roy sambil menoleh ke arah Arisa. " Lihat nih. Abang juga jadiin wallpaper di hp abang. " Roy menunjukkan layar ponselnya ke Arisa.
" Abang! Malu bang. Hapus ih!! " protes Arisa. Ia tadi hanya bermaksud bercanda. Tapi kenapa suaminya malah benar-benar melakukannya? Bagaimana jika nanti ada yang melihatnya? Bukankah memalukan? Bisa-bisa suaminya mendapatkan predikat baru. Suami me sum dan bucin.
Roy menggeleng. " Nggak. Aku suka kok. " ucapnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
" Awas kalau nanti bikin abang malu loh. " tunjuk Arisa.
" Kenapa mesti malu? " Roy memutar kemudi, dan kembali menjalankan mobilnya perlahan. " Pasang foto ciuman juga sama istri sendiri. " lanjutnya.
" Ih, tapi kan nggak ada orang lain yang tahu kalau abang udah nikah. "
" Biarin. Paling buruk, abang di bilang nggak tahu diri. " jawab Roy santai.
" Haisshhh... Terserah abang ajalah. Arisa capek. Ngantuk. Mau tidur. Entar bangunin kalau udah sampai rumah. " oceh Arisa sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok, dan mulai menutup kedua matanya.
__ADS_1
Bersambung