Om itu suamiku

Om itu suamiku
Satu masalah selesai


__ADS_3

Hari berlalu. Arisa dan Roy, masih betah tinggal di rumah Julio. Menikmati suasana baru, mungkin itulah yang di rasakan Roy. Menikmati suasana pagi yang penuh dengan candaan dan kehangatan. Meja makan yang biasanya terasa sepi karena hanya ia duduki bersama papa juga mamanya, meja makan Roy yang baru, terasa ramai.


Meja makan, sekalian tempat beradu candaan. Membuat hari-hari Roy kian berwarna. Di tambah lagi, dirinya tidak ingin terlalu memaksa Arisa untuk mengikuti semua kemauannya. Ia ingin mengajak istrinya sedikit demi sedikit.


Sampai hari ini, Arisa masih belum menemukan cara untuk memutuskan hubungannya dengan Miler. Sementara, ia hanya sedikit menjauh dari laki-laki itu.


Arisa sungguh di buat galau dengan masalah ini. Di satu sisi, dirinya tidak ingin menyinggung perasaan suaminya. Tapi di sisi lain, dia belum sampai hati memutuskan Miler. Karena sampai saat ini, lelaki itu masih berlaku baik kepadanya.


Belum lagi di tambah sahabatnya yang satu sengaja menjauhinya. Rian. Dari ketika ia menikah satu Minggu yang lalu, Rian sengaja selalu menghindarinya.


Hah. Arisa menghela nafasnya kasar. Ia harus segera menyelesaikan masalahnya satu persatu.


Ia berdiri dari duduknya, lalu mengikuti Rian yang sudah berjalan terlebih dahulu. Ia meninggalkan Kaila begitu saja. Membuat gadis satu itu mengernyit. Tapi tangannya segera di cekal oleh Santo ketika ia hendak mengikuti Arisa.


" Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka berdua. Gue yakin, Arisa bisa membawa Rian kembali. " ujar Santo serius. Akhirnya, Kaila kembali duduk di bangkunya.


" RIAN!! " panggil Arisa. Tapi yang di panggil, sepertinya pura-pura tidak mendengar.


" YANN!!! " panggilnya lagi. Kini mau tidak mau, Rian berbalik karena Arisa sudah berada di belakangnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Itulah akibatnya jika sering mangkir pas jam istirahat.


Rian menghentikan langkahnya, lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya ia berbalik.


" Kenapa? " Tanyanya saat berbalik.


Arisa mengangkat pandangannya karena ia saat ini tengah mengatur nafas sambil memegangi kedua lututnya.


" Bhentharhh... Gueh cap-phekh" ujar Arisa sambil sesekali meringis.


Jika kondisi seperti ini, ia sedikit menyesal karena tidak pernah mau berolahraga. Jadi jantungnya gampang berdebar karena kecapekan.

__ADS_1


Setelah irama jantungnya berangsur normal, Arisa menegakkan tubuhnya dan menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya.


" Yan... "


" Sorry Sa, gue ada rapat OSIS. " potong Rian. Ia masih belum siap untuk berbicara dengan Arisa sekarang.


" Ck! " Arisa berdecak kesal. " Loe kalau mau cari alasan jangan selalu alasan yang klise gitu, bisa nggak. Yang rada keren gitu. " lanjutnya.


" Gue emang-"


" Gue tahu, loe sengaja menghindar dari gue. Loe sengaja ngejauh dari gue. " potong Arisa.


" Buk-"


" Nggak usah ngelak. Gue bukan gadis bo*** yang bisa loe bodo*i. " sengak Arisa.


" Yan, gue minta maaf sama loe. Udah bikin hati loe sakit. " ucap Arisa bersungguh sungguh.


" Sa, udah. Nggak usah bahas ini. " Ini yang Rian malas. Membahas tentang perasaan.


" Nggak , Yan. Kita harus bicara. Kita harus selesaiin hari ini. " timpal Arisa.


Rian menghela nafas beratnya. Hah. Mungkin harus sekarang mereka berbicara.


" Yan, maaf banget, gue nggak bisa balas perasaan loe dari awal. Bukannya nggak bisa. Tapi mungkin gue yang nggak mau. " jelas Arisa. " Tunggu dulu. " ucapnya ketika Rian hendak menjawab.


" Bukan karena gue ngerasa loe jelek atau gimana gue nggak mau jatuh cinta sama loe. Tapi, gue nggak mau hubungan persahabatan kita berantakan. Loe tahu kan, konsekuensinya apa kalau kita menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman, dan pada akhirnya kita harus putus? " lanjutnya.


" Bukan hanya hubungan sepasang kekasih aja yang putus Yan, tapi persahabatan kita juga. Persahabatan kita juga pasti akan end. Dan itu yang gue nggak mau. Gue pengen, loe jadi sahabat gue, selamanya. Sama seperti Santo juga Kaila. "

__ADS_1


Arisa menarik nafas dalam-dalam lalu menatap lekat ke netra Rian. " Loe, memang sahabat yang gue dapet saat kita bersekolah di sini. Nggak kayak Santo sama Kaila yang memang udah jadi sohib gue sejak kami masih ingusan. Tapi gue pengen, loe seperti mereka buat gue. "


" Loe lihat sendiri kan, gimana nasib hubungan gue sama Miler? Kita harus putus. Tidak menutup kemungkinan, jika kita dulu berhubungan, kita juga seperti itu. Dan hal itu yang tidak aku inginkan. " lanjutnya.


" Tapi nyatanya sekarang loe nikah sama cowok lain. " desah Rian. " Gue pernah bilang sama loe, kalau loe mau Nerima gue, gue bakalan serius. Habis kita lulus sekolah, gue bakalan bawa orang tua gue buat melamar loe. Tapi loe bilang, belum siap buat nikah. Loe mau meraih mimpi - mimpi loe. " lanjutnya.


" Apa ini, mimpi loe yang loe bilang waktu itu? Nikah sama pengusaha yang kaya raya. " lanjutnya di selingi emosi. Bagaimana tidak emosi, jika gadis di depannya ini, gadis yang cintai sejak pertama kali melihatnya, malah menikah dengan laki-laki lain.


" YAN!! " sentak Arisa. Ia pun ikut emosi dengan tuduhan Rian. Tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk menahannya. Ia menghirup udara, lalu melepasnya perlahan. Exhale, inhale....


" Loe udah tahu kan, alasan gue nikah mendadak? " ucapnya pelan karena takut di dengar siswa lain. Karena saat ini, mereka sedang berdiri di lorong menuju ruang OSIS.


" Gue di jodohin, Yan. Orang tua gue yang jodohin gue sama tuh orang. " lanjutnya.


" Loe bisa nolak, kan? Loe bisa cari alasan buat ngebatalin rencana mereka. " sahut Ruan.


" Gue udah nolak, Yan. Gue udah nolak berrr-kali kali. Bahkan mereka melakukan pertunangan tanpa sepengetahuan gue. " Lalu Arisa mendesah. " Kalau gue di kasih pilihan, gue pasti milih buat nggak nikah dulu. Gue pengen sekolah, pengen kuliah, tanpa ada beban apapun. " lanjutnya.


Emosi Rian lumayan mereda. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia meraup wajahnya kasar.


" Jadi please, Yan. Jangan kek gini sama gue. Gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik gue, gara-gara masalah ini. " pinta Arisa dengan wajah sendu.


Senyum tipis Rian berikan. Lalu ia mengangkat kepalanya dan mengusap puncak kepala Arisa.


" Kasih gue waktu buat nerima ini semua. Gue pasti bakalan balik lagi ke loe. " ucapnya. Lalu ia meninggalkan Arisa yang masih berdiri termangu.


Lalu Arisa mendesah pelan. Oke, paling nggak, satu masalah sudah ada titik terangnya. Dengan langkah gontai, ia kembali menuju ke kelasnya, dimana Kaila juga Santo pasti tengah menunggunya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2