Om itu suamiku

Om itu suamiku
Moodian


__ADS_3

Hari berlalu. Dan bulanpun berganti. Tapi kelakuan Arisa masih saja tetap sama. Nyeleneh, dan seenaknya. Di tambah lagi sekarang Arisa jadi lebih sensitif. Lebih gampang marah, gampang terbawa emosi, lebih sering menangis. Mood-nya cepat sekali berubah.


Baru saja ia menangis karena suatu hal yang tidak jelas, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Hal kecil dan tidak penting saja bisa membuatnya menangis.


Seperti kali ini, tiba-tiba saja dirinya menangis karena tidak bisa mengerjakan ulangan harian.


" Sa, loe kenapa jadi nangis sih? " tanya Kaila yang duduk di sebelahnya.


Kaila mengernyit. Ia merasa aneh dengan sahabatnya ini. Kenapa sahabatnya ini jadi cengeng sekarang?


Sedangkan Arisa menelungkupkan wajahnya di atas meja. Badannya bergerak, menandakan ia yang sedang tersedu-sedu.


" Gue tadi kagak bisa ngerjain soal ulangannya. Bu guru kebangetan tahu nggak. Kasih soalnya susah di jawabnya. " jawab Arisa sambil sesenggukan.


Kaila menepuk jidatnya perlahan.


" Astaghfirullah Sa... Gue kirain loe kenapa. Gue pikir loe ada ngerasain sakit gitu. Kalau cuma masalah kagak bisa ngerjain soal matematika, bukannya loe udah biasa ya? Kenapa loe sampai nangis bombay gini sih? " ujar Kaila.


" Hiss..." Arisa menegakkan kepalanya. Ia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya. " Au' deh. Pokoknya gue sedih, ga bisa ngerjain soal tadi. " sungutnya.


" Laper ih. " gerutunya. Ia bangkit dari duduknya tanpa aba-aba.


" Mau kemana loe? " tanya Kaila sambil mendongak melihat ke arah Arisa karena Arisa sudah berdiri.


" Ya mau makan lah. Kan gue tadi bilang, kalau gue laper. " sahut Arisa santai.


" Kan habis ini masih ada pelajaran. Masih 40 menit lagi baru istirahat. " Kaila melongok ke jam tangannya.


" Ck! Kalau laper mana bisa di tahan suruh nunggu 40 menit. Kalau gue pingsan, gimana coba? Siapa yang repot? Pihak sekolah juga kan? " celoteh Arisa.


" Tadi istirahat pertama kan loe udah makan soto satu setengah mangkok Sa. Punya gue loe embat yang separo. Masak udah laper lagi? " tanya Kaila nggak habis pikir.


Kenapa Arisa jadi doyan makan sih sekarang? Bentar-bentar bilangnya laper. Bentar-bentar tiba-tiba nangis kagak jelas. Kenapa sih nih anak atu? Habis nikah bukannya lurus, malah makin aneh. Gumam Kaila dalam hati.


" Kalau laper ya laper Kai. Mana gue tahu kenapa bisa gitu. Ah, udah lah. Gue mau ke kantin. Mau isi perut. Kasihan cacing - cacing gue kalau gue kagak kasih makan. " ujar Arisa.


" Loe mau ikut kagak? Kalau nggak, loe ijinin lah bentar sama pak Cahyo. Gue lagi nggak butuh bimbingan. Gue lagi jadi anak baek. " lanjutnya.


Pak Cahyo adalah guru BK. Biasanya saat pelajaran BK, pak Cahyo sering menggunakan Arisa sebagai contoh.


" Gue nggak ikut lah. Ngeri gue sama pak Cahyo. Loe berani ke kantin sendiri kan? "


" E lah. Jelas berani lah. Nabokin preman sekampung sendirian gue aja berani. " jawab Arisa.


" Lagak loe!! " sengak Kaila. Dan Arisa langsung berlalu meninggalkan Kaila sambil terkekeh.


" Dia kemana? " tanya Santo yang tadi sedang berada di pojokan. Entah lagi ngapain.


" Makan ke kantin. "


" Buset dah. Bukannya tadi istirahat udah makan tuh anak? "


" Tau'. Lagi hamil kali. Makanya makannya banyak " sahut Kaila asal.

__ADS_1


" Eh, apa loe bilang? Hamil? Si Arisa hamil? " beo Santo.


" Gue bilang apa ? Hamil? Siapa yang hamil? " sahut Kaila.


Cetak


Santo menyentil dahi Kaila.


" Sakit, pe'a!!! " bentak Kaila.


" Makanya, jangan suka amnesia. Loe tadi yang bilang kalau Arisa hamil. "


" Masak sih? " ujar Kaila asal.


" Eh, San. Jangan-jangan iya. " lanjutnya sambil menoleh ke arah Santo.


" Duduk sini deh San. " Kaila menarik tangan Santo membawanya duduk di kursi Arisa yang kosong.


" Kalau gue inget-inget, si Arisa tuh jadi aneh deh belakangan ini. Dia jadi cengeng. Terus tiba-tiba ketawa. Iye kan? Loe ingat, pas kita pulang sekolah, ada anak kecil yang bajunya lecek, tiba-tiba si Arisa nangis sambil ngereog? "


Santo mengangguk.


" Nah, aneh kan itu? Kenapa coba dia harus nangis lihat tuh anak? "


" Ya kali dia kasihan ma tuh anak. "


" Ck! Bukan cuman itu aja. Barusan, dia juga nangis. Cuma gara-gara kagak bisa ngerjain soal ulangannya. Aneh kan? Terus dia juga jadi gampang laper. Udah gitu, porsi makannya jumbo lagi. Loe perhatiin deh, badannya jadi bongsor gitu. "


" Bener banget loe. " Santo nampak berpikir. " Kira-kira dia udah tahu belum ya kalau dia hamil? "


" Kita kasih tahu aja yuk. Kita beliin dia tespeck. Biar dia tes pakai Pi pisnya dia. "


" Ih, tapi kayaknya gue gak bisa deh. Kalau dia jadi sedih gimana? Secara kan kita tahu, dia belum mau hamil. " ujar Kaila.


" Terus gimana? "


" Kita samperin ajalah lakinya. Kita kasih tahu kecurigaan kita. Biar om ganteng aja yang ngetest. " usul Kaila.


" Oke lah. " angguk Santo.


🌷🌷🌷


" Halo, abang " sapa Arisa dalam panggilannya.


" Assalamualaikum. "


" Eh, waalaikum salam. " kekeh Arisa.


" Ada apa ? " tanya Roy.


" Ck! " Arisa berdecak. Wajahnya cemberut. " Nggak suka ya, Arisa telpon? "


" Bukan gitu, sayang. Abang kan cuma tanya, ada apa. Tumben, jam segini telpon. Bukannya jam segini kamu masih di kelas ya? "

__ADS_1


" Nggak. Arisa lagi di kantin. Lagi habis makan bakso. Laper. "


" Tadi nggak sempat istirahat? Belum jajan? "


" Istirahat. Udah jajan juga. Soto satu mangkok, sama separo mangkok punyanya Kaila. " jawab Arisa santai.


" Kok laper lagi ? "


" Nggak boleh ya laper lagi? Abang masih banyak duit kan? Cuma nambah jajan bakso satu mangkok loh. "


" Bukan masalah uang, sayang. Kamu mau jajan bakso sekalian gerobaknya juga abang beliin. " jawab Roy pasrah. Jika suara sang istri sudah seperti itu, biasanya sang istri pasti sedang buruk moodnya.


" Abang lagi ngapain? " tanya Arisa.


" Lagi kerja dong. Habis ketemu klien. "


" Cantik ? " cerca Arisa.


Hah. Roy menghela nafas panjang. " Bukan. Kliennya laki-laki. "


" Awas bo'ong! "


" Nggak. " jawab Roy. " Kamu kenapa telpon abang di jam sekolah? "


" Kenapa? Nggak boleh ? " ketus Arisa.


Salah lagi. Kembali Roy mende sah pelan.


" Bukan. Tumben aja. Kamu nggak pernah telpon abang kalau lagi jam sekolah. "


" Berarti ada sesuatu. " jawab Arisa sambil tersenyum tipis.


" Sesuatu? Apa? "


" Ck! Abang ih nggak peka! " gerutu Arisa. " Kalau istri telpon berarti apa? "


" Kamu kangen sama Abang? Tumben. " kekeh Roy.


" Abang ih! Nyebelin. Di kangenin, salah. Nggak di kangenin salah. " gerutu Arisa.


" Abang juga kangen. " sahut Roy , membuat Arisa kembali menyunggingkan bibirnya.


" Makanya abang kesini. "


" Ngapain? "


" Katanya kangen? Ya abang kesini lah. "


" Tapi kan kamu lagi sekolah, sayang. Nanti aja, pulangnya abang yang jemput. "


" Tapi Arisa maunya abang kesini sekarang! Titik! Nggak pakai koma. Nggak pakai alesan juga. " tegas Arisa. Lalu ia menutup telponnya sepihak.


Di kantor, Roy kembali mende sah panjang. Ada apa lagi dengan istrinya itu? Kenapa tiba-tiba memintanya datang ke sekolah di saat jam sekolah? Bukankah biasanya sang istri melarangnya mendatangi sekolahan meskipun hanya untuk menjemputnya? Katanya takut ketahuan.

__ADS_1


Tapi tak urung, Roy menyambar kunci mobilnya, meninggalkan jasnya yang ia sampirkan di sandaran kursi kebesarannya. Ia melepas kancing lengan kemejanya dan melinting kemejanya hingga ke siku.


Bersambung


__ADS_2